Si Takdir ini kita tunggu datangnya atau kita Cari saja. Karena baru akan tahu Takdir nya setelah terjadi , Bagaimana kalau Takdir itu kita yang cari duluan daripada Nunggu si Takdir , karena kita yang nyari maka ya cari si Takdir yang bagus bagus.misalnya Kita cari biar mendapat Takdir bagus kalau ada bencana kita tidak terkena bencana/selamat , kita cari itu si Takdir dg mempelajari ilmu fenomena alam ( geologi ) agar kita dapat memitigasi akibat negatipnya ( bencana) sehingga pada waktu terjadi bencana kita Dapat Takdir yang Bagus shg dapat Takdir Selamat dari bencana , Begitu juga juga kita cari biar diTakdirkan jadi orang pinter atau orang kaya.....
ISM > Pernyataan Epikurus sangat intriquing. Bermata dua. Sangat > menarik. Dalam Islam kita mengenal rukun iman dimana salah > satunya mengimani Takdir (takdir baik dan takdir buruk). > Kedua takdir (baik-buruk) itu diimani berasal dari Allah. > Namun Islam mengajar untuk selalu > "berprasangka baik" kepada Allah. > Ketika sudah terjadi sangat mudah bagi muslim utk mengatakan > itu > adalah takdir. Namun seandainya belum terjadi, Islam > mengenal dua > aliran atau pemahaman Jabariyah dan Qodariah, yg seolah > bertentangan namun sebenernya saling mengisi. Bagi yg > cenderung mempertentangkan kedua menjadi terpisah jauh. Tapi > bagi saya keduanya seperti dua sisi mata uang. Satu sisi > saja tidak ada artinya. > Melihat kejadian alam memang dapat dilakukan dari dua sisi > yg berbeda. > > Kedua (Jabariah dan Qodariyah) adalah basis dalam mitigasi > bencana. > > Sebelum terjadi saya cenderung akan Qodariyah spt dalam QS > Ar-Ra'ad 11 "sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib > suatu bangsa, kecualai mereka mengubah keadaan diri mereka > sendiri. Dalam hal ini pendekatan sains ilmiahnya adalah > "Pre-disaster Mitigation". > > Setelah terjadi saya cenderung menggunakan pemikiran > Jabariah spt > dalam QS Ash Saffat 96 "Allah menciptakan kamu dan apa yg > kamu > perbuat". Saat sudah terjadi saya menerima apapun yg terjadi > ini > sebagai konsekuensi logis dari peristiwa alam dan upaya > manusia. Namun tentusaja masih dalam koridor "berprasangka > baik". Pendekatan sains ilmiahnya tentusaja "Post disaster > Mitigation" sebagai pendekatan > "belajar" (meneliti) utk mengantisipasi kejadian yg akan > berulang lagi karena proses alam itu tidak berhenti. > > Pemahaman proses yg berulang dalam Islam dapat didekati > secara ritual dalam prosesi 'thawaf" mengelilingi Kabah > sewaktu berhaji. Doa yg > sering saya lantunkan ketika thawafpun doa sederhana yg > dikenal > sebahai doa sapu jagad "robanna atina fidunya hasanah, > wafilakhiroti khasanah, waqinna adza bannar " (Ya Allah > berikan kami kebaikan di dunia dan akhirat. Dan selamatkan > kami dari siksa neraka). > Pada sepanjang perjalanan perulangan proses alam ini saya > (manusia) yg beriman akan berdoa supaya selamat melangkah > dari siklus ke siklus yg lain. > > Disinilah muslim diajarkan untuk "berprasangka baik" pada > setiap > peristiwa alam, baik sebelum maupun setelah kejadian > fenomena alam (fenomena geologi). Sehingga penelitian > kejadian bencana geologi atau Mitigasi (pre-post) harus > diyakini akan berakibat manusia menjadi > lebih baik. > > Trimakasih ilmu sejarah pemahaman manusia yg baru saya > ketahui ini, pak Awang. > > Salam. > Rdp > > On 24/12/2010, Awang Satyana <[email protected]> wrote: >> Hari Sabtu minggu yang lalu, saya hadir di sebuah gereja di >> wilayah Cibubur dalam sebuah diskusi panel berjudul >> "bencana alam: fenomena alam atau hukuman Tuhan?". Diskusi >> dihadiri oleh lima orang pendeta, beberapa orang relawan >> dan penggiat LSM bencana, dan sekitar 30 orang warga gereja >> setempat. >> >> Diskusi ini diadakan dalam rangka pembahasan "teologi >> kebencanaan" oleh PGI (persekutuan gereja-gereja di >> Indonesia) sebagai upaya menjawab pertanyaan di masyarakat >> yang senantiasa merasa atau bertanya apakah bencana >> merupakan hukuman Tuhan. >> >> Setelah kebaktian singkat yang dipimpin oleh seorang >> pendeta, saya diminta mempresentasikan materi yang telah >> saya siapkan, berjudul sama dengan tema diskusi panel, >> "bencana alam: fenomena alam atau hukuman Tuhan?". Materi >> yang saya bawakan terbagi menjadi tiga bagian: hakikat >> bencana, geologi dan bencana alam di Indonesia, bencana >> alam: fenomena alam atau hukuman Tuhan? Bencana yang >> dibahas terutama yang berhubungan dengan proses-proses >> geologi yang sering terjadi di Indonesia, yaitu gempa, >> tsunami, erupsi gunungapi. Para pendeta dan peserta diskusi >> panel, hari itu belajar tentang planet Bumi, tektonik >> lempeng, mekanisme gempa-tsunami-erupsi gunungapi. >> >> Setelah melakukan presentasi sekitar 1,5 jam menayangkan 65 >> slides, dimulailah sesi tanya jawab menyangkut geologi, >> filosofi dan teologi kebencanaan. Saya ingin ceritakan >> beberapa tanya jawab menyangkut hakikat kebencanaan dari >> segi filosofi dan teologi. Beberapa di antaranya adalah >> seperti di bawah ini. >> >> (1) Pertanyaan mendasar pertama datang dari seorang >> pendeta, apakah itu hukum alam, apakah itu hukum TUHAN, >> kapan TUHAN menggunakan hukum alam untuk menyatakan >> maksudnya, apakah TUHAN hanya "menumpang" hukum alam untuk >> menyatakan maksudNya, apakah alam itu beritme? >> >> Saya menjawab, sejak zaman Galileo, ilmu tentang alam >> semesta didasarkan pada ketiga postulat: (1) adanya >> hukum-hukum universal yang bersifat matematik, (2) penemuan >> hukum-hukum yang terjadi melalui eksperimentasi ilmiah, (3) >> data-data eksperimen yang bisa diulang-ulangi dengan hasil >> yang sama, sehingga setiap fenomena alam punya tingkat >> prediktibilitas - itulah hukum alam. Tuhan telah memberikan >> kepada manusia sebuah dunia yang tertib (Tuhan tidak >> bermain dadu dengan alam semesta, kata Einstein), atau alam >> semesta yang bernalar kata Paul Davies-ahli fisika penulis >> buku-buku sains, yang menjadikan dunia ini nyaman dihuni >> (misalnya ada jaminan bahwa matahari tidak tiba-tiba >> menghilang). >> >> Dunia yang dapat dihuni ini adalah fakta bahwa hukum-hukum >> alam bisa diandalkan, dan selalu bekerja dengan cara yang >> sama. Proses-proses geologi pun tidak terjadi sembarangan, >> mereka mengikuti aturan-aturan, hukum-hukum, yang diketahui >> berdasarkan penyelidikan dan penelitian sekian lama, dan >> setiap proses itu punya nilai prediktibilitas baik ke masa >> lalu (key to the past) maupun ke masa depan (key to the >> future). Proses-proses geologi adalah hukum alam. Sebab >> bagi orang percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam >> semesta, maka hukum-hukum alam yang mengatur jalannya alam >> semesta adalah juga hukum-hukum Tuhan. Tuhan menggunakan >> hukum alam yang diciptakanNya sesuai kehendakNya, dan Dia >> tidak pernah "menumpang" kepada hukum alam, sebab hukum >> alam adalah hukum Tuhan, milikNya sendiri. Alam memang >> beritme, bersiklus, yang terjadi sepanjang sejarah Bumi, >> sepanjang zaman-zaman geologi. >> >> (2) Seorang pendeta berpendapat bahwa proses-proses geologi >> hanyalah mengikuti hukum kekekalan massa, kekekalan energi >> dan kesetimbangan, dan bahwa sesungguhnya tak adalah yang >> namanya bencana itu secara proses geologi. Bencana, >> menurutnya hanyalah pandangan antroposentrisme, bukan >> pandangan geologi. >> >> Saya membenarkannya. Betul, seperti kata Gordon >> Oakeshott(1972 dalam sebuah buku 'Man and His Physical >> Envionment'), "There are no a geologic hazards without >> people. Geologic hazards are merely normal geologic >> processes or events until man gets in the way; then the >> processes or events become hazards". Saya menambahkan bahwa >> yang terasa sebagai "bencana" itu hanyalah relatif untuk >> segolongan korban pada saat itu. Pada periode lain, proses >> geologi yang menjadi "bencana" itu ternyata membawa berkat >> juga. Hujan pasir dan abu volkanik serta terjangan awan >> panas menjadi bencana buat segolongan orang pada suatu >> masa. Pada masa lain semua pasir dan abu volkanik hasil >> letusan itu kemudian bisa menjadi sumber nafkah segolongan >> orang pada masa berikutnya yang melakukan penambangan >> pasir. Benturan meteorit di Afrika Selatan tentu menjadi >> bencana katastrofik pada suatu masa ketika ia jatuh, tetapi >> pada masa lain ternyata sebuah teori mengatakan bahwa >> meteorit itu >> bisa menjadi tambang intan. Maka bencana itu relatif, >> proses geologi >> hanyalah proses geologi, ia menjadi bencana saat >> bersentuhan dengan manusia, dan ketika kita memandangnya >> secara antroposentris. >> >> (3) Seorang peserta diskusi menanyakan sebuah pertanyaan, >> mengapa Tuhan yang baik membiarkan bencana yang buruk >> terjadi. Apakah doa-doa, akan membebaskan Indonesia dari >> bencana ? >> >> Saya menjawab, pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan >> terkenal yang biasa muncul di buku-buku ateisme. Silogisme >> ateis menyebutkan: kalau Tuhan mahabaik, Ia akan hancurkan >> kejahatan. Kalau Tuhan mahakuasa, Ia dapat menghancurkan >> kejahatan. Tetapi kita melihat kejahatan ada terus dan >> mungkin semakin jahat, maka kalau begitu tak ada Tuhan >> sebab kejahatan meraja lela. "Si Deus est, unde malum?" - >> Kalau Tuhan ada, mengapa ada kejahatan? David Hume, filsuf >> dari abad ke-18 menulis, " Adakah Allah bermaksud mencegah >> kejahatan tetapi tidak sanggup? Maka itu berarti Dia tidak >> berkuasa. 'Problem of evil' (termasuk 'kejahatan' alam >> dalam rupa bencana) sesungguhnya telah menjadi argumen >> klasik sejak zaman Epikurus (341-270 SM) yang menanyakan >> keadilan dan kasih sayang Tuhan di mana ketika kejahatan >> meraja lela. Akhirnya ini mengarah ke keberadaan Tuhan >> sendiri. Tulis Epikurus, "Tuhan ingin menyingkirkan >> kejahatan, tetapi Ia tak mampu, atau Ia mampu, tetapi tidak >> mau, atau Dia tak mau dan tak mampu. Kalau Tuhan mau >> tetapi tak mampu, maka >> Ia Tuhan yang lemah. Kalau Tuhan tak mau dan juga tak >> mampu, maka Ia Tuhan yang dengki dan lemah, jadi bukanlah >> Tuhan. >> >> Bagi seorang ateis, begitu banyaknya kejahatan dan >> penderitaan manusia telah menjadi argumen tangguh untuk >> ateisme. Adanya kejahatan dan penderitaan merupakan sebab >> utama keragu-raguan iman dan pemberontakan melawan Allah. >> Thomas Aquinas merumuskan pandangan ateisme itu, >> "Seandainya Allah ada, tidak akan ada satu tempat pun di >> mana kejahatan ditemukan. Padahal kejahatan ditemukan di >> dunia. Maka Allah tidak ada. >> >> Bagi orang yang beragama, Tuhan berada di balik setiap >> peristiwa. Tak ada peristiwa akan terjadi tanpa >> kehendakNya. Louis Leahy dan Budhy >> Munawar-Rachman (STF Driyarkara) menulis bahwa pendapat >> seperti itu akan mengarah kepada Tuhan yang >> sewenang-wenang. Mengapa sekumpulan orang yang tak bersalah >> mati karena bencana, sementara sekumpulan orang lain tidak. >> Jadi, Tuhan tidak selalu ada di balik setiap peristiwa. >> Mereka menulis bahwa sebenarnya dalam setiap kejadian belum >> tentu kita dapat menemukan pesan sebab memang tak ada pesan >> apa-apa. Tidak ada alasan mengapa sekumpulan orang ini kena >> musibah, sementara yang lain tidak. Peristiwa-peristiwa >> bencana tidak mencerminkan pilihan Tuhan, itu >> peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja. Segala bentuk >> bencana bukanlah kehendak Tuhan, demikian Leahy dan >> Munawar-Rachman berpendapat dalam artikel "Tuhan dan >> Masalah Penderitaan" (Kanisius, 2008). >> >> Tetapi, berbeda dari pandangan Leahy dan Munawar-Rachman >> (2008) ada beberapa bencana yang memang dikehendaki Tuhan, >> dan Tuhan berada di balik peristiwa itu, yaitu pembinasaan >> Sodom dan Gomora yang dikisahkan dalam kitab-kitab suci >> (Alkitab, Kejadian 19: 15, 24 - Al Qur-an, Surat Huud : 76, >> 82) yang dalam penafsiran saya disebabkan oleh gempa >> katastrofik dan letusan gunung garam yang mengandung aspal, >> minyak, ter dan belerang serta kedua kota mengalami >> likuifaksi ke bawah Laut Mati (lihat abstrak makalah >> tentang ini di bawah). Terhadap hal-hal ini, ada pelajaran >> bahwa semua bencana adalah fenomena alam, tetapi sebagian >> bencana bisa merupakan sarana penghukuman Tuhan. >> >> Tuhan telah memberikan kepada manusia sebuah dunia yang >> tertib, yang menjadikan dunia ini nyaman dihuni. Dunia yang >> dapat dihuni ini adalah fakta bahwa hukum-hukum alam bisa >> diandalkan, dan selalu bekerja dengan cara yang sama. >> Tetapi ada juga yang perlu disadari dari fakta hukum alam >> ini adalah, bahwa hukum alam bukan hanya memberi kesan >> keteraturan saja, tetapi juga dari hukum yang sama, bisa >> terjadi bencana bagi manusia. Hukum alam berupa gravitasi >> misalnya, membuat kita hidup, tetapi hukum alam yang sama >> bisa menyebabkan jembatan atau gedung runtuh. Kita tidak >> bisa hidup tanpa hukum-hukum alam, tetapi hidup dengan >> hukum alam berarti kita juga dikelilingi begitu banyak >> bahaya yang menyebabkan penderitaan. >> >> Kesimpulannya, hukum alam netral, ia bisa terasa baik atau >> jahat. Hukum alam tidak bersifat baik atau jahat, ia hanya >> tak peduli, berlaku sama bagi semua orang. Hukum alam tidak >> mengenal perkecualian, ia tidak membedakan suku bangsa, >> agama, golongan, bisa melanda siapa pun, orang jahat atau >> baik. >> >> Indonesia, selama ia duduk di atas lempeng-lmpeng yang >> saling bertubrukan, di area tepi-tepi tubrukan atau papasan >> lempeng itulah selalu akan ada proses-proses gempa, tsunami >> dan erupsi gunungapi yang bisa jadi bencana kala >> bersentuhan dengan manusia. Doa-doa barangkali tak akan >> membebaskan Indonesia dari bencana itu sebab itu hukum >> alam, hukum Tuhan. Tetapi doa barangkali bisa membuat >> manusia diberikan akal budi untuk menghindari bencana atau >> berkawan hidup di tengah bencana. >> >> Demikian sedikit ulasan. Beberapa kesimpulan saya terkait >> hal ini: >> >> 1. Karena kondisi geologinya yang merupakan wilayah >> pertemuan antara tiga lempeng besar, Indonesia adalah >> wilayah yang paling rawan >> gempa-tsunami-erupsi gunungapi di dunia. >> >> 2. Secara geologi, gempa-tsunami-erupsi gunungapi adalah >> proses alam biasa karena kesetimbangan gaya dan kekekalan >> energi. >> >> 3. Bencana alam gempa-tsunami-erupsi gunungapi adalah >> fenomena alam, yang dapat digunakan Tuhan untuk menyatakan >> kuasaNya atau melakukan penghukuman. >> >> 4. Bencana-bencana alam di Indonesia hanyalah proses >> geologi biasa, fenomena alam, yang bisa menjadi bencana >> kala bersentuhan dengan manusia, apakah itu hukuman Tuhan, >> susah menjawabnya tetapi dari sejarah, bukan suatu >> kemustahilan kalau Tuhan mau menggunakan proses-proses >> geologi untuk menyampaikan maksudnya. >> >> Salam, >> Awang >> >> >> LAMPIRAN >> ------------------------------------------------ >> PROCEEDINGS PIT IAGI LOMBOK 2010 >> The 39th IAGI Annual Convention and Exhibition >> >> KIAMAT 2000 SM DI SODOM DAN GOMORA: >> KETIKA TUHAN MENGGERAKKAN RETAKAN GEOLOGI LAUT MATI >> >> Awang Harun Satyana (BPMIGAS) Jakarta >> >> SARI >> >> Kitab Suci Agama Kristen dan Islam mencatat pembinasaan >> kota-kota Sodom dan Gomora oleh hukuman Tuhan. Kemudian >> TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan >> Gomora...dan ditunggangbalikkanNyalah kota-kota itu...asap >> dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur >> peleburan. (Kitab Kejadian 19 : 24-28). Maka tatkala >> datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di >> atas ke bawah... dan Kami hujani mereka dengan batu dari >> tanah yang terbakar dengan >> bertubi-tubi. (Surat Huud : 82). >> >> Penelitian-penelitian arkeologi dan geologi yang telah >> dilakukan sejak tahun 1920-an di wilayah Laut Mati >> menemukan bahwa bekas-bekas kota Sodom dan Gomora paling >> mungkin terletak di tepi tenggara Laut Mati, yaitu dua kota >> yang di dalam arkeologi dikenal sebagai Bab edh-Dhra >> (Sodom) dan Numeira (Gomora). Di kedua kota itu ditemukan >> banyak artefak dan rangka manusia yang menunjukkan bekas >> kejadian bencana pada sekitar tahun 2000 SM. >> >> Laut Mati menempati bagian utara jalur Lembah Retakan Besar >> (Great Rift Valley) yang memanjang dari Mozambik (Afrika >> Tenggara) sampai Siria (Asia Baratdaya) sepanjang 4830 km >> menghubungkan lembah-lembah retakan: East African Rift >> Valley-Laut Merah-Teluk Aqaba-Laut Mati-Sungai Yordan- >> Danau Galilea. Retakan Laut Mati merupakan transform >> boundary yang aktif bergerak antara Lempeng Arabia dan >> Sub-Lempeng Sinai. Laut Mati merupakan pull-apart basin >> yang dibentuk oleh tarikan transtensional dua sesar >> mendatar mengiri (sinistral-transtensional duplex) Sesar >> Yudea dan Sesar Moab. >> >> Sodom dan Gomora terletak di atas Sesar Moab. Laut Mati >> dicirikan oleh endapan elisional, kegempaan yang tinggi, >> fenomena diapir, gunung garam dan gunung lumpur, serta >> akumulasi hidrokarbon (aspal dan bitumen) dengan kadar >> belerang tinggi. >> >> Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi >> melalui bencana geologi dengan urutan : (1) pergerakan >> Sesar Moab, (2) gempa dengan magnitude 7,0+ yang >> menghancurkan kota-kota dan sekitarnya serta likuifaksi >> yang menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota, (3) erupsi >> gunung garam dan gunung lumpur yang meletuskan halit, >> anhidrit, batu-batuan, lumpur, aspal, bitumen, dan >> belerang,(4) kebakaran kota-kota dan sekitarnya karena >> material hidrokarbon yang diletuskan terbakar sehingga >> menjadi hujan api dan belerang. Bencana katastrofik ini >> telah meratakan Sodom dan Gomora dan menewaskan seluruh >> penduduknya kecuali Lot/Luth dan dua putrinya. >> >> Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan >> fenomena astroblem (seperti meteor), melainkan fenomena >> katastrofi (malapetaka) geologi berupa aspal dan bitumen >> yang terbakar serta belerang yang berasal dari letusan >> gunung garam dan gunung lumpur. >> >> >> >> >> -------------------------------------------------------------------------------->> >> PP-IAGI 2008-2011: >> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] >> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] >> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... >> -------------------------------------------------------------------------------->> >> Ayo siapkan diri....!!!!! >> Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 >> November 2010 >> ----------------------------------------------------------------------------->> >> To unsubscribe, send email to: >> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email >> to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: >> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net >> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> --------------------------------------------------------------------->> >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to >> information posted on its mailing lists, whether posted by >> IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be >> liable for any, including but not limited to direct or >> indirect damages, or damages of any kind whatsoever, >> resulting from loss of use, data or profits, arising out of >> or in connection with the use of any information posted on >> IAGI mailing list. >> --------------------------------------------------------------------->> >> > > -- > Sent from my mobile device > > *Pray for JOGJA* > > --------------------------------------------------------------------------------> > PP-IAGI 2008-2011: > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... > --------------------------------------------------------------------------------> > Ayo siapkan diri....!!!!! > Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 > November 2010 > -----------------------------------------------------------------------------> > To unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net > Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > ---------------------------------------------------------------------> > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to > information posted on its mailing lists, whether posted by > IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be > liable for any, including but not limited to direct or > indirect damages, or damages of any kind whatsoever, > resulting from loss of use, data or profits, arising out of > or in connection with the use of any information posted on > IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

