Halo apakabar Ade? Benar, energi gempa dangkal (<20-50km) akibat deformasi elastik adalah mekanik (strain) bukan akibat perubahan fasa mineral. Tapi kalau gempa-gempa dalam, misalnya di zona benioff kedalaman di atas 100 km (dalam lingkungan ductile) energi-nya justru umumnya lebih didominasi oleh perubahan fasa mineral.
Salam, Danny From: Ade Kadarusman [mailto:[email protected]] Sent: Monday, March 21, 2011 7:09 PM To: [email protected] Cc: [email protected] Subject: Bls: [iagi-net-l] Gempa Jepang (Tohoku Chihou Taiheiyou Oki Jishin) Ikut menambahkan utk diskusi gempabumi, sy melihat gempabumi yg terjadi dari sisi yang lain, just curiosity. Kalau disebutkan gempabumi terjadi dgn pusat gempa misalnya dgn kedalaman 30 km di jalur subdaksi (Wadati-Benioff Zone) dgn magnitute 8,0 sekian dst…., saya membayangkan sebenarnya apa yg terjadi dibawah sana dari segi perubahan material/mineral…atau lebih mudah disebut sebagai "materialisasi gempa". Jika pusat gempa didalam slab kerak samudra yg menunjam dibawah busur kepulauan atau tepi kontinen, sy bayangkan terjadinya perubahan mineral/fasa di dalam slab kerak samudra, misalnya serpentin menjadi olivin atau proses dehydrasi serpentin dalam kondisi ductile dan dalam kondisi padat (tidak meleleh). Jadi pelepasan energi dibawah sana bisa jadi merupakan perubahan fasa suatu mineral. Sama mungkin terjadi proses dehidrasi pada batuan “wet” basalt menjadi metabasalt. Tapi jika terjadi dalam kondisi brittle, mungkin tdk cukup tekanan dan temperatur untuk memungkinkan terjadi perubahan mineral atau fasa. Nah jika pusat gempa tersebut dalam suatu kontinen yg berupa sesar geser (deep seated fault), disebutkan kedalam pusat gempa 30 km, maka pusat gempa berada dalam kondisi ductile di “lower crustal” yg memungkinkan perubahan fasa mineral (dehidrasi), misalnya biotit menjadi piroksen dsb dalam proses pelepasan energi. Dalam ilmu thermodinamika setiap perubahan fasa ada energi yg dikeluarkan dan diserap….seperti itukah kalau kita materilisasaikan suatau gempabumi dlm kondisi ductile?. Kalau kita baca deskripsi di batuan akibat suatu gempa, seperi rekah, patah atau “rupture”, itu sebenarnya deskripsi dari suatu kondisi brittle, bagaimana mana ekspresi dalam kondisi ductile dimana tekanan dan temperature berperan dalam perubahan di batuan?. Salam Ade Kadarusman "yg tinggal tepat diatas batuan peridotit yg berada di Patahan Matano" _____ Dari: Awang Harun Satyana <[email protected]> Kepada: "[email protected]" <[email protected]> Terkirim: Sen, 21 Maret, 2011 14:59:41 Judul: RE: [iagi-net-l] Gempa Jepang (Tohoku Chihou Taiheiyou Oki Jishin) Pak Irwan, Pak Danny, hatur nuhun diskusinya. Seperti yang saya harapkan, semoga bencana gempa Tohoku Jepang ini, meskipun tetap sebagai bencana yang merenggut ribuan korban dan merusak banyak fasilitas dan harta benda manusia, dan bahkan juga memberikan efek berantai berupa radiasi radioaktif, tetap dapat memberikan pemahaman yang lebih baik lagi bagi para ahli gempa untuk menganalisis gempa2 subduksi yang belum sepenuhnya dipahami para ahli itu, demi kepentingan prediksi meskipun masih jauh dari sempurna. Khusus penerapan ke Jawa, saya sangat setuju dengan seruan Pak Andang bahwa Jawa pun kini perlu mendapatkan porsi riset kegempaan yang sama dengan Sumatra karena Jawa juga menghdapi posisi frontal terhadap subduksi kerak samudera Hindia, banyaknya sesar-sesar yang masih aktif, dan terlebih lagi penduduknya banyak. Semoga Pak Danny dan Pak Irwan yang terlibat langsung dengan masalah kegempaan bisa mengingat hal ini untuk ke arah realisasi. Kiranya untuk Jawa, selain jaringan GPS yang cukup rapat, kita pun perlu melibatkan P wave mantle tomography untuk memahami masalah kelandaian, kecuraman, gap dari slab yang masuk ke bawah Jawa seperti didiskusikan Pak Danny untuk kasus gempa Tohoku. Slab yang masuk ke bawah Jawa bervariasi umurnya dari sekitar 100 Ma di sebelah selatan Jawa Barat sampai 140 Ma di sebelah selatan Jawa Timur (Hayes, 1978). Tentu ini akan punya pengaruh kepada karakteristik sudut tekukan Wadati-Benioff zone pada konvergensi lempeng, yang nantinya sedikit banyak akan berpengaruh kepada kegempaan. Jawa juga dari mantle tomography punya low dip of slab sampai kedalaman 100 km, lalu steep dip of slab dari kedalaman 100-600 km. Barangkali ini akan punya karakteristik tersendiri untuk subduction earthquakes. Kejadian oceanic plateaux seperti Roo Rise yang kini ditemukan banyak tersebar di atas kerak samudera Hindia tidak menutup kemungkinan bahwa dulu pun begitu (the present is the key to the past). Oceanic plateaux ini tentu merupakan buoyant object yang sulit tersubduksi karena density-nya yang relatif lebih ringan daripada sekelilingnya. Saat konvergensi terjadi, oceanic plateaux yang sulit masuk ke dalam zona subduksi ini barangkali akan membuat coupling yang signifikan pada interface subduction yang pada saatnya akan menyebabkan akumulasi gaya yang sangat besar yang bila tak tertahankan lagi lalu akan menimbulkan gempa dengan magnitude yang signifikan juga (> 8 M). Mantle tomography juga memperlihatkan pola slab di bawah Jawa yang tidak mulus, tetapi di beberapa tempat mengalami break-off, sehingga membuat penampilan kehadiran beberapa slab windows. Beberapa ahli (misalnya Hall, 2010) memikirkan bahwa slab break-off atau windows ini akibat buoyant oceanic plateaux tadi yang tidak mau masuk ke dalam zona subduksi, dan telah menggunakan mekanisme ini sebagai penjelasan bahwa kita punya beberapa gunungapi potassic dan ultra-potassic di utara Jawa seperti Muria dan Ringgit Beser. Tetapi saya lebih yakin bahwa gunungapi2 ini mendapatkan karakternya yang keluar dari karakter dominan calk-alkaline di tengah Jawa karena terjadi oleh sesar besar di area back-arc volcanism, jadi bukan subduction-related volcanism. Dari sebaran episentrum di selatan Jawa, juga nampak cukup signifikan suatu area sepi seismik (seismic gap zone) yang kebetulan berada di sebelah selatan sesar mendatar dextral yang cukup signifikan dan kelihatannya aktif bergerak, yaitu Sesar Pamanukan-Cilacap. Seismic gap zone bukankah area potensial untuk terjadi gempa signifikan pada masa mendatang. Barangkali perhatian perlu dibagi juga ke area ini, di samping sesar-sesar regional lainnya yang kita tahu juga aktif seperti Sesar Cimandiri dan Sesar Lembang. Salam. Awang -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: 21 Maret 2011 9:09 To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Gempa Jepang (Tohoku Chihou Taiheiyou Oki Jishin) Pak Irwan, Pak Danny, ... dkk milis, Implikasi lebih luasnya dr analisis terbuka anda2 adalah: mulai perhatikan juga Jawa bagian selatan!! Jangan hanya konsentrasi di barat Sumatra saja.. Bgmn kabar stasiun2 gps kita di Jawa bagian selatan? Bgmn kabar riset2 paleotsunami dan paleoearthquake sepanjang pesisir Jawa selatan? Sejauh mana kita monitor, kita deskripsi, kita uraikan kondisi patahan2 besar di onshore Jawa selatan: yg kemungkinan juga terhubung menerus ke arah offshore dan bisa jadi faktor penguat utama gerakan pelepasan energi gempa yg terkunci? Sesar Cimandiri, kelompok sesar2 di kelurusan Pamanukan-Cilacap, di kelurusan Muria-Kebumen Karanganyar, Sesar Grindulu Pacitan, sesar tua yg membatasi tinggian Tulungagung-Mojokerto-JS1, Sesar Lumajang-Madura.... GREAT (Graduate Research on Earthquake and Tectonics) yg juga dimotori anda2 mustinya bisa bikin workshop ttg implikasi gempa jepang ini bagi kita semua dlm waktu dekat ini,.... Juga supaya para administratur dan politisi yg punya akses dan kuasa mengalokasikan dana dan prioritas program2 jadi lebih terjaga dan mau mengerti dg teriakan anda2 semua Salam ADB Powered by Telkomsel BlackBerry®

