Pak Syaiful, Saya tak punya referensi aslinya, saya menemukan dua nama (Madja-1 dan Tjibodas Tangat-1) dari laporan2 tidak dipublikasikan yang digunakan untuk sumur eksplorasi pertama di Indonesia itu. Saya tak yakin bahwa ada laporan2 resmi untuk sumur2 yang dibor Jan Reerink sebab pada zaman itu belum ada perusahaan minyak Belanda di Indonesia. Meskipun demikian, kawan2 dari Pertamina EP atau Pertamina Cirebon barangkali bisa memberikan informasi lebih lanjut. Maja dan Cibodas adalah dua nama tempat di lereng barat Ciremai, bisa dicapai dari Majalengka ke Cikijing melalui jalan kabupaten. Cikijing adalah nama tempat di tepi jalan raya dari Kuningan ke Ciamis. salam, awang --- On Mon, 3/9/09, [email protected] <[email protected]> wrote:
From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa To: "Milis PP-IAGI" <[email protected]> Date: Monday, March 9, 2009, 2:09 AM Cerita yg menarik dan memberikan motivasi. Jadi, pak Awang, satu sumur pertama tsb punya dua nama: Madja-1 dan Tjibodas Tangat-1? Kalau boleh tahu, referensinya apa? Apakah masih ada semacam 'laporan pemboran' (tentu dalam Bahasa Belanda ya) atau data/sketsa jaman dulu? Salam, Syaiful Mohammad Syaiful * handphone: +62-812-9372808 * business: [email protected] -----Original Message----- From: Awang Satyana <[email protected]> Date: Sun, 8 Mar 2009 10:38:59 To: IAGI<[email protected]>; Forum HAGI<[email protected]>; Geo Unpad<[email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS<[email protected]> Subject: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan ayahnya menjaga sebuah toko kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu melamunkan penemuan minyak seperti yang dilakukan Kolonel Drake di Pennsylvania pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima bahwa ada rembesan minyak keluar dari lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas, Majalengka. Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu. Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink tak menemui kesulitan dalam melobi Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk menyokong usahanya mencari minyak. Setelah sokongan diperoleh, Reerink pergi ke Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya. Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat Ciremai di mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor bergaya Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake mengebor sumur minyak pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari minyak. Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan Indonesia sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia. Sumur pertama itu dinamai Madja-1 atau Tjibodas Tangat-1. Tali, bukan pipa, digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau casing. Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari generator yang dihela beberapa ekor kerbau. Sumur pertama ini menemukan minyak walaupun sedikit. Reerink kemudian membor tiga sumur lagi di Cibodas dan dua di antaranya menemukan sedikit minyak. Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink berpikir bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam. Maka Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga uap, sebagai pengganti tenaga kerbau. Tahun 1874, Reerink memulai periode kedua kegiatan pemborannya. Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor beberapa sumur di Panais, Madja, dan Tjipinang. Semuanya berlokasi di lereng barat Gunung Ciremai, sayang semuanya gagal. Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini. Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch Shell) telah mengeluarkan 225.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin berusaha setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, tetapi perusahaan dagang Belanda itu tak mau lagi menyokong dananya. Pada akhir Juli 1876, Reerink kembali ke tokonya dan mengubur mimpinya menemukan dan menjadi saudagar minyak. Meskipun demikian, Jan Reerink patut dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari minyak. Reerink hidup sampai tahun 1923. Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke utara dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat di Lapangan Randegan. Berturut-turut, kemudian penemuan lapangan-lapangan penting terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan menuju Ciremai. Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir dan sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. Apakah Ciremai, Kuningan, Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai wilayah minyak ? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas ini merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa. Dan rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing eksplorasi. Sebuah keunikan geologi, tektonik,volkanisme, dan petroleum system terjadi di wilayah dari Majalengka-Banyumas. Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan uang pribadinya di lereng Ciremai. Ia belum beruntung saja. Keuntungan barangkali akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar dari wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam hal ini. Perburuan telah dimulai dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan Reerink, diteliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut (Majalengka). Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di Banyumas, ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat ditentukan, mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data dan sains, dst., dst. Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di cekungan-cekungan produktif saat ini. Salam, awang

