Pak Wied, Mohon maaf, baru saya respon e-mail Pak Wied. Email Pak Wied terselip di folder spam yahoo saya yang jarang saya buka. Semoga jawaban saya tak terlalu terlambat. Maaf, pertanyaan Pak Wied dan jawaban saya, saya kirimkan juga ke milis, siapa tahu ada teman lain yang juga bertanya hal yang sama atau ada yang bisa menambahkan keterangan.
Seperti kita tahu, memang banyak istilah "Sunda" dipakai di beberapa fenomena geologi di Indonesia Barat. Banyak orang berpendapat bahwa nama itu berasal dari suku Sunda yang mendiami sebagian besar Jawa Barat. Menurut hemat saya, nama Sunda di geologi tidak berasal dari suku Sunda di Jawa Barat. Dari kronik sejarah, sejauh ini belum ditemukan informasi kesejarahan yang menerangkan tentang nama Sunda ini. Hanyalah sebuah naskah yang saat ini masih diteliti (Naskah Wangsakerta, naskah ini pernah menimbulkan polemik di antara para ahli sejarah - pernah saya ulas di milis2) yang menerangkan bahwa nama Sunda menjadi nama kerajaan di Nusantara pasca keruntuhan kerajaan Tarumanagara pada tahun 669 Masehi dengan raja pertamanya Tarusbawa (669—723). Tarusbawa adalah menantu raja Tarumanagara ke-12 yang moyangnya berasal dari sebuah kerajaan kecil di India, yakni kerajaan Sunda Sembawa (rupanya Tarusbawa terobsesi menegakkan kembali wangsa keluhurnya, meski tidak di negeri asalnya). Istilah Sunda sebagai nama tempat, pertama kali disebut oleh ahli ilmu bumi dari Yunani, Ptolemaeus dalam bukunya tahun 150 M, ia menyebutkan, ada tiga buah pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India. Berdasarkan informasi itu kemudian ahli-ahli ilmu bumi Eropa menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau di timur India. Dari penelurusan kepustakaan, kata Sunda seperti dikatakan Rouffaer (1905), merupakan pinjaman kata dari kebudayaan Hindu. Tentang arti kata Sunda, beberapa pustaka menyatakan ebih bahwa kata ‘Sunda’ kemungkinan berasal dari kata sanskerta ‘sund’ atau ‘suddha’ yang artinya terang, bersinar, putih, bersih, suci, murni, tak tercela, air, atau waspada. Kalau orang2 suku Sunda umumnya relatif berkulit lebih putih, lebih terang, he2..mungkin kebetulan saja...pas dengan arti Sunda. Mengapa orang2 Sunda berkulit relatif lebih putih, bisa kita bahas aspek etnografinya bila diperlukan. Beberapa pustaka bahkan menyebutkan dulu ada Gunung Sunda, induk Gunung Tangkubanperahu yang sangat tinggi dan puncaknya bersalju sehingga dari jauh terlihat terang, putih dan bersinar, sehingga disebut Gunung Sunda. Apakah setinggi itu Gunung Sunda, bisa kita bahas lebih jauh. Nah, saya yakin bahwa para ahli geologi zaman dulu seperti Molengraaf dan van Bemmelen menyebut beberapa fenomena geologi di Indonesia Barat dengan kata-kata Sunda, bukanlah mengacu kepada suku Sunda di Jawa Barat, tetapi kepada para ahli geografi masa lampau yang sejak dari awal abad Masehi telah menyebutkan pulau2 di sebelah timur India sebagai Sunda. Bahwa Molengraaf dan Weber (1919) yang pertama kali menyebutkan istilah Sunda Shelf (Paparan Sunda) dan Sunda Land (Daratan Sunda), adalah benar. Saya kebetulan punya publikasi aslinya, yang juga diterangkan lagi oleh ahli geologi Belanda lain Umbgrove saat membahas tentang terumbu karang di Kep Seribu (Umbgrove, 1932). Di bawah ini saya ringkaskan tentang sejarah penamaan Sunda Shelf dan Sunda Land dan perkembangan konsep modern-nya. Paparan Sunda dan Daratan Sunda Adalah Earle (1845) yang pertama kali mengenali adanya suatu paparan laut dangkal di Indonesia Barat yang merupakan salah satu dari paparan-paparan terbesar di dunia. Earle (1845) menyebut paparan tersebut Great Asiatic Bank. Di Indonesia Timur di wilayah sebelah utara Australia, Earle (1845) pun mengenali paparan laut dangkal lain yang disebutnya Great Australian Bank. Kemudian, setelah 75 tahun kemudian, setelah ekspedisi marin Siboga, Molengraaf dan Weber (1919) mendetailkan kedua paparan yang dikenali Earle (1845) tersebut dan masing-masing menyebutnya sebagai Paparan Sunda untuk Great Asiatic Bank dan Paparan Sahul untuk Great Australian Bank. Molengraaf pun mengajukan argumen bahwa paparan-paparan laut dangkal ini merupakan daratan peneplain yang tenggelam oleh transgresi marin setelah glasiasi Plistosen. Di dasar laut Paparan Sunda bahkan Molengraaf masih bisa mengenali sistem-sistem sungai yang tenggelam yang terdiri atas sungai-sungai di Selat Malaka, sungai-sungai di Laut Cina Selatan (Sungai Sunda Utara) dan sungai-sungai di Laut Jawa (Sungai Sunda Selatan). Maka, sistem sungai-sungai ini yang tenggelam di bawah Paparan Sunda suka disebut sungai-sungai Molengraaf. Sebagai daratan yang tenggelam, maka Molengraaf pun menyebut kawasan ini sebagai Daratan Sunda atau Sunda Land, yang didefinisikannya sebagai wilayah benua yang telah mempertahankan stabilitasnya sejak ujung Pliosen. Wilayah Paparan Sunda dan Daratan Sunda ini terletak di antara Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Malaka. Mengikuti Molengraaf, van Bemmelen (1949) mendefinisikan Paparan Sunda sebagai laut dangkal, yang kedalaman umumnya kurang daripada 100 meter, meliputi Teluk Thailand, Selat Malaka, bagian BD Laut Cina Selatan, Laut Jawa dan bagian baratdaya Selat Makassar. Dengan luas 1.850.000 km2 (Krummel, 1907), maka Paparan Sunda adalah paparan paling luas dan paling koheren di dunia. Konsep modern tentang Sundaland mendefinisikannya sebagai sebuah massa daratan (landmass) di Asia Tenggara yang timbul sebagai massa daratan di atas muka laut pada kala Plistosen (Ben-Avraham, 1972; Hutchison, 1989). Hasil penelitian geologi (Nontji, 2002) dapat menunjukkan jejak sejarah paparan ini. Muka laut naik dan turun sesuai dengan periode deglasiasi dan glasiasi. Pada 170.000 tahun lampau, muka laut 200 meter lebih rendah daripada yang sekarang. Itulah saat eksistensi Daratan Sunda. Muka laut seperti sekarang dicapainya pada 1000 tahun lampau. Konsep modern pun menyatakan bahwa Sundaland bukan satu massa benua yang koheren, tetapi merupakan gabungan (amalgamasi) dari banyak benua-mikro atau terrane yang berasal dari Gondwana pada sebelum Mesozoikum. Benua-benua kecil ini terpisah dari Gondwana, hanyut ke utara, kemudian saling berbenturan satu sama lain dan bergabung membentuk Sundaland. Pada menjelang akhir Trias dan awal Yura, penggabungan benua-benua kecil ini membentuk Daratan Sunda telah selesai (Metcalfe, 1988; Hutchison, 1989). Ketika pada Kala Holosen terjadi deglasiasi, saat lapisan-lapisan es mencair, maka tengelamlah Daratan Sunda oleh transgresi marin, dan kini kita mengenalnya sebagai Paparan Sunda, sebuah laut dangkal hasil penenggelaman Daratan Sunda. Demikian secara singkat sejarah identifikasi Paparan Sunda, Daratan Sunda, dan hubungan di antara keduanya. Salam, Awang --- Pada Jum, 13/8/10, wied <[email protected]> menulis: Dari: wied <[email protected]> Judul: Tanya Istilah Sunda Shelf Kepada: [email protected] Tanggal: Jumat, 13 Agustus, 2010, 9:30 PM Pak Awang ysh, Saya penasaran dengan istilah Sunda Shelf/Sundaland yang digunakan untuk menyebut dataran yang sekarang meliputi semenanjung Malaysia, Laut Cina Selatan, Sumatra, Jawa dan Kalimantan sebelum jaman es mencair. Rasa penasaran saya didasari oleh istilah Sunda yang identik dengan nama suku Sunda. Melihat cakupan dataran seperti yang saya sebut di atas, mengapa nama Sunda yang dipilih ? Kok bukan Malakaland, Javaland, Swarnadwipaland atau yang lainnya ? Sepengetahuan saya, istilah Sunda pertama kali muncul di dalam prasasti-prasasti yang ada kaitannya dengan Tarumanagara atau kerajaan-kerajaan di Jawa Barat. Jauh lebih muda ketimbang istilah Javadwipa atau Swarnadwipa yang terdapat dalam Ramayana. CMIIW Dengan bantuan Google, istilah Sunda Shelf pertama kali diperkenalkan oleh G.A.F. Molengraaff and W. Weber pada 1919. Apakah benar sepert itu ? Saya mencoba mencari alasan mengapa dataran tersebut dinamakan seperti itu oleh kedua ahli tsb namun belun ketemu. Mungkin Pak Awang dapat membantu mengobati rasa penasaran saya ini. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kesediannya membaca email saya ini. Hormat saya, -wied- -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

