nah, inilah sosialisasi ke segala arah, merasuk ke ragam masyarakat.
jika pak awang sudah melakukan 'geologi masuk gereja', tentunya wajar
saja juga ada 'geologi masuk masjid', atau mungkin kawan2 yg beragama
hindu dan budha, utk sosialisasi ke lingkungan agama masing2. saya
yakin kawan2 muslim seperti gus hendratno dkk lainnya, juga sudah
mendongeng ttg geologi ketika 'masuk masjid', 'kan?

indahnya ketika geologi dikaitkan dengan agama, dan kita tidak
terpancing atau terperangkap utk berdebat ttg agama di dalamnya. jika
semakin jauh bahasannya, mungkin sudah waktunya masuk milis 'oot'
saja.

saya sampaikan selamat merayakan natal bagi rekan2 yg merayakannya.
semoga kedamaian senantiasa menghiasi hidup kita, berbarengan dengan
kesejahteraan utk semua umat manusia di dunia dan khususnya di
indonesia.

salam,
syaiful

2010/12/24 Sanggam Hutabarat <[email protected]>:
> Pak Awang 'ma kasih atas sharing diskusinya..menarik dan mencerahkan..geologi 
> 'masuk' gereja..
>
> Pertanyaan2 yg ada termasuk  misalnya mengapa dan apa tujuan Tuhan 
> menciptakan manusia? Setiap agama maupun non agama mecoba menjawab sesuai dgn 
> interpretasi/ pemahaman masing2 dan tidak selalu memuaskan sehingga tidak 
> bisa memaksakan mana yg benar ... cogito ergo sum menjadi  bertentangan dgn 
> saya beriman maka saya ada... Hubungan (pemahaman) agama sejatinya tidak 
> harus selalu selaras dengan ilmu pengetahuan..Jadi saya setuju alam itu 
> netral saja.
>
> Salam
> S. Hutabarat-Jkt
>
>
> On Dec 24, 2010, at 7:48, Awang Satyana <[email protected]> wrote:
>
> Hari Sabtu minggu yang lalu, saya hadir di sebuah gereja di wilayah Cibubur 
> dalam sebuah diskusi panel berjudul "bencana alam: fenomena alam atau hukuman 
> Tuhan?". Diskusi dihadiri oleh lima orang pendeta, beberapa orang relawan dan 
> penggiat LSM bencana, dan sekitar 30 orang warga gereja setempat.
>
> Diskusi ini diadakan dalam rangka pembahasan "teologi kebencanaan" oleh PGI 
> (persekutuan gereja-gereja di Indonesia) sebagai upaya menjawab pertanyaan di 
> masyarakat yang senantiasa merasa atau bertanya apakah bencana merupakan 
> hukuman Tuhan.
>
> Setelah kebaktian singkat yang dipimpin oleh seorang pendeta, saya diminta 
> mempresentasikan materi yang telah saya siapkan, berjudul sama dengan tema 
> diskusi panel, "bencana alam: fenomena alam atau hukuman Tuhan?". Materi yang 
> saya bawakan terbagi menjadi tiga bagian: hakikat bencana, geologi dan 
> bencana alam di Indonesia, bencana alam: fenomena alam atau hukuman Tuhan? 
> Bencana yang dibahas terutama yang berhubungan dengan proses-proses geologi 
> yang sering terjadi di Indonesia, yaitu gempa, tsunami, erupsi gunungapi. 
> Para pendeta dan peserta diskusi panel, hari itu belajar tentang planet Bumi, 
> tektonik lempeng, mekanisme gempa-tsunami-erupsi gunungapi.
>
> Setelah melakukan presentasi sekitar 1,5 jam menayangkan 65 slides, 
> dimulailah sesi tanya jawab menyangkut geologi, filosofi dan teologi 
> kebencanaan. Saya ingin ceritakan beberapa tanya jawab menyangkut hakikat 
> kebencanaan dari segi filosofi dan teologi. Beberapa di antaranya adalah 
> seperti di bawah ini.
>
> (1) Pertanyaan mendasar pertama datang dari seorang pendeta, apakah itu hukum 
> alam, apakah itu hukum TUHAN, kapan TUHAN menggunakan hukum alam untuk 
> menyatakan maksudnya, apakah TUHAN hanya "menumpang" hukum alam untuk 
> menyatakan maksudNya, apakah alam itu beritme?
>
> Saya menjawab, sejak zaman Galileo, ilmu tentang alam semesta didasarkan pada 
> ketiga postulat: (1) adanya hukum-hukum universal yang bersifat matematik, 
> (2) penemuan hukum-hukum yang terjadi melalui eksperimentasi ilmiah, (3) 
> data-data eksperimen yang bisa diulang-ulangi  dengan hasil yang sama, 
> sehingga setiap fenomena alam punya tingkat prediktibilitas - itulah hukum 
> alam. Tuhan telah memberikan kepada manusia sebuah dunia yang tertib (Tuhan 
> tidak bermain dadu dengan alam semesta, kata Einstein), atau alam semesta 
> yang bernalar kata Paul Davies-ahli fisika penulis buku-buku sains, yang 
> menjadikan dunia ini nyaman dihuni (misalnya ada jaminan bahwa matahari tidak 
> tiba-tiba menghilang).
>
> Dunia yang dapat dihuni ini adalah fakta bahwa hukum-hukum alam bisa 
> diandalkan, dan selalu bekerja dengan cara yang sama. Proses-proses geologi 
> pun tidak terjadi sembarangan, mereka mengikuti aturan-aturan, hukum-hukum, 
> yang diketahui berdasarkan penyelidikan dan penelitian sekian lama, dan 
> setiap proses itu punya nilai prediktibilitas baik ke masa lalu (key to the 
> past) maupun ke masa depan (key to the future). Proses-proses geologi adalah 
> hukum alam. Sebab bagi orang percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam 
> semesta, maka hukum-hukum alam yang mengatur jalannya alam semesta adalah 
> juga hukum-hukum Tuhan. Tuhan menggunakan hukum alam yang diciptakanNya 
> sesuai kehendakNya, dan Dia tidak pernah "menumpang" kepada hukum alam, sebab 
> hukum alam adalah hukum Tuhan, milikNya sendiri. Alam memang beritme, 
> bersiklus, yang terjadi sepanjang sejarah Bumi, sepanjang zaman-zaman geologi.
>
> (2) Seorang pendeta berpendapat bahwa proses-proses geologi hanyalah 
> mengikuti hukum kekekalan massa, kekekalan energi dan kesetimbangan, dan 
> bahwa sesungguhnya tak adalah yang namanya bencana itu secara proses geologi. 
> Bencana, menurutnya hanyalah pandangan antroposentrisme, bukan pandangan 
> geologi.
>
> Saya membenarkannya. Betul, seperti kata Gordon Oakeshott(1972 dalam sebuah 
> buku 'Man and His Physical Envionment'), "There are no a geologic hazards 
> without people. Geologic hazards are merely normal geologic processes or 
> events until man gets in the way; then the processes or events become 
> hazards". Saya menambahkan bahwa yang terasa sebagai "bencana" itu hanyalah 
> relatif untuk segolongan korban pada saat itu. Pada periode lain, proses 
> geologi yang menjadi "bencana" itu ternyata membawa berkat juga. Hujan pasir 
> dan abu volkanik serta terjangan awan panas menjadi bencana buat segolongan 
> orang pada suatu masa. Pada masa lain semua pasir dan abu volkanik hasil 
> letusan itu kemudian bisa menjadi sumber nafkah segolongan orang pada masa 
> berikutnya yang melakukan penambangan pasir. Benturan meteorit di Afrika 
> Selatan tentu menjadi bencana katastrofik pada suatu masa ketika ia jatuh, 
> tetapi pada masa lain ternyata sebuah teori mengatakan bahwa meteorit itu
> bisa menjadi tambang intan. Maka bencana itu relatif, proses geologi hanyalah 
> proses geologi, ia menjadi bencana saat bersentuhan dengan manusia, dan 
> ketika kita memandangnya secara antroposentris.
>
> (3) Seorang peserta diskusi menanyakan sebuah pertanyaan, mengapa Tuhan yang 
> baik membiarkan bencana yang buruk terjadi. Apakah doa-doa, akan membebaskan 
> Indonesia dari bencana ?
>
> Saya menjawab, pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan terkenal yang biasa 
> muncul di buku-buku ateisme. Silogisme ateis menyebutkan: kalau Tuhan 
> mahabaik, Ia akan hancurkan kejahatan. Kalau Tuhan mahakuasa, Ia dapat 
> menghancurkan kejahatan. Tetapi kita melihat kejahatan ada terus dan mungkin 
> semakin jahat, maka kalau begitu tak ada Tuhan sebab kejahatan meraja lela. 
> "Si Deus est, unde malum?" - Kalau Tuhan ada, mengapa ada kejahatan? David 
> Hume, filsuf dari abad ke-18 menulis, " Adakah Allah bermaksud mencegah 
> kejahatan tetapi tidak sanggup? Maka itu berarti Dia tidak berkuasa. 'Problem 
> of evil' (termasuk 'kejahatan' alam dalam rupa bencana) sesungguhnya telah 
> menjadi argumen klasik sejak zaman Epikurus (341-270 SM) yang menanyakan 
> keadilan dan kasih sayang Tuhan di mana ketika kejahatan meraja lela. 
> Akhirnya ini mengarah ke keberadaan Tuhan sendiri. Tulis Epikurus, "Tuhan 
> ingin menyingkirkan kejahatan, tetapi Ia tak mampu, atau Ia mampu, tetapi 
> tidak
> mau, atau Dia tak mau dan tak mampu. Kalau Tuhan mau tetapi tak mampu, maka 
> Ia Tuhan yang lemah. Kalau Tuhan tak mau dan juga tak mampu, maka Ia Tuhan 
> yang dengki dan lemah, jadi bukanlah Tuhan.
>
> Bagi seorang ateis, begitu banyaknya kejahatan dan penderitaan manusia telah 
> menjadi argumen tangguh untuk ateisme. Adanya kejahatan dan penderitaan 
> merupakan sebab utama keragu-raguan iman dan pemberontakan melawan Allah. 
> Thomas Aquinas merumuskan pandangan ateisme itu, "Seandainya Allah ada, tidak 
> akan ada satu tempat pun di mana kejahatan ditemukan. Padahal kejahatan 
> ditemukan di dunia. Maka Allah tidak ada.
>
> Bagi orang yang beragama, Tuhan berada di balik setiap peristiwa. Tak ada 
> peristiwa akan terjadi tanpa kehendakNya. Louis Leahy dan Budhy 
> Munawar-Rachman (STF Driyarkara) menulis bahwa pendapat seperti itu akan 
> mengarah kepada Tuhan yang sewenang-wenang. Mengapa sekumpulan orang yang tak 
> bersalah mati karena bencana, sementara sekumpulan orang lain tidak. Jadi, 
> Tuhan tidak selalu ada di balik setiap peristiwa. Mereka menulis bahwa 
> sebenarnya dalam setiap kejadian belum tentu kita dapat menemukan pesan sebab 
> memang tak ada pesan apa-apa. Tidak ada alasan mengapa sekumpulan orang ini 
> kena musibah, sementara yang lain tidak. Peristiwa-peristiwa bencana tidak 
> mencerminkan pilihan Tuhan, itu peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja. 
> Segala bentuk bencana bukanlah kehendak Tuhan, demikian Leahy dan 
> Munawar-Rachman berpendapat dalam artikel "Tuhan dan Masalah Penderitaan" 
> (Kanisius, 2008).
>
> Tetapi, berbeda dari pandangan Leahy dan Munawar-Rachman (2008) ada beberapa 
> bencana yang memang dikehendaki Tuhan, dan Tuhan berada di balik peristiwa 
> itu, yaitu pembinasaan Sodom dan Gomora yang dikisahkan dalam kitab-kitab 
> suci (Alkitab, Kejadian 19: 15, 24 - Al Qur-an, Surat Huud : 76, 82) yang 
> dalam penafsiran saya disebabkan oleh gempa katastrofik dan letusan gunung 
> garam yang mengandung aspal, minyak, ter dan belerang serta kedua kota 
> mengalami likuifaksi ke bawah Laut Mati (lihat abstrak makalah tentang ini di 
> bawah). Terhadap hal-hal ini, ada pelajaran bahwa semua bencana adalah 
> fenomena alam, tetapi sebagian bencana bisa merupakan sarana penghukuman 
> Tuhan.
>
> Tuhan telah memberikan kepada manusia sebuah dunia yang tertib, yang 
> menjadikan dunia ini nyaman dihuni. Dunia yang dapat dihuni ini adalah fakta 
> bahwa hukum-hukum alam bisa diandalkan, dan selalu bekerja dengan cara yang 
> sama. Tetapi ada juga yang perlu disadari dari fakta hukum alam ini adalah, 
> bahwa hukum alam bukan hanya memberi kesan keteraturan saja, tetapi juga dari 
> hukum yang sama, bisa terjadi bencana bagi manusia. Hukum alam berupa 
> gravitasi misalnya, membuat kita hidup, tetapi hukum alam yang sama bisa 
> menyebabkan jembatan atau gedung runtuh. Kita tidak bisa hidup tanpa 
> hukum-hukum alam, tetapi hidup dengan hukum alam berarti kita juga 
> dikelilingi begitu banyak bahaya yang menyebabkan penderitaan.
>
> Kesimpulannya, hukum alam netral, ia bisa terasa baik atau jahat. Hukum alam 
> tidak bersifat baik atau jahat, ia hanya tak peduli, berlaku sama bagi semua 
> orang. Hukum alam tidak mengenal perkecualian, ia tidak membedakan suku 
> bangsa, agama, golongan, bisa melanda siapa pun, orang jahat atau baik.
>
> Indonesia, selama ia duduk di atas lempeng-lmpeng yang saling bertubrukan, di 
> area tepi-tepi tubrukan atau papasan lempeng itulah selalu akan ada 
> proses-proses gempa, tsunami dan erupsi gunungapi yang bisa jadi bencana kala 
> bersentuhan dengan manusia. Doa-doa barangkali tak akan membebaskan Indonesia 
> dari bencana itu sebab itu hukum alam, hukum Tuhan. Tetapi doa barangkali 
> bisa membuat manusia diberikan akal budi untuk menghindari bencana atau 
> berkawan hidup di tengah bencana.
>
> Demikian sedikit ulasan.  Beberapa kesimpulan saya terkait hal ini:
>
> 1.      Karena kondisi geologinya yang merupakan wilayah pertemuan antara 
> tiga lempeng besar, Indonesia adalah wilayah yang paling rawan 
> gempa-tsunami-erupsi gunungapi di dunia.
>
> 2.      Secara geologi,  gempa-tsunami-erupsi gunungapi adalah proses alam 
> biasa karena kesetimbangan gaya  dan kekekalan energi.
>
> 3.      Bencana alam gempa-tsunami-erupsi gunungapi adalah fenomena alam, 
> yang dapat digunakan Tuhan untuk menyatakan kuasaNya atau melakukan 
> penghukuman.
>
> 4. Bencana-bencana alam di Indonesia hanyalah proses geologi biasa, fenomena 
> alam, yang bisa menjadi bencana kala bersentuhan dengan manusia, apakah itu 
> hukuman Tuhan, susah menjawabnya tetapi dari sejarah, bukan suatu 
> kemustahilan kalau Tuhan mau menggunakan proses-proses geologi untuk 
> menyampaikan maksudnya.
>
> Salam,
> Awang
>
>
> LAMPIRAN
> ------------------------------------------------
> PROCEEDINGS PIT IAGI LOMBOK 2010
> The 39th IAGI Annual Convention and Exhibition
>
> “KIAMAT” 2000 SM DI SODOM DAN GOMORA:
> KETIKA TUHAN MENGGERAKKAN RETAKAN GEOLOGI LAUT MATI
>
> Awang Harun Satyana (BPMIGAS) Jakarta
>
> SARI
>
> Kitab Suci Agama Kristen dan Islam mencatat pembinasaan kota-kota Sodom dan 
> Gomora oleh hukuman Tuhan. “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api 
> atas Sodom dan Gomora...dan ditunggangbalikkanNyalah kota-kota itu...asap 
> dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur
> peleburan.” (Kitab Kejadian 19 : 24-28). “Maka tatkala datang azab Kami, Kami 
> jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah... dan Kami hujani mereka 
> dengan batu dari tanah yang terbakar dengan
> bertubi-tubi.” (Surat Huud : 82).
>
> Penelitian-penelitian arkeologi dan geologi yang telah dilakukan sejak tahun 
> 1920-an di wilayah Laut Mati menemukan bahwa bekas-bekas kota Sodom dan 
> Gomora paling mungkin terletak di tepi tenggara Laut Mati, yaitu dua kota 
> yang di dalam arkeologi dikenal sebagai Bab edh-Dhra (Sodom) dan Numeira 
> (Gomora). Di kedua kota itu ditemukan banyak artefak dan rangka manusia yang 
> menunjukkan bekas kejadian bencana pada sekitar tahun 2000 SM.
>
> Laut Mati menempati bagian utara jalur Lembah Retakan Besar (Great Rift 
> Valley) yang memanjang dari Mozambik (Afrika Tenggara) sampai Siria (Asia 
> Baratdaya) sepanjang 4830 km menghubungkan lembah-lembah retakan: East 
> African Rift Valley-Laut Merah-Teluk Aqaba-Laut Mati-Sungai Yordan-
> Danau Galilea. Retakan Laut Mati merupakan transform boundary yang aktif 
> bergerak antara Lempeng Arabia dan Sub-Lempeng Sinai. Laut Mati merupakan 
> pull-apart basin yang dibentuk oleh tarikan transtensional dua sesar mendatar 
> mengiri (sinistral-transtensional duplex) Sesar Yudea dan Sesar Moab.
>
> Sodom dan Gomora terletak di atas Sesar Moab. Laut Mati dicirikan oleh 
> endapan elisional, kegempaan yang tinggi, fenomena diapir, gunung garam dan 
> gunung lumpur, serta akumulasi hidrokarbon (aspal dan bitumen) dengan kadar 
> belerang tinggi.
>
> Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi melalui bencana 
> geologi dengan urutan : (1) pergerakan Sesar Moab, (2) gempa dengan magnitude 
> 7,0+ yang menghancurkan kota-kota dan sekitarnya serta likuifaksi yang 
> menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota, (3) erupsi gunung garam dan gunung 
> lumpur yang meletuskan halit, anhidrit, batu-batuan, lumpur, aspal, bitumen, 
> dan belerang,(4) kebakaran kota-kota dan sekitarnya karena material 
> hidrokarbon yang diletuskan terbakar sehingga
> menjadi hujan api dan belerang. Bencana katastrofik ini telah meratakan Sodom 
> dan Gomora dan menewaskan seluruh penduduknya kecuali Lot/Luth dan dua 
> putrinya.
>
> Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan fenomena astroblem 
> (seperti meteor), melainkan fenomena katastrofi (malapetaka) geologi berupa 
> aspal dan bitumen yang terbakar serta belerang yang berasal dari letusan 
> gunung garam dan gunung lumpur.
>
>
>
>
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
> --------------------------------------------------------------------------------
> Ayo siapkan diri....!!!!!
> Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
> -----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted 
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall 
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or 
> indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of 
> use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any 
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>
>
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
> --------------------------------------------------------------------------------
> Ayo siapkan diri....!!!!!
> Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
> -----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted 
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall 
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or 
> indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of 
> use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any 
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>



-- 
Mohammad Syaiful - Explorationist, Consultant Geologist
Mobile: 62-812-9372808
Emails:
[email protected] (business)
[email protected]

Technical Manager of
Exploration Think Tank Indonesia (ETTI)

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke