Pak Noor,
Saya juga pernah punya pertanyaan (dalam hati) seperti ini... Suatu siang,
di kantin kantor, saya ketemu kawan geologist yg dulu saya kenal ketika
kerja di lepas pantai Natuna. Sebagai kawan lama, apalagi bekas mudlogger
dan wellsite geologist, kami pun segera membuka pembicaraan tentang Lusi.;
dan kami berharap dalam waktu dekat segera didatangkan 2-3 drilling rig
untuk melakukan pemboran relief wells, guna "menyumbat" (dengan dipompakan
lumpur berat atau semen) semburan yang pada waktu itu tentunya hanya kecil
saja (di dalam pikiran saya, seperti semburan pada sumur yg pernah saya
lihat).
Ketika pertanyaan "tricky" sempat saya kemukakan, beliau menyatakan bahwa
semburan lumpur tetap akan terjadi. "Lapindo itu hanya kena sial".
Pembicaraan terhenti karena pesanan ayam goreng, sambal terasi dan lalapan
sudah disajikan.
Sampai sekarang saya masih suka merenungkan Lusi.
Tentang tulisan-2 di dalam milis, baik yang singkat (lugas, terkadang
"nyelekit") maupun yang agak panjang dan cukup panjang (lebih ilmiah) saya
rasa sama bagusnya. Tulisan-2 yang panjang tetap saya kumpulkan karena dari
tulisan-2 ini saya dapat menambah pengetahuan tentang ilmu Geologi.
Setelah mengikuti diskusi, baik dalam milis maupun dalam obrolan, pikiran
saya menjadi lebih terbuka; saya pun teringat "Bleduk Kuwu" dan "api abadi"
Mrapen di dekat Purwodai. Menurut dongengnya almarhum Bapak (diceritakan
sebelum tidur malam) bahwa Bleduk Kuwu itu konon sudah ada sejak jaman
Majapahit, sedangkan api abadi Mrapen selalu dipakai menempa keris oleh Mpu
Supa, seorang Empu pembuat keris yang terkenal.
Ketika melihat Bleduk Kuwu, 42 tahun yll saya tertegun: Gejala alam apa yang
menyebabkan luapan lumpur sebesar ini?
Ternyata ini merupakan gejala geologi biasa saja, walaupun masyarakat
setempat mempunyai cerita-2 rakyat tentang ini.
Trimakasih, saya selalu dapat mengikuti diskusi yang menarik.
Salam,
sh
----- Original Message -----
From: "noor syarifuddin" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, March 03, 2010 2:03 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Uneg-uneg..LUSI
apakah mungkin "tanpa pemboran yang dilakukan" bencana LUSI tersebut tetap
ada, atau bahkan lebih dahsyat >lagi??????? ...........
Menurut saya, ini pertanyaan yang tricky dan susah dijawab. Mirip dengan
lagi hot sekarang: klo tidak ada bail out, apa dijamin tidak ada krisis..?
Memperhatikan lalulintas milis yang tiba-tiba naik tajam begitu topik ini
muncul lagi, kelihatannya masih banyak yang penasaran dengan topik ini. Saya
sangat mendukung kalau organsiasi profesi macam IAGI bisa memfasilitasi
diskusi (secara profesional) tentang issue ini.
Katakanlah sesi debat khusus di PIT IAGI mendatang: masing-masing pihak
diberi kesempatan untuk berargumentasi secara bergantian dalam satu periode
tertentu (round table). Tentu supaya lebih afdhol bisa juga dibarengi dengan
poster session tentang data-data pemboran yang bisa dibuka untuk publik,
dengan demikian pendengar bisa memahami argumen para panelis dengan lebih
baik.
Saya pernah menjadi pendengar debat model ini waktu ada seminar di
UBD-Brunei. Topiknya tentang tektonik P Kalimantan (diataranya ttg putaran
searan dan berlawanan arah jarum jam)...sangat menarik dan sampai akhir
diskusi, saya juga masih bingung untuk memihak kepada siapa..:-).
salam,
________________________________
From: Oky E <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, March 3, 2010 2:14:19 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Uneg-uneg..LUSI
Pak bagus sekali ulasannya dan ".... hukum geologi bernama "perturbation of
elisional venting system";... sangat menarik bila bisa dishare. Ada satu
pertanyyaan dari saya pak, terlepas dari aktivitas pemboran yang "sebagian
berpendapat sebagai penyebab LUSI", apakah mungkin "tanpa pemboran yang
dilakukan" bencana LUSI tersebut tetap ada, atau bahkan lebih dahsyat
lagi??????? ...........
--- On Wed, 3/3/10, Awang Satyana <[email protected]> wrote:
From: Awang Satyana <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Uneg-uneg..LUSI
To: [email protected]
Cc: "Forum HAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad"
<[email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS"
<[email protected]>
Date: Wednesday, March 3, 2010, 5:07 AM
Natan,
Ah yang panas di milis hanya beberapa orang saja; diskusinya memang panas.
Hm, masa kesimpulan harus dipaksakan agar tidak panas maka kesimpulannya
begini saja. Ah itu kan bukan kredo seorang ilmuwan, tetapi sudah persis
politician. Dan, paragraf kedua Natan di bawah itu adalah pemaksaan kehendak
namanya, seperti demo-demo yang suka memaksakan kehendak, "kalau keinginan
kami tidak dipenuhi, kami akan mengerahkan lebih banyak lagi masa".
Hati-hati, siapa nih yang jadinya mempolitisasi kasus ini ?
Mari berdebat di koridor sains, perbedaan pendapat adalah lumrah dalam
sains. Jangan ngambek, mengancam, dll. Jangan hanya bermain di permukaan,
masuklah lebih dalam, jangan hanya bermain di waktu sekarang, masuklah juga
ke masa lalu. Jangan hanya menukik ke satu titik, lihatlah arena
sekelilingnya. Geologist terlatih untuk itu, dan tidak pernah diajarkan
untuk ngambek atau mengancam bila pendapatnya tidak diterima.
salam,
Awang
--- Pada Rab, 3/3/10, Nataniel Mangiwa <[email protected]> menulis:
Dari: Nataniel Mangiwa <[email protected]>
Judul: Re: [iagi-net-l] Uneg-uneg..LUSI
Kepada: [email protected]
Cc: "Forum HAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad"
<[email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS"
<[email protected]>
Tanggal: Rabu, 3 Maret, 2010, 11:32 AM
Kalau saja keputusan iagi kemarin, DPR RI, dan kepolisian dan BPMIGAS bahwa
Lusi dikarenakan ada kesalahan dalam pengeboran..jelas banyak rekan yang
tidak akan "panas" Pak Awang.
Apa alasannya untuk "panas" kalau pendapat kita sudah dianut oleh Iagi, DPR,
Lapindo, BPMIGAS, kepolisian, jaksa, dlsb??
2010/3/3 Awang Satyana <[email protected]>
Ada satu hal yang Minarwan tak libatkan dalam ulasan di bawah, yaitu
komposisi magma antara Merapi dan Semeru. Propagasi energi gempa Yogya 27
Mei 2006 jelas akan lebih cepat sampai ke Merapi dibandingkan ke Semeru
berdasarkan jaraknya. Tetapi saat getaran ini sampai ke dapur magma kedua
gunungapi itu, terjadilah perbedaan respon karena perbedaan komposisi
magma
kedua gunungapi ini. Kedua gunungapi ini komposisinya berbeda, silakan cek
katalog gunungapi (Kusumadinata, 1979).
Lagipula, Merapi terkenal punya sumbat lava di lubang kepundannya hasil
erupsi sebelumnya yang membuat ia tak segera merespon getaran gempa Yogya
padahal jaraknya hanya 50 km; lalu respon itu baru muncul bersamaan dengan
respon reaktivasi Semeru pada hari yang bersamaan meskipun Semeru jaraknya
enam kali lebih jauh dari episentrum gempa. Silakan cek untuk lebih
detailnya di publikasi Walter et al. (2007) : Volcanic activity influenced
by tectonic earthquakes : static and dynamic stress triggering at Mt
Merapi
- Geophysical Research Letters 34, L05304.
Menurut hemat saya, jangan hanya selesai di cluster analysis statistics
yang hanya melihat jarak dan magnitude gempa dengan semua reaktivasi yang
disebabkannya (mud volcano, magmatic volcano, liquefaction, dsb.).
Lihatlah
masalahnya satu demi satu secara individual. Bila kita hanya melihat
statistik saja tanpa menelitinya lebih jauh, maka kita akan sulit mengerti
mengapa kedua gunungapi yang jaraknya berbeda enam kali lipat terhadap
episentrum gempa tersebut bisa merespon gempa itu pada saat yang
bersamaan.
Begitu juga halnya dengan cluster analysis Manga dan Brodsky (2006) atau
Mellors et al. (2007) yang menampilkan plotting antara magnitude gempa dan
jarak reaktivasi semburan fluida (mud volcano, volcano, liquefaction, dan
sejenisnya) yang diakibatkannya, plotting ini selalu dipakai oleh Richard
Davies dan Mark Tingay untuk mengatakan bahwa gempa Yogya tak mungkin
memicu
Lusi sebab lokasi Lusi terlalu jauh dari episentrum gempa Yogya dan gempa
Yogya terlalu kecil magnitudenya untuk bisa memicu Lusi. Mereka mengatakan
itu saja, hanya berdasarkan plotting, tak melihatnya lebih jauh secara
individual bagaimana gempa Yogya itu, bagaimana Lusi itu.
Coba cek publikasi Mellors et al. (2007) - Correlations between
earthquakes
and large mud volcano eruptions - Journal of Geophysical Research 112,
B04304. Saya kebetulan bertemu Robert Mellors saat dia diundang UGM untuk
merayakan ulang tahun ke-50 Geologi UGM tahun lalu. Saya menanyakan
plotting
korelasinya itu, dan dia mengatakan itu hanya statistik. Ada hal-hal yang
tak bisa didekati oleh ploting itu, yang dia katakan adalah : 1.
robustness
of the correlation, 2. the exact triggering mechanisms, 3. magnitude
thresholds and triggering distances, dan 4. possibility of delayed
triggering.
Tolong diperhatikan butir no. 3; seberapa besar magnitude gempa baru bisa
memicu mud volcano dan seberapa jauh mud volcano itu dari episentrum gempa
adalah hal yang tidak diketahui. Juga butir no. 4 berhubungan dengan
ulasan
Minarwan di bawah tentang lag time 11 bulan letusan Pinatubo setelah
gempa -
itu dipertanyakan.
Tentang pendapat/skenario Minarwan bahwa slab yang berhubungan dengan
gempa
menyebabkan reaktivasi volkanisme, saya tak sependapat. Gempa di slab
(artinya gempa dalam) lebih akan merambat ke bagian updip slab tersebut
menuju overriding plate-nya sebab gempa di slab ada di lingkungan
astenosfer
dan rheology upper mantle tersebut tentu lebih rendah dibandingkan slabnya
sendiri, maka propagasi gaya gempa akan merambat ke bagian updip slab.
Dapur
magma umumnya masih di lower crust (kontinen/kerak akresi), jauh di atas
slab; maka gempa di slab tak akan merektivasi dapur magma itu sehingga
volkanisme tak akan terpengaruh oleh slab earthquake. Kasus gempa Yogya
adalah gempa di overriding plate, jadi tak ada hubungan sama sekali dengan
slab-nya yang tenggelam di bawah Jawa Tengah. Gempa di overriding plate
akan
mempropagasikan gayanya secara lateral, tetapi akan lebih mengarah ke satu
azimuth bergantung pola rupture-nya. Dalam kasus gempa Yogya, propagasi
gaya
itu lebih ke arah timur dan timurlaut (silakan cek aftershocks-nya) dan
mengganggu keseimbangan semua fluida plumbing system atau venting system
yang berada di wilayah sapuan gaya gempa itu. Venting system adalah
struktur2 bawah permukaan atau di permukaan yang setting geologinya siap
mengalirkan fluida ke permukaan.
Itulah juga yang menjadi alasan mengapa mud volcano Bledug Kuwu tak
terbangunkan saat gempa Yogya terjadi, tetapi Lusi yang saat itu dalam
keadaan critical (lihat data seismiknya) bisa saja terpicu. Bledug Kuwu
adalah mud volcano tua (paling tidak ia sudah ada pada zaman Ratu Sima
memerintah wilayah utara Jawa Tengah sekarang sekitar 600-700 AD sebab
cerita rakyat tentang Bledug Kuwu sudah berkembang saat itu). Mud volcano
yang tua akan punya masa dormant seperti gunungapi juga. Membangkitkan mud
volcano yang dormant akan memerlukan energi yang lebih besar dibandingkan
mud volcano yang siap meletus atau dalam keadaan critical.
Sebuah pertanyaan : bagaimana menerangkan turunnya muka air secara
mendadak
di sumur-sumur penduduk di Kalang Anyar, Pulungan dan Gunung Anyar setelah
gempa Yogya terjadi dan bersamaan (simultan) dengan awal semburan-semburan
lumpur di sekitar sumur Banjar Panji-1 ? Lokasi kampung-kampung yang saya
sebutkan itu 40 km di sebelah timurlaut Lusi. Apakah itu juga karena UGBO
(underground blow out) Banjar Panji-1 ? Tentu tidak.
Saya mudah menjawabnya. Kalang Anyar, Pulungan, Gunung Anyar adalah
gunung2lumpur tua (lihat publikasi saya tentang gununglumpur tua zaman
Jenggala dan Majapahit di Proceedings IAGI 2007 dan IPA 2008). Lokasi
gunung2 ini tak sembarangan, sampai ke Bangkalan Madura dari Gunung
Penanggungan ia dihubungkan sesar mendatar Watukosek. Di Bangkalan Madura
di
ujung sesar ini ada gunung lumpur Socah, Sening dan Bugag. Lusi berlokasi
di atas sesar ini. Pada hari sesar Watukosek dibangkitkan kembali, crital
venting system di Lusi meletus, dan venting system sumur2 penduduk di
Pulungan, Kalang Anyar dan Gunung Anyar meletus.
Lusi punya causes dan trigger. Causes-nya sudah jelas ada dan memenuhi
hukum geologi bernama "perturbation of elisional venting system";
triggernya
reaktivasi Sesar Watukosek. Apakah UGBO Banjar Panji-1 (bila ada) bisa
mereaktivasi Sesar Watukosek sampai 40 km jauhnya ?
Tanpa causes, UGBO Banjar Panji-1 (bila ada) sehebat apa pun tak akan
menyebabkan bencana seperti yang kita lihat sekarang. Coba pindahkan
lokasi
sumur Banjar Panji-1 di Pegunungan Selatan, lalu ia mengalami UGBO,
semburan
lumpur yang terjadi tak akan sehebat sekarang. Mengapa ? Pegunungan
Selatan
tak memenuhi hukum "perturbation of elisional venting system".
Trigger utama nya (causa prima) yang sekarang harus kita permasalahkan,
yaitu apa yang menggerakkan Sesar Watukosek. Apakah problem mekanik sumur
Banjar Panji-1 ? Apakah gempa Yogya 27 Mei 2006 ? Di Yogya pada hari yang
sama, Sesar Opak dari Parangtritis sampai Klaten dikoyak kembali gempa
tersebut dan menebar bencana. Energi gempa itu lari ke timur mengaktifkan
Semeru 2-3 hari kemudian dan lari ke timurlaut melewati perairan Ujung
Pangkah, terukur interupsi energinya mengganggu rekaman seismik yang pagi
itu baru dimulai oleh sebuah company. Sesar Watukosek ada di jalan sapuan
propagasi gaya itu, kalau ia teraktifkan saat itu sangatlah mungkin Semua
venting system yang critical yang berlokasi di sesar ini telah terganggu,
termasuk subsurface Banjar Panji-1, termasuk sumur-sumur penduduk di
gunung2lumpur Pulungan, Kalang Anyar, Gunung Anyar.
Dalam kasus Lusi, sebagai geologist, lihatlah dengan mata terbuka ke
segala
arah, ke ruang dan waktu masa lalu maupun ke masa sekarang; jangan
hanya menukikkan pandangan ke Banjar Panji-1.
Pendapat saya di atas tidak dipengaruhi oleh politik, jajak pendapat di
Afrika Selatan, keputusan DPR, Lapindo, BPMIGAS, dan rekan-rekan milis
yang
selalu "panas" ketika berdiskusi apa penyebab Lusi. Semuanya didasarkan
atas
data, analisis dan sintesis; serta diskusi dengan teman2 yang sependapat
maupun yang kontra.
salam,
Awang
--- Pada Rab, 3/3/10, MINARWAN <[email protected]> menulis:
Dari: MINARWAN <[email protected]>
Judul: Re: [iagi-net-l] Uneg-uneg..LUSI
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 3 Maret, 2010, 3:45 AM
Pak Bambang,
Kebetulan saya bisa mengakses paper Harris dan Ripepe (2007) dan
membacanya sekilas. Ada beberapa hal yang saya amati:
1. Ketidaksamaan waktu antara gempa sebagai perntrigger dan hasil
berupa peningkatan aktivitas gunung berapi di beberapa tempat lain.
Misalnya untuk Merapi dan Semeru katanya sekitar 72 jam (jarak
episenter gempa ke Merapi hanya 50 km tetapi jarak dari episenter
gempa ke Semeru adalah 300 km). Selain itu, gempa yang konon
mentrigger letusan Pinatubo lag timenya sampai 11 bulan, padahal jarak
episenter dengan gunung itu adalah 100 km.
2. Ada pula sebuah gempa kecil di Mount Wrangell yang konon
berlangsung sekitar 1 jam dari gempa Aceh (Simeulue) Desember 2004
padahal jaraknya adalah 11.000 km.
Sebenarnya, mungkin, kalau hendak dikaitkan dengan gempa, maka
intensitas gempa secara logika akan mempengaruhi cepat rambat getaran
untuk sampai ke dapur magma dan ini sulit kita bandingkan antara gempa
yang satu dengan gempa yang lain. Namun agak aneh jika getaran dari
sebuah gempa yang sama kok bisa sampai ke dua tempat yang berbeda,
yang satu berjarak 50 km dan satunya 300 km.
Di sini saya hendak memberikan sebuah skenario lain yang menyebabkan
aktivitas kedua gunung tersebut. Jika kita amati lagi dengan
menggunakan skala yang lebih luas/besar, sebuah gempa di Pulau Jawa
dapat terjadi karena pelepasan energi yang tertahan di zona subduksi
di selatan Jawa sana. Saat terlepas, seharusnya slab lempeng yang
subduksi akan lebih aktif dan membuat aktifitas dapur magma meningkat
sehingga gunung api yang ada diatasnya juga lebih aktif.
Sayang sekali, tidak ada usaha dari Harris dan Ripepe (2007) untuk
melihat kemungkinan lain atau menghilangkan peluang dari skenario lain
dalam memberikan alasan mengapa Merapi dan Semeru tiba-tiba aktif
selama 9 hari dari tanggal 30 Mei 2006. Yang mereka lakukan hanyalah
menyambungkan dua fakta dan saya pikir ini berkaitan dengan apa yang
mereka teliti dan yakini.
Sekedar sumbang pendapat.
Salam
mnw
2010/3/2 Bambang P. Istadi <[email protected]>:
> Pak Bosman yang baik,
>
> Saya tidak pernah mengatakan gempa sebagai penyebab LUSI, yang kami
> amati adalah kondisi sumur, yaitu adanya loss circulation disumur dengan
> rate yang cukup signifikan dalam ruang dan waktu yang hampir bersamaan
> dengan gempa. Selang beberapa menit setelah gempa Jogya, sumur mengalami
> loss dengan rate 300 bbl/jam, lalu diikuti dengan total loss circulation
> siang harinya setelah beberapa kali after shock. BMG dalam tabel
> laporannya mengatakan "magnitude offscale" entah artinya seberapa
> kuatnya gempa ini. Apakah ini suatu kebetulan? Coincidence atau adanya
> keterkaitan? Wallahu Alam,...
>
> Dilain pihak, Harris and Ripepe dalam papernya, GEOPHYSICAL RESEARCH
> LETTERS, VOL. 34, L02304, doi:10.1029/2006GL028251, 2007. Menunjukan
> peningkatan aktifitas Gunung Merapi dan Semeru yang jaraknya lebih jauh
> dari Jogya disaat lahirnya LUSI. Harris and Ripepe mengaitkan kenaikan
> aktifitas gunung-gunung ini dengan gempa Jogya.
>
> BTW, good luck dengan program S2nya pak.
>
> Wass.
> Bambang
>
--
- when one teaches, two learn -
http://www.geotutor.tk
http://www.linkedin.com/in/minarwan
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 Desember
2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net
<http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/%0AIAGI-net>Archive 2:
http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted
on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct
or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from
loss
of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of
any
information posted on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------
Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka
browser. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
__________________________________________________________
Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru. Kini dengan update real-time,
panggilan video, dan banyak lagi! Kunjungi http://id.messenger.yahoo.com/
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 Desember 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------