Sigit, Saat generasi hidrokarbon terjadi di graben-graben Cekungan Jawa Barat (Cipunegara-E15, Pasir Bungur, Central Arjuna, South Arjuna, dsb.) di wilayah onshore dan offshore (12 Ma seiring dengan selesai diendapkannya sedimen Upper Cibulakan sebagai burial sediments(lihat publikasi Nugrahanto & Noble, 1997 -Petroleum System Symposium IPA); Bogor Trough telah merupakan depresi yang aktif dan terpisah secara efektif di bagian tengah Jawa Barat. Apa yang terjadi di graben2 Cekungan Jawa Barat tak paralel terjadi dengan Bogor Trough. Menjadi pertanyaan sampai saat ini apakah batuan Paleogen yang menjadi sources di Cekungan Jawa Barat dan Sunda (Banuwati dan Talang Akar) menerus sampai ke palung Bogor saat ia belum menjadi depresi. Boleh kita diskusikan meskipun tetap akan spekulatif sebab kita tak punya bukti lapangan. Satu hal yang penting dipikirkan adalah bahwa Palung Bogor terbuka untuk menerima sedimen-sedimen erosi termasuk sources dari utaranya saat susut laut terjadi di beberapa wilayah Cekungan Jawa Barat. Seperti model Makassar Strait, maka terbuka kemungkinan reworked sources dan reservoirs di dalam Palung Bogor. Model ini saya dan kawan2 junior dari Unpad (saat itu masih mahasiswa, sekarang sudah menjadi geologists) kembangkan dan sudah dipublikasikan di beberapa forum dan jurnal (Raharjo et al., 2002 dan Satyana et al., 2002 di Buletin Khusus ITB memperingati purnakarya Pak Sujono Martodjojo; Satyana, 2003 di Newsletter IPA edisi Juni 2003; dan Satyana & Armandita, 2004 di simposium deepwater dan frontier IPA). Apakah minyak di Maja dan Cibodas berasal dari reworked Talang Akar di dalam Bogor Trough ? Penelitian Totong Usman dkk (2005) menyebutkan bahwa minyak Maja berciri terestrial dengan menggunakan berbagai biomarker meskipun tak persis sama dengan minyak2 di Cekungan Jawa Barat. Dari sini bisa dipastikan bahwa minyak Maja bukan dari Cipunegara Low, tetapi dari Bogor Trough sendiri dengan sources yang terestrial. Totong Usman dkk juga meneliti sampel berumur N-4 yang ekivalen dengan Talang Akar bagian atas dan analisis geokimianya menunjukkan lingkungan terestrial serta cukup berkorelasi saat dilakukan oil to source correlation. Minyak Randegan-1 lain lagi, ia mungkin berasal dari Babadan Low (Suyono et al., 2005). Batas utara Cipunegara, Pasir Bungur dan Kepuh, tetapi tidak Ciputat, juga tidak Tanjung, Pemalang, dan Kendal (Noble et al., 1997) dipengaruhi oleh zone sesar besar yang saya sebut Pamanukan-Cilacap FZ (fault zone) (Satyana & Purwaningsih, 2002 - buku geologi dan sumberdaya mineral Jawa Tengah; Satyana, 2005-IAGI, 2006-AAPG Perth, 2007-IPA). Dan, sesar besar ini, yang di beberapa tempat ternyata membuka secara trans-tension duplex sehingga membuka secara pull-apart (terutama di wilayah Kuningan-Majenang) (Armandita et al., 2009 -akan dipublikasikan di pertemuan IPA mendatang) ternyata sangat mengontrol penyebaran sedimen volkaniklastik di wilayah ini. Dan, minyak Maja serta Cibodas adalah di dalam wilayah trans-tension duplex ini. Gliding tectonics yang menyebabkan toe-thrusting di wilayah utara Jawa Tengah (Satyana & Armandita, 2004-IPA; Satyana, 2006-AAPG Perth, Satyana-2007-IPA) hanya akan ada di North Serayu Basin/Sub-Basin dan tidak akan ada di South Serayu Basin/Sub-Basin atau Banyumas Basin. Sistem toe-thrusting biasa terbentuk di sedimen progradasional yang diendapkan dalam cekungan yang tenggelam. Dalam kajian tektonik indentasi Jawa Tengah yang saya kemukakan sejak 2002; progradasi sedimen tersebut ke arah utara sebab oleh berjalannya dua zone sesar besar (Muria Kebumen sinistral vs. Pamanukan Cilacap dextral) yang mengapit Jawa Tengah sehingga menyebabkan indentasi tektoniknya, wilayah Serayu selatan justru terangkat oleh penguncian tektonik dua sesar besar yang saling berkonvergen di selatan Jawa Tengah itu. Dalam pemahaman saya, itulah yang menyebabkan batuan tertua tersingkap di Luk Ulo. Ke utara, terjadi sebaliknya, yaitu tenggelam dan ke situlah progradasi sedimen diendapkan dan mengalami toe-thrusting. Gliding tectonics keutara Jawa Tengah ini sebenarnya telah digambarkan oleh van Bemmelen (1949), hanya mekanisme saya sebutkan oleh konvergensi dua sesar besar itu. Lapangan Cipluk yang reservoirnya adalah Banyak volcaniclastics adalah contoh toe-thrusting. Wilayah Serayu Utara ini masih berpeluang besar untuk hidrokarbon. Sayang, tak banyak yang berani masuk ke situ. Mengeksplorasi Serayu Selatan, Pegunungan Selatan, sampai ke wilayah offshore-nya berbeda dengan mengeksplorasi Serayu Utara. Saya tak mengkuatirkan source di wilayah Banyumas; tetapi masalah source yang baik dan matang di wilayah Pegunungan Kidul dan offshore selatannya merupakan risiko utama. Dua sumur offshore di selatan Yogya itu yang satu punya problem no source dan yang satu no reservoir dan no source. Saya sangat senang kalau ada laporan yang bisa dipercaya bahwa ada rembesan minyak keluar dari Pegunungan Selatan, sayang sampai sekarang tak terbukti. Section yang menampilkan Baturagung (Hehuwat & Siregar, 2004 - fieldtrip LIPI untuk BPMIGAS) memang baik bila ia bisa bertindak sebagai kitchen graben; tetapi saya meragukan ada source-quality sediments diendapkan di Baturagung Graben; padahal karbonat Wonosari reefs di situ sangat frontal terhadap Baturagung Graben bila ia jadi kitchen. Potensi hidrokarbon Pegunungan Selatan dari Jawa Barat, Jawa Tengah, sampai Jawa Timur adalah tantangan eksplorasi terbesar di Jawa. Di SW Java dari Ciletuh, Bayah, dan Rangkasbitung; tak perlu meragukan impurities volkanik pada sources sebab volkanisme di sini umumnya terjadi di Oligo-Miosen (Old Andesite), sementara source-nya lebih tua (ekivalen Banuwati di Sunda Basin). Justru endapan volkanik bisa sebagai burial sediments-nya; hanya kelak akan menyusahkan seismic imaging trap dan reservoir Paleogen yang ekivalen Bayah, Ciletuh, atau Walat Fms. Sumur2 Amoco di sebelah baratlaut Pelabuhanratu bukan sumur2 dalam, jadi mereka tak mengurangi prospektivitas Paleogen di wilayah ini. Tentu saja ada perbedaan kandungan TOC, HI, type Kerogen, T Max, Ro, dsb., antara SW Java Basin ini dengan NW Java Basin; meskipun ada yang menulis bahwa pada Paleogen mungkin mereka satu jalur sebelum terpisah oleh Bogor Basin; mereka tetap pada posisi yang berlainan relatif terhadap tepi tenggara Sundaland. Semakin suatu sistem graben terbentuk di kontinen dan jauh dari tepinya, ia akan punya karakter yang lebih baik dibandingkan tepi-tepinya. Sebagai contoh, bandingkanlah rift system West Natuna, Central Sumatra, Sunda-Asri, dan Jawa Timur -ketiganya punya karakter sources yang berlainan, meskipun sama2 Paleogen umurnya. salam, awang
--- On Tue, 3/10/09, sigit prabowo <[email protected]> wrote: From: sigit prabowo <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa To: [email protected], "awang satyana" <[email protected]> Date: Tuesday, March 10, 2009, 11:34 AM Pak Awang YTH., Melihat hasil pemboran sumur2 explorasi di Madja-1, Tjibodas Tangat-1, kemudian disusul oleh Randegan-1, dsb., apakah source HC ini berasal dari Cipunegara E15 graben (dalam Noble et al 1997, dan juga dalam Suyono et al 2005)...? ...kalau melihat peta Basement ini (TWT 2.5-3.0 second), ke arah barat ke Pasir Bungur, Kepuh, Ciputat dan juga ke arah Timur ke arah Tanjung, Pemalang, Kendal, dst.,...rupa nya wilayah2 ini menjadi daerah yang proven HC, dan juga berpotensi untuk ditemukan HC..., bila dikorelasikan dengan apa yang pak Awang kemukakan dalam identasi di Jawa Tengah, dan juga dua sesar mendatar sinistral NE-SW Muria Kebumen, dan NW-SE Pamanukan-Cilacap; apakah berimplikasi terhadap petroleum system di daerah2 yang ada di dekat nya...? Bila di selatan Kendal, ada lapangan Cipluk, struktural trap nya berhubungan dengan tektonik gaya berat dan toe thrusting; mungkinkah system ini juga bisa ditemukan juga di sebelah selatan, misal di wilayah Banyumas, kemudian di dekat jalur pegunungan selatan, dimana di wilayah ini terdapat Alveolina-1 dan Borelis-1, ...dan apakah sebenarnya yang menyebabkan belum ditemukan nya HC di wilayah ini, apakah source rock problem...? Dalam section berarah Selatan-NE-NW, dari outer arc ridge-Wonosari platform s/d South Rembang-Randublatung zone dan berakhir di Muria Through (dalam Hehuwat dan Siregar, 2004), disebutkan adanya Baturagung Basin (di sebelah Barat Daya nya, juga terdapat Kebumen Basin), namun sangat berdekatan dengan southern mountain magmatic arc, bagaimana kah potensi HC di wilayah ini...? Bergeser ke barat selatan, di South West Java Basin, dimana terdapat sumur Ujung Kulon-1, Malingping-1 (Honje high) kemudian di Timur nya ada DDH-1, DDH-2 (Bayah high); dimana Late Eocene Bayah diinterpretasikan sebagai source rock (dalam Keetley et al, 1997) dan environment nya adalah delta, dalam rift basin phase, ....bila dikorelasikan dengan peta paleogeography dengan umur yang sama (dalam Clement dan Hall, 2007), rupa nya ada supply material volcanic dari sebelah Timur (?), apakah hal ini juga bisa menjadi penyebab tidak terlalu bagus nya kualitas source rock di daerah ini, ataukah ada penyebab lain nya sehingga HC belum secara significant ditemukan di wilayah ini...? Apakah ada perbedaan kandungan TOC, HI, type Kerogen, T Max, Ro, dsb., antara SW Java Basin ini dengan NW Java Basin.....? Mohon pencerahan nya pak... Best Regards Sigit Ari Prabowo From: Awang Satyana <[email protected]> To: IAGI <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>; Geo Unpad <[email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]> Sent: Monday, March 9, 2009 12:38:59 AM Subject: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan ayahnya menjaga sebuah toko kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu melamunkan penemuan minyak seperti yang dilakukan Kolonel Drake di Pennsylvania pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima bahwa ada rembesan minyak keluar dari lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas, Majalengka. Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu. Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink tak menemui kesulitan dalam melobi Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk menyokong usahanya mencari minyak. Setelah sokongan diperoleh, Reerink pergi ke Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya. Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat Ciremai di mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor bergaya Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake mengebor sumur minyak pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari minyak. Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan Indonesia sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia. Sumur pertama itu dinamai Madja-1 atau Tjibodas Tangat-1. Tali, bukan pipa, digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau casing. Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari generator yang dihela beberapa ekor kerbau. Sumur pertama ini menemukan minyak walaupun sedikit. Reerink kemudian membor tiga sumur lagi di Cibodas dan dua di antaranya menemukan sedikit minyak. Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink berpikir bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam. Maka Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga uap, sebagai pengganti tenaga kerbau. Tahun 1874, Reerink memulai periode kedua kegiatan pemborannya. Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor beberapa sumur di Panais, Madja, dan Tjipinang. Semuanya berlokasi di lereng barat Gunung Ciremai, sayang semuanya gagal. Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini. Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch Shell) telah mengeluarkan 225.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin berusaha setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, tetapi perusahaan dagang Belanda itu tak mau lagi menyokong dananya. Pada akhir Juli 1876, Reerink kembali ke tokonya dan mengubur mimpinya menemukan dan menjadi saudagar minyak. Meskipun demikian, Jan Reerink patut dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari minyak. Reerink hidup sampai tahun 1923. Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke utara dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat di Lapangan Randegan. Berturut-turut, kemudian penemuan lapangan-lapangan penting terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan menuju Ciremai. Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir dan sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. Apakah Ciremai, Kuningan, Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai wilayah minyak ? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas ini merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa. Dan rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing eksplorasi. Sebuah keunikan geologi, tektonik,volkanisme, dan petroleum system terjadi di wilayah dari Majalengka-Banyumas. Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan uang pribadinya di lereng Ciremai. Ia belum beruntung saja. Keuntungan barangkali akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar dari wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam hal ini. Perburuan telah dimulai dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan Reerink, diteliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut (Majalengka). Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di Banyumas, ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat ditentukan, mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data dan sains, dst., dst. Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di cekungan-cekungan produktif saat ini. Salam, awang

