Cekungan Salawati, Kepala Burung Papua, merupakan satu-satunya cekungan di 
Indonesia Timur yang telah matang dieksplorasi dan diproduksikan. Dua cekungan 
berproduksi lainnya, Cekungan Bula dan Bintuni, tidak seintensif dikerjakan 
seperti Cekungan Salawati.

Minyak pertama kali ditemukan di Cekungan Salawati pada tahun 1936 melalui 
penemuan Lapangan Klamono. Saat itu, lapangan ini ditemukan melalui rembesan 
minyak pada antiklin permukaan. Penelitian2 selanjutnya menampakkan bahwa 
Lapangan Klamono sesungguhnya merupakan struktur terumbu karbonat yang 
menyebabkan draping membentuk antiklin pada lapisan silisiklastik di atasnya. 
Sejak itu, play type terumbu karbonat menjadi primadona di cekungan ini, dan 
ini terus berlanjut sampai sekarang, setelah lebih dari 70 tahun. Karbonat 
penyusun terumbu ini terkenal sebagai Formasi Kais berumur Miosen Tengah-Miosen 
Akhir. 

Saat sistem PSC diperkenalkan, Petromer Trend dan Phillips Petroleum 
mengeksplorasi wilayah ini secara sangat intensif, itu terjadi pada akhir tahun 
1960-an dan awal 1970-an. Semua usaha yang serius dan intensif akan berbuah 
hasil yang baik. Maka pada tahun2 itu ditemukanlah lapangan-lapangan minyak 
skala besar di cekungan ini, misalnya Lapangan Walio dan Kasim. Lapangan Walio 
pada masanya (awal 1970-an) pernah tercatat sebagai lapangan minyak terbesar di 
SE Asia dari play type terumbu karbonat (Longman, 1996). Sampai sekarang, 
teman-teman Pertamina, PetroChina, dan Pearl masih mengeksplorasi cekungan ini 
dengan tipe play yang sama.

Boleh dikatakan bahwa Cekungan Salawati telah dieksplorasi dan diproduksikan 
selama lebih dari 70 tahun dengan menggunakan single petroleum system  yaitu 
Kais/Klasafet : Kais (!). Saya agak mengkuatirkan bahwa petroleum system ini di 
daerah2 klasiknya (Walio Block, Arar High, Salawati Island) telah 
over-explored. Hal ini bisa ditunjukkan dengan gejala-gejala makin sulitnya 
penemuan yang signifikan secara volumetrik pada sumur2 eksplorasi di wilayah 
klasik yang menggunakan petroleum system ini. Petroleum system ini masih punya 
potensi dan tantangan besar di luar wilayah klasiknya. Masa depan Kais ada di 
Selat Sele dan offshore south dan southwest Salawati Island.

Di luar petroleum system Kais/Klasafet : Kais (!) adakah sistem yang lain di 
cekungan ini ? Inilah tema paper yang saya presentasikan dalam bentuk poster 
dalam pertemuan IPA kemarin (saya memang sengaja memilih poster agar diskusi 
dengan pengunjung yang berminat bisa dilakukan selama 3 hari, bukan hanya 10 
menit tanya jawab seperti pada oral presentation -poster adalah cara terbaik 
untuk memperkenalkan ide secara lebih intensif, detail, dan leluasa).

Judul papernya adalah "Emergence of New Petroleum System in the Mature Salawati 
Basin : Keys from Geochemical Biomarkers". Mengapa geokimia ? Sebab, hanya 
geokimia yang membuka misteri keberadaan hidrokarbon dan source rocks yang lain 
dari yang sudah diketahui. Secara sederhana, saya menggunakan beberapa kelas 
biomarker geokimia untuk mengejar keberadaan hidrokarbon asal non-Kais/Klasafet 
ini.

Penemuan bahwa ada sekelompok minyak yang bukan digenerasikan dari source rocks 
klasik (Kais/Klasafet) di cekungan ini terjadi secara tidak disengaja. 
Minyak-minyak di Salawati begitu ideal terdistribusi mengikuti Prinsip Gussow. 
Cekungan Salawati adalah sebuah foreland basin yang pasti asimetrik dengan 
kitchen depocenter di sebelah selatan Sesar Sorong dan melandai ke 
selatan-tenggara. Mengikuti prinsip Gussow, lapangan yang paling jauh dari 
kitchen punya API paling rendah, lalu secara berangsur API makin tinggi untuk 
lapangan2 yang reservoir Kaisnya makin tenggelam ke arah baratlaut mendekati 
kitchen. GOR (gas oil ratio) makin lama makin tinggi mendekati kitchen sampai 
akhirnya semua lapangan gas ada di wilayah downdip dan lapangan minyak dengan 
API medium-low ada di wilayah updip.

Dengan aturan yang ideal seperti itu, kita bisa dengan mudah melakukan prediksi 
API untuk struktur2 Kais yang akan dibor. Sederhananya, semakin mendekati 
kitchen, API dan GOR akan semakin tinggi, semakin gassy. Maka di dalam 
depocenter tentu tak akan ada minyak, wet gas pun tidak akan ada, dry gas saja 
yang paling mungkin. Lalu ini dibuktikan oleh sumur paling jauh di depocenter 
Salawati, yaitu West Island Reef (WIR-1), sumur ini tested dry gas dan CO2-nya 
tinggi -gampang ditebak, CO2-nya asal anorganik akibat reservoir atau source 
rocks karbonat Kais mengalami degradasi termal akibat masuk ke overmature 
window di depocenter.

Suatu anomali yang sangat menarik terjadi. Justru di sisi paling utara, di 
wilayah depocenter yang paling dalam, di sebelah selatan Sorong Fault, banyak 
sekali rembesan minyak dan gas. Mana mungkin Kais di situ masih bisa 
menggenerasikan minyak dan wet gas ? Rembesan2 minyak muncul di sesar2 naik 
yang merupakan en echelon structures dari Sorong Fault. Pasti source rocks 
rembesan minyak ini bukan dari Kais/Klasafet, mesti dari batuan lebih muda dari 
Klasafet/Kais yang di deposenter belum masuk ke overmature window.

Itu kecurigaan saja. Sebuah kecurigaan harus dibuktikan secara ilmiah. Maka 
dimulailah aplikasi biomarker geokimia ambil bagian. Kematangan minyak ini 
harus diukur. Kematangan minyak artinya adalah pada kematangan batuan induk 
berapa minyak ini dulunya digenerasikan. Biomarker yang bisa dipakai untuk ini 
adalah biomarker kelompok aromatik bernama MP (methylphenanthrene - m/z 192) 
(rasionalisasi kimianya bisa dipelajari di Radtke, 1992). Sampel yang digunakan 
adalah sampel minyak. Dari MP bisa dirasiokan MPI (MP index) yang lalu bisa 
diformulasi menghasilkan Ro (vitrinite reflectance) calculated. 

Untuk menganalisis kecurigaan ini maka semua MPI minyak di Salawati Basin 
diukur dan diturunkan Ro calculatednya. Sesuai prediksi, MPI lapangan2 Kais 
makin meningkat dari updip ke downdip. Minyak2 di Salawati fields dulunya 
digenerasikan dari Ro calculated sekitar 0.8 - 1.4 %, makin naik dari arah 
Walio di tenggara menuju depocenter di baratlaut. Tetapi tiba2, rembesan minyak 
di sisi paling utara justru berbalik merendah, menjadi hanya Ro calculated 0.7 
%. Ini jelas membuktikan bahwa ada source rocks lain di luar Klasafet/Kais yang 
telah menggenerasikan minyak di bagian utara Cekungan Salawati.

Penelitian selanjutnya adalah mencari apa source rocks baru ini. Tugas ini 
dilakukan dengan melakukan analisis geokimia sampel dan membandingkannya dengan 
analisis geokimia minyak (oil to source correlation). Tugas ini dengan mudah 
dilakukan oleh biomarker saturate triterpane (m/z 191)dan sterane (m/z 217), 
didukung oleh isotop karbon-13 dan sebaran GC (gas chromatograph). Batuan induk 
bernama Lower Klasaman -yang terletak di atas Klasafet berumur Pliosen pun 
segera teridentifikasi. Maka kini kita punya batuan induk aktif (generating 
source rocks) selain Klasafet/Kais, yaitu Lower Klasaman.

Tugas selanjutnya adalah melengkapi elemen2 dan proses2 lain dalam petroleum 
system. Di sini tripartit geologi-geofisika-geokimia diintegrasikan. Di dalam 
tugas ini dicari apa dan di mana reservoir yang akan menampung minyak yang 
digenerasikan dari Lower Klasaman, apa sealingnya, apa dan di mana trapnya, 
bagaimana pola pengisiannya (migration dan charging), dan bagaimana 
preservationya. Tugas ini berakhir dengan kesimpulan bahwa mid-Pliocene 
Intra-Klasaman sandstones adalah reservoirnya, trapnya adalah kebanyakan berupa 
struktur2 yang berkaitan dengan wrench tectonism  orde ke-2 dan ke-3 dari 
Sorong Fault tectonism, sealingnya adalah intra-formational shales. Lokasi 
struktur2nya telah dipetakan berdasarkan seismik. Migrasinya telah dianalisis 
baik present-day migration maupun paleo-migration.

Singkat kata, ditemukanlah petroleum system baru di Cekungan Salawati, yaitu 
Lower Klasaman : Intra-Klasaman (!). Kita sudah lihat, geokimia merupakan kunci 
pembuka sistem baru ini. Paper ini ingin memperlihatkan tritunggal yang tak 
boleh dipisah-pisahkan dalam analisis eksplorasi : geologi-geofisika-geokimia. 
Memisahkan tritunggal itu akan menambah risiko kegagalan. Metode yang saya 
terapkan di sini jelas bisa diterapkan di tempat lain.

salam,
awang



      

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke