2008/10/26 Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>:
> 14. Jalur rel kereta api yang membengkok mengikuti gempa persis pada lokasi 
> rel memotong Sesar Watukosek, menggambarkan gempa mengaktifkan Watukosek.
>
> Demikian, hal2 yang harus diperhatikan mengapa gempa Yogya patut 
> dipertimbangkan signifikan dalam hal LUSI.

Bantahan Ma'rufin ttg Rel dengan patahan Watukosek secara kualitatif,
cukup menarik dicermati maupun di bantah balik. Ditulis Ma'rufin bulan
juni lalu.

rdp
============================================

Relasi gempa Yogya dan Semburan Lumpur Lapindo
Ma'rufin Sudibyo
Sat, 28 Jun 2008 09:17:46 -0700

Pembengkokan rel KA di dekat kawah semburan Lumpur. Mazzini dkk (2007) menyebut
pembengkokan ini sebagai tanda reaktivasi patahan Watukosek yang disebabkan
oleh Gempa Yogya 27 Mei 2006. Namun pembengkokan ini sendiri sebenarnya baru
terjadi pada akhir September 2006, empat bulan setelah lumpur menyembur, dan
diidentifikasikan akibat subsidence, bukan reaktivasi patahan. Jika
pembengkokan ini terjadi akibat reaktivasi patahan, maka itu akan menghasilkan
gempa 6,2 Mw yang membuat Porong dan sekitarnya porak - poranda (Sumber gambar
: Mazzini dkk, 2007, dengan penambahan seperlunya).
Mazzini dkk (termasuk didalamnya pak Bambang Istadi, eksekutif Lapindo Brantas)
menyebut Gempa Yogya 27 Mei 2006 adalah pemicu erupsi lumpur yang meletup pada
kebun pisang dan semak belukar sejauh 150 m dari sumur eksplorasi Banjar Panji
1. Dihipotesakan gempa tersebut memicu reaktivasi patahan Watukosek (ada pula
yang menyebutnya sesar Gresik), yakni patahan yang berarah Timur Laut - Barat
Daya yang berasal dari kompleks vulkanik Arjuno melintasi Gunung Penanggungan,
Porong dan berujung di Selat Madura. Reaktivasi menyebabkan patahan bergerak,
menimbulkan retakan memanjang di dekat sumur Banjar Panji 1, menimbulkan
partial loss lumpur pemboran sumur Banjar Panji 1 (dimana 320 liter lumpur
pemboran menghilang) dan perubahan volume produksi sumur Carat didekatnya.
Disebutkan Gempa Yogya menghasilkan gucangan berintensitas 2 - 3 MMI di
Surabaya (guncangan ini setara jika kita berdiri di tepi jalan dan ada truk
besar sedang melintas). Sementara di bagian
 utara kompleks vulkanik Arjuno-Welirang (termasuk kawasan Porong),
guncangannya mencapai 4 MMI.

Masalah reaktivasi patahan Watukosek ini menjadi hal yang menarik ketika
Mazzini dkk menampilkan gambar rel KA yang membengkok di Porong, yang disebut
sebagai bukti bergeraknya kembali patahan itu. Secara kasar pembengkokan itu
mencapai 50 % dari lebar bentangan (gauge) rel, dan dengan gauge rel Indonesia
yang 106,7 cm maka bisa dikatakan pergeseran itu mencapai 50 % x 106,7 cm =
53,35 cm atau kita bulatkan saja menjadi 54 cm.

Panjang pergeseran sebuah patahan dalam kejadian gempa bumi itu sebanding
dengan luas patahannya, sebagaimana diformulasikan secara rata-rata oleh Geller
dan Kanamori (Kanamori, 1977) dalam bentuk :

Mo =1,23 . 1022 A1,5                             (1)

dengan Mo = momen seismik (dyne cm) dan A = luas patahan (km2).

Kanamori sendiri menyebut momen seismik gempa sebanding dengan luas patahannya
dalam formula :

Mo = mAd                                             (2)

dengan Mo = momen seismik (dyne cm), m = rigiditas batuan (diambil nilai
rata-ratanya sebesar  3 . 1011 dyne/cm2), d = pergeseran patahan (cm) dan A =
luas patahan (cm2). Hubungan antara momen seismik gempa dengan magnitudenya
(dalam hal ini magnitude momen) dinyatakan dalam bentuk :

Mw = 2/3 (log Mo - 16,1)                     (3)

Jika persamaan (1) dan (2) digabungkan, setelah terlebih dulu menyesuaikan
satuan A pada kedua persamaan, maka kita mendapatkan hubungan pergeseran
rata-rata patahan dengan luas rata-ratanya sebagai :

d = 4,1 A½

dengan A dalam km2.

Dengan menganggap panjang pergeseran akibat reaktivasi patahan Watukosek
sebesar 54 cm seperti direpresentasikan pembengkokan rel KA di atas, maka luas
patahan yang tereaktivasi sebesar 173 km2. Lewat persamaan (1), luas patahan
ini setara dengan gempa bermagnitude 6,2 Mw. Dan dengan menggunakan relasi
magnitude gempa dengan intensitas guncangannya yang dinyatakan oleh Beno
Gutenberg - C.F. Richter sebagai :

Io = 1,5 M - 0,75                                 (4)

Maka reaktivasi patahan dengan M = 6,2 Mw itu akan menghasilkan guncangan
berintensitas 8 - 9 MMI pada luasan patahan yang bergeser.

Dari hasil perhitungan, skenario reaktivasi patahan sangat sulit untuk
diterima, karena : pertama, intensitas guncangan di bagian utara kompleks
vulkanik Arjuno-Welirang hanyalah 4 MMI sebagaimana data USGS untuk Gempa Yogya
27 Mei 2006. Kedua, jika reaktivasi patahan Watukosek menghasilkan guncangan 8
- 9 MMI (setara dengan guncangan di Imogiri dalam Gempa Yogya) pada luasan
patahan, maka bisa dipastikan akan muncul kerusakan hebat berskala luas pada
bangunan-bangunan di Porong hingga ke Surabaya (dan Malang) karena intensitas
guncangan di Surabaya bisa mencapai 6 - 7 MMI, sementara kita tahu nyaris tidak
ada kerusakan akibat guncangan gempa di wilayah itu karena intensitasnya hanya
2 - 3 MMI berdasar data USGS. Dan yang ketiga, sulit diterima bahwa Gempa Yogya
yang magnitudenya 6,3 Mw mampu memicu gempa dengan magnitude hampir sama (yakni
6,2 Mw) pada segmen patahan yang terpisah sejauh 280 km dari patahan sumber
Gempa Yogya. Yang sering terjadi adalah
 patahan yang tereaktivasi itu persis berada di sebelah patahan sumber
gempanya, seperti terjadi pada gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember
2004 dimana patahnya segmen Simeulue memicu reaktivasi segmen Andaman
diutaranya yang telah 500 tahun 'tertidur' (meski sebagian kecil diantaranya
sempat 'bangun' pada Gempa Andaman 1941)  sehingga total luasan patahannya
mencapai 1.600 x 80 km2 dengan total magnitude menjadi 9,2 Mw dan pergeseran
rata-rata 20 m.

Bila "digali" dari arsip media, pembengkokan rel KA di Porong ternyata baru
terjadi pada akhir September 2006 atau empat bulan pasca lumpur menyembur, jadi
jelas tidak merepresentasikan sifat patahan Watukosek pada akhir Mei 2006.
Pemodelan Davies dkk (2008) menunjukkan stress yang ditimbulkan Gempa Yogya
pada Bumi Porong dan sekitarnya hanyalah 200 Pa. Ini lebih kecil dibanding
stress akibat pasang surut air laut (1 kPa) dan jauh dari nilai kritis stress
10 kPa untuk memicu gempa ataupun letusan gunung berapi (Stein, 1999 dalam
Walter dkk, 2007). Catatan Manga (2007) dan Davies dkk (2008) menunjukkan dalam
sejarahnya pada 1976 dan 1998 pernah terjadi gempa dengan magnitude > 6,3 Mw
dan dengan jarak episentral < 280 km terhadap Porong. Keduanya menghasilkan
intensitas guncangan > 4 MMI di Porong, namun ternyata tidak menghasilkan
reaktivasi patahan ataupun semburan lumpur.

Bagaimana dengan meningkatnya aktivitas Semeru pasca Gempa Yogya? Seberapa
besar pengaruh gempa terhadap letusan gunung berapi bisa dilihat dari persamaan
Manga dan Brodsky (2006) berikut :

X = (DPeqTv)/(DPcTeq)

dengan X = fraksi letusan yang dipicu oleh gempa pada sebuah gunung, DPeq =
static dan dynamic stress akibat gempa, Tv = waktu perulangan letusan untuk
skala VEI tertentu, DPc = overpressure yang dibutuhkan untuk membuat saluran
(dike) dari kantung magma ke permukaan dan membuat magma mengalir ke atas tanpa
membeku di tengah perjalanan dan Teq = waktu perulangan gempa.

Untuk Semeru dengan magma yang asam (mengandung banyak silikat), DPc bernilai
10 MPa. Letusan Semeru untuk VEI 1 - 2 rata-rata terjadi tiap 1 tahun sekali.
Waktu perulangan gempa kuat di Yogyakarta dan sekitarnya rata-rata 70 tahun
(berdasar data 1867 - 2006), sementara DPeq di Porong dan sekitarnya akibat
Gempa Yogya 27 Mei 2006 sebesar 200 Pa berdasarkan pemodelan Davies dkk. Maka
fraksi letusan Semeru yang dipicu oleh Gempa Yogya hanyalah 1 banding 3,5 juta.
Jika merujuk pada umur Semeru yang tergolong muda (< 0,5 juta tahun) dan
dianggap setiap tahun selalu meletus dalam skala VEI 1, maka sulit untuk
mengaitkan letusan akhir Mei 2006 itu dengan Gempa Yogya mengingat
probabilitasnya sangat kecil. Ini diperkuat dengan stress produk Gempa Yogya di
Semeru yang besarnya juga sekitar 200 Pa, jauh dari nilai kritis 10 kPa. Sangat
berbeda dengan stress di Gunung Merapi yang mencapai 60 kPa sehingga jelas
terdapat hubungan kuat antara Gempa Yogya dengan
 peningkatan aktivitas Merapi pasca gempa, dari yang semula hanya 16 kali
luncuran awan panas/hari meningkat pesat menjadi 95 kali luncuran awan
panas/hari di hari-hari pasca gempa.

Atas dasar itulah Davies dkk (termasuk salah satu penulisnya pak Rudi
Rubiandini) menyimpulkan sangat sulit mengaitkan Gempa Yogya dengan semburan
Lumpur Lapindo di Porong, baik sebagai pemicu tunggal ataupun berkombinasi
dengan kecelakaan pemboran. Semburan lumpur itu lebih disebabkan oleh penyebab
tunggal : kecelakaan pemboran, dalam hal ini akibat tidak dipasangnya casing
sejak kedalaman 1.091 meter hingga 2.834 meter. Davies dkk menunjukkan, pada 28
Mei 2006 pukul 05:00 - 08:00 WIB sumur Banjar Panji-1 mengalami kick, yakni
masuknya air formasi dan gas ke dalam sumur, sehingga 50 % lumpur pemboran
mengalir keluar. Volume kick diestimasikan sebesar 62.000 - 95.000 liter dan
menyebabkan peningkatan tekanan casing secara spektakuler dari 1,72 MPa menjadi
7,27 MPa dalam 25 menit. Guna mengatasi kick ini dipompakan 3.021 liter lumpur
dengan berat jenis 0,0181 MPa/m (14,7 ppg). Kick memang berhenti, namun
akibatnya terjadi sesuatu yang lebih serius pada
 bagian sumur yang tidak ditutupi casing. Davies dkk menunjukkan pada kedalaman
1.091 meter saja (yakni bagian teratas yang tidak tertutupi casing), tekanan
dalam lubang sumur mencapai 0,0181 x 1091 + 7,27 = 27,02 MPa, sementara batas
kekuatan batuan pada kedalaman tersebut hanyalah 21,03 MPa. Jelas bahwa tekanan
dalam sumur melebihi kekuatan batuan sehingga terjadilah pecah formasi batuan
pada kedalaman > 1.091 meter dan terbentuk retakan-retakan radial. Akibatnya
air formasi dan gas (dan kemudian lumpur) yang semula masuk ke dalam sumur
lebih memilih jalan yang mudah yakni lewat retakan radial tersebut dan bergerak
ke atas hingga akhirnya keluar sebagai semburan lumpur.

Dan akhirnya, ada kalimat menarik dari Second from Disaster-nya National
Geographic : bencana tidaklah datang secara tiba-tiba, namun bencana merupakan
rangkaian dari peristiwa penting pada waktu yang genting. Bencana semburan
lumpur Lapindo jelas tidak datang sekonyong-konyong, namun berkait erat dengan
peristiwa-peristiwa penting di tempat itu, dalam hal ini kecelakaan pemboran
pada sumur Banjar Panji-1.



Ref :

Davies et.al, 2008, The East Java Mud Volcano (2006 to Present) : An Earthquake
or Driling Trigger? Earth & Planetary Science Letters (2008), in press.

Kanamori, 1977, The Energy Release in Great Earthquakes, Journal of Geophysical
Research 82 (1977) No. 20, p. 2981 - 2987.

Manga & Brodsky, 2006, Seismic Triggering of Eruptions in The Far Field :
Volcanoes and Geysers, Annual Review of Earth & Planetary Science 34
(2006),p.263 - 291.

Manga, 2007, Did an Earthquake Trigger the May 2006 Eruption of The Lusi Mud
Volcano? EOS 88 (2007), p. 201.

Mazzini et.al, 2007, Triggering and Dynamic Evolution of Lusi Mud Volcano
Indonesia, Earth & Planetary Science Letters 261 (2007), p. 375 - 388.

Walter et.al, 2007, Volcanic Activity Influenced by Tectonic Earthquakes :
Static and Dynamic Stress Triggering at Mt. Merapi, Geophysical Research
Letters 34 (2007).



-- 
Dongeng hari ini :
http://rovicky.wordpress.com/2008/10/18/menjadi-pekerja-excellent-tanpa-kerja-lembur/

--------------------------------------------------------------------------------
serah-terima pp-iagi: senin sore, 13 oktober 2008
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL
pasukan sedang disusun, hanya satu IAGI...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo, segera pula siapkan utk PIT IAGI ke-38
dg tuan-rumah adalah PENGDA JATENG
* mungkin di semarang
* mungkin pula di solo
* mungkin juga join dg HAGI dll.
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke