Dear IAGI netters, Mengenai hasil diskusi baik di BPPT dulu, tim yang dikomandoi oleh Pak Rubi, Tim Lapindo, juga diskusi terakhir di Cape Town, saya melihat kita semua jalan di tempat. Tidak aja kemajuan sama sekali. Masing-masing kelompok hanya menggunakan data masing2 yang mereka anggap benar lalu menganalisa dan menyimpulkan sesuai dengan keyakinan sendiri yang memang sudah dipegang teguh sejak awal perdebatan. Berangkat dari struktur berpikir masing2 dan kesimpulan sendiri2 itulah maka akhirnya ketika bertemu di ajang perdebatatan ilmiah yang ada malah debat kusir berkepanjangan dengan hasil teteeep aja kesimpulan sendiri yang benar. Jika memang semua dari kita memiliki benar2 berniat untuk tidak membiarkan hal ini berlarut2, sebenarnya tidak sulit. Tinggal marilah kita duduk bersama, mulai dari titik awal lagi dengan set data yang benar. Mari kita semua pelototi bersama set data itu. Siapa yang boleh hadir? Dua kubu yang bersilang pendapat, yaitu kubu yang menyimpulkan bahwa LUSI adalah murni akibat proses pemboran BJP-1, dan kubu yg menyimpulkan LUSI adalah murni fenomena mud volcano yg dipicu oleh gempa Jogja. Tidak sulit mencari siapa yang perlu hadir di situ: Pak Bambang Istadi, Pak Sawolo, Pak Manzini, Pak Awang, dan yang lain yang menyimpulkan bhw LUSI berkaitan dengan gempa Yogya. Lalu siapa lagi? Pak Nyoto, Pak Rubi, Pak Davis, Pak Tingay, Pak Kusuma, Pak Mino, dan banyak lagi yang menyimpulkan bahwa LUSI adalah akibat dari pemboran BJP-1. Lalu orang2 seperti saya yang haus akan pembelajaran, orang-orang yang terus terang ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Lalu apa yang mesti dilakukan? Bikin janjilah Bapak-bapak semua, kapan, di mana, berapa lama, bongkar data set yang ada, QC data setnya apakah data tersebut benar atau rekayasa, lalu sepakat lah bila set data tersebut sudah benar. Nah kemudian berdebatlah. Berdebatlah sejadinya dengan berdasarkan pada set data yang sudah di-QC tadi. Mana mudlognya, mana tabel lumpurnya, mana hidrolikanya, mana deskripsi cuttingnya, mana d-exponent-nya, mana analisa kromatografnya, mana pendekatan gradien fracturenya, mana real time recordnya, mana loss-nya, mana kicknya, berapa shut in pressure-nya, Kujung tertembus atau tidak, berapa leak of test di dekat casing shoe terakhir, mengapa tidak set casing sebelum menembus zona tekanan formasi yang berbeda, atau apakah memang sudah menembus rezim tekanan yang berbeda, mana ini, mana itu, mengapa begini dan begitu, kenapa rig release setelah stuck terjadi, apakah semburan terjadi di BJP-1 atau di jarak 50m atau 150m, atau 200m, mana yang benar, mana yang tidak tepat, bla bla bla dan bla bla bla. Ketika kita berdebat sejadinya sambil memelototi data yang sama, insya Allah kita semua akan menuju ke satu arah kesimpulan, insya Allah kita akan mencapai titik temu. Pertanyaan saya adalah, kenapa kita gak melakukan ini secepatnya? Apakah masing2 terlalu gengsi untuk memulai. Atau jangan2 tiap kelompok sama berpikir bahwa kelompok yang satu membela kepentingan politik tertentu, dan demikian pula sebaliknya. Akhirnya yang ada hanya kekonyolan semata.Ayolah secepatnya, biar jangan kita berlama2 berdebat kusir tak berujung dan lalu di selingi olok2an tak perlu. Ayo kita bikin pertemuan ini, minta izin company masing-masing, kalau perlu usahakan adanya instruksi resmi dari negara untuk menunjuk orang-orang tersebut untuk cuti barang 1-2 minggu agar hanya dan hanya berkonsentrasi memelototi set data yang benar tentang pengeboran BJP-1. Demi kebaikan bangsa ini, dan demi perkembangan ilmu geologi. Salam, Firman Fauzi

