Pak Awang,
 
Betul memang proses diagenesis bukan proses metamorpisme seperti  yang saya 
sebutkan dari awal. Proses metamorfisme dimulai pada regim temperatur  180-200 
deg C dengan munculnya mineral zeolite dkk atau pumpelit dkk pada protolith 
batuan Mg-Fe Rich rock (metabasic rock) dan dikenal sebagai very low grade 
metamorphism (contoh Piroksen di basalt sdh berubah menjadi pumpelite/zeolite). 
Jadi regim temperatur dibawah < 180 deg C disebutkan sebagai bagian dari proses 
sediment, dan termasuk proses diagenesis, jadi pengertian diagenesis disini 
mungkin termasuk dgn disebutkan Pak Awang sebagai meta/cata genesis. 
Jadi dlm istilah metamorphism regim temperatur dibawah 180 deg C sering disebut 
diagenesis secara umum.
 

Seperti yg disebutkan dari awal, metode mikrostruktur bisa menjadi tools utk 
membedakan batuan metamorf derajat rendah-sangat rendah  sebagai basement rock 
atau sebagai batuan sediment. Selain mikrostuktur, yang harus dilihat adalah 
asosiasi protolith-nya, utk asosiasi protolith ini harus memahami dulu  regim 
tectonic dalam pembentukan sedimetary basin ini dan regim tectonic dalam 
basement rock sekitarnya, agak panjang menjelaskannya. Mungkin ini belum 
menjawab secara detail dari pertanyaan Pak Natan, mungkin dalam kesempatan lain 
jika ketemu muka bisa sy jelaskan lebih terperinci,  saya belajar membedakan 
kedua jenis batuan tsb setelah ikutan project Fm Jatibarang bbrp thn lalu, 
itupun perlu jam terbang mengamati ratusan sayatan tipis dan akhirnya bisa 
menyimpulkan sesuatu.
 
Selain dua hal diatas, juga yang paling penting melihat asosiasi mineraloginya, 
ini memerlukan keahlian melihat paragenesis mineral.
Untuk batuan dgn protolith pure limestone atau sandstone sulit diamati 
perubahan mineraloginya, karena calcite dan quartz/silica memiliki stabilitas 
yang panjang dalam hal temperatur pembentukannya (50-300 deg C, correct me if 
wrong), jadi kristalin limestone dgn 100% calcite/dolimite sulit dibedakan 
apakah sebagai produk diagenesis atau very low grade metamorphisme kecuali sdh 
menunjukkan stuktur foliasi S0/S1 (metasediment as part of sedimentary basin).  
Jika menunjukan komplek mikrostruktur (S0.S1,S2, dst), nah sdh jelas dianggap 
basement rock. 
 
Munculnya aragonite bisa dijadikan indikasi low grade metamorphism (basement 
rock). Metalimestone  sdh dikatakan jelas proses metamorphism  (and part of the 
basement), jika sdh menunjukkan gejala de-carbonisasi, dgn munculnya scapolit, 
diopside and grossular (>300deg C), dan namanya juga dikatakan sebagai marble, 
bukan lagi metalimestone.
 
 Yang paling mudah mengamati dalam core samples adalah dengan melihat asosiasi 
mineral jenis batuan dgn protolithnya basic rock (incl, greywacke, 
volkanicklastik rocks) lihatlah apakah ada sdh munculnya zeolite dan pumpelite, 
kehadiran 1% pun dalam modal komposisi, sdh dikatakan sbg Batuan metamorf.
Untuk pure limestone, claystone, sandstone, shale, batubara  sulit utk 
dibedakan, kecuali sdh menunjukkan struktur foliasi.
 
Dari tepian Danau Matano yang indah
Ade Kadarusman

--- Pada Sen, 2/2/09, Awang Satyana <[email protected]> menulis:

Dari: Awang Satyana <[email protected]>
Topik: Re: Bls: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] Basement (?)
Kepada: [email protected], "Forum HAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad" 
<[email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS" 
<[email protected]>
Cc: [email protected]
Tanggal: Senin, 2 Februari, 2009, 2:36 AM

Pak Ade,
 
Terima kasih atas penjelasannya, terutama tentang konsep burial metamorphism
dan metode (mikrostruktur) untuk membedakan metasedimen sebagai bagian formasi
batuan sedimen, dan metasedimen sebagai bagian Basement. Saya pikir ini masukan
yang sangat penting.
 
Tentang sejarah termal batuan sedimen di dalam cekungan sedimen (eksplorasi
migas), dalam hubungannya dengan generasi minyak dan gas, kami tak pernah
mencantumkan batas atas diagenesis sampai 180 deg C. Eksplorasi migas biasa
menggunakan tiga wilayah termal : diagenesis, katagenesis, dan metagenesis.
Mengacu kepada Hunt (1996 –Petroleum Geochemistry and Geology 2nd ed., WH
Freeman and Co.), rejim termal tersebut adalah :
 
-diagenesis : up to 50 deg C
-catagenesis : 50-200 deg C
-metagenesis : 200-250 deg C
-oil window : 60-160 deg C
-gas window : 100-200 deg C
 
Barangkali ”diagenesis” yang Pak Ade sebutkan itu diagenesis di dalam
proses very low grade metamorphism, walaupun saya tak yakin bahwa diagenesis
adalah bagian proses metamorfisme sebab menurut American Geological Institute
(1987), diagenesis bukan bagian dari metamorfisme [”diagenesis is all the
chemical, physical, and biologic changes undergone by a sediment after its
initial deposition, and during and after its lithification, exclusife of surface
alteration (weathering) and metamorphism.”]
 
Diagenic metamorphism atau diagenism (istilah tua tetapi tepat, digunakan
Grabau, 1904 hal. 235; untuk membedakannya dengan diagenesis dalam sedimen)
mungkin bisa sampai 180 deg C oleh lithostatic pressure dalam static
metamorphism; tetapi diagenesis dalam sedimen dan eksplorasi migas tak pernah
lebih daripada 50 deg C.
 
Metamorfisme dalam eksplorasi hidrokarbon tumpang tindih dalam rejim termal
metagenesis, yang menurut Pak Ade : very low grade metamorphism dan bagian awal
low grade metamorphism). Di rejim ini generasi gas metana berkurang drastis,
sebagai gantinya struktur2 grafitik (C) mulai terbentuk sebab unsur H semakin
berkurang, sedangkan C semakin bertambah. Di rejim ini rasio atomik H/C dari
kerogen hanya tinggal 0,4 (di oil dan gas window masih sekitar 0,8-1,2).
Kerogen2 dengan rasio sebegitu biasa ditemukan di filit. 
 
Salam,
awang

--- On Sun, 2/1/09, Ade Kadarusman <[email protected]> wrote:

From: Ade Kadarusman <[email protected]>
Subject: Bls: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] Basement (?)
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Sunday, February 1, 2009, 10:24 AM

Menambahkan apa yang dijelaskan oleh Pak Awang, tetapi saya akan melihat dari
sisi yang berbeda dan mencoba untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan
“metasediment” dalam conteks sedimentary basin (burial metamorphism) dan
perbedaannya dengan batuan “metasediment” akibat convergent plate boundary
(regional metamorphism). Kalau sudah bisa memahami perbedaan antara dua jenis
metasediment tsb, kita bisa menyebutkan “metasediment” yg merupakan bagian
dari formasi batuan sediment itu sendiri atau “metasediment” yg merupakan
bagian dari basement rock.
 
Dalam pemahaman saya yg dimaksud dengan basement rock dalam conteks sedimentary
basin, adalah bagian yg terpisah dari system sediment tsb, jadi umumnya
basement
rock harus ada unconformity dgn batuan sediment diatasnya. Jadi jika ada batuan
metasediment yang hadir dibagian bawah suatu basin dan diduga masih merupakan
bagian dari formasi sediment tsb (tdk ada unconformity), bisa jadi metasedimen
tsb merupakan dari system sedimentary basin tsb, bukan sebagai basement rock.
Perubahan batuan sediment tsb menjadi metasediment diakibatkan burial
metamorphism (metamorfis beban), jadi kita harus hati-hati menyebutkan suatu
batuan metamorf terutama yg low grade sebagai basement rock.
 
Batuan metasediment adalah penamaan batuan sedimen yang sdh mengalami proses
metamorphism pada kondisi very low to low grade metamorphism, jadi umumnya
masih
menunjukkan struktur dan bentuk batuan sediment asalnya, dalam penamaannya utk
protolith limestone namanya menjadi metalimestone, untuk sandstone menjadi
metasandstone, metagreywacke dst. Kalau sdh menunjukkan bidang foliasi bisa
langsung disebutkan sebagai batu sabak (slate), filit dan sekis (schist).
 
Cara membedakan metasediment yang merupakan burial metamorphism atau
metasediment sebagai basement rock (regional met.), selain mengenali
protolithnya (batuan asal), juga melihat mikrostukturnya, jika metasediment
tersebut sudah memperlihatkan kompleks mikrostuktur/foliasi, seperti sdh
berkembangnya foliasi S0, S1, S2 dst, bisa disimpulkan metasediment tsb adalah
basement rock akibat regional metamorphism. Sedangkan metasediment akibat
burial
metamorphism, biasanya S0 (struktur sediment asal) memiliki arah dan bidang yg
sama dgn S1-nya. (foliasi akibat burial met.). Ini memang paling ideal dilihat
dari core samples, bukan dari cutting.
 
Yang disebut kristalin basement umumnya batuan metamorf yang memiliki grade
dari medium to high grade, seperti kuarsit, marble, sekis mika, sekis hijau,
gneiss, granitic gneiss etc
 
Dalam konsep basement tectonic, basement rock dapat dikategorikan sebagai : 
-         Continental basement (umumnya granite and low/med to high
grade metamorphic rock), umumnya stabil dan old continent, biasanya menjadi
target di dalam eksplorasi migas, karena umumya sedimentary basin yg potensial
berada di back arc basin atau continental shelf basin.
-         Oceanic crust basement, sekuen chert, basalt, gabbro dan
peridotite di ocean floor, jika sekuen oceanic crust tsb tersingkap di
continental margin atau island arc dinamakan sebagai ophiolite basement
-         Island Arc basement, biasanya percampuran produk island arc
magmatism/volkanism dgn batuan produk komplek akresi (mélange etc), hadir di
dalam convergent plate boundary.
 
Proses diagenesis dalam batuan sediment bukan merupakan proses metamorphism,
walaupun proses diagenesis dan proses low grade metamorphism adalah daerah yang
abu-abu (overlap). Thermal history dari batuan sediment bisa overlap dgn P-T
history dari suatu batuan metamorf. Istilah dalam eksplorasi migas:
- Diagenesis (up to 180ºC)
- Oil window (70-180 ºC)
- Gas Window (170-230 ºC)
- Oil destroyed and gas lost (from 230 ºC)
Klasifikasi thermal history tsb sangat tergantung berapa lama batuan sediment
tsb mengendap atau terbebankan (burial history).
 
Klasifikasi grade dari Burial metamorphism yang berkaitan dengan sedimentary
basin (normal gradient geothermal 20 ºC/km), untuk protolith dari mafic rocks
(Fe-Mg rich rock)

Very low grade metamorphism (150-230 ºC), zeolite facies, prehnite-pumpelite
Low grade metamorphism (200-400 ºC ), greenschist facies
Medium grade metamorphism (400-600 ºC), amphibolite
High grade metamorhism (>600 ºC), granulite
 
Beberapa tahun yang lalu saya mendapat kesempatan melihat sayatan tipis dari
core dan cutting utk Fm Jatibarang (thanks Pak Edy Sunardi) sampai ke ke batuan
yg dikategorikan basement, ada kesalahan mendasar dalam mendeskripsikan suatu
metamorphic basement, mungkin ketidaktahuan dalam mendefinisikan suatu basement
rock dan ketidaktahuan tentang jenis2 batuan metamorf. Bisa jadi pemboran
berhenti di formasi yg sebenarnya bukan metamorphic basement, dan akhirnya akan
miss mendapatkan informasi formasi yg dibawahnya yang mungkin potensi migasnya
ada. Maaf Saya gak bisa menjelaskan lebih lanjut, harus minta ijin Pak Edy
dulu.he..he..he...
 
Kerancuan mendasar lainnya dalam pemetaan regional di Indonesia Timur, banyak
batuan metamorf very low-low grade dgn protolith batuan sediment dinamakan
sebagai nama batuan sedimen atau dinamakan sebagai formasi batuan sedimen,
sedangkan yang batuan metamorf yg berderajat sedang keatas (medium to high
grade) dinamakan sebagai komplek batuan metamorf, padahal kedua jenis batuan
tersebut mengalami proses metamorphism yang sama tetapi berbeda derajat (grade)
dalam suatu komplek batuan metamorf regional atau sering dinamakan sebagai
prograde metamorphism ( jenis dan umur protolith batuan tsb tersebut sama).
 
Ade Kadarusman
Metamorphic Geologist, now trapped in Mining Industry

--- Pada Kam, 29/1/09, Awang Satyana <[email protected]> menulis:



      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke