Pakdhe RDP menulis:
    Ini adalah buah simala kama ketika banyak orang berteriak tidak adanya 
akses 
data di Indonesia, kekhawatiran lain uncul .....
    Benarkah akses pada data harus dibuka ?

Saya kira, jika kita memutuskan, tetap ditutupnya data migas (secara terbatas) 
seperti sekarang, atau kalaupun nanti data tsb dibuka seperti di negara 
lain, hendaknya keputusan itu akan tetap dapat meningkatkan aktifitas migas di 
Indonesia.  Untuk itu, beberapa hal yang mungkin bisa kita pertimbangkan ant. 
lain adalah sbb:

1) Di era sekarang, kecenderungan data sebagai "open source" menjadi semakin 
gencar.  Persaingan sekarang diarahkan ke pemakaiannya, sedangkan data sendiri 
merupakan sumber yg tersedia bagi siapa saja.  Siapa yg bisa memanfaatkannya / 
menganalisanya secara baik, maka dia yg akan unggul.   Dalam pemikiran saya, 
untuk negara kita, mungkin ini akan lebih baik, karena dengan data yg terbuka, 
mudah didapat, negara kita mungkin akan menjadi semakin jelas (menarik/tidak 
menarik) bagi investor.  Tetapi dari segi pemakai (KPS), dengan terbukanya 
data, 
maka competitive advantage-nya akan berkurang, karena informasi yg tadinya 
hanya 
dia yg tahu, akan dengan mudah orang lain juga mengetahuinya.  Tinggal kita 
berhitung saja, untuk kita sebagai negara, mana yg kiranya akan lebih 
menguntungkan.

2) Jika keterbukaan data disetujui, kewajiban menyerahkan data kepada 
pemerintah 
hendaknya tetap diberlakukan.  Bagaimanapun data migas Indonesia adalah milik 
pemerintah RI.  Dengan demikian, PND tetap punya peluang lebih baik 
dibandingkan Petroconsultant, IHS Energy, atau WoodMackenzie dalam berperan 
menjadi sumber data yg lengkap bagi investor Migas di Indonesia.  Produk PND 
(Inameta) yg berisi peta lokasi yg bisa di "drill-down" men-display-kan 
informasi di lokasi tsb., tetap berpotensi besar untuk bisa melebihi "Probe" 
produk dari IHS, untuk area Indonesia.

3) Hal yang juga perlu dipertimbangkan dalam memutuskan terbuka atau 
tertutupnya 
data adalah kemajuan teknologi masa kini, yang dengan satu single key stroke 
saja pada komputer, data sudah bisa terkirim kemana-mana.  Jika hendak tetap 
ditutup, hendaknya perangkat hukum dan counter secara technologynya terus 
dikembangkan dan diimplementasikan.  Jika hendak dibuka,  benefit2 yang hilang 
karena data jadi terbuka hendaknya juga sudah dipikirkan kompensasinya.  
Silahkan ...

Wassalam,
Harry Kusna

________________________________
From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
To: [email protected]; Indoenergy <[email protected]>; IAGI 
<[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>
Sent: Wed, May 25, 2011 10:10:11 AM
Subject: [iagi-net-l] Re: [Geologi UGM] Perusahaan Asing Mengancam Kedaulatan 
Indonesia?

2011/5/25 wahyu aji <[email protected]>
>
> tenang pakdhe..
> ada AA yg bakal menangani
> kekekekeke
> eniwei, di tempat saya kerja skrg, yg namanya data susahnya minta ampun, 
> selain 
>bahasa dewa yg dipake, informasi strategis di migas dilindungi pemerintah 
>sampe 
>ke bawah dgn serius.
---

Betul sekali,
DATA di tempat lain (termasuk China tempat Mas Seno bekerja) saat ini banyak 
yang DILINDUNGI, karena dari data inilah munculnya minat untuk menguasai. China 
memang sangat ketat dengan data ini. Bahkan data yang ada di public domain 
(Metadata) juga tidak diperbolehkan di"share" Itulah sebabnya salah satu staff 
IHS (penyedia data scouting) di China sempat masuk penjara karena menjual data 
yang di Indonesia sudah public domain. (lihat kutipan beritanya dibawah)

Ini adalah buah simala kama ketika banyak orang berteriak tidak adanya akses 
data di Indonesia, kekhawatiran lain muncul .....Benarkah akses pada data harus 
dibuka ?

RDP

===
Beritanya di Aljazeera

Chinese court imprisons US citizen
Geologist Xue Feng, detained in 2007 for "betraying state secrets", loses 
appeal 
to get eight-year jail term overturned.
Last Modified: 18 Feb 2011 05:26 GMT
Feng's case has highlighted the risks of doing business in China for those 
holding foreign nationalities [GALLO/GETTY]

A court in Beijing has upheld the conviction of an American geologist on the 
charge of betraying state secrets.

Xue Feng was arrested in November 2007, and tried to appeal against a 
conviction 
that resulted in an eight-year prison sentence handed down in July last year.

Jon Huntsman, the US ambassador, attended the hearing on Friday, and urged the 
Chinese government to release Xue.

"We ask the Chinese government to consider an immediate humanitarian  release 
of 
Xue Feng," he said.

"I am extremely disappointed in the outcome when you consider that the charges 
are very questionable."

Xue, a Chinese-born US citizen working for a private firm, was first detained 
over the sale of a database on China's oil industry.

US concerns

At the time of Xue's arrest, he was working for IHS Inc., a US energy and 
engineering consulting firm . Both Xue andIHS have said they believed the 
database to be a commercially available product.

According to the Dui Hua Foundation, a rights group, it was only classified as 
a 
state secret after Xue had  bought it.

The US has repeatedly raised concerns over whether Xue's rights were being 
 protected and whether he had access to a fair trial.

The embassy previously said that the case was not handled with the 
"transparency 
that would befit a nation which tells us that the rule of law is paramount in 
all judicial processes".

Barack Obama, the US president, has personally raised Xue's case with  Hu 
Jintao, his Chinese counterpart.

Xue's arrest and other cases have cast a spotlight on the dangers of doing 
business in China, especially for those born in China but who have been 
educated 
abroad and taken a foreign nationality.

Kirim email ke