Selamat untuk Prof. Dwikorita, tetapi saya pikir Ibu Dwikorita bukan profesor 
pertama di UGM dan bukan profesor geologi pertama di UGM, ada  Prof. Ir. 
Sukandarrumidi MSc., Ph.D. yang sudah jadi gurubesar geologi lebih dari lima 
tahun yang lalu, yang buku-buku geologinya dalam lima tahun ini kerap masuk ke 
toko buku-toko buku umum.
 
salam,
Awang

--- Pada Kam, 6/5/10, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> menulis:


Dari: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Judul: Re: [iagi-net-l] Selamat untuk Professor Geologi wanita yang pertama di 
Indonesia
Kepada: [email protected]
Cc: "Forum HAGI" <[email protected]>
Tanggal: Kamis, 6 Mei, 2010, 7:33 AM


Oh ya betul ini utk Professor di UGM yg pertama
Trims koreksinya

RDP

2010/5/6 Cherdasa, Jeres Rorym <[email protected]>

> Maaf Sebelumnya bagaimana dengan ibu Prof. Dr. Ir. Made Emmy Relawati
> (Ibu Emmy) apakah tidak dianggap sebagai Professor dalam bidang Geologi
> juga ...???
>
> Regards
> Jeres R.C.
>
> -----Original Message-----
> From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]]
> Sent: Thursday, May 06, 2010 7:15 AM
> To: IAGI; Forum HAGI
> Subject: [iagi-net-l] Selamat untuk Professor Geologi wanita yang
> pertama di Indonesia
>
> Prof. Dwikorita: Kembangkan Pemetaan Risiko Bencana Berbasis Partisipasi
> Masyarakat
>  Submitted by agung on Wed, 05/05/2010 - 07:01.
>
>  Upaya pengurangan risiko bencana gerakan tanah merupakan permasalahan
> yang
> kompleks. Ia tidak hanya dikontrol oleh kondisi geologi saja, tetapi
> juga
> oleh berbagai permasalahan sosial, psikologi, ekonomi, hukum dan
> lingkungan.
>
> Menurut Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D berbagai upaya teknik
> untuk pengendalian dan pencegahan gerakan tanah menjadi tidak efektif
> dan
> berkelanjutan jika masyarakat setempat tidak turut memahami permasalahan
> ini. Terlebih bila masyarakat tidak peduli terhadap teknologi ataupun
> upaya
> untuk pencegahan dan pengendalian.
> "Tantangan yang paling sulit diatasi dalam mengurangi resiko bencana
> gerakan
> tanah adalah membuat masyarakat peduli dan termotivasi untuk
> berpartisipasi
> aktif dalam berbagai upaya mitigasi gerakan tanah," ujarnya di Balai
> Senat,
> Rabu (5/5) saat dikukuhkan sebgai Guru Besar Fakultas Teknik UGM.
> Mengucap pidato "Peran Geologi Teknik dan Lingkungan Dalam Pengurangan
> Risiko Bencana Gerakan Tanah", Dwikorita mengungkapkan guna menjawab
> tantangan dalam menghadapi risiko bencana gerakan tanah, British Council
> melalui program Development Partnership in Higher Education (DelPHE)
> bekerjasama dengan KKN PPM UGM mulai tahun 2007 telah mengembangkan
> suatu
> metoda inovatif untuk "Pemetaan Bahaya Gerakan Tanah Berbasis
> Partisipasi
> Masyarakat". Bahwa penerapan konsep Geologi Teknik yang mendapat
> dukungan
> pemikiran disiplin Ilmu psikologi dan Ilmu Sosiologi terbukti efektif
> dalam
> proses pengembangan metoda pemetaan bahaya longsor melalui partisipasi
> masyarakat.
> "Dengan Peta bahaya longsor ini masyarakat dapat mengetahui zona aman
> dan
> zona yang terancam bahaya longsor di wilayah desa mereka, sehingga
> mereka
> dapat selalu berupaya untuk memelihara lingkungan, agar zona bahaya
> tidak
> berkembang menjadi zona bahaya longsor," papar istri Prof. Ir. Sigit
> Priyanto, M.Sc., Ph.D.
> Dengan peta tersebut, kata Dwikorita bermanfaat pula untuk penyusunan
> rencana pengembangan wilayah atau penataan lahan desa sehingga potensi
> sumber daya lahan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat
> desa,
> sekaligus meminimalkan terhadap potensi kejadian longsor. Oleh karena
> itu
> partisipasi masyarakat mutlak diperlukan dalam proses pemetaan ini.
> "Semua
> ini agar menjamin peta yang dihasilkan benar-benar dapat dipahami dan
> efektif dimanfaatkan masyarakat desa," katanya.
> Ibu Amiluhur Priyanto dan Umayra Priyanto pun menyatakan untuk
> menyebarluaskan metode inovatif pemetaan dan agar mampu dimanfaatkan
> masyarakat di negara-negara berkembang, maka berbagai paper ilmiah yang
> merinci inovasi konsep, justifikasi dan prosedur standard pemetaan
> dengan
> metoda geologi berbasis partisipasi masyarakat telah diajukan ke
> International Association of engineering Geology (IAEG). "Pada akhirnya
> konsep dan metoda  pemetaan ini mendapat respon baik dari masyarakat
> internasional. Bahkan konsep ini akan dipresentasikan dan dikaji lebih
> lanjut dalam International Conggress yang akan digelar IAEG pada tanggal
> 5-10 September 2010 mendatang di Auckland, New Zealand," tuturnya.
> Sementara itu untuk pengembangan dan penerapan sistem peringatan dini
> gerakan tanah meski penting dan bermanfaat bagi penyelamatan jiwa
> manusia,
> pada kenyataan iapun menghadapi permasalahan yang cukup komples dan
> penuh
> tantangan akibat berbagai kendala yang terjadi, mulai dari persiapan
> teknis
> hingga pada tahap penerapan sistem tersebut di komunitas masyarakat yang
> tinggal di daerah rawan longsor. Serentetan tantangan yang harus
> dipecahkan
> antara lain meliputi: ketepatan pemilihan lokasi pemasangan dan
> penentuan
> design jenis peralatan deteksi dini longsor, keakuratan dalam penentuan
> kondisi kritis yang menetapkan kapan sirene harus berbunyi, serta
> jaminan
> efektivitas dan berkelanjutan penerapan sistem deteksi dini tersebut.
> Untuk itu, lanjutnya dibutuhkan pendekatan multi disiplin yang terdiri
> dari
> disiplin Teknik Geologi (bidang ilmu Geologi Teknik dan Geologi
> Lingkungan),
> Teknik Sipil dan Lingkungan, Teknik Elektro, Teknik Geodesi, serta Ilmu
> Sosial dan Ilmu Psikologi. Penerapan bidang ilmu Geologi Teknik dan
> Geologi
> Lingkungan sangat diperlukan terutama untuk mengidentifikasi dan
> memprediksi
> model dan mekanisme gerakan, sehingga desain jenis peralatan dan
> jaringan
> sistim harus dipasang dapat ditentukan secara tepat. "Begitulah hasil
> pemetaan bahaya gerakan tanah ini sangat diperlukan untuk menentukan
> prioritas lokasi pemasangan alat serta sistem pemantauan dan deteksi
> dini
> longsor. Jadi jelaslah bahwa upaya pengurangan resiko bencana gerakan
> tanah
> sangat memerlukan pendekatan multi disiplin, dimana Geologi Teknik dan
> Geologi Lingkungan menjadi dua bidang ilmu kunci yang perlu disinergikan
> dengan berbagai disiplin atau bidang ilmu lainnya, guna mendukung upaya
> pengurangan risiko bencana secara efektif," pungkas perempuan kelahiran
> Yogyakarta 6 Juni 1964 ini. (Humas UGM/ Agung)
>
>
>
>
>
> http://ugm.ac.id/new/index.php?q=id/news/prof-dwikorita-kembangkan-pemet
> aan-risiko-bencana-berbasis-partisipasi-masyarakat<http://ugm.ac.id/new/index.php?q=id/news/prof-dwikorita-kembangkan-pemet%0Aaan-risiko-bencana-berbasis-partisipasi-masyarakat>
>
>
> --
> You can do hard way or you can do smart way ... both ways need you to do
> it
> any way ... not just discuss it in the hall way.
>
>
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
>
> --------------------------------------------------------------------------------
> Ayo siapkan diri....!!!!!
> Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 Desember
> 2010
>
> -----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net 
> <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/%0AIAGI-net>Archive 2:
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct
> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


-- 
You can do hard way or you can do smart way ... both ways need you to do it
any way ... not just discuss it in the hall way.


Kirim email ke