Kang Vicky dan rekan2,

Beberapa masalah serius sedang dihadapi dunia migas indonesia yang akan
berpengaruh pada kemampuan produksi dan pendapatan negara dimasa datang.
Saat ini hampir seperempat pendapatan Negara dari sektor ini :

Pertama, jualan blok tidak laku. Tender blok kurang diminati seperti
yang sudah dilaporkan kang Vicky. Kecuali saat Blok Semai ditawarkan
yang terbukti sangat kompetitif.

Kedua, banyak blok eksplorasi yang sudah diaward tidak kekerjakan pula.
Ini bisa dilihat betapa rendahnya pemenuhan firm commitment untuk
melakukan kegiatan eksplorasi maupun jumlah uang yang sudah dijanjikan
akan diinvestasikan PSC2 baru. Realisasi rencana survey seismic dan
pemboran sumur eksplorasi jumlahnya tidak sampai setengahnya dari firm
commitment. 

Ketiga, Produksi cenderung turun terus. Untuk meningkatkan produksi
dibutuhkan penemuan cadangan baru, padahal kegiatan ekaplorasi cenderung
rendah dengan tidak lakunya jualan blok dan blok yang sudah lakupun
banyak yang tidak dikerjakan, jadi gimana mau nambah cadangan baru dan
naikkan produksi?

Keempat, konsumsi dalam negeri meningkat terus. Kita ketahui bahwa
Indonesia sudah menjadi net importer sejak 2004 dimana konsumsi lebih
besar daripada produksi. Hal ini sangat memberatkan APBN karena subsidi
meningkat terus, apalagi jika harga minyak dunia sedang tinggi. Sebagai
gambaran subsidi mencapai Rp.100 trilliun lebih ditahun 2009 dan 2010,
sedangkan pada 2008 saat harga minyak diatas $100/bbl, subsidi lebih
dari Rp. 200 trilliun (hampir seperempat APBN untuk subsidi).

Kelima, sedikitnya penemuan lapangan dengan katagori giant, kalaupun ada
penemuan besar, butuh waktu yang sangat lama untuk bisa mulai
berproduksi, bahkan mencapai belasan tahun. Coba saja kita lihat,
lapangan Cepu (Banyu Urip dibor Humpuss tahun 1998, saat ini sudah
berproduksi tapi belum full capacity), Tangguh (Roabiba ditemukan tahun
1990, Wiriagar Deep dan Vorwata tahun 1995&96, baru berproduski 2009!)
dan Masela (ditemukan tahun 2000, baru akan produksi tahun 2016). Senoro
Toili (Senoro ditemuan tahun 1999, entah kapan akan mulai berproduksi).

Ini masalah yang cukup serius, dan masih banyak lagi masalah2 lain yang
berpengaruh terhadap iklim investasi di migas, seperti masalah fiscal
competitiveness, perpajakan, insentif, perizinan dan approval process,
otonomi daerah dan keterlibatan masyarakat didaerah produksi,
"proaktifnya" wakil2 rakyat bisa jadi seprti pisau bermata dua, dan
masalah lain seperti asas cabotage yang bisa dipandang sebagai anugerah
dan hambatan, tergantung pakai kacamata mana.

Pertanyaannya apa ada solusi? Tentu ada dan harus ada. Pelajaran bisa
kita petik dari penawaran blok2 Semai dengan adanya data spec survey
menjadi sangat menarik investor. Kata kuncinya data.  Kalau saja 5% dari
anggaran subsidi, jumlahnya sudah ratusan juta dollar bisa dipakai untuk
survey seismic baru dan bor sumur, mungkin faktor resiko subsurface akan
berkurang dan meningkatkan minat investor, jualan laku. Tapi semua juga
tergantung dari political will dari semua stake holder dan kita semua.
Apakah waktu kita pakai secara efisien mengolah data, membuat play
concept dan proving up petroleum system? Atau lebih banyak urusan
administrative dan approval perizinan? Apakah kondisi saat ini sudah
dianggap sebagai krisis?

Salam,
Bambang Istadi



-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, December 06, 2010 5:01 PM
To: [email protected]
Cc: Forum HAGI; [email protected];
[email protected]; Indoenergy
Subject: Re: [iagi-net-l] Pemenang Regular Tender 2010 hanya 3 blok

2010/12/6 Setiabudi Djaelani <[email protected]>

> Kang Rovicky,
>
> Berarti Company yang melakukan joint study pun ada/ banyak yang tidak
> melakukan penawaran ?
>
>
Betul Mas Budi,

Ya beberapa kumpeni melakukan joint studi tetapi tidak memasukkan
tender.
Sawahku juga pernah mengalami hal ini karena memang tidak dijumpai
potential
resources (prospect/leads) yang sesuai portofolionya perusahaan. Memang
bukan berarti ngga ada potensi, hanya saja tidak menarik secara ekonomi
(saat itu). Ini jelas fiskal sbg pertimbangan.

Penawaran kedua tahun 2010 ini ada inovasi baru utk daerah-daerah yang
'high
risk'. Inovasinya yaitu pada minimum tender tidak diharuskan ngebor pada
tahun ke tiga, tetapi tahun ke empat. Artinya drilling bukan sebagai
komitmen pasti. Ini mnurutku langkah strategis untuk mencari dan
menambah
data. Seolah seperti "extended JSA". Lah wong sekarang ngebor di laut
dalam
bisa 100 juta (hampir satu trilliun !)

Saya ngga ngerti apakah MIGAS (dan BPMIGAS) memiliki peta lead prospect
seluruh Indonesia sehingga dapat dipakai sebagai patokan dalam
memberikan
"harga" pada sebuah blok atau tidak. Salah sorang manajer dalam diskusi
Mesozoic di Bandung beberapa bulan lalu oleh IAGI mengatakan pada
dasarnya
perusahaan ini berpikir duit artinya fiskal term. Walaupun kurang data
serta
risiko besar, asalkan kalkulasi bisnisnya bisa 'masuk' ya OK-OK saja.

Namun bagi MIGAS merubah fiskal term konsekuensinya mesti harus
'berantem'
dengan para wakil rakyat. :(
doh !

Salam

RDP

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke