Edo,

Kami pun semula menduga bahwa Lower Klasaman lebih punya refractory kerogen 
(kerogen tipe III) yang akan gas-prone, lebih-lebih lagi bila Klasaman 
Formation disebandingkan dengan Steenkool Formation di Bintuni Basin yang 
banyak batubaranya (steenkool = batubara, bahasa Belanda). Namun, visual 
kerogen analyses yang dilakukan pada banyak sampel Lower Klasaman menunjukkan 
bahwa Lower Klasaman shales masih didominasi labile kerogen (kerogen tipe I dan 
II) yang oil-prone, dalam hal ini Lower Klasaman shales masih mirip-mirip 
Klasafet shales yang bertipe II (marin), meskipun punya kontribusi terrestrial. 
Sebaran tipe kerogen Lower Klasaman kalau diplot pada ternary diagram yang 
menunjukkan tipe kerogen I, II, III, atau pada van Kreuvelen diagram, 
menunjukkan sebaran yang sama dengan sebaran kerogen sampel Klasafet atau Kais. 
Dengan kata lain, Lower Klasaman pun bisa oil-prone seperti ditunjukkan Kais 
dan Klasafet.

Berdasarkan geokimia, dan menilik paleogeografinya berdasarkan 
mikropaleontologi, Lower Klasaman shales bisa diyakini diendapkan dalam 
lingkungan tepi marin-middle sublittoral yang kontribusi terrestrialnya lebih 
banyak dibandingkan Klasafet shales yang selama ini diyakini merupakan batuan 
induk untuk lapangan-lapangan minyak di Salawati Basin. Ini berbeda dengan 
Steenkool yang diendapkan dalam lingkungan yang lebih mendekati terrestrial. 
Tak ada batubara yang signifikan di dalam Klasaman. Saat saya masih menjadi 
wellsite geologist di sumur2 Salawati kira-kira 10 tahun yang lalu, saya hampir 
tak pernah menemukan cuttings batubara di piring analisis, meskipun sumur2 itu 
menembus seluruh Klasaman Formation.

Soal play pre-Tertiary di Salawati Basin tentu dari dulu sudah diusahakan, 
bahkan pada tahun 1980-an, sebelum penemuan2 besar terjadi di pre-Tertiary 
Bintuni Basin, para peneliti Salawati Basin telah memikirkan batuan2 
pre-Tetiary ini sebagai objektif (misal paper Phoa dan Samuel, 1986 
–Proceedings IPA). Sampai sekarang pun objektif pra-Tersier ini masih menjadi 
target yang lain di Salawati Basin. Teman-teman di PetroChina Kepala Burung 
telah mengebor secara khusus objektif ini, misalnya Jaya Deep-1, mengikuti 
model di Bintuni (Wiriagar vs Wiriagar Deep). Jaya adalah lapangan minyak di 
reef Kais, di bawahnya masih berkembang kemungkinan prospek dalam. Seismik 3D 
yang dilakukan oleh teman2 Pertamina dan PetroChina di Pulau Salawati maupun 
paruh Kepala Burung telah sangat membuka peluang pra-Kais dan pra-Tersier ini. 
Sumur Jaya Deep belum berhasil menemukan hidrokarbon di prospek 
Pra-Tersier-nya, tentu satu sumur ini tak membunuh seluruh prospek
 Pra-Tersier di Salawati Basin. 

Ingat kata2 Michel Halbouty, yang sering dikatakan sebagai seorang 
eksplorasionis legendaris, yang kira-kira begini “saat sumur pertamamu gagal 
menemukan hidrokarbon dari play yang baru, jangan langsung tinggalkan sumur 
itu, pandanglah dari jauh, lihat ke kanan dan kiri, pikirkan kegagalanmu, dan 
saat alasan kegagalanmu telah jelas, bor sumur keduanya, ketiganya, dan 
seterusnya –mungkin sumur kelimamulah yang akan menjadi discovery well bagi 
play baru itu.”

Beberapa studi geokimia (gas geochemistry) yang pernah saya kerjakan dulu saat 
masih menjadi exploration geologist di wilayah ini menunjukkan beberapa 
kejadian akumulasi gas di Walio Block dan offshore Salawati Island yang saat 
dikarakterisasi dari komposisinya, menunjukkan tipe gas bukan dari generasi 
Klasafet/Kais; tetapi mesti berasal dari sources yang lebih tua yang saat ini 
di Walio Block masih di late wet gas window : Pra-Tersier. Sayang, tak ada data 
isotop karbon-13 pada semua elemen metana-butana, juga isotop deuterium pada 
sampel gas tersebut. Sekali ada, tentu semua informasi gas geochemistry akan 
terbuka, yang kemudian akan mengkarakterisasi sources pra-Tersier. Saya 
menyarankan kepada teman2 PetroChina-Pertamina untuk melakukan sampling dan 
analisis ini. No analysis no geochemical interpretation.

Maka, sekalipun telah lebih dari 70 tahun dikerjakan, objektif post-Kais 
(Klasaman system) dan pre-Kais (Sirga, Faumai, pra-Tersier) di Salawati Basin 
masih under-explored. Tentu mereka tak akan berkontribusi apa2 tanpa eksplorasi 
yang baik dan terfokus. Gejala-gejala bahwa sistem di luar Kais ini telah 
menggenerasikan hidrokarbon telah muncul cukup kuat. Tinggal kita mengejar dan 
menangkapnya. Oil is firstly found in the minds of men, kata Wallace Pratt, 
namun ia akan tetap di pikiran kita dan membuat kepala kita berkeringat dan 
berminyak (he2...) bila tak ada usaha-usaha eksplorasi untuk mewujudkannya. 
Butuh keberanian semua pihak (eksplorasionis, manajer) untuk masuk kepada play 
yang bukan klasik. Saya pribadi di BPMIGAS akan mendukung usaha-usaha seperti 
ini selama secara teknis punya justifikasi.

salam,
awang


--- On Thu, 5/14/09, Edward, Syafron <[email protected]> wrote:

> From: Edward, Syafron <[email protected]>
> Subject: RE: [iagi-net-l] New Petroleum System of Salawati Basin
> To: [email protected]
> Date: Thursday, May 14, 2009, 7:55 AM
> Pak Awang,
> Terima kasih atas pembahasannya, menarik sekali dan
> memberikan tambahan
> ilmu bagi yang membacanya...
> Pak, Mohon pencerahannya tentang lingkungan pengendapan
> dari lower
> klasaman ini? Apakah sama dengan Steenkool di Bintuni yang
> menurut saya
> lebih ke arah Gas Prone daripada oil prone karena
> didominasi oleh
> endapan terrestrial bahkan banyak ditemukan Coal.
> 
> Lalu apakah petroleum System Pre-Tertier seperti yang di
> Bintuni yang
> dulu pernah di tergetkan di Salawati sudah tidak menarik
> lagi pak?
> 
> Mohon pencerahannya...
> 
> Salam
> edo
> 
> -----Origil Message-----
> From: Awang Satyana [mailto:[email protected]]
> 
> Sent: Wednesday, May 13, 2009 11:10 PM
> To: Eksplorasi BPMIGAS; Forum HAGI; Geo Unpad; IAGI
> Subject: [iagi-net-l] New Petroleum System of Salawati
> Basin
> 
> 
> Cekungan Salawati, Kepala Burung Papua, merupakan
> satu-satunya cekungan
> di Indonesia Timur yang telah matang dieksplorasi dan
> diproduksikan. Dua
> cekungan berproduksi lainnya, Cekungan Bula dan Bintuni,
> tidak
> seintensif dikerjakan sepermti Cekungan Salawati.
> 
> Minyak pertama kali ditemukan di Cekungan Salawati pada
> tahun 1936
> melalui penemuan Lapangan Klamono. Saat itu, lapangan ini
> ditemukan
> melalui rembesan minyak pada antiklin permukaan.
> Penelitian2 selanjutnya
> menampakkan bahwa Lapangan Klamono sesungguhnya merupakan
> struktur
> terumbu karbonat yang menyebabkan draping membentuk
> antiklin pada
> lapisan silisiklastik di atasnya. Sejak itu, play type
> terumbu karbonat
> menjadi primadona di cekungan ini, dan ini terus berlanjut
> sampai
> sekarang, setelah lebih dari 70 tahun. Karbonat penyusun
> terumbu ini
> terkenal sebagai Formasi Kais berumur Miosen Tengah-Miosen
> Akhir. 
> 
> Saat sistem PSC diperkenalkan, Petromer Trend dan Phillips
> Petroleum
> mengeksplorasi wilayah ini secara sangat intensif, itu
> terjadi pada
> akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an. Semua usaha yang
> serius dan
> intensif akan berbuah hasil yang baik. Maka pada tahun2 itu
> ditemukanlah
> lapangan-lapangan minyak skala besar di cekungan ini,
> misalnya Lapangan
> Walio dan Kasim. Lapangan Walio pada masanya (awal 1970-an)
> pernah
> tercatat sebagai lapangan minyak terbesar di SE Asia dari
> play type
> terumbu karbonat (Longman, 1996). Sampai sekarang,
> teman-teman
> Pertamina, PetroChina, dan Pearl masih mengeksplorasi
> cekungan ini
> dengan tipe play yang sama.
> 
> Boleh dikatakan bahwa Cekungan Salawati telah dieksplorasi
> dan
> diproduksikan selama lebih dari 70 tahun dengan menggunakan
> single
> petroleum system  yaitu Kais/Klasafet : Kais (!). Saya
> agak
> mengkuatirkan bahwa petroleum system ini di daerah2
> klasiknya (Walio
> Block, Arar High, Salawati Island) telah over-explored. Hal
> ini bisa
> ditunjukkan dengan gejala-gejala makin sulitnya penemuan
> yang signifikan
> secara volumetrik pada sumur2 eksplorasi di wilayah klasik
> yang
> menggunakan petroleum system ini. Petroleum system ini
> masih punya
> potensi dan tantangan besar di luar wilayah klasiknya. Masa
> depan Kais
> ada di Selat Sele dan offshore south dan southwest Salawati
> Island.
> 
> Di luar petroleum system Kais/Klasafet : Kais (!) adakah
> sistem yang
> lain di cekungan ini ? Inilah tema paper yang saya
> presentasikan dalam
> bentuk poster dalam pertemuan IPA kemarin (saya memang
> sengaja memilih
> poster agar diskusi dengan pengunjung yang berminat bisa
> dilakukan
> selama 3 hari, bukan hanya 10 menit tanya jawab seperti
> pada oral
> presentation -poster adalah cara terbaik untuk
> memperkenalkan ide secara
> lebih intensif, detail, dan leluasa).
> 
> Judul papernya adalah "Emergence of New Petroleum System in
> the Mature
> Salawati Basin : Keys from Geochemical Biomarkers". Mengapa
> geokimia ?
> Sebab, hanya geokimia yang membuka misteri keberadaan
> hidrokarbon dan
> source rocks yang lain dari yang sudah diketahui. Secara
> sederhana, saya
> menggunakan beberapa kelas biomarker geokimia untuk
> mengejar keberadaan
> hidrokarbon asal non-Kais/Klasafet ini.
> 
> Penemuan bahwa ada sekelompok minyak yang bukan
> digenerasikan dari
> source rocks klasik (Kais/Klasafet) di cekungan ini terjadi
> secara tidak
> disengaja. Minyak-minyak di Salawati begitu ideal
> terdistribusi
> mengikuti Prinsip Gussow. Cekungan Salawati adalah sebuah
> foreland basin
> yang pasti asimetrik dengan kitchen depocenter di sebelah
> selatan Sesar
> Sorong dan melandai ke selatan-tenggara. Mengikuti prinsip
> Gussow,
> lapangan yang paling jauh dari kitchen punya API paling
> rendah, lalu
> secara berangsur API makin tinggi untuk lapangan2 yang
> reservoir Kaisnya
> makin tenggelam ke arah baratlaut mendekati kitchen. GOR
> (gas oil ratio)
> makin lama makin tinggi mendekati kitchen sampai akhirnya
> semua lapangan
> gas ada di wilayah downdip dan lapangan minyak dengan API
> medium-low ada
> di wilayah updip.
> 
> Dengan aturan yang ideal seperti itu, kita bisa dengan
> mudah melakukan
> prediksi API untuk struktur2 Kais yang akan dibor.
> Sederhananya, semakin
> mendekati kitchen, API dan GOR akan semakin tinggi, semakin
> gassy. Maka
> di dalam depocenter tentu tak akan ada minyak, wet gas pun
> tidak akan
> ada, dry gas saja yang paling mungkin. Lalu ini dibuktikan
> oleh sumur
> paling jauh di depocenter Salawati, yaitu West Island Reef
> (WIR-1),
> sumur ini tested dry gas dan CO2-nya tinggi -gampang
> ditebak, CO2-nya
> asal anorganik akibat reservoir atau source rocks karbonat
> Kais
> mengalami degradasi termal akibat masuk ke overmature
> window di
> depocenter.
> 
> Suatu anomali yang sangat menarik terjadi. Justru di sisi
> paling utara,
> di wilayah depocenter yang paling dalam, di sebelah selatan
> Sorong
> Fault, banyak sekali rembesan minyak dan gas. Mana mungkin
> Kais di situ
> masih bisa menggenerasikan minyak dan wet gas ? Rembesan2
> minyak muncul
> di sesar2 naik yang merupakan en echelon structures dari
> Sorong Fault.
> Pasti source rocks rembesan minyak ini bukan dari
> Kais/Klasafet, mesti
> dari batuan lebih muda dari Klasafet/Kais yang di
> deposenter belum masuk
> ke overmature window.
> 
> Itu kecurigaan saja. Sebuah kecurigaan harus dibuktikan
> secara ilmiah.
> Maka dimulailah aplikasi biomarker geokimia ambil bagian.
> Kematangan
> minyak ini harus diukur. Kematangan minyak artinya adalah
> pada
> kematangan batuan induk berapa minyak ini dulunya
> digenerasikan.
> Biomarker yang bisa dipakai untuk ini adalah biomarker
> kelompok aromatik
> bernama MP (methylphenanthrene - m/z 192) (rasionalisasi
> kimianya bisa
> dipelajari di Radtke, 1992). Sampel yang digunakan adalah
> sampel minyak.
> Dari MP bisa dirasiokan MPI (MP index) yang lalu bisa
> diformulasi
> menghasilkan Ro (vitrinite reflectance) calculated. 
> 
> Untuk menganalisis kecurigaan ini maka semua MPI minyak di
> Salawati
> Basin diukur dan diturunkan Ro calculatednya. Sesuai
> prediksi, MPI
> lapangan2 Kais makin meningkat dari updip ke downdip.
> Minyak2 di
> Salawati fields dulunya digenerasikan dari Ro calculated
> sekitar 0.8 -
> 1.4 %, makin naik dari arah Walio di tenggara menuju
> depocenter di
> baratlaut. Tetapi tiba2, rembesan minyak di sisi paling
> utara justru
> berbalik merendah, menjadi hanya Ro calculated 0.7 %. Ini
> jelas
> membuktikan bahwa ada source rocks lain di luar
> Klasafet/Kais yang telah
> menggenerasikan minyak di bagian utara Cekungan Salawati.
> 
> Penelitian selanjutnya adalah mencari apa source rocks baru
> ini. Tugas
> ini dilakukan dengan melakukan analisis geokimia sampel
> dan
> membandingkannya dengan analisis geokimia minyak (oil to
> source
> correlation). Tugas ini dengan mudah dilakukan oleh
> biomarker saturate
> triterpane (m/z 191)dan sterane (m/z 217), didukung oleh
> isotop
> karbon-13 dan sebaran GC (gas chromatograph). Batuan induk
> bernama Lower
> Klasaman -yang terletak di atas Klasafet berumur Pliosen
> pun segera
> teridentifikasi. Maka kini kita punya batuan induk aktif
> (generating
> source rocks) selain Klasafet/Kais, yaitu Lower Klasaman.
> 
> Tugas selanjutnya adalah melengkapi elemen2 dan proses2
> lain dalam
> petroleum system. Di sini tripartit
> geologi-geofisika-geokimia
> diintegrasikan. Di dalam tugas ini dicari apa dan di mana
> reservoir yang
> akan menampung minyak yang digenerasikan dari Lower
> Klasaman, apa
> sealingnya, apa dan di mana trapnya, bagaimana pola
> pengisiannya
> (migration dan charging), dan bagaimana preservationya.
> Tugas ini
> berakhir dengan kesimpulan bahwa mid-Pliocene
> Intra-Klasaman sandstones
> adalah reservoirnya, trapnya adalah kebanyakan berupa
> struktur2 yang
> berkaitan dengan wrench tectonism  orde ke-2 dan ke-3
> dari Sorong Fault
> tectonism, sealingnya adalah intra-formational shales.
> Lokasi
> struktur2nya telah dipetakan berdasarkan seismik.
> Migrasinya telah
> dianalisis baik present-day migration maupun
> paleo-migration.
> 
> Singkat kata, ditemukanlah petroleum system baru di
> Cekungan Salawati,
> yaitu Lower Klasaman : Intra-Klasaman (!). Kita sudah
> lihat, geokimia
> merupakan kunci pembuka sistem baru ini. Paper ini ingin
> memperlihatkan
> tritunggal yang tak boleh dipisah-pisahkan dalam analisis
> eksplorasi :
> geologi-geofisika-geokimia. Memisahkan tritunggal itu akan
> menambah
> risiko kegagalan. Metode yang saya terapkan di sini jelas
> bisa
> diterapkan di tempat lain.
> 
> salam,
> awang
> 
> 
> 
>       
> 
> ------------------------------------------------------------------------
> --------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak
> biro...
> ------------------------------------------------------------------------
> --------
> tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
> akan dilaksanakan di Semarang
> 13-14 Oktober 2009
> ------------------------------------------------------------------------
> -----
> To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
> Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan
> ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA
> KCP. Manara
> Mulia No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
> information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or
> others. In no
> event shall IAGI and its members be liable for any,
> including but not
> limited to direct or indirect damages, or damages of any
> kind
> whatsoever, resulting from loss of use, data or profits,
> arising out of
> or in connection with the use of any information posted on
> IAGI mailing
> list.
> ---------------------------------------------------------------------
> 
> 
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak
> biro...
> --------------------------------------------------------------------------------
> tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
> akan dilaksanakan di Semarang
> 13-14 Oktober 2009
> -----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
> information posted on its mailing lists, whether posted by
> IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be
> liable for any, including but not limited to direct or
> indirect damages, or damages of any kind whatsoever,
> resulting from loss of use, data or profits, arising out of
> or in connection with the use of any information posted on
> IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
> 
> 




--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke