Pagi ini ada pengumuman pemenang lelang pengusahaan migas dan hanya 3 blok yang dimenangkan masing-masing oleh "single competitor", atau hanya satu peserta di tiap blok yg dimenangkan.
1. Block SOKANG Winner : EPHINDO OIL&GAS HOLDING INC. 2. Block SOUTH SOKANG Winner KONSORSIUM LUNDIN OIL & GAS BV - SALAMANDER ENERGY (INDONESIA) LTD - 3. Block WOKAM II Winner : MURPHY OVERSEAS VENTURES INC Jumlah blok regular tender yang ditawarkan ada 14 namun hanya 3 yang diminati serius, walaupun ada 36 dokumen yang dibeli. Sedangkan yang melalui direct offer diumumkan sebelumnya juga hanya 4 yang berhasil dimenangkan. Adakah yang tahu atau bisa memperkirakan apa sebabnya ? Jumlah dokumen yang diambil 36 dari 14 blok ini, sepertinya menarik. Namun ketika hanya 3 yang memasukkan tender mungkin ada fenomena khusus disini. Saya tidak tahu bagaimana perkembangan dari tahun ketahun jumlah blok ditawarkan, jumlah dokumen diambil dan jumlah yang ditawar serta jumlah yang menang. kalau ada yang punya silahkan dishare donk. Kalau melihat sepintas sepertinya saat ini sedang saatnya "menunggu" pemain yang ada untuk bermain dulu sebelum mengambil keputusan akan ikut bermain. Dua-tiga tahun lalu Makassar Strait sangat menarik, kemudian agak menurun sambil menunggu hasil pengeboran, namun karena hasilnya kurang bagus seperti Makassar Strait harus ditengok ulang. Dua tahun lalu daerah Offshore Papua juga menarik, ketika HESS dan Murphy akhirnya memenangkan dua blok terlaris Semai V dan Semai II. Namun larisnya blok-blok di Eastern Indonesia ini tidak terjadi kali ini. Sepertinya dugaan saya kebanyakan perusahaan "menunggu" hasil pengeboran di blok-blok yang ditawarkan laris manis dua tahun lalu itu. Mungkin memang ini saatnya menunggu pemain-pemain yang ada "dilapangan", kalau berhasil tentunya akan menjadi areal permainan yang baru. Namun selama menunggu semestinya harus sudah ada studi-studi alternatif supaya gaya permainan baru dapat di-introduce untuk ronde-ronde mendatang. Apakah iya semua hanya menunggu ? Kalau misalnya bukan karena menunggu apakah blok-blok di Indonesia memang sudah kehilangan potensinya ? Taukah term fiskalnya (split) kurang menarik ? Kalau memang tidak ada potensi lagi, informasi (fakta) ini harus segera diinformasikan supaya kita tidak hanya bermimpi menggantungkan nasib negeri pada produksi minyak sebagai sumber energi di dalam negeri. Salam RDP

