Pak Rovicky,
 
Sumber tulisan saya, sebagaimana biasanya, banyak dan campur2.  Tentang Jan 
Reerink ini salah satunya saya ambil dari website CCOP bab Indonesia tentang 
sejarah eksplorasi di Indonesia, dikonfirmasi oleh beberapa buku seperti  van 
Bemmelen (1949) vol. IB dan beberapa buku serta laporan lain.
 
Sumber seperti yang disebutkan Pak Koesoema (Poley, 2000) saya pikir akan 
sangat baik; kapan-kapan barangkali saya boleh fotokopi bukunya bila diizinkan.
 
Akan halnya Telaga Tunggal, tokoh yang terkenal adalah Jan Zijlker (nama Jan 
adalah nama "pasaran" orang Belanda). Tahun 1880, ia ditugaskan atasannya 
mengunjungi sebuah perkebunan tembakau di Sumatra Utara. Jan Zijlker adalah 
manager of the East Sumatra Tobacco Company. Di sana, ia melihat penduduk 
setempat (Langkat) menggunakan obor dengan suatu zat untuk membuatnya tahan 
lama menyala. Zijlker mengenal zat itu sebagai minyak tanah.
 
Selidik punya selidik, ia mengetahui bahwa minyak yang digunakan penduduk 
berasal dari sebuah rembesan minyak yang keluar dari kebun tembakau. Tak 
berpikir lama lagi, instink bisnisnya berjalan, ia segera mendapatkan konsesi 
sebuah wilayah bernama Telaga Said di wilayah Langkat di mana rembesan minyak 
itu berada. Konsesi itu ia dapatkan dari Sultan Langkat. Dengan eksplorasi 
sederhana dimulailah pekerjaan berburu minyak. Usahanya ini mendapatkan 
dukungan Pemerintah Belanda. 
 
September 1884 (perhatikan bukan 1885 - tahun 1885 adalah tahun yang selama ini 
digunakan sebagai angka tahun mulainya sejarah perminyakan di Indonesia) sebuah 
sumur pertama di Sumatra bernama Telaga Tunggal-1 di Sumatra Timurlaut sukses 
menemukan minyak. Sesuai aturan pemerintah saat itu, konsesi Telaga Said 
beralih ke Royal Dutch (sebuah perusahaan milik Kerajaan Belanda untuk 
mengeksploitasi minyak di Indonesia) pada September 1890. Tiga bulan kemudian, 
Zijlker meninggal dunia (Desember 1890), apakah ia meninggal karena kecewa 
melihat sukses beralih dari tangannya, bisa diselidiki lebih jauh.
 
Maka jelas, bahwa Maja-1 (Cibodas Tangat-1) lebih dulu dibor (1871) daripada 
Telaga Tunggal-1 (1884). 
 
Seorang sahabat pena saya, generasi ke-3 dari orang-orang Amerika dan Belanda 
yang mengembangkan Telaga Said pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, 
baru-baru ini mengirimkan foto-foto lama tentang suasana Telaga Said saat itu, 
foto-foto itu warisan dari kakek buyutnya yang dulu bekerja di Telaga Said. 
Foto2 ini tak pernah dipublikasikan sebelumnya tentu.
 
Sejarah perminyakan di Indonesia dimulai oleh para independen yang berani 
seperti Jan Reerink (1871) dan Jan Zijlker (1880). Mungkin kita perlu melihat 
lagi bahwa sejarah perminyakan Indonesia dimulai bukan dari 1885, tetapi lebih 
awal lagi.
 
salam,
awang

--- On Mon, 3/9/09, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote:

From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa
To: [email protected], "Geo Unpad" <[email protected]>, "Forum HAGI" 
<[email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]>
Date: Monday, March 9, 2009, 10:18 AM

Kalau boleh tahu yg dicritakan kembali PakAwang ini dari mana
sumbernya ?. Kisahnya sangat menarik.  Bagaimana dengan sumur Telaga
tunggal di Sumut ? Mana yg lebih dulu ?

Btw saya sedang berusaha memindahkan artikel2 geoblogi.wordpress.com
ke geoblogi.iagi.or.id . Adakah yg tertarik menjadi pengelola besama ?

Salam
Rdp

On 3/9/09, Awang Satyana <[email protected]> wrote:
> Pak Syaiful,
>
> Saya tak punya referensi aslinya, saya menemukan dua nama (Madja-1 dan
> Tjibodas Tangat-1) dari laporan2 tidak dipublikasikan  yang digunakan
untuk
> sumur eksplorasi pertama di Indonesia itu. Saya tak yakin bahwa ada
laporan2
> resmi untuk sumur2 yang dibor Jan Reerink sebab pada zaman itu belum ada
> perusahaan minyak Belanda di Indonesia. Meskipun demikian, kawan2 dari
> Pertamina EP atau Pertamina Cirebon barangkali bisa memberikan informasi
> lebih lanjut.
>
> Maja dan Cibodas adalah dua nama tempat di lereng barat Ciremai, bisa
> dicapai dari Majalengka ke Cikijing melalui jalan kabupaten. Cikijing
adalah
> nama tempat di tepi jalan raya dari Kuningan ke Ciamis.
>
> salam,
> awang
> --- On Mon, 3/9/09, [email protected]
<[email protected]>
> wrote:
>
> From: [email protected] <[email protected]>
> Subject: Re: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa
> To: "Milis PP-IAGI" <[email protected]>
> Date: Monday, March 9, 2009, 2:09 AM
>
> Cerita yg menarik dan memberikan motivasi. Jadi, pak Awang, satu sumur
> pertama
> tsb punya dua nama: Madja-1 dan Tjibodas Tangat-1? Kalau boleh tahu,
> referensinya apa? Apakah masih ada semacam 'laporan pemboran'
(tentu
> dalam Bahasa Belanda ya) atau data/sketsa jaman dulu?
>
> Salam,
> Syaiful
>
> Mohammad Syaiful
> * handphone: +62-812-9372808
> * business: [email protected]
>
> -----Original Message-----
> From: Awang Satyana <[email protected]>
>
> Date: Sun, 8 Mar 2009 10:38:59
> To: IAGI<[email protected]>; Forum HAGI<[email protected]>;
Geo
> Unpad<[email protected]>; Eksplorasi
> BPMIGAS<[email protected]>
> Subject: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa
>
> Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada
> zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan
> ayahnya menjaga sebuah toko kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu
> melamunkan penemuan minyak seperti yang dilakukan Kolonel Drake di
> Pennsylvania  pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima bahwa
ada
> rembesan minyak keluar dari lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa
> Cibodas,
> Majalengka. Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu.
>
> Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink tak menemui kesulitan
> dalam
> melobi Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk
> menyokong usahanya mencari minyak. Setelah sokongan diperoleh, Reerink
pergi
> ke
> Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya.
>
> Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat
Ciremai
> di
> mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor  bergaya
> Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake mengebor sumur minyak
> pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari
> minyak.
> Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan
> Indonesia
> sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia.
>
> Sumur pertama itu dinamai Madja-1 atau Tjibodas Tangat-1. Tali, bukan
pipa,
> digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau
casing.
> Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari
> generator yang dihela beberapa ekor kerbau. Sumur pertama ini menemukan
> minyak
> walaupun sedikit. Reerink kemudian membor tiga sumur lagi di Cibodas dan
dua
> di
> antaranya menemukan sedikit minyak.
>
> Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink
berpikir
> bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam.
> Maka
> Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga
uap,
> sebagai pengganti tenaga kerbau. Tahun 1874, Reerink memulai periode kedua
> kegiatan pemborannya.  Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor
> beberapa sumur di Panais, Madja, dan Tjipinang. Semuanya berlokasi di
lereng
> barat Gunung Ciremai, sayang semuanya gagal.
>
> Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini.
> Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch
> Shell)
> telah mengeluarkan 225.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang
> pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin
berusaha
> setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, tetapi
> perusahaan dagang Belanda itu tak mau lagi menyokong dananya.
>
> Pada akhir Juli 1876, Reerink kembali ke tokonya dan mengubur mimpinya
> menemukan dan menjadi saudagar minyak. Meskipun demikian, Jan Reerink
patut
> dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari
> minyak.
> Reerink hidup sampai tahun 1923.
>
> Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke
> utara
> dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM
> (Bataafsche
> Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat
di
> Lapangan Randegan. Berturut-turut, kemudian penemuan lapangan-lapangan
> penting
> terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan
menuju
> Ciremai.
> Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir
dan
> sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. Apakah Ciremai, Kuningan,
> Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai
wilayah
> minyak ? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas
> ini
> merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa.
Dan
> rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing
> eksplorasi.
>
> Sebuah keunikan geologi, tektonik,volkanisme, dan petroleum system terjadi
> di
> wilayah dari Majalengka-Banyumas. Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan
> uang
> pribadinya di lereng Ciremai. Ia belum beruntung saja. Keuntungan
barangkali
> akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar
> dari
> wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam
> hal
> ini.
>
> Perburuan telah dimulai dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan
> Reerink,
> diteliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut
> (Majalengka). Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di
> Banyumas,
> ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat
> ditentukan,
> mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data dan sains, dst., dst.
>
> Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di
> cekungan-cekungan
> produktif saat ini.
>
> Salam,
> awang
>
>
>
>
>
>
>

-- 
Sent from my mobile device

Tempe anget :
http://tempe.wordpress.com/2009/03/04/dalam-politik-itu-yang-bagus-hanya-satu-menang/

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------




      

Kirim email ke