Minarwan : 
1.       Bengkoknya rel KA tersebut pernah kita diskusikan di milis ini hampir 
empat tahun lalu pada tahun kejadian LUSI (2006). Saat itu ada dua pendapat 
bahwa pembengkokan itu disebabkan reaktivasi Sesar Watukosek atau collapse 
struktur tanah (amblesan) di sekitar Lusi. Untuk ini harus ada uji kronologi 
kapan foto dibuat dan kapan berita diturunkan. Bisa saja ada kemungkinan bahwa 
berita terlambat diturunkan di koran, meskipun kejadiannya sudah lama.  Satu 
kemungkinan yang lain lagi adalah bisa saja rel KA tersebut baru terbengkokan 
pada September 2006 oleh reaktivasi kemudian Sesar Watukosek. Apa yang dimaksud 
dengan reaktivasi kemudian adalah sesar ini beberapa kali direaktivasi. Apa 
dasar dugaan ini, yaitu flow rate semburan Lusi mengalami pulsasi mengikuti 
regional earthquakes dengan epicentrums yang terjadi dalam radius 300 km dari 
Lusi. Untuk mengeceknya, silakan plot semua episentrum gempa M >3.7 dari 
tangga; 27 Mei 2006-21 Nov 2006 dan
 kontraskan dengan flow rate Lusi dalam m3/hari, maka akan terjadi linearity di 
antara mereka. Besar flow rate Lusi mengikuti earthquakes swarm yang terjadi di 
sekeliling Jawa Timur dengan episentrum dalam jarak 300 km dari titik lokasi 
Lusi. Flow rate yang pusating itu juga mencerminkan dynamic fluid stress change 
di bawahnya yang lalu terhubung ke reaktivasi Sesar Watukosek; jadi 
pembengkokan rel KA itu tak mesti terjadi pada 27 Mei 2006 atau September, bisa 
saja di antara Mei dan September; sebab sesar yang sudah sekali tereaktivasi 
pada awalnya dan mengalami dynamic fluid stress change dengan manifestasi 
semburan fluida Lusi, akan mudah tereaktivasi lagi. Sekarang pun arah amblesan 
Lusi membuat bentuk lonjong dengan arah sumbu panjang BD-TL, mengindikasikan 
bahwa Sesar Watukosek di bawahnya masih rentan tereaktivasi oleh perubahan 
fluida yang melaluinya. Fluida ini mempunyai tekanan yang bisa menggerakkan 
bidang yang lemah seperti sesar.
2.       Bagaimana kita mengetahui bahwa saat itu sudah ada penambahan magma di 
Semeru ? Kalau di Merapi  ya, sebab gempa-gempa volkanik pada badan gunungapi 
telah dirasakan sebelum gempa Yogya yang mengindikasi bahwa terjadi penambahan 
tekanan dari dapur magmanya. Referensi Sparks et al. (1977) saya pikir tak 
valid dalam kasus ini, terlalu lama untuk kasus reaktivasi Semeru, apakah 
publikasi tahun 1977 bisa menafsirkan pengisian magma Semeru pada 2006 ? 
Komposisi magma Merapi dan Semeru yang saya kutip dari Kusumadinata (1979) 
menunjukkan magma Semeru relatif sedikit lebih basa dibandingkan Merapi. 
Komposisi ini, harus diingat, berdasarkan pengukuran continous selama 30 tahun, 
juga berdasarkan pemetaan geologi permukaan di lereng dan kaki Semeru yang juga 
menemukan komposisi lebih basa.
3.       Mori dan Kano (2009) telah menghitung (berdasarkan data analogi dengan 
gempa di Jepang, lihat lebih detail di bawah)  bahwa dynamic stress change di 
Lusi 0.005-0.010 MPa, dan itu sudah di atas threshold yang ditetapkan Fisher 
(2008) sebesar 0.001 MPa, mengapa kita menggunakan threshold dari  Walter et al 
(2007) dan Stein (1999), threshold tersebut untuk magmatic volcano eruption; 
sedangkan yang dari Fisher (2008) khusus untuk mud volcano eruption. Lagipula, 
menurut hemat saya hitungan dari Mori dan Kano (2009) itu lebih kecil dari yang 
sebenarnya karena tak memasukkan kesamaan focal mechanism gempa dan 
directivity-nya. Yang namanya pemicu tak perlu besar dari awal sebab efeknya 
bisa seperti snowball effect.
4.       Paper saya baik di IAGI (2007) maupun di IPA (Satyana and Asnidar, 
2008) tak membahas secara spesifik kondisi kritis Lusi sebagai elisional 
critical venting system sebab paper di IAGI menggunakan pendekatan sejarah yang 
menunjukkan bahwa kasus seperti Lusi dulu pun pernah terjadi saat periode 
Jenggala-Majapahit di situ. Paper di IPA menunjukkan semua diapir dan mud 
volcano di Jawa, jadi tak khusus ke Lusi. Critical atau tidaknya sebuah calon 
mud volcano, tentu akan butuh penelitian yang seksama. Saya saat ini tengah 
mengevaluasi untuk memodifikasi stages diapir/mud volcano dari empat menjadi 
lima (lihat penjelasan tambahan di bawah). Dengan kasus Lusi ini, justru kita 
belajar –mencari semua bentuk diapir di bawah permukaan, memetakan semua sesar 
yang di dekatnya atau melaluinya, dan mengevaluasi critical point-nya. Critical 
condition yang Minarwan daftarkan itu adalah ideal, tetapi apa kita bisa 
mengukurnya ? Bukan sesuatu yang gampang
 sebab memerlukan suatu high resolution seismic data, pengukuran tiltmeter dan 
GPS di atas tanah tempat diapir terkubur, gas detector untuk menangkap methan, 
dsb. Untuk info saja, kualitas data seismik di Kendeng Deep tak terlalu baik 
sebab di atasnya banyak volcanic cover dan thrust sheets Kendeng yang sangat 
tebal.
5.       Telah terjadi reaktivasi Watukosek Fault harus dicurigai dari : lima 
lokasi semburan awal sebelum Lusi yang membentuk liniasi BD-TL, turunnya muka 
air sumur2 penduduk di Kampung2 Pulungan, Kalanganyar dan Gununganyar yang 
jaraknya 50 km dari Lusi dan terletak di sepanjang Watukosek Fault, keluarnya 
minor seeps (lumpur dan gas) pada saat yang bersamaan di mudvolcano tua 
Pulungan, Kalanganyar, Gununganyar; menurunya 10-20 % flowrate sumur Carat yang 
juga terletak di jalur sesar tersebut, dan rontokan baru di gawir sesar 
Watukosek. Lihat di bawah untuk keterangan lebih lanjut. Semua kejadian itu 
serentak terjadi sesudah gempa Yogya.  Bengkokan rel KA saya tak tahu pasti, 
tetapi terjadi di antara Mei-September 2006 (reaktivasi ulang sangat mungkin 
terjadi). Belokan Sungai Porong saya pikir belokan lama yang justru menandakan 
ada sesar di bawahnya, sehingga zone lemah ini diterobos air permukaan.
6.       Parameter induced earthquake (dalam frekuensi, seismic amplitude, dan 
dynamic stress change) di area Lusi karena gempa Yogyakarta berdasarkan 
hitungan atas data analogi gempa bermagnitude sama di Jepang yang terukur di 
record station berjarak sekitar 250 km dari episentrum. Perhatikan bahwa itu 
bukan analogi yang sempurna sebab focal mechanism antara gempa Yogya dan gempa 
Jepang itu berlainan, juga rupture directivity-nya berlainan. Hal ini akan 
menyebabkan bahwa parameter ground earth shaking di Sidoarjo yang diturunkan 
dari analogi gempa di Jepang itu tak mesti sama seperti yang dihitung Mori dan 
Kano (2009) yaitu maximum velocity amplitude 0.25 cm/sec dan dynamic stress 
change 0.005-0.010 MPa untuk kisaran frekuensi 0.3-0.5 Hz. Menurut hemat saya, 
parameter-parameter induced earthquake di Lusi itu akan lebih besar daripada 
yang diperhitungkan Mori dan Kano (2009) sebab focal mechanism gempa Yogya 
strike-slip fault dengan rupture
 directivity SW-NE sejajar dengan semua sesar mendatar besar yang punya rigt 
stepping fault set (lihat terminologi relay pattern ini di Harding, 1985 dan 
Biddle, 1985) dari Sesar Opak tempat episentrum gempa Yogya ke Sesar Watukosek 
tempat Lusi. Mengapa akan punya parameter2 gempa yang lebih besar ? Sebab, 
propagasi energi gempa akan lebih mereaktivasi sesar-sesar yang sejenis 
dibandingkan antara hiposentrum dan lokasi distant induced earthquake-nya 
secara struktur geologi tak berhubungan.  Perhatikan bahwa distribusi 
episentrum aftershocks gempa Yogya berjalan pula dalam arah right stepping 
terhadap episentrum mainshock, ini mengartikan bahwa rupture directivity gempa 
ini SW-NE pula. Sungguhpun demikian,hitungan parameter gempa Lusi Mori dan Kano 
(2009) itu masih di dalam kisaran gempa yang dapat menyebabkan perubahan local 
fluid pressure seperti yang dihitung oleh Fisher (2008) dengan kisaran dynamic 
stress change 0.001-0.1 MPa. Saya pikir, metode
 cross plot Fisher (2008) ini lebih ilmiah sebab menghitung stress change 
distant seismic secara individual dibandingkan crossplot Manga dan Brodsky 
(2006) yang hanya merupakan crossplot statistic antara jarak episentrum-distant 
induced eruption/earthquake dan magnitude gempanya. 
7.       Perhatikan bahwa dalam 15 tahun belakangan ini para ahli gempa telah 
banyak mempublikasikan (contoh : Hill et al, 1993, Miyazawa dan Mori, 2006; 
Hill dan Prejean, 2007; Fisher et al 2007) bahwa stress change sebesar 
0.001-0.1 MPa dapat menimbulkan gempa yang berasal dari distant earthquake di 
tempat lain. Stress change di Lusi diperhitungkan sebesar 0.005-0.01 Mpa, jelas 
ini di dalam kisaran tersebut. Khususnya, disebutkan Mori dan Kano (2009) bahwa 
pengaruh seperti itu kebanyakan terjadi di area hidrotermal. Lusi terjadi di 
area yang termalnya tinggi sebab Lusi terjadi di dekat lokasi gunungapi aktif 
Arjuno, Welirang, Anjasmoro. Ini juga dibuktikan dengan temperatur air Lusi 
yang mencapai sekitar  80-100 C. 
8.       Mori dan Kano (2009) tidak membahas aspek subsurface Lusi yang bila 
kita lihat data seismiknya jelas merupakan critical venting system berupa 
diapir stage -3 (mud volcano eruption : stage-4). Maka pertanyaan mereka apakah 
dynamic stress change yang terjadi di Lusi bisa memicu mud volcano eruption, 
dapat segera dijawab apabila mereka mengetahui bahwa ada naturally prepared 
system di bawah Lusi sehingga goncangan dari bawah yang kecil pun bisa memicu 
erupsi. Sebuah critical venting system akan punya threshold yang lain yang tak 
akan masuk kepada crossplot Manga dan Brodsky (2005) sebab crossplot tersebut 
dibangun atas old mud volcano/eruption/liquefaction, sementara Lusi adalah 
crital venting system yang ready to erupt bila ada perturbation of the critical 
elisional venting system. Threshold magnitude antara yang old mud volcanoes 
dengan yang critical venting system ready to erupt akan berlainan.
9.       Mori dan Kano (2009) hanya memasukkan perubahan flow rate di sumur  
Carat (4 km BD Lusi) sebesar 10-20 % yang disimpulkannya akibat gempa Yogya 
sebab perubahan itu diketahui setelah continuous record flow rate Carat sebelum 
dan sesudah gempa Yogya terjadi . Pada kenyataannya perubahan fluida itu 
terjadi pada sepanjang 50 km ke arah timurlaut dari Lusi yaitu perubahan muka 
air di sumur-sumur penduduk di Kampung Pulungan, Gununganyar, Kalanganyar; 
disertai seeps yang tiba-tiba terjadi di gununglumpur tua Pulungan, Gunungayar, 
Kalanganyar. Mori dan Kano (2009) pun tidak memasukkan lima semburan awal yang 
terjadi di sekitar Lusi yang semuanya terletak di splay Watukosek Fault. Jelas 
semua fenomena perubahan fluida yang terjadi serentak sepanjang 55 km dari 
sumur Carat di BD Lusi, loss di sumur Banjarpanji-1, di semburan2 awal Lusi dan 
adik2nya, di sumur2 penduduk sampai natural seeps pada jarak 50 km NE Lusi di 
Gununganyar yang semuanya
 berlokasi di Sesar Watukosek, dan semuanya terjadi setelah gempa Yogya, sangat 
mengindikasikan bahwa telah terjadi reaktivasi Sesar Watukosek. Apa yang 
menyebakan reaktivasi sesar tersebut ? Apakah mungkin UGBO sumur Banjarpanji-1 
menyebabkan reaktivasi sesar sampai sepanjang 50 km ? Apakah UGBO dapat 
menyebabkan semua perubahan fluida yang membentuk kelurusan BD-TL dalam jarak 
sepanjang 55 km ? Untuk info teman-teman saja, stress change gempa Yogya masih 
terukur setelah 34 detik pasca gempa Yogya pada jarak 286 km di area perairan 
Pangkah sebelah utara muara Bengawan Solo dan tercatat pada seismic record 
akuisisi seismic menggunakan kapal Orient Explorer. Nah, apakah ini akibat UGBO 
sumur Banjarpanji-1 ?
10.   Analisis sequence temporal yang dilakukan Mori dan Kano (2009) untuk 
partial loss dan total loss circulation di sumur Banjarpanji-1 dan turunnya 
flowrate sumur Carat relative terhadap tempo gempa Yogya bukanlah suatu 
kebetulan (coincidence) tetapi punya hubungan sebab-akibat. Pendapat ini akan 
kita peroleh bila kita melihat efek dynamic stress change bukan hanya di area 
Carat dan Banjarpanji, tetapi ke semua jarak  sepanjang 55 km dari Carat sampai 
Gununganyar, di area ini banyak sekali perubahan dynamic fluid stress change 
mengikuti gempa. Bila ini sebuah kebetulan, berarti kebetulan yang sangat 
kebetulan ?
11.   Pertanyaan Mori dan Kano (2009) mengapa gempa-gempa lain sebelum gempa 
Yogya tak menimbulkan Lusi, baru setelah ada pengeboran BJP-1 dan gempa Yogya 
lalu ada Lusi, adalah pertanyaan klasik yang ditanyakan tanpa mengecek 
gempa-gempa yang mana yang sebelum Yogya itu, coba didetailkan dulu dan nanti 
kita analis sama-sama. Sebab dari setiap gempa itu harus dicek dulu bagaimana 
magnitude-nya, focal mechanism-nya, rupture directivity-nya, relay fault 
set-nya antara lokasi episentrum dengan lokasi Lusi, dominant directivity 
propagasi energinya, dll. Pertanyaan Mori dan Kano (2009) apakah bila tidak ada 
sumur BJP-1 Lusi tetap meletus hanya dengan gempa Yogya juga merupakan 
pertanyaan klasik, sama dengan bila saya bertanya, apakah kalau tidak ada gempa 
Yogya, hanya ada sumur BJP-1,Lusi akan tetap meletus seperti sekarang ? Kedua 
pertanyaan ini adalah pertanyaan “kalau” , yang menurut hemat saya tidak cukup 
ilmiah dalam konteks ini untuk ditanyakan
 maupun dijawab sebab kita tidak berkalau-kalau, melainkan sedang berusaha tiga 
kejadian yang terjadi secara bersamaan : gempa Yogya, pengeboran BJP-1 dan 
erupsi Lusi. 
12.   Mori dan Kano (2009) membedakan antara cause dan trigger Lusi, ini tepat 
sebab cause Lusi sudah tertanam sejak lama di subsurface-nya (elisional 
critical venting system), sementara trigger –nya hanyalah perturbation on cause 
tersebut. Dan, semua data baik data pengeboran sumur BJP-1 yang dianalisis dan 
diargumentasi Pak Bambang Istadi, Pak Sawolo dkk. maupun data regional 
sekeliling Lusi seperti yang telah saya sebutkan di atas tidak menunjukkan 
suatu UGBO di sumur BJP-1 yang dapat memicu Lusi mud volcano eruption. Paper 
Mori dan Kano (2009) yang saya tambahi dengan analisis-analisis saya di atas 
makin meyakinkan saya bahwa reaktivasi Sesar Watukosek yang dipicu gempa Yogya 
adalah trigger utama Lusi eruption. Trigger utama ? Berarti, ada trigger 
lainnya ? Itu mungkin saja,  saya tak pernah menutup kemungkinan trigger lain, 
tetapi kalau pun ada, tak akan merupakan trigger yang penting. 
13.   Saya tak pernah menyebutkan bahwa gempa Yogya adalah penyebab Lusi, 
beberapa teman telah salah duga tentang hal ini; penyebab Lusi adalah sistemnya 
yang merupakan elisional critical venting system, sementara reaktivasi Sesar 
Watukosek yang dipicu gempa Yogya adalah trigger utama yang membuat naturally 
prepared system tersebut bererupsi karena telah terjadi dynamic fluid stress 
change yang signifikan atasnya.
14.   UGBO yang diduga terjadi di BJP-1 lalu menimbulkan Lusi mud volcano 
eruption seperti dianut oleh beberapa penulis (Davies et al., 2006, Davies et 
al., 2008; Tingay et al., 2008) dan beberapa teman di milis ini sangat patut 
dipertanyakan baik dari (1) segi keabsahan analisis drilling (seperti 
diargumentasi oleh Sawolo et al, 2009, 2010; Nawangsidi, 2007 dan beberapa 
teman yang aktif di milis ini -lihat argumentasi2 Pak Bambang Istadi) dan (2) 
data geologi regional sekeliling Lusi (lihat butir-butir diskusi saya di atas). 
Analisis drilling dan data geologi regional tidak menunjukkan UGBO (bila ada) 
signifikan memicu erupsi Lusi. Bila UGBO di BJP-1 tidak ada, maka tak perlu 
lagi melibatkan BJP-1 sebagai pemicu Lusi. .
15.   Secara umum, diketahui bahwa kejadian mud volcanoes berhubungan dengan 
sesar-sesar di active tectonic setting (Brown, 1980; Kopf, 2002, 2008; Bonini, 
2007). Lusi memenuhi kondisi ini, ia terletak di Sesar Watukosek di wilayah 
tektonik yang aktif (beberapa jalur antiklin di wilayah Sidoarjo bahkan 
bergerak dalam satu malam sampai ke permukaan yang menyebabkan sebuah aliran 
sungai berubah alurnya –lihat bencana Banyu Pindah di Serat Pararaton yang 
terjadi pada zaman Airlangga memerintah Kahuripan –Satyana dan Asnidar, 2008). 
16.   Natural process fracture propagation dan fluidisasi dapat diakselerasi 
oleh aktivitas seismic. Goncangan gempa dapat membentuk fracture yang akan 
menjadi free pathways untuk deeper fluids naik ke permukaan. Banyak sekali 
publikasi yang mendokumentasikan bahwa aktivitas seismic menggiatkan atau 
memicu aktivitas geyser, methane emission, magmatic volcanoes dan mud volcanoes 
(Chigira dan Tanaka, 1997; Guliev dan Feizullayev, 1997; Linde dan Sacks, 1998; 
Delisle et al, 2002; Hieke, 2004; Nakamukae et al, 2004; Manga dan Brodsky, 
2006; Ellouz-Zimmermann et al, 2007; Lemarchand dan Grasso, 2007; Mau et al, 
2007; Mellors et al, 2007; Walter dan Amelung, 2007; Judd dan Hovland, 2007; 
Mazzini et al., 2008; Eggert dan Walter, 2009; Manga, 2009; Mazzini et al, 
2009).
 
Demikian, semoga membantu memberikan penjelasan.
Salam,
Awang
 

--- Pada Ming, 14/3/10, MINARWAN <[email protected]> menulis:


Dari: MINARWAN <[email protected]>
Judul: Re: [iagi-net-l] Uneg-uneg..LUSI
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 14 Maret, 2010, 11:11 PM


Saat sedang memikirkan rel kereta api yang bengkok (salah satu bukti
reaktivasi Sesar Watukosek), secara iseng-iseng, saya mencari berita
mengenai kejadian ini dan mendapatkan tautan berikut:
http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/28/nas01.htm

Foto yang terpampang di situs di atas menurut hemat saya adalah foto
yang hampir sama dengan foto yang dipasang di Mazzini et al (2007) -
EPSL 261, 375-388. Saya lihat tanggalnya, tanggal 27. Gempa Jogja yang
konon telah mereaktivasi sesar Watukosek juga terjadi pada tanggal
yang sama. Tapi lho, beritanya itu dimuat pada bulan September,
sedangkan gempanya kan bulan Mei?

Jadi, ada selang waktu 4 bulan, di mana tidak ada yang sadar bahwa rel
kereta itu telah bengkok, tidak ada laporan gangguan dan kereta api
jurusan Surabaya-Malang-Blitar lewat seperti biasa setiap hari mungkin
beberapa kali, sampai akhirnya lengkungan rel menjadi parah karena
pergerakan tanah yang membuat rel bengkok. Bagaimana ini Pak Masinis
selama 4 bulan kok tidak melihat posisi relnya sudah berubah?

Berlanjut ke komposisi magma Merapi dan Semeru, yang membuat kedua
gunung api ini merespon gempa Jogja secara bersamaan walaupun jaraknya
berbeda dari pusat gempa, saya sudah memberikan 3 referensi, di mana
mereka menggunakan XRF untuk menganalisis kandungan SiO2, yang
menyimpulkan Semeru dan Merapi adalah sama-sama gunung api andesit
basaltik. Komentar saya mengenai topik ini saya rasa sudah cukup,
selebihnya saya serahkan kepada para volcanologist yang lebih tahu
daripada saya untuk berkomentar.

Sampai sejauh ini, saat kita mendiskusikan kaitan gempa dan aktivitas
gunung api, kita selalu tidak mengikutsertakan faktor tambahan magma
baru ke dapur magma (Sparks et al, 1977 di dalam Manga dan Brodsky,
2006). Padahal, Merapi dan Semeru telah aktif sebelum gempa Jogja
terjadi, dengan kata lain, tekanan di dapur magma sudah meningkat
sehingga ada yang harus dikeluarkan lewat lubang kepundan. Dengan
menggunakan analogi proses yang sama antara gunung api dan gunung
lumpur (walaupun yang satu adalah magma sedangkan yang lain adalah
lumpur), kita bisa mempertanyakan, ada tambahan tekanan apa dan dari
mana di sekitar sumur BPJ/BJP-1 yang membuat LULA/LUSI meledak? Hanya
passing seismic wave sajakah?

Mori dan Kano (2009) menunjukkan bahwa passing seismic wave dari gempa
Jogja yang sampai ke Sidoarjo paling-paling cuma sekitar 7 kPa, lebih
kecil daripada critical threshold 10 kPA yang digunakan oleh Walter et
al (2007) - mengikuti Stein (1999) - untuk menunjukkan transient
pressure minimum yang dapat mentrigger letusan gunung berapi. Semua
fakta mengenai naik turunnya muka air tanah, rekaman passing seismic
wave di Ujung Pangkah dan seterusnya adalah fakta yang baik. Bahwa
kondisi fluida lokal di Sidoarjo terpengaruh oleh passing seismic wave
menurut Mori dan Kano (2009) adalah fakta yang sahih. Yang menjadi
pertanyaan adalah bagaimana goncangan gempa ini sampai membuat ledakan
yang begitu hebat?

Mari kita analogikan dengan menggoyang air dalam panci yang sedang
mendidih di atas kompor. Dalam kondisi tidak ada tambahan panas dari
kompor, goyangan yang pelan tentu tidak akan membuat air menggelegak
dan tumpah, tapi jika kemudian panas dari kompor kita tambahkan secara
signifikan, gelembung air yang mendidih menjadi lebih besar, air
panasnya akan tumpah dari panci.

Jika memang ada faktor kondisi kritis yang bermain, sebenarnya apa
sebenarnya faktor kondisi kritis ini? Untuk kasus Merapi dan Semeru,
mungkin faktor kondisi kritisnya sudah jelas, mereka sedang aktif pada
saat gempa terjadi, kemudian setelah gempa aktivitasnya meningkat
(walaupun responnya masih terlihat aneh padahal jaraknya berbeda dari
pusat gempa, biarlah kita lupakan saja). Saya bisa mengajukan faktor
kondisi kritis ini berupa tambahan magma baru yang menekan dapur magma
kedua gunung api itu. Tapi untuk LULA/LUSI? Apakah mereka?

Saya sudah membaca makalah tentang 4 tahapan pembentukan gunung lumpur
yang dipublikasikan di IPA 2008 (Satyana dan Asnidar, 2008). Awalnya,
saya berharap dapat menjawab pertanyaan yang saya ajukan di atas
(tentang observasi untuk mengenali sebuah gunung lumpur siap
meledak/berada dalam kondisi kritis) setelah membaca makalah Pak
Awang. Namun rasanya saya tidak menemukan jawaban itu (mohon Pak Awang
berkenan menunjukkan kepada saya pembahasan mengenai topik ini di
makalah tersebut, siapa tahu saya membaca terlalu cepat dan justru
melewatkan bagian ini). Atau mungkin pembahasan ini ada di makalah Pak
Awang di PIT IAGI 2007 yah (saya tidak punya akses ke prosiding PIT
IAGI, ada yang berkenan membantu?).

Kembali ke Satyana dan Asnidar (2008) yang mengutip Waluyo (2007),
saya lihat tidak ada perbedaan antara Stage 2 dan Stage 3 evolusi mud
diapir menjadi mud volcano, selain di Stage 3, erupsi telah terjadi
(erupting mud volcano phase). Kalau saya tidak salah menangkap tulisan
Pak Awang, justru yang ingin kita observasi adalah "sesaat" sebelum
"syn-eruption", apa tanda mud diapir yang siap meledak dan menjadi mud
volcano?

Yang saya harapkan adalah misalnya (tanda-tanda sebuah mud diapir
dalam kondisi kritis - sebelum gempa terjadi):
1. Puncak mud diapir sudah menggelembung membuat topografi di
permukaan yang berbeda dengan kondisi di sekitarnya
2. Bukan hanya nomor 1, tapi sudah mulai tercium bocoran CH4 di
sekitar "bukit" yang terbentuk oleh desakan mud diapir dari bawah
3. Sering ada suara-suara dari bawah yang menandakan ada gerakan tanah
akibat tekanan yang sudah tertumpuk
4. Jika dilihat dari penampang seismik, kemiringan lereng melebihi
sekian dan sekian derajat

Dengan mengenali tanda-tanda itu sebelum erupsi pertama mud volcano
berlangsung, mudah-mudahan kita bisa tahu bahwa lokasi mud diapir yang
ada di desa A atau B atau C sedang berada dalam kondisi kritis,
sehingga kita perlu mempersiapkan diri.

Kembali ke LULA/LUSI dan trigger kecil (reaktivasi sesar Watukosek)
serta trigger utamanya (gempa Jogja), selain rel yang bengkok (dan
baru diketahui 4 bulan setelah gempa??) dan sungai Porong yang
berkelok mengikuti zona lemah sesar itu, apakah kita memiliki
observasi lain yang mendukung kesimpulan ini?

Untuk sementara demikian dulu.

Salam
mnw

-- 
- when one teaches, two learn -
http://www.geotutor.tk
http://www.linkedin.com/in/minarwan

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 Desember 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------




      Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di 
Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke