Langkah termudah adalah membiarkan saja seburan berlangsung dan ditindaki dengan mengevakuasi penduduk serta relokasi infrastruktur; dan akhirnya penataan kembali tata ruang wilayah tersebut.
Apabila dimaksudkan untuk menghentikan semburan, biayanya akan sangat lebih besar. Perkiraan saya secara kasar mencapai $50-150 juta atau bahkan lebih untuk alternatif metoda yang sama mengikuti prosedur mitigasi erupsi hidrothermal pada operasi injeksi uap. Untuk apa saja biaya tersebut - saya coba gabungkan dengan tuliskan sebelumnya: (3/4/2008) Apabila saya analogikan lagi pada sistem injeksi uap, kunci dari sistem erupsi hidrothermal adalah tekanan fluida uap panas. Perkenankan saya sekedar berbagi prosedur mitigasi erupsi uap panas yang terjadi pada operasi injeksi uap, at least sebagai perbandingan dari sistem analogi - mungkin tidak bisa diaplikasikan secara persis dalam kasus ini karena tingkat kesulitan yang jauh lebih besar. 1. Membuat kolam penampungan limpahan erupsi. Ini sudah dilakukan di kasus Sidoarjo. Perkiraan biaya ~USD500ribu-5juta 2. Mematikan sumber masukan fluida uap. Tanpa mematikan sumber masukan aktif, sistem semburan akan berjalan terus. Kalau sistem artificial (injeksi uap) adalah mudah karena hanya mematikan sumur-sumur injeksi yang sudah ada. Sebagai gambaran sistem injeksi uap yang dioperasikan pada reservoir dengan permeabilitas 2-8 darcy, hanya efektif dalam mematikan semburan dengan melakukan shut-in sumur injeksi dalam radius <2 km. Dalam kasus hipothesis Pak Rovicky mengenai water incharge, masih menyisakan pertanyaan bagi saya; apakah recharge area Gunung Penanggungan (sejauh ~5 km) efektif sebagai penyuplai acquifer Formasi Kujung. Berapa kapasitas aliran dari Formasi Kujung dan berapa debit dari recharge Gunung Penanggunggan. Mungkinkah suplai fluida uap panas lumpur Sidoarjo sebenarnya secara efektif hanya dari radius km tertentu sebagai insitu acquifer. Sebagai salah satu kasus pengurangan water incharge ke dalam reservoir adalah penggunaan interdiction well, yaitu memproduksi air di peripheral/flank reservoir - di sebuah lapangan di California, mereka secara konstan memproduksi lebih dari 100.000 bwpd dari beberapa sumur untuk mengurangi pengaruh water drive dari acquifer. Kasus adanya incharge dari Gunung Penanggungan adalah kasus dengan tingkat kesulitan tertinggi, karena akan menyangkut biaya operasi yang sangat besar. Perkiraan biaya ~USD30-50 juta untuk pemboran sumur producer air dan fasilitas pengolahan/penurunan temperature air terproduksi. Sebagian air bisa digunakan untuk reinjeksi (killing reservoir di point 3) dan sebagian lagi disalurkan ke Sungai Porong. Sukses ratio 60-95%. 3. Melakukan killing temperature/tekanan. Yaitu mendinginkan sumur atau reservoir dengan air. Kalau di operasi injeksi uap mudah dilakukan karena tinggal menginjeksikan air lewat sumur injeksi yang sudah ada di sekeliling lokasi semburan. Dalam kasus semburan di Sidoarjo, hal ini memiliki kesulitan yang jauh lebih besar, karena menyangkut kedalaman acquifer (biaya pemboran, ukuran pompa injeksi), suplai air, dan juga apalagi bila ada teori pemanasan dari dapur magma. Teknik ini menuntut studi detil kondisi reservoir dan juga biaya operasi yang mahal karena menyangkut biaya pemboran sumur dan fasilitas suplai air termasuk pompa. Perkiraan biaya ~USD30-50juta untuk pemboran sumur injeksi dan fasilitas supply/pompa. Sumber air bisa dari sumur produksi di point nomor 2. Sukses ratio 40-80%. Saya baca di blog Pak Rovicky ada ide dengan menahan tekanan semburan dengan meninggikan kolom lumpur di permukaan - mungkin ide teknis yang cukup baik, silahkan dicoba. 4. Hanya apabila tekanan telah cukup rendah, dilakukan injeksi semen/kontaminant untuk massive dumping menutup lubang atau rekahan. Perkiraan biaya ~USD20-50juta. Sukses ratio 50-95%. Dalam kasus Sidoarjo, tingkat kesulitan juga jauh lebih tinggi, mengingat harus dilakukan kembali relief well serta pemodelan rekahan yang telah terbentuk. Mungkin insersi bola-bola beton sebenarnya ide teknik yang cukup baik meskipun sampai saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan karena tekanan semburan masih terlalu tinggi untuk dapat diredam. Yang menjadi persoalan besar lagi adalah bagaimana menghadapi suplai material lumpur. Apabila diduga material adalah gerusan dari dinding lubang atau rekahan, maka tentunya menjadi hal yang terkait dengan kasus hidrotermal di atas. Bila dapat menghentikan aliran fluida panas, otomatis suplai material batuan lunak dari gerusan juga akan berhenti. Yang menjadi persoalan besar bila terjadi kasus liquifaction formasi shale atau adanya shale diapir. Kami belum pernah menghadapi kasus ini, jadi untuk sementara ya walahualam. Saran ini tentunya secara teknik masih banyak kekurangannya, untuk itu perlu diskusi dari para ahli lebih lanjut. Salam, WW -----Original Message----- From: Franciscus B Sinartio [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Saturday, August 02, 2008 11:03 AM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] "Lusi" MV Origin : The Debate Continues numpang tanya, kalau di pengadilan kan berlaku asas praduga tak bersalah? jadi Lapindo tidak bisa di tuntut, kalau ada keragu-raguan atau pendapat bahwa ledakan tersebut bisa saja terjadi di tempat lain jika tidak ada sumur BP-01 karena pressure dari lumpur nya memang mencari-cari titik yang paling lemah untuk keluar menstabilkan pressure. dan lokasi sumur BP-1 kebetulan merupakan titik lemahnya (bisa saja menjadi lemah karena pemboran) apakah benar pernyataan diatas? memang benar BP-01 yang merupakan titik awal semburan lumpur nya, tetapi kalau misalnya tidak menyembur di sumur tersebut apakah lumpur tersebut tidak meluap ke permukaan ditempat lain? bagaimana membuktikan ini benar atau salah? saya bukan mau berpihak ke siapa2, tetapi yang penting rakyat disana sudah terlalu lama menderita. tetapi seperti yang kita semua tahu, kalau kita menunggu sampai pressure lumpur yang dibawah permukaan menjadi stabil dengan pressure diatas permukaan sehingga tdk ada semburan lagi, maka mungkin kita akan menunggu cukup lama, dan harus dilakukan langkah konkrit untuk mengurangi penderitaan rakyat yang terlibat. ini sekedar opini saya. fbs ----- Original Message ---- From: yanto R.Sumantri <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, August 1, 2008 1:43:33 PM Subject: Re: [iagi-net-l] "Lusi" MV Origin : The Debate Continues >Rekan rekan Saya takut bahwa dalam pengadilan nanti ,Hakim akan sangat terpengaruh oleh opini yang terbentuk dimasyarakat luas. Sebagai hakim maka hakim ataupun Dewan Hakim berkuasa atas dasar "keyakinan" - yang ada pada dirinya utuk memutuskan perkara. Memang sebagai suatu kejadian alam , peristiwa Lusi memberikan persoalan yang sangat berat kepada Bangsa Indonesia yang sedang dilanda masalah "kepercayaan " satu sama lain ( antara warga dengan warga , antara para politisi dengan politisi lain , antar birokrat dan aparat pengak hulum , bahkan anyar institusi/lembaga tinggi negara). SEMPURNA lah kesulitan kesulitan ini menimpa bangsa >!!!!!! Kembali pada Lusi ( Lu..............siiiiih). Saya sependapat dengan Awang memang ada dua pendapat , tetapi menurut saya yang jelas dan dominan kemudian dalam peran-nya dengan mud flow yang se - abrek adalah KONDISI GEOLOGI . Jadi apapun yang men "trigger" terjadinya mud flow , tetaplah kondisi geologi memegang peran yang paling ominan. Kalau ini diterima sebagai fakta alam , apakah layaku yang metnyebakan ataau men "strigger" terjadinya mud flow diwajibkan menanggung seluruh kerugian yang timbul ????? Saya percaya dalam kondisi tidak adanya saling percaya dalam masyarakat kita , apaun keputusan pengadilan , akan terjadi gonjang ganjing yang tidak akan berkesudahan . Apakah saya terlalu pesimis ????? Si Abah Apa penyebab erupsi "Lusi" (Lumpur Sidoarjo) rupanya telah menjadi bahan > perdebatan dari ruang pengadilan, jurnal-jurnal ilmiah, seminar-seminar > nasional dan internasional, diskusi internet di milis-milis, sampai > obrolan di café atau warung kopi. Peliputan media cetak dan elektronik > yang luas atas issue ini telah menyebabkan kasus Lusi diketahui umum di > mana pun. Dua school of thought yang menjadi bahan perdebatan telah > mengerucut menjadi dua : (1) gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 sebagai > penyebab, dan (2) pemboran sumur eksplorasi Banjarpanji-1 (Lapindo > Brantas, Mei 2006) sebagai penyebab. Walaupun, sepengamatan saya, orang > awam lebih banyak berpihak kepada teori nomor (2) – itu sebagian besar > karena pemberitaan media; tidak begitu yang terjadi dengan perdebatan di > antara para ahli. Kedua kubu pemikiran sama kuat, ahli-ahli di masing kubu > bertahan dengan pendapatnya. Perbedaan pendapat para ahli yang dipanggil > sebagai saksi ahli dalam pengadilan telah > menyebabkan kasus tersebut tidak dapat segera tuntas diadili. Minggu ini > pun, pengadilan negeri Jawa Timur mulai memanggil kembali beberapa saksi > ahli untuk dimintai keterangan. > > Apakah nanti pada akhirnya akan diperoleh kesepakatan di antara para ahli > ? Saya tak yakin akan itu. Apakah nanti pada akhirnya akan diputuskan oleh > pengadilan satu penyebab ? Mungkin saja, tetapi sebenarnya pengadilan > bukan lembaga yang dengan tepat bisa memutuskan hal itu. Perdebatan ilmiah > dalam ilmu apa pun memang susah diselesaikan, kita telah punya banyak > contohnya. Perdebatan akan selesai ketika ada bukti kuat yang bisa > mendiamkan semua perdebatan dan terpaksa satu pihak harus mau menerima > pendapat pihak lainnya. > > Contoh saja, apakah kita masih mau mendebat teori plate tectonics ketika > bukti pengukuran-pengikuran GPS menujukkan bahwa semua benua saat ini > tengah bergerak dan mantle tomography menunjukkan bahwa kerak samudra > sedang menyusup di bawah benua ? Pada saat baru diumumkan, teori ini > memicu perdebatan yang sengit lebih dari 20 tahun. Contoh lain, apakah > kita masih percaya dengan teori geosentris ketika bukti-bukti astronomi > dengan gamblang menunjukkan bahwa Bumi walaupun planet hidup bukan pusat > Alam Semesta ? Bahkan, Matahari kita pun bukan (heliosentris). Kita juga > punya contoh perdebatan yang tak kunjung selesai, misalnya antara yang > percaya dan tidak teori evolusi (tahun depan, perdebatan ini akan memasuki > tepat 150 tahun). > > Kembali ke Lusi, melihat perdebatan yang mungkin tak akan mudah > diselesaikan, maka AAPG (American Association of Petroleum Geologists) > dalam pertemuan tahunan internasionalnya yang pada tahun 2008 ini > akan digelar di Capetown, South Africa, 26-29 Oktober 2008, akan > mengadakan acara khusus tentang Lusi dalam program teknisnya. Sesi khusus > ini diberi judul ”Lusi Mud Volcano : Earthquake or Drilling Trigger”. > > Di dalam acara ini akan diberi kesempatan kepada tokoh-tokoh dari dua kubu > pemikiran menyampaikan pendapatnya. Acara sidang ilmiah ini akan diketuai > oleh Jon Gluyas (Fairfield Energy, Middlesex, England) yang dijamin AAPG > akan bertindak ”fair” alias netral. Berikut judul-judul presentasi yang > akan digelar : > > > ”Causes and Triggers of the Lusi Mud Volcano, Indonesia” (Mazzini, > Svensen, Planke, Akhmanov) > “East Java Mud Volcano (Lusi) : Drilling Facts and Analysis” (Istadi) > “The Lusi Mud Eruption of East Java” (Tingay, Heidbach, Davies, Swarbrick) > “The East Java Mud Volcano (2006 to Present) : An Earthquake or Drilling > Trigger” (Davies, Brumm, Manga, Swarbrick, Rubiandini, Tingay) > > Acara ditutup oleh presentasi tentang deformasi Lusi akibat erupsinya : > > > “Deformation due to Eruption of a Mud Volcano : The Lusi Mud Volcano > (2006-Present), East Java” (Abidin, Davies, Kusuma, Sumintadiredja, > Andreas,Gamal) > > “We need to agree first on the cause, so we expect an active debate”, kata > John Snedden (ExxonMobil), penggagas acara perdebatan itu. Apakah bisa > diharapkan dalam acara sekitar dua jam itu akan terjadi persetujuan > tentang penyebab Lusi ? Saya meragukannya. > > Pertemuan-pertemuan ilmiah (seminar) tentang penyebab Lusi telah beberapa > kali diadakan baik di Indonesia maupun di luar negeri (Australia, Amerika, > Eropa), baik mempertemukan dalam satu ruangan tokoh-tokoh masing kubu > pemikiran, maupun tidak (masing-masing kubu pemikiran mengadakan > pertemuannya sendiri). > > Publikasi kunci tentang kedua penyebab ini pun telah beredar : > > Davies, R., Swarbrick, R., Evans, R., Huuse, M., 2007, Birth of a mud > volcano : East Java, 29 May 2006, GSA Today, 17, p. 4-9. > > Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G.G., Aloisi, G., Planke, S., > Sørenssen, M., Istadi, B., 2007, Triggering and dynamic evolution of the > LUSI mud volcano, Indonesia, Earth and Planetary Science Letters, 261 > (2007), p. 375-388. > > Presentasi kunci yang pernah dilakukan tentang kedua pendapat ini adalah : > > Brumm, M., Manga, M., Davies, R.J., 2007, Did an earthquake trigger the > eruption of the Sidoarjo (LUSI) mud volcano ?, American Geophysical Union, > Fall Meeting, December 2007. > > Svensen, H., Mazzini, A., Akhmanov, G.G., Aloisi,G., Planke, S., > Sørenssen, A., Istadi, B., 2007, Triggering and dynamic evolution of the > LUSI mud volcano, Indonesia, American Geophysical Union, Fall Meeting, > December 2007. > > Beberapa publikasi penting yang berhubungan dengan hal gempa dan mud > volcano yang baik dipelajari adalah : > > Manga, M. and Brodsky, E., 2006, Seismic triggering of eruptions in the > far field : volcanoes and geysers, Annu. Rev. Earth Planet. Sci, 34, p. > 263-291. > > Mellors, R., Kilb, D., Aliyev, A., Gasanov, A., and Yetirmishli, G., 2007, > Correlations between earthquakes and large mud volcano eruptions, Journal > of Geophysical Research, vol. 112. > > Demikian, adalah perlu dikaji terus dengan pikiran terbuka dan kepala > dingin kedua kemungkinan penyebab Lusi ini. > > Kalau ada rekan-rekan milis yang nanti kebetulan akan ke Capetown, South > Africa untuk menghadiri pertemuan internasional 2008 AAPG, jangan > dilupakan acara perdebatan Lusi di sana. Walaupun perdebatan tersebut > bukan untuk pertama kalinya digelar, tetap menarik untuk disaksikan, siapa > tahu kita menemukan kunci-kunci ke arah pemecahan yang lebih baik. > > Salam, > awang > > > -- _______________________________________________ Nganyerikeun hate batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma hirupna pada ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan. -------------------------------------------------------------------------------- PIT IAGI KE-37 (BANDUNG) * acara utama: 27-28 Agustus 2008 * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008 * pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008 * batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008 * abstrak / makalah dikirimkan ke: www.grdc.esdm.go.id/aplod username: iagi2008 password: masukdanaplod -------------------------------------------------------------------------------- PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011: * pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008 * penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!! ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. --------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------- PIT IAGI KE-37 (BANDUNG) * acara utama: 27-28 Agustus 2008 * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008 * pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008 * batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008 * abstrak / makalah dikirimkan ke: www.grdc.esdm.go.id/aplod username: iagi2008 password: masukdanaplod -------------------------------------------------------------------------------- PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011: * pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008 * penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!! ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

