Pak Rovicky, sepenggal kutipan kisah umar ini menurut saya relevan
dengan yg Pak Rovicky sampaikan
... Juga relevan dengan yg diutarakan Pak Agus tempo hari tentang
manajemen pengelolaan bangunan (makam) di lereng ketinggian...

Saat itu giliran khalifah Umar bin Khattab berkeliling mengunjungi
pasukan pimpinan
Abu ubaid bin Al- jarrah di suatu daerah yang saat itu sedang terserang
wabah penyakit
"awamis' yang merenggut hampir semua nyawa manusia yang terkena. Setelah
melihat
kondisi yang semacam itu khalifah Umar memerintahkan kepada Abu ubaid
bin Al jarrah
agar dirinya dan pasukan segera menyingkir untuk menghindari wabah
tersebut. Abu ubaid
bin Aljarrah bertanya " Apakah Anda lari dari taqdir Allah wahai Amirul
mukminin ?" . Umar
menjawab " Aku lari dari taqdir Allah yang satu menuju taqdir Allah yang
lain ". Akhirnya
Umar segera meninggalkan tempat tersebut dan selamat , sementara Abu
ubaid bin Jarrah
tetap tinggal di daerah tersebut sampai wabah tersebut mengenai nya dan
merenggut
nyawanya.


Terimakasih juga Pak Awang, untuk tulisannya yang menarik
Mohon maaf apabila posting ini kurang berkenan.


-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, December 24, 2010 10:32 AM
To: [email protected]; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS; Forum HAGI
Subject: Re: [iagi-net-l] Teologi Kebencanaan

Pernyataan Epikurus sangat intriquing. Bermata dua. Sangat menarik.
Dalam Islam kita mengenal rukun iman dimana salah satunya mengimani
Takdir (takdir baik dan takdir buruk). Kedua takdir (baik-buruk) itu
diimani berasal dari Allah. Namun Islam mengajar untuk selalu
"berprasangka baik" kepada Allah.
Ketika sudah terjadi sangat mudah bagi muslim utk mengatakan itu
adalah takdir. Namun seandainya belum terjadi, Islam mengenal dua
aliran atau pemahaman Jabariyah dan Qodariah, yg seolah bertentangan
namun sebenernya saling mengisi. Bagi yg cenderung mempertentangkan
kedua menjadi terpisah jauh. Tapi bagi saya keduanya seperti dua sisi
mata uang. Satu sisi saja tidak ada artinya.
Melihat kejadian alam memang dapat dilakukan dari dua sisi yg berbeda.

Kedua (Jabariah dan Qodariyah) adalah basis dalam mitigasi bencana.

Sebelum terjadi saya cenderung akan Qodariyah spt dalam QS Ar-Ra'ad 11
"sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, kecualai
mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dalam hal ini pendekatan
sains ilmiahnya adalah "Pre-disaster Mitigation".

Setelah terjadi saya cenderung menggunakan pemikiran Jabariah spt
dalam QS Ash Saffat 96 "Allah menciptakan kamu dan apa yg kamu
perbuat". Saat sudah terjadi saya menerima apapun yg terjadi ini
sebagai konsekuensi logis dari peristiwa alam dan upaya manusia. Namun
tentusaja masih dalam koridor "berprasangka baik". Pendekatan sains
ilmiahnya tentusaja "Post disaster Mitigation" sebagai pendekatan
"belajar" (meneliti) utk mengantisipasi kejadian yg akan berulang lagi
karena proses alam itu tidak berhenti.

Pemahaman proses yg berulang dalam Islam dapat didekati secara ritual
dalam prosesi 'thawaf" mengelilingi Kabah sewaktu berhaji. Doa yg
sering saya lantunkan ketika thawafpun doa sederhana yg dikenal
sebahai doa sapu jagad "robanna atina fidunya hasanah, wafilakhiroti
khasanah, waqinna adza bannar " (Ya Allah berikan kami kebaikan di
dunia dan akhirat. Dan selamatkan kami dari siksa neraka).
Pada sepanjang perjalanan perulangan proses alam ini saya (manusia) yg
beriman akan berdoa supaya selamat melangkah dari siklus ke siklus yg
lain.

Disinilah muslim diajarkan untuk "berprasangka baik" pada setiap
peristiwa alam, baik sebelum maupun setelah kejadian fenomena alam
(fenomena geologi). Sehingga penelitian kejadian bencana geologi atau
Mitigasi (pre-post) harus diyakini akan berakibat manusia menjadi
lebih baik.

Trimakasih ilmu sejarah pemahaman manusia yg baru saya ketahui ini, pak
Awang.

Salam.
Rdp

On 24/12/2010, Awang Satyana <[email protected]> wrote:
> Hari Sabtu minggu yang lalu, saya hadir di sebuah gereja di wilayah
Cibubur
> dalam sebuah diskusi panel berjudul "bencana alam: fenomena alam atau
> hukuman Tuhan?". Diskusi dihadiri oleh lima orang pendeta, beberapa
orang
> relawan dan penggiat LSM bencana, dan sekitar 30 orang warga gereja
> setempat.
>
> Diskusi ini diadakan dalam rangka pembahasan "teologi kebencanaan"
oleh PGI
> (persekutuan gereja-gereja di Indonesia) sebagai upaya menjawab
pertanyaan
> di masyarakat yang senantiasa merasa atau bertanya apakah bencana
merupakan
> hukuman Tuhan.
>
> Setelah kebaktian singkat yang dipimpin oleh seorang pendeta, saya
diminta
> mempresentasikan materi yang telah saya siapkan, berjudul sama dengan
tema
> diskusi panel, "bencana alam: fenomena alam atau hukuman Tuhan?".
Materi
> yang saya bawakan terbagi menjadi tiga bagian: hakikat bencana,
geologi dan
> bencana alam di Indonesia, bencana alam: fenomena alam atau hukuman
Tuhan?
> Bencana yang dibahas terutama yang berhubungan dengan proses-proses
geologi
> yang sering terjadi di Indonesia, yaitu gempa, tsunami, erupsi
gunungapi.
> Para pendeta dan peserta diskusi panel, hari itu belajar tentang
planet
> Bumi, tektonik lempeng, mekanisme gempa-tsunami-erupsi gunungapi.
>
> Setelah melakukan presentasi sekitar 1,5 jam menayangkan 65 slides,
> dimulailah sesi tanya jawab menyangkut geologi, filosofi dan teologi
> kebencanaan. Saya ingin ceritakan beberapa tanya jawab menyangkut
hakikat
> kebencanaan dari segi filosofi dan teologi. Beberapa di antaranya
adalah
> seperti di bawah ini.
>
> (1) Pertanyaan mendasar pertama datang dari seorang pendeta, apakah
itu
> hukum alam, apakah itu hukum TUHAN, kapan TUHAN menggunakan hukum alam
untuk
> menyatakan maksudnya, apakah TUHAN hanya "menumpang" hukum alam untuk
> menyatakan maksudNya, apakah alam itu beritme?
>
> Saya menjawab, sejak zaman Galileo, ilmu tentang alam semesta
didasarkan
> pada ketiga postulat: (1) adanya hukum-hukum universal yang bersifat
> matematik, (2) penemuan hukum-hukum yang terjadi melalui
eksperimentasi
> ilmiah, (3) data-data eksperimen yang bisa diulang-ulangi  dengan
hasil yang
> sama, sehingga setiap fenomena alam punya tingkat prediktibilitas -
itulah
> hukum alam. Tuhan telah memberikan kepada manusia sebuah dunia yang
tertib
> (Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta, kata Einstein), atau
alam
> semesta yang bernalar kata Paul Davies-ahli fisika penulis buku-buku
sains,
> yang menjadikan dunia ini nyaman dihuni (misalnya ada jaminan bahwa
matahari
> tidak tiba-tiba menghilang).
>
> Dunia yang dapat dihuni ini adalah fakta bahwa hukum-hukum alam bisa
> diandalkan, dan selalu bekerja dengan cara yang sama. Proses-proses
geologi
> pun tidak terjadi sembarangan, mereka mengikuti aturan-aturan,
hukum-hukum,
> yang diketahui berdasarkan penyelidikan dan penelitian sekian lama,
dan
> setiap proses itu punya nilai prediktibilitas baik ke masa lalu (key
to the
> past) maupun ke masa depan (key to the future). Proses-proses geologi
adalah
> hukum alam. Sebab bagi orang percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan
alam
> semesta, maka hukum-hukum alam yang mengatur jalannya alam semesta
adalah
> juga hukum-hukum Tuhan. Tuhan menggunakan hukum alam yang
diciptakanNya
> sesuai kehendakNya, dan Dia tidak pernah "menumpang" kepada hukum
alam,
> sebab hukum alam adalah hukum Tuhan, milikNya sendiri. Alam memang
beritme,
> bersiklus, yang terjadi sepanjang sejarah Bumi, sepanjang zaman-zaman
> geologi.
>
> (2) Seorang pendeta berpendapat bahwa proses-proses geologi hanyalah
> mengikuti hukum kekekalan massa, kekekalan energi dan kesetimbangan,
dan
> bahwa sesungguhnya tak adalah yang namanya bencana itu secara proses
> geologi. Bencana, menurutnya hanyalah pandangan antroposentrisme,
bukan
> pandangan geologi.
>
> Saya membenarkannya. Betul, seperti kata Gordon Oakeshott(1972 dalam
sebuah
> buku 'Man and His Physical Envionment'), "There are no a geologic
hazards
> without people. Geologic hazards are merely normal geologic processes
or
> events until man gets in the way; then the processes or events become
> hazards". Saya menambahkan bahwa yang terasa sebagai "bencana" itu
hanyalah
> relatif untuk segolongan korban pada saat itu. Pada periode lain,
proses
> geologi yang menjadi "bencana" itu ternyata membawa berkat juga. Hujan
pasir
> dan abu volkanik serta terjangan awan panas menjadi bencana buat
segolongan
> orang pada suatu masa. Pada masa lain semua pasir dan abu volkanik
hasil
> letusan itu kemudian bisa menjadi sumber nafkah segolongan orang pada
masa
> berikutnya yang melakukan penambangan pasir. Benturan meteorit di
Afrika
> Selatan tentu menjadi bencana katastrofik pada suatu masa ketika ia
jatuh,
> tetapi pada masa lain ternyata sebuah teori mengatakan bahwa meteorit
itu
>  bisa menjadi tambang intan. Maka bencana itu relatif, proses geologi
> hanyalah proses geologi, ia menjadi bencana saat bersentuhan dengan
manusia,
> dan ketika kita memandangnya secara antroposentris.
>
> (3) Seorang peserta diskusi menanyakan sebuah pertanyaan, mengapa
Tuhan yang
> baik membiarkan bencana yang buruk terjadi. Apakah doa-doa, akan
membebaskan
> Indonesia dari bencana ?
>
> Saya menjawab, pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan terkenal yang
biasa
> muncul di buku-buku ateisme. Silogisme ateis menyebutkan: kalau Tuhan
> mahabaik, Ia akan hancurkan kejahatan. Kalau Tuhan mahakuasa, Ia dapat
> menghancurkan kejahatan. Tetapi kita melihat kejahatan ada terus dan
mungkin
> semakin jahat, maka kalau begitu tak ada Tuhan sebab kejahatan meraja
lela.
> "Si Deus est, unde malum?" - Kalau Tuhan ada, mengapa ada kejahatan?
David
> Hume, filsuf dari abad ke-18 menulis, " Adakah Allah bermaksud
mencegah
> kejahatan tetapi tidak sanggup? Maka itu berarti Dia tidak berkuasa.
> 'Problem of evil' (termasuk 'kejahatan' alam dalam rupa bencana)
> sesungguhnya telah menjadi argumen klasik sejak zaman Epikurus
(341-270 SM)
> yang menanyakan keadilan dan kasih sayang Tuhan di mana ketika
kejahatan
> meraja lela. Akhirnya ini mengarah ke keberadaan Tuhan sendiri. Tulis
> Epikurus, "Tuhan ingin menyingkirkan kejahatan, tetapi Ia tak mampu,
atau Ia
> mampu, tetapi tidak
>  mau, atau Dia tak mau dan tak mampu. Kalau Tuhan mau tetapi tak
mampu, maka
> Ia Tuhan yang lemah. Kalau Tuhan tak mau dan juga tak mampu, maka Ia
Tuhan
> yang dengki dan lemah, jadi bukanlah Tuhan.
>
> Bagi seorang ateis, begitu banyaknya kejahatan dan penderitaan manusia
telah
> menjadi argumen tangguh untuk ateisme. Adanya kejahatan dan
penderitaan
> merupakan sebab utama keragu-raguan iman dan pemberontakan melawan
Allah.
> Thomas Aquinas merumuskan pandangan ateisme itu, "Seandainya Allah
ada,
> tidak akan ada satu tempat pun di mana kejahatan ditemukan. Padahal
> kejahatan ditemukan di dunia. Maka Allah tidak ada.
>
> Bagi orang yang beragama, Tuhan berada di balik setiap peristiwa. Tak
ada
> peristiwa akan terjadi tanpa kehendakNya. Louis Leahy dan Budhy
> Munawar-Rachman (STF Driyarkara) menulis bahwa pendapat seperti itu
akan
> mengarah kepada Tuhan yang sewenang-wenang. Mengapa sekumpulan orang
yang
> tak bersalah mati karena bencana, sementara sekumpulan orang lain
tidak.
> Jadi, Tuhan tidak selalu ada di balik setiap peristiwa. Mereka menulis
bahwa
> sebenarnya dalam setiap kejadian belum tentu kita dapat menemukan
pesan
> sebab memang tak ada pesan apa-apa. Tidak ada alasan mengapa
sekumpulan
> orang ini kena musibah, sementara yang lain tidak. Peristiwa-peristiwa
> bencana tidak mencerminkan pilihan Tuhan, itu peristiwa-peristiwa yang
> terjadi begitu saja. Segala bentuk bencana bukanlah kehendak Tuhan,
demikian
> Leahy dan Munawar-Rachman berpendapat dalam artikel "Tuhan dan Masalah
> Penderitaan" (Kanisius, 2008).
>
> Tetapi, berbeda dari pandangan Leahy dan Munawar-Rachman (2008) ada
beberapa
> bencana yang memang dikehendaki Tuhan, dan Tuhan berada di balik
peristiwa
> itu, yaitu pembinasaan Sodom dan Gomora yang dikisahkan dalam
kitab-kitab
> suci (Alkitab, Kejadian 19: 15, 24 - Al Qur-an, Surat Huud : 76, 82)
yang
> dalam penafsiran saya disebabkan oleh gempa katastrofik dan letusan
gunung
> garam yang mengandung aspal, minyak, ter dan belerang serta kedua kota
> mengalami likuifaksi ke bawah Laut Mati (lihat abstrak makalah tentang
ini
> di bawah). Terhadap hal-hal ini, ada pelajaran bahwa semua bencana
adalah
> fenomena alam, tetapi sebagian bencana bisa merupakan sarana
penghukuman
> Tuhan.
>
> Tuhan telah memberikan kepada manusia sebuah dunia yang tertib, yang
> menjadikan dunia ini nyaman dihuni. Dunia yang dapat dihuni ini adalah
fakta
> bahwa hukum-hukum alam bisa diandalkan, dan selalu bekerja dengan cara
yang
> sama. Tetapi ada juga yang perlu disadari dari fakta hukum alam ini
adalah,
> bahwa hukum alam bukan hanya memberi kesan keteraturan saja, tetapi
juga
> dari hukum yang sama, bisa terjadi bencana bagi manusia. Hukum alam
berupa
> gravitasi misalnya, membuat kita hidup, tetapi hukum alam yang sama
bisa
> menyebabkan jembatan atau gedung runtuh. Kita tidak bisa hidup tanpa
> hukum-hukum alam, tetapi hidup dengan hukum alam berarti kita juga
> dikelilingi begitu banyak bahaya yang menyebabkan penderitaan.
>
> Kesimpulannya, hukum alam netral, ia bisa terasa baik atau jahat.
Hukum alam
> tidak bersifat baik atau jahat, ia hanya tak peduli, berlaku sama bagi
semua
> orang. Hukum alam tidak mengenal perkecualian, ia tidak membedakan
suku
> bangsa, agama, golongan, bisa melanda siapa pun, orang jahat atau
baik.
>
> Indonesia, selama ia duduk di atas lempeng-lmpeng yang saling
bertubrukan,
> di area tepi-tepi tubrukan atau papasan lempeng itulah selalu akan ada
> proses-proses gempa, tsunami dan erupsi gunungapi yang bisa jadi
bencana
> kala bersentuhan dengan manusia. Doa-doa barangkali tak akan
membebaskan
> Indonesia dari bencana itu sebab itu hukum alam, hukum Tuhan. Tetapi
doa
> barangkali bisa membuat manusia diberikan akal budi untuk menghindari
> bencana atau berkawan hidup di tengah bencana.
>
> Demikian sedikit ulasan.  Beberapa kesimpulan saya terkait hal ini:
>
> 1.    Karena kondisi geologinya yang merupakan wilayah pertemuan
antara tiga
> lempeng besar, Indonesia adalah wilayah yang paling rawan
> gempa-tsunami-erupsi gunungapi di dunia.
>
> 2.    Secara geologi,  gempa-tsunami-erupsi gunungapi adalah proses
alam biasa
> karena kesetimbangan gaya  dan kekekalan energi.
>
> 3.    Bencana alam gempa-tsunami-erupsi gunungapi adalah fenomena
alam, yang
> dapat digunakan Tuhan untuk menyatakan kuasaNya atau melakukan
penghukuman.
>
> 4. Bencana-bencana alam di Indonesia hanyalah proses geologi biasa,
fenomena
> alam, yang bisa menjadi bencana kala bersentuhan dengan manusia,
apakah itu
> hukuman Tuhan, susah menjawabnya tetapi dari sejarah, bukan suatu
> kemustahilan kalau Tuhan mau menggunakan proses-proses geologi untuk
> menyampaikan maksudnya.
>
> Salam,
> Awang
>
>
> LAMPIRAN
> ------------------------------------------------
> PROCEEDINGS PIT IAGI LOMBOK 2010
> The 39th IAGI Annual Convention and Exhibition
>
> "KIAMAT" 2000 SM DI SODOM DAN GOMORA:
> KETIKA TUHAN MENGGERAKKAN RETAKAN GEOLOGI LAUT MATI
>
> Awang Harun Satyana (BPMIGAS) Jakarta
>
> SARI
>
> Kitab Suci Agama Kristen dan Islam mencatat pembinasaan kota-kota
Sodom dan
> Gomora oleh hukuman Tuhan. "Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang
dan api
> atas Sodom dan Gomora...dan ditunggangbalikkanNyalah kota-kota
itu...asap
> dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur
> peleburan." (Kitab Kejadian 19 : 24-28). "Maka tatkala datang azab
Kami,
> Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah... dan Kami
hujani
> mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan
> bertubi-tubi." (Surat Huud : 82).
>
> Penelitian-penelitian arkeologi dan geologi yang telah dilakukan sejak
tahun
> 1920-an di wilayah Laut Mati menemukan bahwa bekas-bekas kota Sodom
dan
> Gomora paling mungkin terletak di tepi tenggara Laut Mati, yaitu dua
kota
> yang di dalam arkeologi dikenal sebagai Bab edh-Dhra (Sodom) dan
Numeira
> (Gomora). Di kedua kota itu ditemukan banyak artefak dan rangka
manusia yang
> menunjukkan bekas kejadian bencana pada sekitar tahun 2000 SM.
>
> Laut Mati menempati bagian utara jalur Lembah Retakan Besar (Great
Rift
> Valley) yang memanjang dari Mozambik (Afrika Tenggara) sampai Siria
(Asia
> Baratdaya) sepanjang 4830 km menghubungkan lembah-lembah retakan: East
> African Rift Valley-Laut Merah-Teluk Aqaba-Laut Mati-Sungai Yordan-
> Danau Galilea. Retakan Laut Mati merupakan transform boundary yang
aktif
> bergerak antara Lempeng Arabia dan Sub-Lempeng Sinai. Laut Mati
merupakan
> pull-apart basin yang dibentuk oleh tarikan transtensional dua sesar
> mendatar mengiri (sinistral-transtensional duplex) Sesar Yudea dan
Sesar
> Moab.
>
> Sodom dan Gomora terletak di atas Sesar Moab. Laut Mati dicirikan oleh
> endapan elisional, kegempaan yang tinggi, fenomena diapir, gunung
garam dan
> gunung lumpur, serta akumulasi hidrokarbon (aspal dan bitumen) dengan
kadar
> belerang tinggi.
>
> Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi melalui bencana
> geologi dengan urutan : (1) pergerakan Sesar Moab, (2) gempa dengan
> magnitude 7,0+ yang menghancurkan kota-kota dan sekitarnya serta
likuifaksi
> yang menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota, (3) erupsi gunung
garam dan
> gunung lumpur yang meletuskan halit, anhidrit, batu-batuan, lumpur,
aspal,
> bitumen, dan belerang,(4) kebakaran kota-kota dan sekitarnya karena
material
> hidrokarbon yang diletuskan terbakar sehingga
> menjadi hujan api dan belerang. Bencana katastrofik ini telah
meratakan
> Sodom dan Gomora dan menewaskan seluruh penduduknya kecuali Lot/Luth
dan dua
> putrinya.
>
> Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan fenomena
astroblem
> (seperti meteor), melainkan fenomena katastrofi (malapetaka) geologi
berupa
> aspal dan bitumen yang terbakar serta belerang yang berasal dari
letusan
> gunung garam dan gunung lumpur.
>
>
>
>
>
------------------------------------------------------------------------
--------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
>
------------------------------------------------------------------------
--------
> Ayo siapkan diri....!!!!!
> Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
>
------------------------------------------------------------------------
-----
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event
shall
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to
direct
> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from
loss
> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use
of any
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>

-- 
Sent from my mobile device

*Pray for  JOGJA*

------------------------------------------------------------------------
--------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
------------------------------------------------------------------------
--------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
------------------------------------------------------------------------
-----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event shall IAGI or its members be liable for any, including but not
limited to direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing
list.
---------------------------------------------------------------------


--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke