Ikut menambahkan utk diskusi gempabumi, sy melihat gempabumi yg terjadi dari 
sisi yang lain, just curiosity.
 
Kalau disebutkan gempabumi terjadi dgn pusat gempa misalnya dgn kedalaman 30 km 
di jalur subdaksi (Wadati-Benioff Zone) dgn magnitute 8,0 sekian dst…., saya 
membayangkan sebenarnya apa yg terjadi dibawah sana dari segi perubahan 
material/mineral…atau lebih mudah disebut sebagai "materialisasi gempa". 

 
Jika pusat gempa didalam slab kerak samudra yg menunjam dibawah busur kepulauan 
atau tepi kontinen, sy bayangkan terjadinya perubahan mineral/fasa di dalam 
slab 
kerak samudra, misalnya serpentin menjadi olivin atau proses dehydrasi 
serpentin 
dalam kondisi ductile dan dalam kondisi padat (tidak meleleh). Jadi pelepasan 
energi dibawah sana bisa jadi merupakan perubahan fasa suatu mineral. Sama 
mungkin terjadi proses dehidrasi pada batuan “wet” basalt menjadi metabasalt.
 
Tapi jika terjadi dalam kondisi brittle, mungkin tdk cukup tekanan dan 
temperatur untuk memungkinkan terjadi perubahan mineral atau fasa.
 
Nah jika pusat gempa tersebut dalam suatu kontinen yg berupa sesar geser (deep 
seated fault), disebutkan kedalam pusat gempa 30 km, maka pusat gempa berada 
dalam kondisi ductile di “lower crustal” yg memungkinkan perubahan fasa mineral 
(dehidrasi), misalnya biotit menjadi piroksen dsb dalam proses pelepasan energi.
 
Dalam ilmu thermodinamika setiap perubahan fasa ada energi yg dikeluarkan dan 
diserap….seperti itukah kalau kita materilisasaikan suatau gempabumi dlm 
kondisi 
ductile?.
 
Kalau kita baca deskripsi di batuan akibat suatu gempa, seperi rekah, patah 
atau 
“rupture”, itu sebenarnya deskripsi dari suatu kondisi brittle, bagaimana mana 
ekspresi dalam kondisi ductile dimana tekanan dan temperature berperan dalam 
perubahan di batuan?.
 
Salam
Ade Kadarusman
"yg tinggal tepat diatas batuan peridotit yg berada di Patahan Matano"
 

 



________________________________
Dari: Awang Harun Satyana <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>
Terkirim: Sen, 21 Maret, 2011 14:59:41
Judul: RE: [iagi-net-l] Gempa Jepang (Tohoku Chihou Taiheiyou Oki Jishin)

Pak Irwan, Pak Danny, hatur nuhun diskusinya.

Seperti yang saya harapkan, semoga bencana gempa Tohoku Jepang ini, meskipun 
tetap sebagai bencana yang merenggut ribuan korban dan merusak banyak fasilitas 
dan harta benda manusia, dan bahkan juga memberikan efek berantai berupa 
radiasi 
radioaktif, tetap dapat memberikan pemahaman yang lebih baik lagi bagi para 
ahli 
gempa untuk menganalisis gempa2 subduksi yang belum sepenuhnya dipahami para 
ahli itu, demi kepentingan prediksi meskipun masih jauh dari sempurna.

Khusus penerapan ke Jawa, saya sangat setuju dengan seruan Pak Andang bahwa 
Jawa 
pun kini perlu mendapatkan porsi riset kegempaan yang sama dengan Sumatra 
karena 
Jawa juga menghdapi posisi frontal terhadap subduksi kerak samudera Hindia, 
banyaknya sesar-sesar yang masih aktif, dan terlebih lagi penduduknya banyak. 
Semoga Pak Danny dan Pak Irwan yang terlibat langsung dengan masalah kegempaan 
bisa mengingat hal ini untuk ke arah realisasi.

Kiranya untuk Jawa, selain jaringan GPS yang cukup rapat, kita pun perlu 
melibatkan P wave mantle tomography untuk memahami masalah kelandaian, 
kecuraman, gap dari slab yang masuk ke bawah Jawa seperti didiskusikan Pak 
Danny 
untuk kasus gempa Tohoku. Slab yang masuk ke bawah Jawa bervariasi umurnya dari 
sekitar 100 Ma di sebelah selatan Jawa Barat sampai 140 Ma di sebelah selatan 
Jawa Timur (Hayes, 1978). Tentu ini akan punya pengaruh kepada karakteristik 
sudut tekukan Wadati-Benioff zone pada konvergensi lempeng, yang nantinya 
sedikit banyak akan berpengaruh kepada kegempaan.

Jawa juga dari mantle tomography punya low dip of slab sampai kedalaman 100 km, 
lalu steep dip of slab dari kedalaman 100-600 km. Barangkali ini akan punya 
karakteristik tersendiri untuk subduction earthquakes. Kejadian oceanic 
plateaux 
seperti Roo Rise yang kini ditemukan banyak tersebar di atas kerak samudera 
Hindia tidak menutup kemungkinan bahwa dulu pun begitu (the present is the key 
to the past). Oceanic plateaux ini tentu merupakan buoyant object yang sulit 
tersubduksi karena density-nya yang relatif lebih ringan daripada 
sekelilingnya. 
Saat konvergensi terjadi, oceanic plateaux yang sulit masuk ke dalam zona 
subduksi ini barangkali akan membuat coupling yang signifikan pada interface 
subduction yang pada saatnya akan menyebabkan akumulasi gaya yang sangat besar 
yang bila tak tertahankan lagi lalu akan menimbulkan gempa dengan magnitude 
yang 
signifikan juga (> 8 M).

Mantle tomography juga memperlihatkan pola slab di bawah Jawa yang tidak mulus, 
tetapi di beberapa tempat mengalami break-off, sehingga membuat penampilan 
kehadiran beberapa slab windows. Beberapa ahli (misalnya Hall, 2010) memikirkan 
bahwa slab break-off atau windows ini akibat buoyant oceanic plateaux tadi yang 
tidak mau masuk ke dalam zona subduksi, dan telah menggunakan mekanisme ini 
sebagai penjelasan bahwa kita punya beberapa gunungapi potassic dan 
ultra-potassic di utara Jawa seperti Muria dan Ringgit Beser. Tetapi saya lebih 
yakin bahwa gunungapi2 ini mendapatkan karakternya yang keluar dari karakter 
dominan calk-alkaline di tengah Jawa karena terjadi oleh sesar besar di area 
back-arc volcanism, jadi bukan subduction-related volcanism.

Dari sebaran episentrum di selatan Jawa, juga nampak cukup signifikan suatu 
area 
sepi seismik (seismic gap zone) yang kebetulan berada di sebelah selatan sesar 
mendatar dextral yang cukup signifikan dan kelihatannya aktif bergerak, yaitu 
Sesar Pamanukan-Cilacap. Seismic gap zone bukankah area potensial untuk terjadi 
gempa signifikan pada masa mendatang. Barangkali perhatian perlu dibagi juga ke 
area ini, di samping sesar-sesar regional lainnya yang kita tahu juga aktif 
seperti Sesar Cimandiri dan Sesar Lembang.

Salam.
Awang

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: 21 Maret 2011 9:09
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Gempa Jepang (Tohoku Chihou Taiheiyou Oki Jishin)

Pak Irwan, Pak Danny, ... dkk milis,

‎​Implikasi lebih luasnya dr analisis terbuka anda2 adalah: mulai perhatikan 
juga Jawa bagian selatan!! Jangan hanya konsentrasi di barat Sumatra saja.. 
Bgmn 
kabar stasiun2 gps kita di Jawa bagian selatan? Bgmn kabar riset2 paleotsunami 
dan paleoearthquake sepanjang pesisir Jawa selatan? Sejauh mana kita monitor, 
kita deskripsi, kita uraikan kondisi patahan2 besar di onshore Jawa selatan: yg 
kemungkinan juga terhubung menerus ke arah offshore dan bisa jadi faktor 
penguat 
utama gerakan pelepasan energi gempa yg terkunci? Sesar Cimandiri, kelompok 
sesar2 di kelurusan Pamanukan-Cilacap, di kelurusan Muria-Kebumen Karanganyar, 
Sesar Grindulu Pacitan, sesar tua yg membatasi tinggian 
Tulungagung-Mojokerto-JS1, Sesar Lumajang-Madura.... GREAT (Graduate Research 
on 
Earthquake and Tectonics) yg juga dimotori anda2 mustinya bisa bikin workshop 
ttg implikasi gempa jepang ini bagi kita semua dlm waktu dekat ini,.... Juga 
supaya para administratur dan politisi yg punya akses dan kuasa mengalokasikan 
dana dan prioritas program2 jadi lebih terjaga dan mau mengerti dg teriakan 
anda2 semua

Salam
ADB
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kirim email ke