Pak Koesoema,
 
Tepatnya, sumur Jati-1 dibor dengan TD 14,747 ft, atau sekitar 4,5 km; saya 
pikir itu  sumur terdalam di daratan Jawa. Semula memang sumur tidak akan dibor 
sedalam itu, sekitar 9800 ft saja. Tetapi dari rencana TD sumur di dekat 
horizon 2 second, justru kenyataannya sampai 3 second. Dan, ternyata TD sumur 
masih bermain di horizon mid-Miocene Penosogan (atau Second Marlf Tuff kalau di 
Kebumen area). Target Oligocene/Eocene sands (Gabon dan eq. Nanggulan 
sands) belum tercapai. Sumur dihentikan karena pressure sudah tinggi dan di 
luar kapasitas rig bila diperdalam lagi serta terutama biaya telah jauh 
meninggalkan AFE-nya.
 
Maka, sumur tak mencapai Paleogen, apalagi Basement. Kedalaman basement di sini 
paling dangkal sekitar 5 second. Tak ada gamping ditembus, baik Kalipucang, 
apalagi Kujung. Formasi sedimen yang ditembus seluruhnya adalah volkaniklastik 
Halang dan Penosogan (Middle-Late Miocene). Di dekat TD sumur selapis batupasir 
volkanik Formasi Penosogan dites dan mengalirkan gas dan kondensat, sayang tes 
tidak konklusif.
 
Pak Eddy Subroto tahun lalu di pertemuan AAPG Capetown mempresentasikan 
analisis minyak-minyak terbaru di Banyumas, baik rembesan di permukaan maupun 
minyak/kondensat Jati-1. Dari penelitian Pak Eddy, rembesan2 minyak berkorelasi 
dengan sedimen Halang dan Rambatan; sedangkan minyak/kondensat Jati-1 
berkorelasi dengan sedimen eq. Karang Sambung. Berita gembira - sayang 
reservoir Oligosen/Eosen gagal ditembus Jati-1.  
 
Meskipun Jati-1 gagal menembus reservoir objektifnya, dan meskipun sumur dibor 
dengan "berdarah-darah", jelas Lundin berhasil membor jauh lebih dalam daripada 
sumur Cipari-1 (BPM) dan Karang Nangka-1 (Pertamina) - memang itu tujuan awal 
mereka : mengeksplorasi target dalam - sayang target dalam di sini terlalu 
dalam, meskipun Jati-1 telah dibor hampir 5 x lebih dalam daripada Karang 
Nangka. Jati-1 dibor di lokasi yang dulunya lokasi Cipari-1 dan Karang Nangka-1.
 
Eksplorasi di Banyumas tentu belum selesai. Jati-1 membawa hasil positif, bukan 
negatif. Banyumas duduk di atas wilayah petroleum system aktif - tinggal 
mencari ke mana wilayah yang paling mungkin memerangkap, dengan reservoir 
Paleogen yag jangan terlalu dalam, dan secara operasional tak kompleks.
 
Saya jadi ingat sebuah kisah saat dulu melakukan sosialisasi sumur Jati-1 
bersama kawan-kawan Lundin. Adalah seorang ibu di dekat lokasi Jati-1 yang 
profesinya paranormal. Ia berkata bahwa ia diberitahu oleh "sang mahakuasa" 
bahwa di bawah Banyumas ada lapangan minyak sebesar Arab (!). Hm...o ya...? 
 
Satu-satunya tempat di Jawa selatan yang kaya rembesan minyak adalah di 
Banyumas. Tidak salah para eksplorasionis memutar pikirannya di sini dari 
puluhan tahun lalu. Kegagalan sekarang bukan menandakan tak ada apa-apa di 
Banyumas, tetapi kita kurang serius dan intens saja mengerjakannya. Berbekal 
ketekunan, keberanian, sains yang baik, kejelian operasional, dan modal yang 
cukup semoga kelak kita bisa menemukan lapangan migas di Banyumas. Amin. 
 
salam,
awang

--- On Tue, 3/10/09, R.P.Koesoemadinata <[email protected]> wrote:

From: R.P.Koesoemadinata <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: [Geo_unpad] Jan Reerink (1871) dan Tantangan 
Eksplorasi Jawa
To: [email protected]
Date: Tuesday, March 10, 2009, 5:19 PM

Apakah sumur Jati-1 ini menembus basement? Apakah benar TD 15,000 kaki (hampir 5
km?) Apakah equivalent Kujung atau Kalipucang Ls ada? Paleogene?
RPK

----- Original Message ----- From: "Awang Satyana"
<[email protected]>
To: <[email protected]>
Cc: "IAGI" <[email protected]>; "Forum HAGI"
<[email protected]>; "Eksplorasi BPMIGAS"
<[email protected]>
Sent: Monday, March 09, 2009 10:59 AM
Subject: [iagi-net-l] Re: [Geo_unpad] Jan Reerink (1871) dan Tantangan
Eksplorasi Jawa


Fajri,

Tolong diperhatikan di peta yang Fajri lampirkan bahwa rembesan minyak dan gas
di wilayah Banyumas membentuk jalur BL-Tenggara. Jalur ini tak hanya terjadi di
Banyumas, tetapi juga jauh ke sebelah baratlautnya, melintasi batas provinsi
Jawa Tengah-Jawa Barat sampai ke Majalengka di mana Jan Reerink selama lima
tahun dari 1871-1876 menyerbunya dengan 19 sumur eksplorasi dangkal.

Banyumas tetap misteri bagi banyak orang. Ada minyak dan gas di bawah wilayah
ini. Mengapa sampai sekarang kita tak berhasil menemukannya setelah sekian lama
dikerjakan oleh Belanda, Pertamina, Coparex, Lundin dan para partnernya ? Apakah
sedemikian sulit ? Bukan, kita hanya kurang mengeksplorasinya saja. Memang lama
dikerjakan, tetapi sedikit diusahakan...

Sumur terdalam di wilayah ini dibor Lundin pada tahun 2006 diberi nama Jati-1.
Sumur ini sebenarnya meneruskan pekerjaan dua sumur sebelumnya yang pernah dibor
Belanda dan Pertamina yaitu Cipari-1 dan Karang Nangka-1. Lundin tak serta merta
mengebor sumur dalam ini. Mereka bertahun-tahun mempelajarinya, termasuk
melakukan analog lapangan ke beberapa wilayah di Jawa Barat. Peter Lunt, kawan
saya di Lundin saat itu, yang sangat mengerti geologi Jawa dan banyak memimpin
fieldtrip di Jawa, pernah beberapa kali mengajak saya masuk ke wilayah2 di
Bayah, Ciletuh, dan selatan Citarum demi mempelajari analog silisiklastik
Paleogen. Peter Lunt beranggapan bahwa batupasir Eosen yang tersingkap baik di
Jawa Barat dapat menjadi analog untuk target Paleogen di Banyumas.

Sebelum pemboran sumur Jati-1 disetujui, kami sempat berdiskusi panjang soal
overpressure dan diapirisme di wilayah ini. Itulah kedua problem yang membuat
sumur-sumur sebelumnya gagal menembus lebih dalam. Target Jati-1 adalah
batupasir Paleogen baik punya Gabon (Old Andesite) maupun punya ekivalen
Nanggulan. Semua sumur lama tak ada yang menembus Paleogen. Mereka semua
berhenti di Late Miocene Halang.

"Dengan berdarah-darah" (penuh problem mekanik) Lundin mengebor
Jati-1 sampai hampir 15.000 ft, sebuah rekor sumur terdalam di Jawa Selatan.
Sungguhpun demikian, target yang ingin dicapainya tak kunjung ditemukan.
Ternyata, Halang dan mid-Miocene Penosogan di sini tebal sekali, jauh lebih
tebal daripada yang bisa ditafsirkan di penampang seismik. Apakah Jati-1
menemukan minyak dan gas ? Ya, sebuah lapisan batupasir di bagian bawah
Penosogan mengalirkan gas dan kondensat.Sayang tes tidak konklusif karena sumur
sebelumnya penuh dengan problem mekanik. Tetapi sampel kondensat telah berhasil
diambil dan inilah salah satu kunci yang akan membuka misteri Banyumas ke depan.

Karena mengebor Jati-1 "penuh darah" beberapa company memilih
meninggalkan Banyumas, Tak gampang memang mengerjakan Banyumas, ia tak
sesederhana Cekungan Jawa Barat atau Jawa Timur yang produktif; tetapi
sebenarnya kunci-kunci sudah mulai ditemukan, mereka berserakan di wilayah
antara Majalengka dan Banyumas. Sebenarnya, inilah saatnya kita menjawab
tantangan2 eksplorasi sebab penemuan-penemuan mudah telah berlalu.

Secara singkat boleh dikatakan bahwa Jati-1 memang tak berhasil mencapai
targetnya, tetapi jelas ia telah menjadi salah satu kunci yang membuka misteri
Banyumas ke depan.

salam,
awang




--- On Mon, 3/9/09, Muhammad Walfajri <[email protected]> wrote:

From: Muhammad Walfajri <[email protected]>
Subject: Re: [Geo_unpad] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa
To: [email protected]
Date: Monday, March 9, 2009, 9:29 AM







Pak Awang,

Dari Banyumas PSC map (attached file) terlihat cukup banyak oil & gas seep
disitu, yang merupakan titik ikat selatan(Banyumas) . Kalimat terakhir Pak
Awang, "Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di
cekungan-cekungan produktif saat ini", mungkin bisa menjadi penuntun bagi
para eksplorasionis utk menemukan cadangan yg komersial. Ini sangat menarik bagi
saya pak.
Boleh tahu Pak Awang, bagaimana dgn eksplorasi yg dillakukan Lundin Bayumas B.V
(1 atau 2 well?) di daerah ini 2/3 thn yg lalu ? Apakah pengeboran mereka - yg
dengar2 cukup kompleks permasalahannya - memberikan harapan utk menguak misteri
keberadaan hidrokarbon disana?

Salam,
Fajri '95


2009/3/9 Awang Satyana <awangsatyana@ yahoo.com>











Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada
zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan
ayahnya menjaga sebuah toko kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu
melamunkan penemuan minyak seperti yang dilakukan Kolonel Drake di Pennsylvania
pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima bahwa ada rembesan minyak
keluar dari lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas, Majalengka.
Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu.

Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink tak menemui kesulitan dalam
melobi Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk
menyokong usahanya mencari minyak. Setelah sokongan diperoleh, Reerink pergi ke
Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya.

Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat Ciremai di
mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor bergaya
Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake mengebor sumur minyak
pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari minyak.
Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan Indonesia
sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia.

Sumur pertama itu dinamai Madja-1 atau Tjibodas Tangat-1. Tali, bukan pipa,
digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau casing.
Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari
generator yang dihela beberapa ekor kerbau. Sumur pertama ini menemukan minyak
walaupun sedikit. Reerink kemudian membor tiga sumur lagi di Cibodas dan dua di
antaranya menemukan sedikit minyak.

Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink berpikir
bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam. Maka
Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga uap,
sebagai pengganti tenaga kerbau. Tahun 1874, Reerink memulai periode kedua
kegiatan pemborannya. Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor beberapa
sumur di Panais, Madja, dan Tjipinang. Semuanya berlokasi di lereng barat Gunung
Ciremai, sayang semuanya gagal.

Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini.
Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch Shell)
telah mengeluarkan 225.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang
pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin berusaha
setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, tetapi
perusahaan dagang Belanda itu tak mau lagi menyokong dananya.

Pada akhir Juli 1876, Reerink kembali ke tokonya dan mengubur mimpinya
menemukan dan menjadi saudagar minyak. Meskipun demikian, Jan Reerink patut
dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari minyak.
Reerink hidup sampai tahun 1923.

Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke utara
dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM (Bataafsche
Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat di
Lapangan Randegan. Berturut-turut, kemudian penemuan lapangan-lapangan penting
terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan menuju
Ciremai.
Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir dan
sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. Apakah Ciremai, Kuningan,
Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai wilayah
minyak ? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas ini
merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa. Dan
rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing
eksplorasi.

Sebuah keunikan geologi, tektonik,volkanisme , dan petroleum system terjadi di
wilayah dari Majalengka-Banyumas . Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan uang
pribadinya di lereng Ciremai. Ia belum beruntung saja. Keuntungan barangkali
akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar dari
wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam hal
ini.

Perburuan telah dimulai dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan Reerink,
diteliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut
(Majalengka) . Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di
Banyumas, ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat
ditentukan, mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data dan sains, dst.,
dst.

Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di cekungan-cekungan
produktif saat ini.

Salam,
awang




























__._,_.___
Messages in this topic (2) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar
Please Visit Our Website @ http://geounpad.ac.id/
and Our Forum @ http://forum.geounpad.ac.id/


Moderators:
Budhi Setiawan '91 <[email protected]>
Edi Suwandi Utoro '92 <[email protected]>
Sandiaji '94 <[email protected]>
Wanasherpa '97 <[email protected]>
Satya '2000 <[email protected]>
Andri'2004 <[email protected]>

MARKETPLACE



>From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods

Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to
Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe



Recent Activity


2
New Members

5
New PhotosVisit Your Group



Y! Groups blog
the best source
for the latest
scoop on Groups.

All-Bran
10 Day Challenge
Join the club and
feel the benefits.

Yahoo! Groups
Auto Enthusiast Zone
Auto Enthusiast Zone
Car groups and more!
.

__,_._,___



















__________ NOD32 3917 (20090307) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com


--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------




      

Kirim email ke