“Lumba-lumba berenang ke perairan dangkal mendekati pantai Kepulauan Filipina, sebagian sampai mati terdampar di pantai, bukanlah kejadian yang aneh” kata seorang pejabat perikanan setempat. Namun, rombongan mamalia laut ini sampai sekitar 100 ekor berenang ke perairan dangkal sekitar Manila pada 10 Februari lalu adalah suatu kejadian yang aneh dan luar biasa. Sumber lain menyebutkan bahwa tidak hanya mendekati Manila rombongan lumba2 ini, tetapi juga warga melihat sejumlah besar lumba-lumba di dekat kota Pilar dan Abucay di Semenanjung Bataan, di sebelah Barat Manila. Total diperkirakan sekitar 200 ekor lumba-lumba yang berenang mendekati perairan dangkal Filipina. "Inilah fenomena yang aneh," kata Direktur Sumber Daya Perikanan dan Hasil Laut, Malcolm Sarmiento kepada radio setempat. Dia mengatakan mereka mungkin bereaksi karena "gelombang panas atau adanya gangguan lain di laut" seperti gempa besar di bawah permukaan laut. "Bila gendang telinga binatang itu rusak, mereka akan kehilangan arah, dan kemudian muncul ke permukaan." katanya seperti dikutip BBC. ------------------ Gempa ? Apakah mereka bereaksi aneh sebagai pertanda gempa akan terjadi di sekitarnya ? Mungkin saja. Gempa memang terjadi tidak sampai dua hari sesudah kebingungan lumba2 ini. Gempa besar berkekuatan 7,4 SR terjadi 1320 km di sebelah selatan menenggara Manila, di wilayah Indonesia di antara Kepulauan Talaud dan Kepulauan Sangir. Memang cukup jauh dari sumber gempa, bisa menjadi pertanyaan bila lumba2 ini menjadi penanda gempa besar akan datang, mengapa mereka justru tidak mendekati perairan Kepulauan Mindanao yang terletak lebih dekat ke sumber gempa, tetapi jauh ke utara di Kepulauan Luzon ? Pertanyaan bisa dijawab bahwa Laut Maluku di dekat Mindanao tak punya banyak lumba2 dibandingkan Laut Cina Selatan di dekat Manila. Sebab, habitat lumba-lumba adalah perairan paparan benua seperti Laut Cina Selatan, bukan lautdalam di antara dua busur volkanik seperti Laut Maluku. Lumba-lumba mencari jalan dengan mengirimkan suara didalam air. Jika suara itu mengenai suatu benda, suara itu akan dipantulkan kembali sebagai gema. Kadang kadang, suara gaduh di laut akibat pengeboran minyak dapat membingungkan Lumba-lumba. Mereka akan mengalami kesulitan dalam mengirim dan menerima pesan. Bagaimana kalau gelombang bunyi gempa besar yang akan terjadi mengganggu sistem navigasi lumba2 ? Kebingunganlah yang terjadi sebab kemampuan echo-location-nya (kemampuan menentukan lokasi dengan bantuan pantulan bunyi) terganggu. Banyak studi marine biology menunjukkan bahwa loud underwater noises akibat manusia (sonar2 kapal selam angkatan laut, membangun konstruksi bawahlaut, dsb.) atau alam (noise akibat gempa) membahayakan lumba-lumba, membuatnya tertekan (stress), merusak pendengarannya, dan cenderung memaksa mereka berenang ke permukaan terlalu cepat sehingga mengakibatkan decompression sickness yang lebih membahayakan para lumba-lumba ini. Banyak lumba2 mati ditemukan terdampar akibat dekompresi yang terlalu cepat. Para penyelam pun akan mengalami hal yang sama bila naik ke permukaan secara mendadak. salam, awang
--- On Sat, 2/14/09, Ipong Kunwau <[email protected]> wrote: From: Ipong Kunwau <[email protected]> Subject: [Geo_unpad] Gempa Sangihe-Talaud vs. Tarakan Basin To: [email protected] Date: Saturday, February 14, 2009, 9:42 AM Apa ada hubungannya dengan pemberitaan mengenai lumba lumba yang kesasar di Phillipines, dimana beberapa tewas terdampar di pantai sehingga masyarakat nelayan setempat menolong iring2an lumba lumba itu ke tengah laut lagi. Seru juga foto fotonya tuh. Phillipines kan di utaranya Sangir Talaud ? ---deleted Tabik, Kuntadi 86 --- Pada Jum, 13/2/09, Adi Pramono, Waluyono <adi.pramono@ chevron.com> menulis: Dari: Adi Pramono, Waluyono <adi.pramono@ chevron.com> Topik: RE: [Geo_unpad] Gempa Sangihe-Talaud 7,4 SR (7,2 Mw) 12 Feb. 2009 Kepada: geo_un...@yahoogrou ps.com Tanggal: Jumat, 13 Februari, 2009, 8:05 AM Hingga kini kita belum menemukan metode untuk mendeteksi kapan terjadinya gempa. Ada berita menarik di kompas online mengenai pindahnya lumba-lumba sebelum terjadi gempa. http://www.kompas. com/read/ xml/2009/ 02/12/16144885/ 250lumba- lumbapemberitand agempa Apakah ini sekedar insting binatang saja? Seperti halnya yg terjadi terhadap binatang di gunung, saat gunung akan meletus? Regards, Adi From: geo_un...@yahoogrou ps.com [mailto:Geo_ un...@yahoogroup s.com] On Behalf Of Awang Satyana Sent: Friday, February 13, 2009 12:34 PM To: IAGI; Forum HAGI; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS Subject: [Geo_unpad] Gempa Sangihe-Talaud 7,4 SR (7,2 Mw) 12 Feb. 2009 Sebuah gempa bermagnitude besar (7,4 SR / 7,2 Mw) menggoncangkan Laut Maluku dan pulau2 di sekitarnya di gugusan kepulauan Sangir/Sangihe - Talaud pada Kamis dini hari kemarin 12 Februari 2009 pukul 01.34 WITA. Gempa yang menyerang di tengah orang2 Sangir-Talaud tertidur lelap itu telah merusakkan 700 bangunan, hampir setengahnya rusak berat, melukai 42 orang : 10 luka berat, 2 tewas. Sekitar 5000 orang terpaksa mengungsi dan tidur di udara terbuka. Penduduk belum mau kembali ke rumahnya masing-masing sebab selain rusak juga telah terjadi sekitar 40 kali gempa susulan bermagnitude di sekitar 4 Mw, dan kelihatannya telah terjadi pemicuan beberapa gempa baru bermagnitude 6 Mw. Secara seimo-tektonik, wilayah ini adalah wilayah yang paling aktif di dunia, juga yang paling unik secara tektonik dengan terjadinya double subduction yang polaritasnnya saling berpunggungan dan membenturkan dua prisma akresi serta sistem forearc yang berlainan. Data USGS menunjukkan bahwa episentrum gempa berpusat di koordinat 3.902 deg N, 126.400 deg E. Kedalaman pusat gempa 20 km, magnitude 7.2 Mw. Lokasi ini berada di Laut Maluku di tengah antara Pulau Talaud dan Pulau Sangihe, 320 km UTL dari Manado. Berdasarkan Global CMT Moment Tensor Solution, gempa disebabkan pematahan naik thrust dengan jurus 181 deg NE dan kemiringan 37 deg. Sebenarnya, ini berpotensi sebagai tsunamigenic earthquake. Tetapi dilaporkan tidak terjadi tsunami, baik oleh Pemerintah Indonesia , Jepang, maupun Amerika Serikat. Semua syarat tsunami terpenuhi (magnitude > 6.5 Mw, episentrum di laut, pematahan dip-slip, dan kedalaman dangkal 20 km). Walaupun ini thrust, bukanlah mega-thrust ala gempa Aceh Desember 2004 atau gempa Pangandaran Juli 2006 yang menyebabkan tsunami. Penjelasan mengapa tak terjadi tsunami barangkali bisa dijelaskan oleh asal gempa yang terjadi di sedimen akresi hasil benturan dua sistem subduction yang saling berbenturan di Laut Maluku. Dengan kedalaman gempa 20 km, diperkirakan sumber patahan bukan pada oceanic slab, tetapi pada sedimen akresi yang asalnya melange prisma akresi atau melange di bawah forearc yang saling berbenturan yang diendapkan di atas oceanic slab. Gempa terjadi di zone benturan Laut Maluku. Zone ini secara tektonik terletak di complex junction antara Eurasian, Australian, Pacific, dan Philippune Sea plates. Di wilayah ini ada oceanic slab yang menunjam ke barat di bawah busur volkanik Sangihe, dan ada oceanic slab yang menunjam ke timur di bawah busur Halmahera . Kedua busur volkanik ini aktif dan selalu aktif seraya gempa menggoncangnya. Lokon, Klabat, Soputan ada di sisi barat (Sangihe), sementara Gamalama, Gamkonora ada di sisi timur ( Halmahera ). Karena di sisi luar dari palung subduksi ada prisma akresi melange; maka di sistem subduksi yang saling memunggung ini kedua sistem melange dari kedua oceanic slab duduk di tengah punggungnya. Dengan berjalannya subduksi ala vonveor belt maka lama-kelamaan kedua sistem melange ini berbenturan. Pulau Talaud adalah salah satu punggung tertinggi zone benturan di Laut Maluku ini. Pulau ini seluruhnya disusun oleh melange. Di sebelah selatan ada Pulau Mayu, yang disusun melange juga; maka biasanya para ahli tektonik menyebutnya sebagau Talaud-Mayu Ridge. Fokus2 gempa yang terjadi di wiayah ini bila diplot menunjukkan keberadaan dua zone Wadati-Benioff yang saling menjauh dari Laut Maluku, menunjukkan keberadaan dua oceanic slab yang bersubduksi saling berpunggungan. Gempa dini hari kemarin terjadi di wilayah sedimen prisma akresi di atas punggung benturan ini. Rigiditas batuan sedimen tentu lain daripada rigiditas oceanic slab. Barangkali kita bisa belajar dari kejadian gempa kemarin bahwa thrust pada prisma akresi walaupun dangkal dan gempanya kuat belum tentu tsunami-genic, bila dibandingkan dengan mega-thrust pada oceanic slab yang di atasnya ada kolom laut. Penduduk Talaud memang hidup di atas pulau melange di atas punggung yang menggelincir dan menunjam ke barat dan timur, lalu merupakan wilayah yang paling aktif di dunia. They are living at risk on the earthquake crest ! Semoga korban tewas tak bertambah, dan segera datang pertolongan. salam, awang Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! __._,_.___ Messages in this topic (3) Reply (via web post) | Start a new topic Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar Please Visit Our Website @ http://geounpad.ac.id/ and Our Forum @ http://forum.geounpad.ac.id/ Moderators: Budhi Setiawan '91 <[email protected]> Edi Suwandi Utoro '92 <[email protected]> Sandiaji '94 <[email protected]> Wanasherpa '97 <[email protected]> Satya '2000 <[email protected]> Andri'2004 <[email protected]> MARKETPLACE >From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity 5 New MembersVisit Your Group Y! Messenger Group get-together Host a free online conference on IM. Group Charity Stop Cyberbullying Keep your kids safe from bullying Yahoo! Groups Stay healthy and discover other people who can help. . __,_._,___

