Fajri, Tolong diperhatikan di peta yang Fajri lampirkan bahwa rembesan minyak dan gas di wilayah Banyumas membentuk jalur BL-Tenggara. Jalur ini tak hanya terjadi di Banyumas, tetapi juga jauh ke sebelah baratlautnya, melintasi batas provinsi Jawa Tengah-Jawa Barat sampai ke Majalengka di mana Jan Reerink selama lima tahun dari 1871-1876 menyerbunya dengan 19 sumur eksplorasi dangkal. Banyumas tetap misteri bagi banyak orang. Ada minyak dan gas di bawah wilayah ini. Mengapa sampai sekarang kita tak berhasil menemukannya setelah sekian lama dikerjakan oleh Belanda, Pertamina, Coparex, Lundin dan para partnernya ? Apakah sedemikian sulit ? Bukan, kita hanya kurang mengeksplorasinya saja. Memang lama dikerjakan, tetapi sedikit diusahakan... Sumur terdalam di wilayah ini dibor Lundin pada tahun 2006 diberi nama Jati-1. Sumur ini sebenarnya meneruskan pekerjaan dua sumur sebelumnya yang pernah dibor Belanda dan Pertamina yaitu Cipari-1 dan Karang Nangka-1. Lundin tak serta merta mengebor sumur dalam ini. Mereka bertahun-tahun mempelajarinya, termasuk melakukan analog lapangan ke beberapa wilayah di Jawa Barat. Peter Lunt, kawan saya di Lundin saat itu, yang sangat mengerti geologi Jawa dan banyak memimpin fieldtrip di Jawa, pernah beberapa kali mengajak saya masuk ke wilayah2 di Bayah, Ciletuh, dan selatan Citarum demi mempelajari analog silisiklastik Paleogen. Peter Lunt beranggapan bahwa batupasir Eosen yang tersingkap baik di Jawa Barat dapat menjadi analog untuk target Paleogen di Banyumas. Sebelum pemboran sumur Jati-1 disetujui, kami sempat berdiskusi panjang soal overpressure dan diapirisme di wilayah ini. Itulah kedua problem yang membuat sumur-sumur sebelumnya gagal menembus lebih dalam. Target Jati-1 adalah batupasir Paleogen baik punya Gabon (Old Andesite) maupun punya ekivalen Nanggulan. Semua sumur lama tak ada yang menembus Paleogen. Mereka semua berhenti di Late Miocene Halang. "Dengan berdarah-darah" (penuh problem mekanik) Lundin mengebor Jati-1 sampai hampir 15.000 ft, sebuah rekor sumur terdalam di Jawa Selatan. Sungguhpun demikian, target yang ingin dicapainya tak kunjung ditemukan. Ternyata, Halang dan mid-Miocene Penosogan di sini tebal sekali, jauh lebih tebal daripada yang bisa ditafsirkan di penampang seismik. Apakah Jati-1 menemukan minyak dan gas ? Ya, sebuah lapisan batupasir di bagian bawah Penosogan mengalirkan gas dan kondensat.Sayang tes tidak konklusif karena sumur sebelumnya penuh dengan problem mekanik. Tetapi sampel kondensat telah berhasil diambil dan inilah salah satu kunci yang akan membuka misteri Banyumas ke depan. Karena mengebor Jati-1 "penuh darah" beberapa company memilih meninggalkan Banyumas, Tak gampang memang mengerjakan Banyumas, ia tak sesederhana Cekungan Jawa Barat atau Jawa Timur yang produktif; tetapi sebenarnya kunci-kunci sudah mulai ditemukan, mereka berserakan di wilayah antara Majalengka dan Banyumas. Sebenarnya, inilah saatnya kita menjawab tantangan2 eksplorasi sebab penemuan-penemuan mudah telah berlalu. Secara singkat boleh dikatakan bahwa Jati-1 memang tak berhasil mencapai targetnya, tetapi jelas ia telah menjadi salah satu kunci yang membuka misteri Banyumas ke depan. salam, awang
--- On Mon, 3/9/09, Muhammad Walfajri <[email protected]> wrote: From: Muhammad Walfajri <[email protected]> Subject: Re: [Geo_unpad] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa To: [email protected] Date: Monday, March 9, 2009, 9:29 AM Pak Awang, Dari Banyumas PSC map (attached file) terlihat cukup banyak oil & gas seep disitu, yang merupakan titik ikat selatan(Banyumas) . Kalimat terakhir Pak Awang, "Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di cekungan-cekungan produktif saat ini", mungkin bisa menjadi penuntun bagi para eksplorasionis utk menemukan cadangan yg komersial. Ini sangat menarik bagi saya pak. Boleh tahu Pak Awang, bagaimana dgn eksplorasi yg dillakukan Lundin Bayumas B.V (1 atau 2 well?) di daerah ini 2/3 thn yg lalu ? Apakah pengeboran mereka - yg dengar2 cukup kompleks permasalahannya - memberikan harapan utk menguak misteri keberadaan hidrokarbon disana? Salam, Fajri '95 2009/3/9 Awang Satyana <awangsatyana@ yahoo.com> Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan ayahnya menjaga sebuah toko kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu melamunkan penemuan minyak seperti yang dilakukan Kolonel Drake di Pennsylvania pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima bahwa ada rembesan minyak keluar dari lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas, Majalengka. Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu. Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink tak menemui kesulitan dalam melobi Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk menyokong usahanya mencari minyak. Setelah sokongan diperoleh, Reerink pergi ke Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya. Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat Ciremai di mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor bergaya Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake mengebor sumur minyak pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari minyak. Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan Indonesia sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia. Sumur pertama itu dinamai Madja-1 atau Tjibodas Tangat-1. Tali, bukan pipa, digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau casing. Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari generator yang dihela beberapa ekor kerbau. Sumur pertama ini menemukan minyak walaupun sedikit. Reerink kemudian membor tiga sumur lagi di Cibodas dan dua di antaranya menemukan sedikit minyak. Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink berpikir bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam. Maka Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga uap, sebagai pengganti tenaga kerbau. Tahun 1874, Reerink memulai periode kedua kegiatan pemborannya. Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor beberapa sumur di Panais, Madja, dan Tjipinang. Semuanya berlokasi di lereng barat Gunung Ciremai, sayang semuanya gagal. Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini. Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch Shell) telah mengeluarkan 225.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin berusaha setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, tetapi perusahaan dagang Belanda itu tak mau lagi menyokong dananya. Pada akhir Juli 1876, Reerink kembali ke tokonya dan mengubur mimpinya menemukan dan menjadi saudagar minyak. Meskipun demikian, Jan Reerink patut dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari minyak. Reerink hidup sampai tahun 1923. Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke utara dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat di Lapangan Randegan. Berturut-turut, kemudian penemuan lapangan-lapangan penting terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan menuju Ciremai. Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir dan sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. Apakah Ciremai, Kuningan, Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai wilayah minyak ? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas ini merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa. Dan rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing eksplorasi. Sebuah keunikan geologi, tektonik,volkanisme , dan petroleum system terjadi di wilayah dari Majalengka-Banyumas . Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan uang pribadinya di lereng Ciremai. Ia belum beruntung saja. Keuntungan barangkali akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar dari wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam hal ini. Perburuan telah dimulai dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan Reerink, diteliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut (Majalengka) . Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di Banyumas, ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat ditentukan, mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data dan sains, dst., dst. Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di cekungan-cekungan produktif saat ini. Salam, awang __._,_.___ Messages in this topic (2) Reply (via web post) | Start a new topic Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar Please Visit Our Website @ http://geounpad.ac.id/ and Our Forum @ http://forum.geounpad.ac.id/ Moderators: Budhi Setiawan '91 <[email protected]> Edi Suwandi Utoro '92 <[email protected]> Sandiaji '94 <[email protected]> Wanasherpa '97 <[email protected]> Satya '2000 <[email protected]> Andri'2004 <[email protected]> MARKETPLACE >From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity 2 New Members 5 New PhotosVisit Your Group Y! Groups blog the best source for the latest scoop on Groups. All-Bran 10 Day Challenge Join the club and feel the benefits. Yahoo! Groups Auto Enthusiast Zone Auto Enthusiast Zone Car groups and more! . __,_._,___

