Pak Awang,
Terima kasih atas pembahasannya, menarik sekali dan memberikan tambahan
ilmu bagi yang membacanya...
Pak, Mohon pencerahannya tentang lingkungan pengendapan dari lower
klasaman ini? Apakah sama dengan Steenkool di Bintuni yang menurut saya
lebih ke arah Gas Prone daripada oil prone karena didominasi oleh
endapan terrestrial bahkan banyak ditemukan Coal.

Lalu apakah petroleum System Pre-Tertier seperti yang di Bintuni yang
dulu pernah di tergetkan di Salawati sudah tidak menarik lagi pak?

Mohon pencerahannya...

Salam
edo

-----Origil Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, May 13, 2009 11:10 PM
To: Eksplorasi BPMIGAS; Forum HAGI; Geo Unpad; IAGI
Subject: [iagi-net-l] New Petroleum System of Salawati Basin


Cekungan Salawati, Kepala Burung Papua, merupakan satu-satunya cekungan
di Indonesia Timur yang telah matang dieksplorasi dan diproduksikan. Dua
cekungan berproduksi lainnya, Cekungan Bula dan Bintuni, tidak
seintensif dikerjakan sepermti Cekungan Salawati.

Minyak pertama kali ditemukan di Cekungan Salawati pada tahun 1936
melalui penemuan Lapangan Klamono. Saat itu, lapangan ini ditemukan
melalui rembesan minyak pada antiklin permukaan. Penelitian2 selanjutnya
menampakkan bahwa Lapangan Klamono sesungguhnya merupakan struktur
terumbu karbonat yang menyebabkan draping membentuk antiklin pada
lapisan silisiklastik di atasnya. Sejak itu, play type terumbu karbonat
menjadi primadona di cekungan ini, dan ini terus berlanjut sampai
sekarang, setelah lebih dari 70 tahun. Karbonat penyusun terumbu ini
terkenal sebagai Formasi Kais berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir. 

Saat sistem PSC diperkenalkan, Petromer Trend dan Phillips Petroleum
mengeksplorasi wilayah ini secara sangat intensif, itu terjadi pada
akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an. Semua usaha yang serius dan
intensif akan berbuah hasil yang baik. Maka pada tahun2 itu ditemukanlah
lapangan-lapangan minyak skala besar di cekungan ini, misalnya Lapangan
Walio dan Kasim. Lapangan Walio pada masanya (awal 1970-an) pernah
tercatat sebagai lapangan minyak terbesar di SE Asia dari play type
terumbu karbonat (Longman, 1996). Sampai sekarang, teman-teman
Pertamina, PetroChina, dan Pearl masih mengeksplorasi cekungan ini
dengan tipe play yang sama.

Boleh dikatakan bahwa Cekungan Salawati telah dieksplorasi dan
diproduksikan selama lebih dari 70 tahun dengan menggunakan single
petroleum system  yaitu Kais/Klasafet : Kais (!). Saya agak
mengkuatirkan bahwa petroleum system ini di daerah2 klasiknya (Walio
Block, Arar High, Salawati Island) telah over-explored. Hal ini bisa
ditunjukkan dengan gejala-gejala makin sulitnya penemuan yang signifikan
secara volumetrik pada sumur2 eksplorasi di wilayah klasik yang
menggunakan petroleum system ini. Petroleum system ini masih punya
potensi dan tantangan besar di luar wilayah klasiknya. Masa depan Kais
ada di Selat Sele dan offshore south dan southwest Salawati Island.

Di luar petroleum system Kais/Klasafet : Kais (!) adakah sistem yang
lain di cekungan ini ? Inilah tema paper yang saya presentasikan dalam
bentuk poster dalam pertemuan IPA kemarin (saya memang sengaja memilih
poster agar diskusi dengan pengunjung yang berminat bisa dilakukan
selama 3 hari, bukan hanya 10 menit tanya jawab seperti pada oral
presentation -poster adalah cara terbaik untuk memperkenalkan ide secara
lebih intensif, detail, dan leluasa).

Judul papernya adalah "Emergence of New Petroleum System in the Mature
Salawati Basin : Keys from Geochemical Biomarkers". Mengapa geokimia ?
Sebab, hanya geokimia yang membuka misteri keberadaan hidrokarbon dan
source rocks yang lain dari yang sudah diketahui. Secara sederhana, saya
menggunakan beberapa kelas biomarker geokimia untuk mengejar keberadaan
hidrokarbon asal non-Kais/Klasafet ini.

Penemuan bahwa ada sekelompok minyak yang bukan digenerasikan dari
source rocks klasik (Kais/Klasafet) di cekungan ini terjadi secara tidak
disengaja. Minyak-minyak di Salawati begitu ideal terdistribusi
mengikuti Prinsip Gussow. Cekungan Salawati adalah sebuah foreland basin
yang pasti asimetrik dengan kitchen depocenter di sebelah selatan Sesar
Sorong dan melandai ke selatan-tenggara. Mengikuti prinsip Gussow,
lapangan yang paling jauh dari kitchen punya API paling rendah, lalu
secara berangsur API makin tinggi untuk lapangan2 yang reservoir Kaisnya
makin tenggelam ke arah baratlaut mendekati kitchen. GOR (gas oil ratio)
makin lama makin tinggi mendekati kitchen sampai akhirnya semua lapangan
gas ada di wilayah downdip dan lapangan minyak dengan API medium-low ada
di wilayah updip.

Dengan aturan yang ideal seperti itu, kita bisa dengan mudah melakukan
prediksi API untuk struktur2 Kais yang akan dibor. Sederhananya, semakin
mendekati kitchen, API dan GOR akan semakin tinggi, semakin gassy. Maka
di dalam depocenter tentu tak akan ada minyak, wet gas pun tidak akan
ada, dry gas saja yang paling mungkin. Lalu ini dibuktikan oleh sumur
paling jauh di depocenter Salawati, yaitu West Island Reef (WIR-1),
sumur ini tested dry gas dan CO2-nya tinggi -gampang ditebak, CO2-nya
asal anorganik akibat reservoir atau source rocks karbonat Kais
mengalami degradasi termal akibat masuk ke overmature window di
depocenter.

Suatu anomali yang sangat menarik terjadi. Justru di sisi paling utara,
di wilayah depocenter yang paling dalam, di sebelah selatan Sorong
Fault, banyak sekali rembesan minyak dan gas. Mana mungkin Kais di situ
masih bisa menggenerasikan minyak dan wet gas ? Rembesan2 minyak muncul
di sesar2 naik yang merupakan en echelon structures dari Sorong Fault.
Pasti source rocks rembesan minyak ini bukan dari Kais/Klasafet, mesti
dari batuan lebih muda dari Klasafet/Kais yang di deposenter belum masuk
ke overmature window.

Itu kecurigaan saja. Sebuah kecurigaan harus dibuktikan secara ilmiah.
Maka dimulailah aplikasi biomarker geokimia ambil bagian. Kematangan
minyak ini harus diukur. Kematangan minyak artinya adalah pada
kematangan batuan induk berapa minyak ini dulunya digenerasikan.
Biomarker yang bisa dipakai untuk ini adalah biomarker kelompok aromatik
bernama MP (methylphenanthrene - m/z 192) (rasionalisasi kimianya bisa
dipelajari di Radtke, 1992). Sampel yang digunakan adalah sampel minyak.
Dari MP bisa dirasiokan MPI (MP index) yang lalu bisa diformulasi
menghasilkan Ro (vitrinite reflectance) calculated. 

Untuk menganalisis kecurigaan ini maka semua MPI minyak di Salawati
Basin diukur dan diturunkan Ro calculatednya. Sesuai prediksi, MPI
lapangan2 Kais makin meningkat dari updip ke downdip. Minyak2 di
Salawati fields dulunya digenerasikan dari Ro calculated sekitar 0.8 -
1.4 %, makin naik dari arah Walio di tenggara menuju depocenter di
baratlaut. Tetapi tiba2, rembesan minyak di sisi paling utara justru
berbalik merendah, menjadi hanya Ro calculated 0.7 %. Ini jelas
membuktikan bahwa ada source rocks lain di luar Klasafet/Kais yang telah
menggenerasikan minyak di bagian utara Cekungan Salawati.

Penelitian selanjutnya adalah mencari apa source rocks baru ini. Tugas
ini dilakukan dengan melakukan analisis geokimia sampel dan
membandingkannya dengan analisis geokimia minyak (oil to source
correlation). Tugas ini dengan mudah dilakukan oleh biomarker saturate
triterpane (m/z 191)dan sterane (m/z 217), didukung oleh isotop
karbon-13 dan sebaran GC (gas chromatograph). Batuan induk bernama Lower
Klasaman -yang terletak di atas Klasafet berumur Pliosen pun segera
teridentifikasi. Maka kini kita punya batuan induk aktif (generating
source rocks) selain Klasafet/Kais, yaitu Lower Klasaman.

Tugas selanjutnya adalah melengkapi elemen2 dan proses2 lain dalam
petroleum system. Di sini tripartit geologi-geofisika-geokimia
diintegrasikan. Di dalam tugas ini dicari apa dan di mana reservoir yang
akan menampung minyak yang digenerasikan dari Lower Klasaman, apa
sealingnya, apa dan di mana trapnya, bagaimana pola pengisiannya
(migration dan charging), dan bagaimana preservationya. Tugas ini
berakhir dengan kesimpulan bahwa mid-Pliocene Intra-Klasaman sandstones
adalah reservoirnya, trapnya adalah kebanyakan berupa struktur2 yang
berkaitan dengan wrench tectonism  orde ke-2 dan ke-3 dari Sorong Fault
tectonism, sealingnya adalah intra-formational shales. Lokasi
struktur2nya telah dipetakan berdasarkan seismik. Migrasinya telah
dianalisis baik present-day migration maupun paleo-migration.

Singkat kata, ditemukanlah petroleum system baru di Cekungan Salawati,
yaitu Lower Klasaman : Intra-Klasaman (!). Kita sudah lihat, geokimia
merupakan kunci pembuka sistem baru ini. Paper ini ingin memperlihatkan
tritunggal yang tak boleh dipisah-pisahkan dalam analisis eksplorasi :
geologi-geofisika-geokimia. Memisahkan tritunggal itu akan menambah
risiko kegagalan. Metode yang saya terapkan di sini jelas bisa
diterapkan di tempat lain.

salam,
awang



      

------------------------------------------------------------------------
--------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
------------------------------------------------------------------------
--------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
------------------------------------------------------------------------
-----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara
Mulia No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event shall IAGI and its members be liable for any, including but not
limited to direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing
list.
---------------------------------------------------------------------


--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke