Pak Awang YTH., Menyimak tulisan pak Awang tentang Salawati Basin ini, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan...
1. Kalo disebutkan bahwa Salawati Basin mempunyai petroleum system Kais/Klasafet : Kais (!), kemudian juga Lower Klasaman : Intra Klasaman (!); bagaimanakah prospect ditemukan nya HC di cekungan2 di sebelah Utara nya, misal kan Weda Basin, Waipogah Basin, South Waropen Basin; sebelum dan sesudah adanya Sorong-Yapen Sinistral Fault Zone....? 2. Apakah memang ada pengaruh antara perbedaan kerak yang melandasi sedimen2 di antara basin2 tersebut (antara Salawati di sebelah Barat, dengan Waipogah dan South Waropen di sebelah Timur nya)...?, karena kalo melihat dari rekonstruksi Robert Hall (2009), nampak adanya kehadiran Weyland micro continent (?) pada umur sekitar 49-48 Ma, yang berasal dari Utara (bagian dari Carolina-Pacific plate...?), dan juga melihat misal perbedaan antara Heat Flow number diantara basin2 tersebut (RD. Shaw & Pacham, 1992). 3. Kalo melihat peta paleogeography dari Struckmeyer-Yeung-Bradshaw, 1990, Ian metcalfe, 1996, dan juga dikombinasikan dengan rekonstruksi dari Robert Hall, dan beberapa papers....; saya tertarik dengan kemungkinan ada nya kemiripan petroleum system dari NW Australia (Carnarvon Basin-Canning Basin-Browse Basin-Bonaparte Basin-vulcan sub-Basin-Malita Graben-Calder Graben-Goulburn Graben-Arafura Basin-Barakan Basin) ke arah Papua dan sekitar nya (Tanimbar Basin, Arafura Basin, North Aru Basin, Akimeugah Basin, Bintuni Basin, Teluk Berau-Ajumaru Basin, Salawati Basin). Seperti diketahui adanya urutan tectono-stratigraphy, yaitu dari 1. Paleozoic Rifting I (Late Devonian, NE-SW extension) dimana terbentuk Petrel sub-basin dan Goulburn graben, 2. Paleozoic Rifting II (Late Carboniferous-Early Permian, NW-SE extension), 3. Late Triassic compression, 4. Mesozoic Rifting, 5.. Late Tertiary collision (Barber et al, 2003); Kemudian dari Petroleum system, terdapat source rock dari umur Early Cambrian (Jigaimara FM), Late Devonian-Early Carboniferous Arafura group, Early Permian Kurshil group, Middle Jurassic-Early Cretacous Elang/Laminaria FM-Lower & Upper Flaminggo Group. Untuk reservoir terdapat di umur Middle Cambrian-Ordovician Goulburn Group, Early-Late Carboniferous Weeaber & Kurshill Group, Middle Jurassic Plover FM, Late Jurassic-Early Cretacous Lower-Upper Flamingo Group. Dari peta paleogeography pada umur2 tersebut baik untuk source rock maupun reservoir nya, nampak nya ada beberapa yang mirip, misal source rock dengan umur Middle Jurassic-Early Cretaceous Elang/Laminaria FM-Lower & Upper Flamingo Group, s/d minimal di sebelah selatan dari Bintuni Basin ke arah timur dan selatan dari Lengguru-Papua Fold Thrust Belt. Apakah konsep2 analogi Petroleum system, play type, tectonic-stratigraphy reconstruction, dsb., seperti ini; bisa aplikasikan untuk wilayah Papua dan sekitar nya ya pak...? Mohon pencerahan nya pak... Terimakasih Best Regards Sigit Ari Prabowo Cekungan Salawati, Kepala Burung Papua, merupakan satu-satunya cekungan di Indonesia Timur yang telah matang dieksplorasi dan diproduksikan. Dua cekungan berproduksi lainnya, Cekungan Bula dan Bintuni, tidak seintensif dikerjakan seperti Cekungan Salawati. Minyak pertama kali ditemukan di Cekungan Salawati pada tahun 1936 melalui penemuan Lapangan Klamono. Saat itu, lapangan ini ditemukan melalui rembesan minyak pada antiklin permukaan. Penelitian2 selanjutnya menampakkan bahwa Lapangan Klamono sesungguhnya merupakan struktur terumbu karbonat yang menyebabkan draping membentuk antiklin pada lapisan silisiklastik di atasnya. Sejak itu, play type terumbu karbonat menjadi primadona di cekungan ini, dan ini terus berlanjut sampai sekarang, setelah lebih dari 70 tahun. Karbonat penyusun terumbu ini terkenal sebagai Formasi Kais berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir. Saat sistem PSC diperkenalkan, Petromer Trend dan Phillips Petroleum mengeksplorasi wilayah ini secara sangat intensif, itu terjadi pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an. Semua usaha yang serius dan intensif akan berbuah hasil yang baik. Maka pada tahun2 itu ditemukanlah lapangan-lapangan minyak skala besar di cekungan ini, misalnya Lapangan Walio dan Kasim. Lapangan Walio pada masanya (awal 1970-an) pernah tercatat sebagai lapangan minyak terbesar di SE Asia dari play type terumbu karbonat (Longman, 1996). Sampai sekarang, teman-teman Pertamina, PetroChina, dan Pearl masih mengeksplorasi cekungan ini dengan tipe play yang sama. Boleh dikatakan bahwa Cekungan Salawati telah dieksplorasi dan diproduksikan selama lebih dari 70 tahun dengan menggunakan single petroleum system yaitu Kais/Klasafet : Kais (!). Saya agak mengkuatirkan bahwa petroleum system ini di daerah2 klasiknya (Walio Block, Arar High, Salawati Island) telah over-explored. Hal ini bisa ditunjukkan dengan gejala-gejala makin sulitnya penemuan yang signifikan secara volumetrik pada sumur2 eksplorasi di wilayah klasik yang menggunakan petroleum system ini. Petroleum system ini masih punya potensi dan tantangan besar di luar wilayah klasiknya. Masa depan Kais ada di Selat Sele dan offshore south dan southwest Salawati Island. Di luar petroleum system Kais/Klasafet : Kais (!) adakah sistem yang lain di cekungan ini ? Inilah tema paper yang saya presentasikan dalam bentuk poster dalam pertemuan IPA kemarin (saya memang sengaja memilih poster agar diskusi dengan pengunjung yang berminat bisa dilakukan selama 3 hari, bukan hanya 10 menit tanya jawab seperti pada oral presentation -poster adalah cara terbaik untuk memperkenalkan ide secara lebih intensif, detail, dan leluasa). Judul papernya adalah "Emergence of New Petroleum System in the Mature Salawati Basin : Keys from Geochemical Biomarkers". Mengapa geokimia ? Sebab, hanya geokimia yang membuka misteri keberadaan hidrokarbon dan source rocks yang lain dari yang sudah diketahui. Secara sederhana, saya menggunakan beberapa kelas biomarker geokimia untuk mengejar keberadaan hidrokarbon asal non-Kais/Klasafet ini. Penemuan bahwa ada sekelompok minyak yang bukan digenerasikan dari source rocks klasik (Kais/Klasafet) di cekungan ini terjadi secara tidak disengaja. Minyak-minyak di Salawati begitu ideal terdistribusi mengikuti Prinsip Gussow. Cekungan Salawati adalah sebuah foreland basin yang pasti asimetrik dengan kitchen depocenter di sebelah selatan Sesar Sorong dan melandai ke selatan-tenggara. Mengikuti prinsip Gussow, lapangan yang paling jauh dari kitchen punya API paling rendah, lalu secara berangsur API makin tinggi untuk lapangan2 yang reservoir Kaisnya makin tenggelam ke arah baratlaut mendekati kitchen. GOR (gas oil ratio) makin lama makin tinggi mendekati kitchen sampai akhirnya semua lapangan gas ada di wilayah downdip dan lapangan minyak dengan API medium-low ada di wilayah updip. Dengan aturan yang ideal seperti itu, kita bisa dengan mudah melakukan prediksi API untuk struktur2 Kais yang akan dibor. Sederhananya, semakin mendekati kitchen, API dan GOR akan semakin tinggi, semakin gassy. Maka di dalam depocenter tentu tak akan ada minyak, wet gas pun tidak akan ada, dry gas saja yang paling mungkin. Lalu ini dibuktikan oleh sumur paling jauh di depocenter Salawati, yaitu West Island Reef (WIR-1), sumur ini tested dry gas dan CO2-nya tinggi -gampang ditebak, CO2-nya asal anorganik akibat reservoir atau source rocks karbonat Kais mengalami degradasi termal akibat masuk ke overmature window di depocenter. Suatu anomali yang sangat menarik terjadi. Justru di sisi paling utara, di wilayah depocenter yang paling dalam, di sebelah selatan Sorong Fault, banyak sekali rembesan minyak dan gas.. Mana mungkin Kais di situ masih bisa menggenerasikan minyak dan wet gas ? Rembesan2 minyak muncul di sesar2 naik yang merupakan en echelon structures dari Sorong Fault. Pasti source rocks rembesan minyak ini bukan dari Kais/Klasafet, mesti dari batuan lebih muda dari Klasafet/Kais yang di deposenter belum masuk ke overmature window. Itu kecurigaan saja. Sebuah kecurigaan harus dibuktikan secara ilmiah. Maka dimulailah aplikasi biomarker geokimia ambil bagian. Kematangan minyak ini harus diukur. Kematangan minyak artinya adalah pada kematangan batuan induk berapa minyak ini dulunya digenerasikan. Biomarker yang bisa dipakai untuk ini adalah biomarker kelompok aromatik bernama MP (methylphenanthrene - m/z 192) (rasionalisasi kimianya bisa dipelajari di Radtke, 1992). Sampel yang digunakan adalah sampel minyak.. Dari MP bisa dirasiokan MPI (MP index) yang lalu bisa diformulasi menghasilkan Ro (vitrinite reflectance) calculated. Untuk menganalisis kecurigaan ini maka semua MPI minyak di Salawati Basin diukur dan diturunkan Ro calculatednya. Sesuai prediksi, MPI lapangan2 Kais makin meningkat dari updip ke downdip. Minyak2 di Salawati fields dulunya digenerasikan dari Ro calculated sekitar 0.8 - 1.4 %, makin naik dari arah Walio di tenggara menuju depocenter di baratlaut. Tetapi tiba2, rembesan minyak di sisi paling utara justru berbalik merendah, menjadi hanya Ro calculated 0.7 %. Ini jelas membuktikan bahwa ada source rocks lain di luar Klasafet/Kais yang telah menggenerasikan minyak di bagian utara Cekungan Salawati. Penelitian selanjutnya adalah mencari apa source rocks baru ini. Tugas ini dilakukan dengan melakukan analisis geokimia sampel dan membandingkannya dengan analisis geokimia minyak (oil to source correlation). Tugas ini dengan mudah dilakukan oleh biomarker saturate triterpane (m/z 191)dan sterane (m/z 217), didukung oleh isotop karbon-13 dan sebaran GC (gas chromatograph). Batuan induk bernama Lower Klasaman -yang terletak di atas Klasafet berumur Pliosen pun segera teridentifikasi. Maka kini kita punya batuan induk aktif (generating source rocks) selain Klasafet/Kais, yaitu Lower Klasaman. Tugas selanjutnya adalah melengkapi elemen2 dan proses2 lain dalam petroleum system. Di sini tripartit geologi-geofisika-geokimia diintegrasikan. Di dalam tugas ini dicari apa dan di mana reservoir yang akan menampung minyak yang digenerasikan dari Lower Klasaman, apa sealingnya, apa dan di mana trapnya, bagaimana pola pengisiannya (migration dan charging), dan bagaimana preservationya. Tugas ini berakhir dengan kesimpulan bahwa mid-Pliocene Intra-Klasaman sandstones adalah reservoirnya, trapnya adalah kebanyakan berupa struktur2 yang berkaitan dengan wrench tectonism orde ke-2 dan ke-3 dari Sorong Fault tectonism, sealingnya adalah intra-formational shales. Lokasi struktur2nya telah dipetakan berdasarkan seismik. Migrasinya telah dianalisis baik present-day migration maupun paleo-migration. Singkat kata, ditemukanlah petroleum system baru di Cekungan Salawati, yaitu Lower Klasaman : Intra-Klasaman (!). Kita sudah lihat, geokimia merupakan kunci pembuka sistem baru ini. Paper ini ingin memperlihatkan tritunggal yang tak boleh dipisah-pisahkan dalam analisis eksplorasi : geologi-geofisika-geokimia. Memisahkan tritunggal itu akan menambah risiko kegagalan. Metode yang saya terapkan di sini jelas bisa diterapkan di tempat lain. salam, awang -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!! akan dilaksanakan di Semarang 13-14 Oktober 2009 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. --------------------------------------------------------------------- ________________________________ From: Awang Satyana <[email protected]> To: Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>; Geo Unpad <[email protected]>; IAGI <[email protected]> Sent: Wednesday, May 13, 2009 11:10:08 PM Subject: [iagi-net-l] New Petroleum System of Salawati Basin

