Pak Awang YTH.,

Melihat hasil pemboran sumur2 explorasi di Madja-1, Tjibodas Tangat-1, kemudian 
disusul oleh Randegan-1, dsb., apakah source HC ini berasal dari Cipunegara E15 
graben (dalam Noble et al 1997, dan juga dalam Suyono et al 2005)...?

...kalau melihat peta Basement ini (TWT 2.5-3.0 second), ke arah barat ke Pasir 
Bungur, Kepuh, Ciputat dan juga ke arah Timur ke arah Tanjung, Pemalang, 
Kendal, dst.,...rupa nya wilayah2 ini menjadi daerah yang proven HC, dan juga 
berpotensi untuk ditemukan HC..., bila dikorelasikan dengan apa yang pak Awang 
kemukakan dalam identasi di Jawa Tengah, dan juga dua sesar mendatar sinistral 
NE-SW Muria Kebumen, dan NW-SE Pamanukan-Cilacap; apakah berimplikasi terhadap 
petroleum system di daerah2 yang ada di dekat nya...?

Bila di selatan Kendal, ada lapangan Cipluk, struktural trap nya berhubungan 
dengan tektonik gaya berat dan toe thrusting; mungkinkah system ini juga bisa 
ditemukan juga di sebelah selatan, misal di wilayah Banyumas, kemudian di dekat 
jalur pegunungan selatan, dimana di wilayah ini terdapat Alveolina-1 dan 
Borelis-1, ...dan apakah sebenarnya yang menyebabkan belum ditemukan nya HC di 
wilayah ini, apakah source rock problem...?

Dalam section berarah Selatan-NE-NW, dari outer arc ridge-Wonosari platform s/d 
South Rembang-Randublatung zone dan berakhir di Muria Through (dalam Hehuwat 
dan Siregar, 2004), disebutkan adanya Baturagung Basin (di sebelah Barat Daya 
nya, juga terdapat Kebumen Basin), namun sangat berdekatan dengan southern 
mountain magmatic arc, bagaimana kah potensi HC di wilayah ini...?

Bergeser ke barat selatan, di South West Java Basin, dimana terdapat sumur 
Ujung Kulon-1, Malingping-1 (Honje high) kemudian di Timur nya ada DDH-1, DDH-2 
(Bayah high); dimana Late Eocene Bayah diinterpretasikan sebagai source rock 
(dalam Keetley et al, 1997) dan environment nya adalah delta, dalam rift basin 
phase, ....bila dikorelasikan dengan peta paleogeography dengan umur yang sama 
(dalam Clement dan Hall, 2007), rupa nya ada supply material volcanic dari 
sebelah Timur (?), apakah hal ini juga bisa menjadi penyebab tidak terlalu 
bagus nya kualitas source rock di daerah ini, ataukah ada penyebab lain nya 
sehingga HC belum secara significant ditemukan di wilayah ini...?

Apakah ada perbedaan kandungan TOC, HI, type Kerogen, T Max, Ro, 
dsb., antara SW Java Basin ini dengan NW Java Basin....?


Mohon pencerahan nya pak...


Best Regards
Sigit Ari Prabowo




________________________________
From: Awang Satyana <[email protected]>
To: IAGI <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>; Geo Unpad 
<[email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS 
<[email protected]>
Sent: Monday, March 9, 2009 12:38:59 AM
Subject: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa

Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada 
zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan 
ayahnya menjaga sebuah toko kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu 
melamunkan penemuan minyak seperti yang dilakukan Kolonel Drake di 
Pennsylvania  pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima bahwa ada 
rembesan minyak keluar dari lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa 
Cibodas, Majalengka. Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu.
 
Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink tak menemui kesulitan dalam 
melobi Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk 
menyokong usahanya mencari minyak. Setelah sokongan diperoleh, Reerink pergi ke 
Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya.
 
Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat Ciremai di 
mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor  bergaya 
Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake mengebor sumur minyak 
pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari 
minyak. Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan 
Indonesia sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia.
 
Sumur pertama itu dinamai Madja-1 atau Tjibodas Tangat-1. Tali, bukan pipa, 
digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau casing. 
Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari 
generator yang dihela beberapa ekor kerbau. Sumur pertama ini menemukan minyak 
walaupun sedikit. Reerink kemudian membor tiga sumur lagi di Cibodas dan dua di 
antaranya menemukan sedikit minyak. 
 
Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink berpikir 
bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam. Maka 
Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga uap, 
sebagai pengganti tenaga kerbau. Tahun 1874, Reerink memulai periode kedua 
kegiatan pemborannya.  Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor 
beberapa sumur di Panais, Madja, dan Tjipinang. Semuanya berlokasi di lereng 
barat Gunung Ciremai, sayang semuanya gagal.
 
Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini.  
Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch Shell) 
telah mengeluarkan 225.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang 
pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin berusaha 
setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, tetapi 
perusahaan dagang Belanda itu tak mau lagi menyokong dananya.
 
Pada akhir Juli 1876, Reerink kembali ke tokonya dan mengubur mimpinya 
menemukan dan menjadi saudagar minyak. Meskipun demikian, Jan Reerink patut 
dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari 
minyak. Reerink hidup sampai tahun 1923. 
 
Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke utara 
dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM 
(Bataafsche Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa 
Barat di Lapangan Randegan. Berturut-turut, kemudian penemuan lapangan-lapangan 
penting terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan 
menuju Ciremai. 
Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir dan 
sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. Apakah Ciremai, Kuningan, 
Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai wilayah 
minyak ? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas ini 
merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa. Dan 
rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing 
eksplorasi. 
 
Sebuah keunikan geologi, tektonik,volkanisme, dan petroleum system terjadi di 
wilayah dari Majalengka-Banyumas. Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan uang 
pribadinya di lereng Ciremai. Ia belum beruntung saja. Keuntungan barangkali 
akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar dari 
wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam hal 
ini.
 
Perburuan telah dimulai dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan Reerink, 
diteliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut 
(Majalengka). Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di 
Banyumas, ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat 
ditentukan, mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data dan sains, dst., 
dst. 
 
Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di cekungan-cekungan 
produktif saat ini.
 
Salam,
awang


      

Kirim email ke