Sekedar share masalah "teologi kebencanaan" dalam pandangan "geospiritual value" :
Oleh : agus hendratno (iagi diy / geologi ugm) Dalam pandangan Islam sebagai rahmatan seluruh alam semesta, memandang manusia sebagai wakil (al-khalifah) Allah SWT di atas bumi dan secara eksplisit Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang wakil (khalifah) di muka bumi”(Al Baqarah : 30). Lebih jauh lagi, kualitas kewakilan ini disempurnakan dengan kualitas kehambaan (al-‘ubudiyyah) kepada Allah SWT. Manusia adalah hamba Allah dan karenanya harus menaati-Nya. Sebagai khalifah Allah, manusia harus aktif di dunia, memelihara keharmonisan lingkungan alam dan menyebarluaskan berkah dan karunia karena ia sehubungan dengan kedudukan manusia sebagai ciptaan yang terdidik dan berbudaya di dunia yang sementara ini merupakan perantara. Seperti halnya Allah SWT memelihara dan mengasuh dunia, manusia sebagai wakil-Nya juga harus memelihara dan mengasuh dengan kasih sayang, keharmonisan terhadap : litosfer, atmosfer, tanah/lahan, mineral, energi, serta air, dimana ia memainkan peran penting. Fungsi pemeliharaan terhadap lingkungan alam merupakan kesaksian manusia sebagai pemegang amanah ketika bersaksi dihadapan Sang Pencipta. Allah SWT menunjukkan hal ini dalam ayat yang terkenal, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka (yaitu, anggota kelompok manusia) menjawab, betul Engkau Tuhan kami, kami bersaksi” (Al-A’raaf : 172). Menjadi masyarakat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan terdidik berarti menyadari akan tanggung jawab yang melekat dalam status “wakil Allah SWT”. Dalam ayat-Nya bahwa Allah SWT telah menundukkan (sakhkhrara) lingkungan alam bagi manusia sebagaimana termuat dalam ayat, “Apakah kamu tiada melihat bahwa Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya”(Al-Hajj : 65) tidaklah berarti bahwa dengan perkembangan peradaban dibidang ilmu dan teknologi manusia semena-mena melakukan eksploitasi terhadap lingkungan alam/sumberdaya bumi (apa yang ada di bumi). Dengan ayat itu dimaksudkan, bahwa dominasi atas segala apa yang ada di bumi diperbolehkan bagi manusia sejauh itu sesuai dengan hukum-hukum Allah pada sifat-sifat dasar dinamika kebumian dan perilaku lingkungan alam. Secara makro dapat diartikan bahwa eksploitasi sesumber alam itu lebih ditekankan pada kemaslahatan masyarakat/umat manusia. Namun apa yang banyak terjadi disekitar kita saat ini, bahwa manusia mulai bisa hidup dan merasa aman dalam lingkungan alam yang sudah diubahnya menjadi lingkungan binaan dan secara budaya telah menjauhkan kepekaan manusia terhadap resiko yang dapat ditimbulkannya maupun resiko proses kebumian yang menyertainya. Perlakukan terhadap sumberdaya alam kebumian ini harus menekankan pada kemampuan daya dukung alam/lingkungan dimana diperbolehkannya untuk dimanfaatkan sebagaimana adanya. Kepekaan manusia dalam dimensi penghambaan kepada Allah SWT serta dimensi kewakilan-Nya di bumi ini mulai luntur dan makin bias dengan kemajuan peradaban modern. Manusia semakin tidak menyadari bahwa dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan terdapat dimensi kewakilan (al-khalifah) dan kehambaan (al-‘ubudiyyah) serta adanya proses perubahan alam (dinamina atmosfer dan litosfera) didalamnya. Perubahan lingkungan alam menjadi lingkungan binaannya selalu dimulai dengan munculnya kesempatan yang lebih baik dan mapan. Karena itu dibalik kemapanan kesempatan itu, manusia hanya mampu memandang berbagai manfaat dari manipulasi terhadap lingkungan alam dengan berbagai potensi sumberdaya kebumian yang terkandung didalamnya. Setiap manusia memiliki keinginan dan kehendak untuk mengeksploitasi lingkungan alam, bayang-bayang resiko selalu tertutup rapat-rapat, sehingga kemungkinan muncul ancaman baik dari proses alam kebumian maupun lingkungan binaannya kurang mendapat perhatian yang proporsional. Dari perkembangan peradaban budaya, manusia telah mengenal apa yang disebut dengan bencana alam. Dilihat dari kacamata geologi, bencana alam merupakan proses alam kebumian, tetapi yang berjalan sangat cepat dengan ukuran manusia yang didalamnya terdapat unsur manusia. Semua ini menyangkut gejala alam yang pada hakekatnya merupakan proses alam yang wajar-wajar saja. Proses alam akan menjadi sebuah bencana alam bilamana proses alam tersebut mengenai semua aktivitas budaya manusia. Apakah aktivitas itu di kota, di desa, di kawasan pegunungan, kawasan pantai, daerah kantong-kantong kemiskinan atau daerah dengan akses ekonomi yang tinggi atau wilayah yang mempunyai aset nasional. Bencana alam yang melanda bumi akhir-akhir ini hendaknya menjadikan kita sadar betapa tidak berdayanya manusia terhadap lingkungan alam. Kenyataan menjadi jelas bahwa lingkungan alam kebumian dan lingkungan binaan manusia memiliki berbagai potensi bencana alam seperti gempabumi tektonik, tsunami, bencana awan panas, tanah longsor, banjir bandang/banjir genangan, angin kencang, badai salju yang sangat fatal terhadap perkembangan budaya manusia. Hal ini terkadang lepas dari sorotan pada saat manusia merencanakan berbagai kegiatan hidupnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibanggakan dan diharapkan oleh manusia untuk dapat melindungi dirinya dari ancaman bencana alam justru menimbulkan berbagai bentuk gangguan terhadap lingkungan maupun ekosistem. Pada gilirannya, gangguan dan degradasi lingkungan akibat penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak tepat telah menimbulkan dampak negatif terhadap perikehidupan dan peradaban lingkungan budaya manusia itu sendiri (misal : kasus semburan LUSI, dll). Sebagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi tentang tata cara pembuangan sampah / limbah padat pada media geologi tertentu perlu perlakukan khusus. Namun demikian, kesalahan dalam manajemen ilmu dan teknologi tersebut mangakibatkan satu rangkaian komunitas budaya masyarakat Leuwigajah (Cimahi) harus hilang seketika (kasus longsoran di lokasi penimbungan sampah di Leuwigajah, Cimahi, pertengahan Februari 2005 lalu). Dalam dua dasawarsa terakhir hingga memasuki abad 21 kini, tanpa disadari jumlah manusia, harta benda/aset nasional yang menjadi korban bencana alam kebumian ternyata meningkat, meskipun dari kacamata geologi maupun klimatologi, lingkungan geologi dimasa kini (Kuarter, kurang dari 1.8 juta tahun yang lalu hingga sekarang ini) tidak menunjukkan suatu perubahan yang mendasar. Masih ingat dengan gempabumi di Peru, gempabumi di Kobe, gempabumi di Meksiko, tsunami di Flores, tsunami di Banyuwangi, Gempabumi di Liwa, gempabumi dan tsunami di Pangandaran dan Cilacap Juli 2006, awan panas Merapi 2006 dan Oktober-November 2010, banjir Pantura, banjir di Jakarta, banjir di Aceh dan Sumut, tanah longsor di Jabar, tanah longsor dan banjir bandang di Bohorok dan di Pacet – Jatim, tanah longsor di Purworejo, banjir di berbagai tempat di Sumatera – Kalimantan, dan Jawa; gempabumi di Iran, gempabumi di Nabire, tsunami di Biak, banjir bandang Waisor, empabumi di Alor, gempabumi dan tsunami di Aceh dan Sumut; gempabumi Bantul dan Klaten Mei 2006, longsor di Solok; gempabumi di Mandailing Natal Sumur, tsunami Mentawai, merupakan peningkatan yang nyata dari peristiwa bencana kebumian baik ditinjau dari segi kejadiannya maupun jumlah korban manusia yang ditimbulkannya akan lebih berat lagi oleh kenyataan bahwa jumlah penduduk bumi juga semakin meningkat. Belum lagi peristiwa semburan lumpur panas (LUSI) di Porong, sebagai bentuk akumulasi kekuatan alam yang kurang diantisipasi dengan kamampuan teknologi eksplorasi sumberdaya migas yang handal. Akibatnya keperluan manusia akan lingkungan alam juga semakin meluas dan makin meningkat baik ditinjau dari segi kebutuhan akan ruang untuk hidup maupun kebutuhan akan sumberdaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu bila keperluan manusia akan ruang hidup dan sumberdaya bumi yang terkandung didalamnya tidak dipertimbangkan dengan potensi sumber bencana kebumian, resiko yang akan ditimbulkannya semakin fatal dan sangat berbahaya. Bahwa peningkatan jumlah penduduk dan kecepatan pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan ciri khas negara yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia. Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumberdaya bumi dan sumber bahaya kebumian. Karena itu sudah sepantasnyalah pertimbangan terhadap resiko bahaya kebumian ini harus mendapat perhatian seksama di Indonesia. Apalagi bila dikaitkan dengan adanya pusat-pusat pertumbuhan wilayah strategis yang sebagian berada di kawasan rawan bahaya kebumian. Bila perhatian terhadap sumber bahaya kebumian beserta resikonya lolos dari berbagai rencana pembangunan nasional maupun daerah, maka bukan hanya manusia yang semakin peka terhadap bencana kebumian, bahkan proses pembencanaan alam yang bersumber dari kelalaian peradaban manusia terhadap ancaman bencana kebumian tidak dapat dihindarkan. Perikehidupan manusia modern saat ini sedang berada pada suatu titik yang menentukan dalam evolusi sejarah peradaban modern yang mana akan menghadapi keadaan yang memburuk tentang kemiskinan, kelaparan, ketidak-sehatan, tuna aksara dan berlanjutnya kerusakan ekosistem, tempat bergantungnya kesejahteraan kita. Adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim global belum menjadi keseharian kita. Sementara itu kesenjangan antara kaya dan miskin makin berlanjut. Satu-satunya jalan untuk menjamin adanya masa depan yang lebih aman dan lebih sejahtera bagi kita adalah mengembalikan fitrah manusia pada kekhalifahan dan kehambaan kepada Tuhan dengan konsekuensinya melakukan pembangunan nasional / daerah yang ramah lingkungan kebumiannya dalam mengupayakan kebutuhan pokok umat manusia, memperbaiki taraf hidup semua orang dan mengupayakan perlindungan serta pengelolaan ekosistem yang lebih baik dan bijaksana. Dalam menjalankan semua ini kita harus mempunyai suatu visi yang memandang jauh kedepan demi kesatuan dan keutuhan bangsa/umat manusia serta kelestarian pembangunan yang berwawasan lingkungan kebumian. Disamping itu kita perlu memandang perlunya solidaritas kemanusiaan dalam pelaksanaan pembanguan. Umat manusia adalah satu, oleh karena itu dalam transformasi kebudayaan untuk mengantisipasi berbagai perubahan termasuk di dalamnya resiko bencana kebumian, degradasi lingkungan global, peledakan populasi, kita memerlukan solidaritas kemanusiaan yang berkelanjutan untuk evolusi budaya manusia. Pada dasawarsa terakhir ini, terlihat bahwa interaksi dinamis antara atmosfer dan litosfer yang berimplikasi pada resiko kehidupan dan hasil budaya bangsa ini telah menujukkan satu proses pembelajaran yang sangat mendalam tentang makna kehadiran manusia sebagai khalifahtull fill ardh. Kemana hakekat kehidupan budaya manusia dan budaya bangsa ini dibawa dalam lingkungan yang sangat dinamis yang melibatkan semua elemen/unsur atmosfer dan litosfera bergerak mengikuti ritme Sunatullah-Nya. Semoga kita mampu mengambil pelajaran dari semua kejadian itu untuk tahun yang akan datang, dan selalu berpikir bahwa : ”tidaklah Aku ciptakan ini dengan sia-sia” Betulkah teks "eksploitasi" dalam ranah ekonomi kebumian selama ini merupakan bagian dari kasih sayang kita terhadap litosfer-atmosfer-hidrosfer?? atau malah justru sebaliknya?? Dalam AL Quran..., susah mencari padanan dari kata "Eksploitasi" sebagai bagian dari pemenuhan ekonomi ummat akan kehadiran manusia sebagai khalifatull fill ardh. bahan renungan di akhir tahun dan selamat natal bagi yang merayakan dan selamat tahun baru... salam damai dan lestari, agus hendratno / 0813.2840.1771 ________________________________ From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> To: [email protected]; Geo Unpad <[email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]> Sent: Fri, December 24, 2010 9:32:04 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Teologi Kebencanaan Pernyataan Epikurus sangat intriquing. Bermata dua. Sangat menarik. Dalam Islam kita mengenal rukun iman dimana salah satunya mengimani Takdir (takdir baik dan takdir buruk). Kedua takdir (baik-buruk) itu diimani berasal dari Allah. Namun Islam mengajar untuk selalu "berprasangka baik" kepada Allah. Ketika sudah terjadi sangat mudah bagi muslim utk mengatakan itu adalah takdir. Namun seandainya belum terjadi, Islam mengenal dua aliran atau pemahaman Jabariyah dan Qodariah, yg seolah bertentangan namun sebenernya saling mengisi. Bagi yg cenderung mempertentangkan kedua menjadi terpisah jauh. Tapi bagi saya keduanya seperti dua sisi mata uang. Satu sisi saja tidak ada artinya. Melihat kejadian alam memang dapat dilakukan dari dua sisi yg berbeda. Kedua (Jabariah dan Qodariyah) adalah basis dalam mitigasi bencana. Sebelum terjadi saya cenderung akan Qodariyah spt dalam QS Ar-Ra'ad 11 "sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, kecualai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dalam hal ini pendekatan sains ilmiahnya adalah "Pre-disaster Mitigation". Setelah terjadi saya cenderung menggunakan pemikiran Jabariah spt dalam QS Ash Saffat 96 "Allah menciptakan kamu dan apa yg kamu perbuat". Saat sudah terjadi saya menerima apapun yg terjadi ini sebagai konsekuensi logis dari peristiwa alam dan upaya manusia. Namun tentusaja masih dalam koridor "berprasangka baik". Pendekatan sains ilmiahnya tentusaja "Post disaster Mitigation" sebagai pendekatan "belajar" (meneliti) utk mengantisipasi kejadian yg akan berulang lagi karena proses alam itu tidak berhenti. Pemahaman proses yg berulang dalam Islam dapat didekati secara ritual dalam prosesi 'thawaf" mengelilingi Kabah sewaktu berhaji. Doa yg sering saya lantunkan ketika thawafpun doa sederhana yg dikenal sebahai doa sapu jagad "robanna atina fidunya hasanah, wafilakhiroti khasanah, waqinna adza bannar " (Ya Allah berikan kami kebaikan di dunia dan akhirat. Dan selamatkan kami dari siksa neraka). Pada sepanjang perjalanan perulangan proses alam ini saya (manusia) yg beriman akan berdoa supaya selamat melangkah dari siklus ke siklus yg lain. Disinilah muslim diajarkan untuk "berprasangka baik" pada setiap peristiwa alam, baik sebelum maupun setelah kejadian fenomena alam (fenomena geologi). Sehingga penelitian kejadian bencana geologi atau Mitigasi (pre-post) harus diyakini akan berakibat manusia menjadi lebih baik. Trimakasih ilmu sejarah pemahaman manusia yg baru saya ketahui ini, pak Awang. Salam. Rdp -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

