Vick, informasi dan pengamatan yang menarik, dan setuju perlu dilakukan 
“marketing strategy” yang lebih baik mungkin. Saya juga tidak mendalami secara 
khusus kenapa kurang “peminat” blok2 yg relatif menurut anda menarik. Namun 
dugaan saya kesan bahwa melakukan eksekusi untuk mendapatkan per izinan untuk 
menembak seismik dan ngebor sumur mulai dari ukl/upl , izin ke hutanan, bupati 
selain pemilik lahan cukup memakan waktu dan kadang tanpa kejelasan kapan bisa 
selesai akhir2 ini makin “kental”. Apakah ini konsekwensi otonomi daerah? Saya 
tidak tahu.

Salam,
Yarmanto 
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Date: Mon, 6 Dec 2010 15:49:39 
To: IAGI<[email protected]>; Forum HAGI<[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
Indoenergy<[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Pemenang Regular Tender 2010 hanya 3 blok
Pagi ini ada pengumuman pemenang lelang pengusahaan migas dan hanya 3 blok
yang dimenangkan masing-masing oleh "single competitor", atau hanya satu
peserta di tiap blok yg dimenangkan.



1. Block SOKANG Winner : EPHINDO OIL&GAS HOLDING INC.

2. Block SOUTH SOKANG Winner KONSORSIUM LUNDIN OIL & GAS BV - SALAMANDER
ENERGY (INDONESIA) LTD -

3. Block  WOKAM II Winner : MURPHY OVERSEAS VENTURES INC

Jumlah blok regular tender yang ditawarkan ada 14 namun hanya 3 yang
diminati serius, walaupun ada 36 dokumen yang dibeli. Sedangkan yang melalui
direct offer diumumkan sebelumnya juga hanya 4 yang berhasil dimenangkan.

Adakah yang tahu atau bisa memperkirakan apa sebabnya ?

Jumlah dokumen yang diambil 36 dari 14 blok ini, sepertinya menarik. Namun
ketika hanya 3 yang memasukkan tender mungkin ada fenomena khusus disini.
Saya tidak tahu bagaimana perkembangan dari tahun ketahun jumlah blok
ditawarkan, jumlah dokumen diambil dan jumlah yang ditawar serta jumlah yang
menang. kalau ada yang punya silahkan dishare donk.

Kalau melihat sepintas sepertinya saat ini sedang saatnya "menunggu" pemain
yang ada untuk bermain dulu sebelum mengambil keputusan akan ikut bermain.

Dua-tiga tahun lalu Makassar Strait sangat menarik, kemudian agak menurun
sambil menunggu hasil pengeboran, namun karena hasilnya kurang bagus seperti
Makassar Strait harus ditengok ulang. Dua tahun lalu daerah Offshore Papua
juga menarik, ketika HESS dan Murphy akhirnya memenangkan dua blok terlaris
Semai V dan Semai II. Namun larisnya blok-blok di Eastern Indonesia ini
tidak terjadi kali ini. Sepertinya dugaan saya kebanyakan perusahaan
"menunggu" hasil pengeboran di blok-blok yang ditawarkan laris manis dua
tahun lalu itu.
Mungkin memang ini saatnya menunggu pemain-pemain yang ada "dilapangan",
kalau berhasil tentunya akan menjadi areal permainan yang baru. Namun selama
menunggu semestinya harus sudah ada studi-studi alternatif supaya gaya
permainan baru dapat di-introduce untuk ronde-ronde mendatang.
Apakah iya semua hanya menunggu ?

Kalau misalnya bukan karena menunggu apakah blok-blok di Indonesia memang
sudah kehilangan potensinya ? Taukah term fiskalnya (split) kurang menarik ?
Kalau memang tidak ada potensi lagi, informasi (fakta) ini harus segera
diinformasikan supaya kita tidak hanya bermimpi menggantungkan nasib negeri
pada produksi minyak sebagai sumber energi di dalam negeri.

Salam
RDP

Kirim email ke