Pak Samodro,

Sebenernya baik teori dipicu gempa maupun dipicu pemboran atau
dua-duanya, ujung2-nya cuma pendekatan saja...seperti asumsi diatas
asumsi (seperti kata Om Danny) karena yang dibicarakan adalah kondisi
bawah permukaan yg tidak kasat mata hehe....

kalo mau agak "real"...ya harus dilakukan akuisisi seismik 3D Hi-Res
(ide lama sebenernya)....ntar bisa dimodelkan itu struktur-nya,
sekalian bisa dihitung volume mud-nya....cuma ya siapa yang mau
sponsorin? :)

-masih agak penasaran ada openhole vertikal 2800m-

rgds,
YP

2011/6/6 kartiko samodro <[email protected]>:
> LUSI : Pengaruh fault terhadap penyebaran erupsi ?
>
>
>
> Dari beberapa diskusi tentang gempa dan ugbo ada beberapa hal yang masih
> menimbulkan pertanyaan :
>
> Kalau memang kecil kemungkinan penyebabnya hanya karena gempa (seperti
> ditulis oleh Pak Danny) dan kecil kemungkinan penyebabnya hanya karena
> blowout  (seperti ditulis Pak Awang : underground blowout baik di onshore
> (Sumatra Utara) maupun di offshore (Kalimantan Timur), efek ke permukaannya
> adalah semburan lumpur yang membentuk pola lingkaran mengelilingi sumur. Itu
> tak terjadi di area sumur Banjar Panji-1) .
>
> Lalu bagaimana kemungkinannya ?
>
>
>
> Besarnya pengaruh UGBO dan gempa terhadap sumur BJP-1 , mungkin baru bisa
> dijawab setelah kita bisa menghitung  pengaruh  ECD terhadap LOTnya  dan
> pengaruh gaya gempa terhadap kekuatan batuan/LOT (menunggu data datanya..)
>
>
>
> Lalu kalau UGBO dengan bentuk melingkar yang tidak terjadi di sumur BJP-1 ?
>
>
>
> Di paper Manzini tahun 2009 fig 1. digambarkan bahwa sesar watukosek
> memanjang berarah NE-SW  dari selat madura di utara dan berhenti (atau
> menerus ?) di bawah komplex Gunung Penanggungan dan Kelud). Dan diplot juga
> berbagai lokasi dari mud volcano yang menurut saya lebih cenderung
> penyebarannya berarah E-W daripada mengikuti sesar watukosek (NE-SW).
>
>
>
> Di paper Manzini tahun 2007 fig 4 diplot lokasi lokasi semburan di sekitar
> BJP-1, yang seperti membentuk pola NW-SW (watukosek ) dan dari 9 point
> semburan, 5 semburan utama berada di lokasi yang berdekatan dengan sumur
> BJP-1 (3 S-W BJP-1 dan 2 N-W BJP-1)
>
>
>
> Di paper Manzini tahun 2009, Fig 6 ditunjukkan beberapa section E-W di
> sekitar sumur BJP-1 : section 1.5 km di utara BJP-1( Fig 6C ), section
> melewati BJP-1 ( Fig 6B) dan section 4 km di selatan BJP-1 (Fig 6D).
>
> Yang menarik dari section section  ini adalah: ditemukannya banyak fault
> picking di utara di mana posisi projection  BJP-1 berada di tengah area
> fault tersebut (Fig 6. C) dan di selatannya fault itu bergeser ke barat dari
> projection sumur BJP-1 (Fig 6.D) , sementara section di posisi BJP-1 (Fig
> 6.B) malah tidak ada fault yang dipicking. Pertanyaan yang timbul adalah
> bagaimana posisi BJP-1 terhadap fault fault tersebut ? Apakah BJP-1 memotong
> bidang bidang fault tersebut atau memang fault fault itu hanya berada di
> utara dan selatan BJP-1 sementara di lokasi BJP-1 tidak ada ?
>
> Tidak adanya posisi dan  arah section  di peta menyulitkan untuk
> membayangkan bagaimana bentuk dan orientasi dari fault fault ini.
>
> Asumsi bahwa section di utara dan selatan  BJP-1 benar benar berarah E-W
> dan BJP-1 benar benar diprojection tegak lurus terhadap section utara
> selatan tersebut, maka seharusnya  BJP-1 memotong beberapa fault yang
> berarah NE-SW (berdasarkan section di utara dan selatan BJP-1),  sementara
> section di sumur BJP-1 bukan tidak ada faultnya tapi karena tidak dipick
> saja. Kalau memang hal ini yang terjadi maka arah erupsi di Manzini tahun
> 2007 fig 4 jadi sesuai dengan arah penyebaran faultnya.
>
>
>
> Tapi bila membandingkan dengan peta struktur G Horizon ( top upper kalibeng
> ?)  di Sawolo 2010, Orientasi faultnya cenderung berarah NW-SE bahkan W-E .
> Orientasi tinggian (pop up) yang dibor oleh sumur Wunut, Banjar Panji,
> Tanggul Angin dan Porong sendiri cenderung berarah W-E.  Sayangnya hanya 1
> map saja yang ditampilkan di paper Sawolo ini sehingga kita tidak bisa
> memperkirakan arah arah faultnya secara vertikal atau apakah memang BJP-1
> menembus fault fault ini atau tidak.
>
>
>
> Saya kira untuk mengetahui mengapa UGBO di BJP-1 tidak berbentuk lingkaran ,
> dapat ditelusuri dengan melihat secara lebih detail apakah sumur BJP-1
> menembus fault dan bagaimana arah faultnya. Karena sistem fault yang terbuka
> dapat juga menyebabkan loss, apalagi bila ECD yang kita gunakan saat
> drilling melebihi LOT atau kekuatan batuan yang ada. Lalu bisa dipetakan
> juga apakah fault fault yang ditembus BJP-1  tersebut juga mengontrol
> penyebaran erupsi lumpur yang terjadi.
>
>
>
> Saya coba bandingkan dengan ugbo di offshore mahakam, umumnya ugbo terjadi
> di formasi yang relatif dangkal sehingga batuannya kurang terkonsolidasi
> dengan baik serta tidak ada kontrol struktur, sehingga mungkin saja bahwa
> ugbo itu jadi lebih melingkar (isotropik)
>
>
>
> Dari beberapa sumur di paper Sawolo 2010, ada beberapa sumur yang jaraknya
> berdekatan dengan BJP-1 dan sepertinya menembus struktur yang sama,  seperti
> Wunut ( berjarak 2 km, Tanggul Angin 4 km dan Porong 7 km).
>
> Sumur sumur tersebut dapat digunakan untuk membandingkan berbagai drilling
> parameter yang digunakan dan juga membantu untuk mengkonfirmasi kondisi
> geologi yang ditembus oleh BJP-1.
>
>
>
> Mungkin ada pendapat dan koreksi dari rekan rekan lainnya.
>
> 2011/6/1 kartiko samodro <[email protected]>
>>
>> Om Vicky,
>>
>> Selain itu coba dibongkar selama drilling,  berapa flowrate yang digunakan
>> sehingga kita benar benar bisa menghitung ECDnya....
>> Bisa jadi tanpa goyangan gempapun kalau ECDnya melewati ambang LOTnya bisa
>> orgasme juga.....
>> Karena  sudah di ujung, goyangan kecil hanya mempercepat prosesnya
>> saja....
>>
>> 2011/6/1 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
>>>
>>> Sebenernya yang perlu diteruskan dari analisa Ferdi adalah pendekatan
>>> fisis secara numerik.
>>> Secara fisis Kang Danny sudah mengatakan adanya rangsangan (induced)
>>> goyangan itu sebesar :
>>>
>>> 2006 – Mw=6.4 - Gempa Bantul (Patahan Opak) –jarak= 276km   , pga di
>>> Porong = 0.008 g
>>>
>>> Catatan:  0.03 g ~ MMI V,  0.01 g ~MMI III, pga = peak ground
>>> acceleration
>>>
>>> Nah sekarang tinggal melakukan uji engineering lagi. Apakah besaran
>>> 0.008g ini mampu menyebabkan UGBO seperti yang dituliskan Ferdi dibawah ?
>>>
>>> Kalau ada numeric analysis (pendekatan fisis) nya maka memang logis
>>> mengatakan gempa merangsang (induced) terjadinya UGBO.
>>>
>>> Kalau rangsangan ini secara fisis ini tidak dimungkinkan ya mesti mencari
>>> hal lain lagi.
>>>
>>> salam
>>>
>>> RDP
>>>
>>>
> 2011/6/1 kartiko samodro <[email protected]>
>>
>> Dear Om Cepi
>>
>> Saya tidak mengatakan hanya gempa yang menyebabkan lusi , gempa hanya
>> mempengaruhi struktur batuan...
>> Parameter  drilling di batas safety margin ? Tiap company punya regulasi
>> masing masing (mungkin yang masih bergerak di bidang operation bisa lebih
>> menjawabnya,  coba om Cepi kontak om Baginda).
>>
>> Tapi logikanya sebelum kita membuat drilling program,  rekan rekan
>> drilling akan meminta data LOT, Pressure dari surrounding wells (baik explo
>> maupun development)  untuk mendesign semua drilling parameter (Mud weight,
>> Flow rate, ECD, casing depth dsb ). Dan umumnya kita selalu memakai safety
>> margin agar kita tidak terlalu dekat dengan LOTnya ( mis : ECD harus
>>  0.1/0.2 gr/cc below LOTnya) karena bisa saja suatu ketika membutuhkan
>> menambah flowrate untuk mengangkat cutting sehingga ECDnya bertambah besar.
>> Dan itu sebabnya di setiap akhir phase drilling sebelum melanjutkan ke phase
>> selanjutnya kita lakukan FIT/LOT untuk mengkonfirm safety drilling kita.
>>
>> Untuk kasus  BJP-1 ini , saya tidak tahu apakah sebelum didrill sudah ada
>> data pressure dari well sekitarnya mis : porong-1, dan apakah dari seismic
>> bisa diprediksi kedalaman overpressurenya ( umumnya kalau memang
>> overpressure karena undercompaction shale yang tebal, akan nampak karena
>> velocity di overpressure shale juga berbeda --> ini mah bidangnya om cepi).
>> Kalau data regional sudah dipertimbangkan dan dari seismicnya juga
>> terlihat zone overpressure shalenya maka prediksi dan programnya harusnya
>> lebih matang.
>>
>> Mangkanya saya agak heran ketika membaca di davies et al tentang drilling
>> parameter yang digunakan  ketika drilling BJP-1,
>> ketika saya hitung ECDnya  sama dengan LOTnya ...mangkanya saya
>> berkesimpulan ini mah digoyang sedikit langsung orgasme....
>> Masalahnya di paper paper yang ada tentang lusi,  ECD ini tidak pernah
>> dibahas....
>> 2011/6/1 M-Adam CEPI <[email protected]>
>>>
>>> Pak Ferdi,
>>>
>>>
>>>
>>> Berarti anda mengatakan gempa lah yang menyebabkan Lusi orga.. (sudah
>>> ah)… nyembur. Karena kalau tidak ada gempa, parameter drilling masih
>>> diambang batas safety margin (yang ini masih ada terusannya).
>>>
>>> Berikutnya apakah ada aturan hukum tetap mengenai parameter drilling yang
>>> Pak Ferdy sebutkan dibawah. Kalau tidak ada ya tidak bisa dibuktikan
>>> pemboran melanggar hukum dong,… J
>>>
>>>
>>>
>>> Salam
>>>
>>>
>>>
>>> Try to play devil’s advócate
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> From: kartiko samodro [mailto:[email protected]]
>>> Sent: 01 June 2011 09:29
>>>
>>> To: [email protected]
>>> Subject: Re: [iagi-net-l] To Danny Hilman : Mampukah gempa Yogya memicu
>>> Lusi ?
>>>
>>>
>>>
>>> Rekan rekan
>>>
>>>
>>>
>>> Dengan data yang terdapat di paper davies et al
>>>
>>>
>>>
>>> Mau bertanya pada rekan yang masih aktif di operation / drilling
>>> kemungkinan berikut :
>>>
>>>
>>>
>>> hasil LOT max  16.4 ppg   : 1.96 gr/cc
>>>
>>>         FIT           15.3 ppg  : 1.83 gr/cc
>>>
>>> While drilling MW used : 14.7 ppg : 1.76 gr/cc
>>>
>>>
>>>
>>> Di paper yang ada, tidak pernah dibahas tentang ECD (Equivalent
>>> Circulation Density).
>>>
>>> Menggunakan rule of thumbs( tidak ada data flow rate dsb)  dengan MW 1.76
>>> gr/cc ,
>>>
>>> ECDnya bisa sampai 1.96 gr/cc (MW used+ 0.2) -----> dekat sekali dengan
>>> nilai LOTnya...
>>>
>>>
>>>
>>> digoyang dikit oleh gerakan gempa, nilai real LOTnya bisa berubah dan
>>> turun ....berhubung sudah diujung dan limitnya terlewati,
>>>
>>> jebollah pertahanan dan langsung e......(terusin sendiri  ya)
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> 2011/6/1 nyoto - ke-el <[email protected]>
>>>
>>> Bagus sekali, terima kasih pak Danny dengan penjelasannya yg sangat
>>> comprehensive biarpun secara umum, tetapi semua sangat logic yg ditambah
>>> dengan expertise serta pengalaman tentang gempa di Indonesia. Sangat
>>> mengesankan pembahasannya terutama hubungan antara gerakan2 tektonic dan
>>> gempa2 yg terjadi yg saling memicu gempa2 berikutnya tetapi masih tergantung
>>> dari "kematangan" / keadaan "horny" suatu blok atau lempeng.
>>>
>>>
>>>
>>> Pembahasan tentang hubungannya antara patahan Watukosek dengan gempa
>>> Yogya dan lahirnya Lusi, yg menyimpulkan bahwa kecil kemungkinannya gempa
>>> Yogya bisa menyebabkan lahirnya Lusi, tinggal reponse dari pak Awang yg
>>> mengklaim teori itu (gempa Yogya sebagai pemicu lahirnya Lusi), monggo pak
>>> Awang ... juga, tidak bisa dieliminer saran2 pak ADB tentang kronologis &
>>> geometris terjadinya masing2 phenomena2 tsb, hubungan antara gempa Yogya,
>>> terjadinya drilling problem di dalam sumur BJP-1 (kick & lost & stuck pipe
>>> etc., kapan tepat waktunya & apa yg sebetulnya telah terjadi dsb.), apa
>>> hubungannya dengan aktifasi sesar Watukosek (?) yg kemudian diteorikan
>>> menjadi pemicu terjadinya semburan lumpur lapindo dsb, dsb...
>>>
>>>
>>>
>>> Malah belakangan muncul teori tektonik sebagai pemicu Lusi, nah lho
>>> tambah ruwet lagi ya ?
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> wass,
>>>
>>> nyoto
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> 2011/5/31 Danny Hilman Natawidjaja <[email protected]>
>>>
>>> Halo Kang Sunu,  Masih melototin geliatnya Si Lusi toh J
>>>
>>> Tadinya ingin baca- baca dulu makalah-makalah mereka sebelum
>>> mendiskusikannya.  Tapi okay lah kalau sekedar tinjauan umum.  Sebelumnya,
>>> saya kira perlu kita consider bahwa kalaupun LUSI itu tidak ada kaitannya
>>> dengan gempa Bantul tidak berarti bahwa kejadian ini bukan bencana alam.
>>> Menurut hemat saya, apabila sudah jelas bahwa tidak ada kesalahan dalam
>>> prosedur pemboran maka LUSI itu secara hukum bisa dianggap sebagai bencana
>>> alam (apapun penyebabnya) meskipun kejadian mud volcano ini barangkali
>>> memang benar dipicu oleh pemboran. Yang harus dijaga, kejadian ini tidak
>>> boleh terulang lagi dengan cara lebih memahami prosesnya dan barangkali ada
>>> prosedur pemboran yang harus diperbaiki atau ditambah (aspek mitigasi
>>> bencana alamnya).
>>>
>>>
>>>
>>> Fenomena yang dikemukakan Neng Amanda adalah hal biasa.  Waktu seminar
>>> Lusi di Borobudur duluu Si Jim Mori juga mempresentasikan hal sama tapi pake
>>> contoh dari Jepang.  Sebetulnya tidak perlu jauh-jauh cari contoh fenomena
>>> ini ke Amerika dan Jepang, di Indonesia juga banyak, khususnya di Sumatra
>>> karena saya lama meneliti di situ.  Jadi, adalah fenomena yang umum
>>> ditemukan bahwa suatu kejadian gempa dapat memicu aktifitas gempa/tektonik
>>> dan volkanik di sekitarnya, tidak perlu dibuktikan lagi.  Tapi yang penting
>>> untuk kita pahami adalah bahwa  “FENOMENA/PRINSIP” ini SAMA SEKALI BELUM
>>> MEMBUKTIKAN adanya keterkaitan antara gempa Jogya 2006 dengan peristiwa
>>> munculnya Mud Volcano di Porong,  Setahu saya dua pakar itu (Mori dan
>>> Clarke) sama-sama mengatakan bahwa mereka tidak bilang bahwa LUSI dipicu
>>> Gempa Bantul 2006, harus diteliti lebih lanjut dulu.
>>>
>>>
>>>
>>> Sebagai ilustrasi, contoh dari Sumatra: Gempa Aceh 2004 (Mw9.2) memicu
>>> Gempa Nias 2005 (Mw8.7).  Dua gempa besar ini juga memicu banyak gempa-gempa
>>> kecil di Patahan Sumatra.  Kemudian selanjutnya dua gempa ini juga bisa
>>> dibilang memicu gempa  Bengkulu 2007 (Mw8.4).  Demikian juga gempa Padang
>>> 2009 (Mw7.6) memicu Gempa di patahan Sumatra dekat Danau Kerinci (Mw6.6)
>>> yang berjarak sekitar 250km dari Padang setelah 12 jam kemudian.  Yang aneh,
>>> Segmen Megathrust Mentawai yang sebetulnya sudah stress banget kok masih
>>> diam saja digoyang gempa M>8 tiga kali, M>7 puluhan kali, dan M>6 ratusan
>>> kali....
>>>
>>> Gempa Liwa 1933 (M7.5) dalam 14 hari memicu letusan phreatic di Lembah
>>> Suoh karena Suoh ini memang persis diujung selatannya segmen patahan yang
>>> bergerak, yaitu di zona transtension.  Demikian juga Gempa Singkarak Maret
>>> 2007 (Mw6.4) memicu kenaikan aktifitas vulkanik Gunung Talang.
>>>
>>> NAMUN, tentu  jauh lebih banyak patahan-patahan dan gunung-gunung api
>>> YANG TIDAK TERPICU.
>>>
>>>
>>>
>>> Jadi, ada berbagai persyaratan yang harus dibuktikan bahwa pemicuan itu
>>> memang terjadi, tidak bisa main “copy – paste” saja.
>>>
>>> Beberapa parameter dan prinsip  dasarnya adalah:
>>>
>>> -          Seberapa besar gempanya
>>>
>>> -          Seberapa jauh jarak sumber gempa ke lokasi
>>>
>>> -          Suatu gunung api hanya dapat dipicu oleh gelombang gempa
>>> apabila gunung itu memang sedang dalam fasa aktif magmanya, tidak bisa
>>> sekonyong-konyong meletup-letup.
>>>
>>> -          Suatu patahan hanya dapat dipicu untuk bergerak  apabila
>>> patahan itu memang termasuk patahan aktif dan kebetulan akumulasi
>>> stress/strainnya sudah cukup tinggi.  Tentu tidak bisa patahan yang sudah
>>> mati sekonyong-konyong bisa bergerak karena dipicu gempa, emangnya ada gempa
>>> zombie J.  Dengan kata lain, istilah pemicuan gempa artinya hanya membuat
>>> akumulasi strain di suatu patahan menjadi terlepas (lebih cepat) karena
>>> digoyang  getaran gempa.
>>>
>>> -          Demikian juga dengan Mud Volcano.  Gempa atau gerakan tektonik
>>> sekalipun tidak bisa sekonyong-konyong memicu sebuah MV,kecuali kalau memang
>>> sudah ada ‘bahan’nya, artinya ada “lapisan very
>>> unstable-saturated-overpressure” yang bisa meledak kalo digoyang.  Mungkin
>>> analoginya adalah seperti peristiwa liquifaction yang banyak terjadi di
>>> wilayah gempa, hanya skala dan kedalamannya beda.
>>>
>>> Demikian ulasan prinsip-prinsip dasarnya.  Sekarang kita lebih fokus ke
>>> si LUSI.  Kita diskusikan dengan dialog saja deh biar enak.
>>>
>>>
>>>
>>> Q: Apakah Gempa Bantul  2006 (Mw6.4) dapat memicu kejadian Mud Volcano di
>>> Porong yang jauhnya sekitar 280 km?
>>>
>>> A: Gempa Bantul itu hanya menghasilkan getaran gempa sekitar 0.008g saja
>>> (~ MMI I atau II) .  Sedangkan sudah banyak gempa-gempa yang lebih
>>> besar/dekat di sekitar Porong yang mmberikan getaran gempa jauh lebih besar,
>>> seperti terlihat pada data di  tabel yang saya buat di bawah.  Bahkan
>>> menurut catatan sejarah pernah terjadi gempa besar pada tahun 1850-an yang
>>> memberikan intensitas gempa di wilayah ini mencapai MMI VII.  Jadi, kalau
>>> gempa Bantul 2006 ini dianggap dapat memicu MV porong kenapa sebelumnya yang
>>> malah tiga kali lipat lebih besar tidak memicu?
>>>
>>>
>>>
>>> 1867 – Mw>6.4 - Gempa Bantul (Patahan Opak) – jarak= 276km ,   pga di
>>> Porong > 0.008 g
>>>
>>> 1937 – Mw=7.2 - Gempa Zona Subduksi – Selatan Jatim – Jarak= 250km,   pga
>>> di Porong = 0.03 g
>>>
>>> 1967 – Mw>6.8 - Gempa Zona Subduks – Selatan Jatim – jarak= 150km,   pga
>>> di Porong = 0.03 g
>>>
>>> 1977 – Mw=8.1 - Gempa NormalFault-Selatan Lombok – jarak= 632km   , pga
>>> di Porong = 0.03 g
>>>
>>> 1994—Mw=7.8- Gempa Zona Subduksi di Selatan Jatim – Jarak= 300km, pga di
>>> Porong= 0.03 g
>>>
>>> 2006 – Mw=6.4 - Gempa Bantul (Patahan Opak) –jarak= 276km   , pga di
>>> Porong = 0.008 g
>>>
>>> Catatan:  0.03 g ~ MMI V,  0.01 g ~MMI III, pga = peak ground
>>> acceleration
>>>
>>>
>>>
>>> Q: Bagaimana kalau misalnya saat gempa Bantul terjadi kebetulan si LUSI
>>> ini “lagi horny-horny”nya sehingga disentuh dikit langsung ‘orgasme’ hayoo?
>>>
>>> A: O..walah, jangan porno ah, maksudnya ibarat orang yang dibawa ke bibir
>>> jurang sehingga dengan sentuhan sangat halus sekalipun bisa limbung terus
>>> jatuh juga ya? J.  Pertanyaannya apakah ada proses alam yang dalam kurun
>>> waktu 12 tahun (sejak 1994) bisa membawa LUSI ke tahap very very fragile,
>>> ataukah lebih masuk akal kalau ada intervensi non-alamiah (baca: pemboran)
>>> yang membawanya si LUSI ini menjadi siap orgasme?...eeeh ikut-ikutan porno
>>> nih.
>>>
>>>
>>>
>>> Q: Tapi kata orang bukan cuma goyangan gempa yang memicu LUSI tapi
>>> goyangan itu membuat“REAKTIFASI” Sesar (Watukosek) terus gerakannya bikin si
>>> LUSI engga tahan  gitu lho?
>>>
>>> A:  Ente pantang nyerah rupanya ya.  Tuh liat si Amanda yang nyebar
>>> gossip aja mesem-mesem denger omongan ente yang napsu gitu J  Gini ya, buang
>>> itu istilah REAKTIFASI,  Engga laku di sini.  Reaktifasi itu terjadi apabila
>>> sesar yang sudah lama mati karena posisinya sudah engga sesuai dengan medan
>>> tektoniknya kemudian setelah pergerakan tektonik selanjutnya selama
>>> berjuta-juta tahun patahan tersebut kembali ke posisi tertentu yang
>>> “favourable” lagi dengan tatanan tektonik yang berlaku sehingga menjadi
>>> aktif lagi.  Kita engga ngomong perubahan tatanan tektonik atau proses
>>> jutaan tahun di sini.
>>>
>>> Q: Okay deh, maksud saya apakah gempa Bantul itu bisa memicu Sesar
>>> Watukosek  dan apakah kemudian gerakan si Watukosek ini bisa  memicu LUSI?
>>>
>>> A:  Weleh-weleh, bener-bener  ya...., ini namanya hipotesa berdasarkan
>>> ‘asumsi di atas asumsi’.  Saya tanya balik deh mendingan:
>>>
>>> -          Apakah SesarWatukosek itu sudah terpetakan dengan baik? Kalau
>>> emang iya ada, apakah termasuk sesar aktif? Kalau jawabannya “belum ada
>>> bukti keaktifannya” maka hipotesa ini gugur sampai di sini saja (sorry-sorry
>>> Jack!).  Susah kalau membuat hipotesa berdasarkan asumsi yang belum jelas.
>>> Okay lah, kita lanjutkan berandai-andai. Kalau ternyata nanti ada yang bisa
>>> membuktikan bahwa Si Watukosek ini aktif, inipun belum selesai,  kita masih
>>> harus membuktikan bahwa Watukosek itu memang terpicu oleh gempa Bantul.
>>> Terus kita andaikan lagi,  kalau ternyata nanti ada juga orang yang bisa
>>> buktikan bahwa si Watukosek ini memang terpicu dan bergerak di diantara
>>> kejadian Gempa Bantul dan Semburan LUSI, inipun  belum juga cukup buktinya.
>>> Orang masih harus membuktikan bahwa gerakan si Watukosek ini  dapat membuat
>>> si LUSI muntah (catatan: belum ada contoh kasusnya)....  Naaah  jadi panjang
>>> kan PR-nya.   Makanya bikin hipotesa jangan yang aneh-aneh...bikin repot
>>> sendiri....
>>>
>>>
>>>
>>> Q :  Tapi kata Pak Awang ada yang menemukan ‘gejala-gejala’ di sepanjang
>>> kelurusan yang diduga adalah Sesar Watukosek, gimana tuh?
>>>
>>> A :  He he he, salut deh atas semangatnya J  Tapi kata ADB dirinci dulu
>>> gejala-nya apa,  terus kronologisnya gimana.  Jangan-jangan gejala yang
>>> dimaksud cuma liat ada lumpur-lumpur yang menyembur-nyembur keluar
>>> disepanjang kelurusan yang dimaksud.  Kalau itu sih belum jadi bukti bahwa
>>> Sesar Watukosek aktif dan bergerak, bisa saja cuman lumpurnya aja yang bocor
>>> ke sepanjang ‘kelurusan’ yang diduga jalur sesar itu, iya toh?
>>>
>>>
>>>
>>> Q:  Wuahh, tambah pusing nih.  Jadi fakta apa yang harus dicari untuk
>>> membuktikan Sesar Watukosek itu aktif?
>>>
>>> A:  Keaktifan Sesar itu bisa dikenali dengan meneliti bentang alam (yang
>>> khas-morpho-tektonik) disepanjang jalurnya akibat pergerakan yang terjadi.
>>> Atau  dari seismisitas-nya yang terekam di jaringan alat seismik.  Atau bisa
>>> dari sejarah pernah ada gempa (besar) di sepanjang jalurnya.  Atau bisa dari
>>> data pre-historic gempa kalau sudah dilakukan penelitian paleoseismologi di
>>> situ.  Kemudian kita bisa juga mendeteksi langsung pergerakannya dengan
>>> metoda pengukuran GPS geodesi.
>>>
>>>
>>>
>>> Q: Kalau untuk membuktikan bahwa Sesar watukosek itu terpicu dan bergerak
>>> diantara Gempa bantul dan Semburan LUSI bagaimana?
>>>
>>> A:  Bukti yang “straight forward” ada dua: 1. Ada data rekaman gempa yang
>>> terjadi di Sesar Watukosek (gempa itu terjadi karena gerakan deformasi
>>> elastik pada sesar), 2. Bukti  ada “fault displacement” di Watukosek, bisa
>>> berupa ditemukan “offset” atau bukti pergerakan dari rekaman jaringan GPS
>>> atau dari analisis In-SAR (memakai data image satelit).
>>>
>>>
>>>
>>> Q:  Capek juga ya jadi peneliti ...  Untung saya praktisi bukan peneliti,
>>> jadi bisa ngomong nyeplos aja engga harus mikir susah-susah gitu J  Ok.
>>> jadi sekarang masalah si LUSI ini bagusnya diapain ya?
>>>
>>> A:  Nah, seperti yang dibilang  ADB, Pak Kusumah, Pak Kendar, dan
>>> kawan-kawan lain, yang urgent adalah bagaimana mencari solusi  masalah untuk
>>> kepentingan orang banyak sekarang dan ke depan, termasuk memperkirakan
>>> sampai kapan si LUSI ini bakalan orgasme terus dan apa dampaknya serta
>>> bagaimana mengatasinya.   Tentu masalah proses dan penyebab si LUSI
>>> menggeliat ini baiknya terus diteliti, tapi bukan untuk berpolemik cari
>>> siapa yang salah, melainkan supaya kita jadi lebih mengerti tentang fenomena
>>> ini sehingga akan lebih waspada dan tidak terulang lagi kejadiannya...
>>> setuju?
>>>
>>>
>>>
>>> Q: Jadi, mungkin ya ada sesar aktif di wilayah Porong  ini?
>>>
>>> A: Ha ha ha, iya mungkin.  Wilayah ini kan ada di ZONA LIPATAN KENDENG,
>>> sedangkan dari Peta Geologi kelihatannya lipatan ini MENDEFORMASI LAPISAN
>>> KUARTER tuh.  Bahkan ada indikasi di bawah struktur lipatan-lipatan ini ada
>>> sesar-sesar anjaknya.  Jadi Jalur Kendeng ini struktur geologi yang POTENSI
>>> AKTIF.  Harus diteliti apakah struktur Kendeng ini juga mendeformasi sedimen
>>> Holosen dan Resen atau tidak?  Kalau benar, ya disebut  aktif.  Terus
>>> mungkin bisa juga dilakukan pengukuran GPS dan studi paloseismologi, dll
>>> untuk mengkaji lebih jauh
>>>
>>> Q: Terus kalau ternyata KENDENG ini aktif jadinya gimana?
>>>
>>> A: Jadinya bukan hanya masalah LUSI tapi berarti juga di bawah Kota
>>> Surabaya yang persis di ujung Timur Jalur ini  bisa terdapat  “active blind
>>> thrusts”... Kemudian kalau melihat panjang Jalur Kendeng yang mencapai
>>> seratus kilometer lebih panjangnya berarti potensi gempanya juga besaar....
>>>
>>> Q: Wuaduuh... Kok malah jadi nakut-nakutin nih!  Masalah ancaman gempa
>>> besar untuk Kota Jakarta belum selesai sudah bikin isyu baru di Surabaya...
>>> gimana seeh.  Gimana kalau benar-benar terjadi gempa besar ,  nanti “sudah
>>> jatuh ketimpa tangga” dong
>>>
>>> A:  Makanya kalo jatuh cepet bangun dan lebih siaga, jangan uyek-uyekan
>>> terus di situ J
>>>
>>>
>>>
>>> Sekian dulu....Apabila rekan-rekan punya data-data yang lebih konkrit
>>> silahkan dibuka supaya dialognya bisa berlanjut dan lebih Mak Nyus.
>>>
>>>
>>>
>>> Wassalam
>>>
>>> DHN
>>>
>>>
>>>
>>> 2011/5/31 <[email protected]>
>>>>
>>>> Kalau bisa ada rekaman yg menunjukkan semua gejala yg dituliskan Pak
>>>> Awang lengkap dg tanggal dan jam pengambilan datanya shg kerangka ruang dan
>>>> waktunya jadi bisa lebih nyata (bukan katanya), maka akan sangat bermanfaat
>>>> itu semua untuk didiskusikan.
>>>>
>>>> Data produksi dan tekanan dari sumur2 Carat dan Tanggul Angin secara
>>>> rinci mulai dr sebelum gempa 27 Mei sampai percis 29 Mei, dan bbrp
>>>> hari/minggu setelah menyemburnya lumpur akan sangat membantu apabila dibuka
>>>> dan didiskusikan interpretasinya. Apakah legitimate kesimpulan yg diambil
>>>> ttg gangguan akibat gempa tsb pd prod dan tekanan akan sangat tergantung
>>>> kerapatan dan akurasi datanya. Dan mungkin juga variable2 lainnya.
>>>>
>>>> Juga dokumentasi tentang keluarnya leleran lumpur di lokasi2 Kalang
>>>> Anyar, Pulungan, Gn Anyar sebelum kejadian semburan 29Mei tapi pasca gempa
>>>> 27Mei akan sangat membantu untuk menguatkan skenario reaktivasi sesar tsb.
>>>>
>>>> Selain itu catatan dan pengukuran keringnya sumur2 penduduk,
>>>> koordinatnya, level sebelum, saat, dan sesudah gempa 27Mei s/d 29Mei saat
>>>> semburan terjadi, tentu akan menjadi bukti yg tak terbantahkan, apalagi
>>>> kalau ada foto2nya.
>>>>
>>>> Nah, skrg kita tahu, kita bisa mulai dr mana. Menarik sekali.
>>>>
>>>> Salam
>>>>
>>>> ADB
>>>> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>>>>
>>>> -----Original Message-----
>>>> From: Awang Satyana <[email protected]>
>>>> Date: Tue, 31 May 2011 17:50:16
>>>> To: IAGI<[email protected]>; Forum HAGI<[email protected]>; Geo
>>>> Unpad<[email protected]>; Eksplorasi
>>>> BPMIGAS<[email protected]>
>>>> Reply-To: <[email protected]>
>>>> Subject: [iagi-net-l] Reaktivasi Sesar Watukosek dan Erupsi LUSI
>>>> Karena saya menyebut2 bahwa reaktivasi Sesar Watukosek telah menyebabkan
>>>> erupsi LUSI, seorang anggota milis (Pak Ferdi Kartiko Samodro) bertanya
>>>> secara pribadi bagaimana detailnya dan mengapa di sepanjang sesar itu hanya
>>>> di dekat BJP-1 saja LUSI terjadi. Berikut jawaban saya, juga ada jawaban
>>>> untuk pertanyaan yang diajukan Pak Sunu apa bisa gempa Yogya 27 Mei 2006
>>>> mereaktivasi Watukosek lalu menyemburkan LUSI. Semoga bermanfaat, walaupun
>>>> saya tahu akan mengundang perdebatan (pendapat wajar saja mengundang
>>>> perdebatan, memang begitulah halnya di dunia ilmiah).
>>>>
>>>> salam,
>>>> Awang
>>>>
>>>> ---------------------------------
>>>> Ferdi,
>>>>
>>>> Kecurigaan bahwa reaktivasi Sesar Watukosek merupakan penyebab utama
>>>> Lusi didasarkan atas gejala-gejala yang teramati di lapangan pada seminggu
>>>> pertama setelah gempa Yogya 27 Mei 2006 terjadi. Gejala-gejala itu sifatnya
>>>> tidak lokal, tetapi seperti yang Ferdi tulis di bawah, yaitu menyebar jauh
>>>> ke selatan- utara sampai sekitar 50 km, dan keunikannya adalah bahwa semua
>>>> gejala itu terdapat di titik-titik di sepanjang zona Sesar Watukosek.
>>>>
>>>> Lusi tidak lahir sendirian, ia ada saudara-saudaranya, yaitu berupa
>>>> semburan lumpur lain sebanyak empat titik, yang terjadi bersamaan di dalam
>>>> seminggu lahirnya Lusi. Kelima saudara ini terletak di sepanjang zona Sesar
>>>> Watukosek membentuk kelurusan BD-TL sepanjang hampir 1 km. Kelurusan
>>>> semburan-semburan ini dapat membuat kita berpikir ada kelurusan (sesar) di
>>>> bawah permukaannya yang mengontrolnya. Saya pernah menyaksikan underground
>>>> blowout baik di onshore (Sumatra Utara) maupun di offshore (Kalimantan
>>>> Timur), efek ke permukaannya adalah semburan lumpur yang membentuk pola
>>>> lingkaran mengelilingi sumur. Itu tak terjadi di area sumur Banjar Panji-1
>>>> (BJP-1) (Lapindo Brantas, 2006).
>>>>
>>>> Di sepanjang 50 km ke selatan-utara dari Lusi, pada hari-hari Lusi baru
>>>> lahir terdapat beberapa gejala yang menunjukkan gangguan bawah permukaan,
>>>> semua gejala berlokasi di sepanjang zona Sesar Watukosek:
>>>>
>>>> - turunnya produksi lapangan Carat (BD Lusi) dan Tanggulangin (TL Lusi)
>>>> - keluarnya leleran lumpur pada gunung-gununglumpur purba di sebelah TL
>>>> Lusi, yaitu: Kalang Anyar, Pulungan, Gunung Anyar
>>>> - keringnya sumur-sumur penduduk secara tiba2 di sekitar lokasi
>>>> gunung-gunung lumpur purba tersebut
>>>>
>>>> Semua gejala tersebut mau tak mau membuat saya lebih mencurigai bahwa
>>>> Sesar Watukosek telah bergerak dan menyebabkan perubahan fluida di zona
>>>> sepanjang 50 km tersebut. Sumur Banjar Panji (BJP)-1 berlokasi di zona 
>>>> sesar
>>>> Watukosek. Saya memandangnya ia pun sebagai korban reaktivasi sesar
>>>> sinistral ini, yaitu dengan terjadinya partial loss dan total loss dalam
>>>> beberapa menit -  beberapa jam setelah gempa Yogya 27 Mei terjadi. Loss
>>>> menunjukkan bahwa ada fracturing baru terjadi di lubang sumur. Karena semua
>>>> gejala gangguan fluida (produksi sumur menurun, semburan lumpur di area
>>>> Lusi, leleran lumpur di gunung2 lumpur lama, dan keringnya sumur2 penduduk
>>>> secara tiba2) terjadi di sepanjang zona Sesar Watukosek sekitar 50 km, maka
>>>> beralasan bila saya menyebut reaktivasi Sesar Watukosek penyebab semua ini.
>>>> Dapatkah satu titik lubang bor yang diduga terjadi underground blowout
>>>> menyebabkan semua gejala di atas dalam kelurusan BD-TL sepanjang 50 km? 
>>>> Saya
>>>> pikir tidak.
>>>>  Bagaimana kalau semua gejala itu disebabkan reaktivasi zona sesar ?
>>>> Saya pikir ya. Kita punya banyak bukti di lapangan dan bawah permukaan 
>>>> bahwa
>>>> Sesar Watukosek itu ada, dan kita juga punya bukti langsung (data 
>>>> kegempaan)
>>>> dan tak langsung (semua gejala gangguan fluida di atas) bahwa reaktivasinya
>>>> telah terjadi pada 27 Mei 2006 (gejalanya muncul setelahnya).
>>>>
>>>> Mengapa semburan Lusi justru terjadi di dekat lokasi sumur BJP-1,
>>>> sehingga membuat banyak orang curiga bahwa BJP-1 adalah penyebabnya ? Untuk
>>>> memahami ini, kita perlu melihat data seismik sepanjang utara-selatan, atau
>>>> BD-TL memotong Delta Brantas atau Kendeng Deep. Dari situ, kita akan 
>>>> melihat
>>>> bahwa di area ini banyak diapir yang telah tersembur keluar menjadi gunung
>>>> lumpur. Kendeng Deep adalah suatu cekungan ‘elisional’, yaitu cekungan yang
>>>> dicirikan oleh sedimentasi sedimen muda (Pliosen-Plistosen) yang sangat
>>>> tebal, diendapkan sangat cepat, tak terkompaksi dengan baik, tertekan
>>>> abnormal (overpressured), mobilitas tinggi karena gradien geotermal relatif
>>>> tinggi, serta terkompresi secara kuat. Di cekungan elisional, diapir dan
>>>> gunung lumpur biasa terdapat.
>>>>
>>>> Di area Lusi, kalau kita melihat data seismiknya, di situ ada
>>>> ‘piercement structure’ (seperti diapir) yang sedang naik, diapir yang belum
>>>> menjadi gunung lumpur. Pengetahuan ini baru kita ketahui setelah 
>>>> pengetahuan
>>>> tentang mud volcano berkembang pesat di wilayah ini. Piercement structure
>>>> ini overpressured, lokasinya di selatan BJP-1. Saat reaktivasi Sesar
>>>> Watukosek terjadi, terdapat release pressure melalui Sesar Watukosek, dan
>>>> materi dari piercement structure ini meyembur ke permukaan sebagai mud
>>>> eruption. Diapir akan menjadi gunung lumpur melalui konduit sesar, gunung
>>>> lumpur adalah fase ke-3 dalam rangkaian ini. (fase 1: embrio diapir, fase 
>>>> 2:
>>>> diapir, fase 3: gunung lumpur, fase 4: collapse kawah gunung lumpur). Di
>>>> area lain di sepanjang Sesar Watukosek tak terjadi mud eruption, hanya
>>>> leleran lumpur, karena gunung2 lumpur di situ sudah lama terjadi,
>>>> pressure-nya sudah hampir tak ada; tetapi piercement structure di area 
>>>> Lusi,
>>>> yang kebetulan
>>>>  lokasinya di dekat sumur BJP-1 tengah overpressured, dan mengerupsi
>>>> hebat saat ia menemukan jalan keluar berupa reaktivasi sesar. Itulah
>>>> penjelasan mengapa erupsi Lusi di dekat BJP-1 berlangsung hebat, sebab
>>>> tekanan overpressured-nya baru terbuka, sementara yang lain telah sangat
>>>> depleted sebab itu gununglumpur tua.
>>>>
>>>> Analisis saya ini didasarkan kepada analisis ruang dan waktu, ruang
>>>> geologi melihat gejala-gejala geologi yang saling berhubungan, dan kepada
>>>> analisis waktu, urutan-urutan kejadian yang semuanya teratur mengikuti 
>>>> hukum
>>>> mekanika fluida. Critical fluid pressure (tekanan fluida minimal) yang
>>>> diperlukan untuk menginduksi deformasi sedimen dan fluidization secara
>>>> dramatik dikurangi ketika strike-slip faulting aktif. Jadi kesimpulan
>>>> tulisan ini adalah: reaktivasi sesar mendatar Watukosek sebagai  triggering
>>>> mechanism untuk fluidisasi diapir menjadi erupsi gunung lumpur Lusi.
>>>>
>>>> Saya tak menemukan data sumur dan data pengeboran BJP-1 dapat
>>>> menjelaskan semua gejala yang saya terangkan di atas, sehingga saya dari
>>>> dulu berpendapat bahwa BJP-1 tak menyebabkan erupsi Lusi. Apa yang
>>>> mereaktivasi Sesar Watukosek, tentu gempa Yogya 27 Mei 2006. Sebagian orang
>>>> menganggapnya terlalu kecil magnitudenya, atau terlalu jauh lokasinya untuk
>>>> mereaktivasi Sesar Watukosek. Kata siapa terlalu jauh, kata siapa terlalu
>>>> kecil. Saya punya data yang tak pernah saya tunjukkan kepada publik bahwa
>>>> reaktivasi tektonik akibat gempa ini terekam sampai ke perairan Ujung
>>>> Pangkah di utara muara Bengawan Solo, kapal seismik Orient Explorer baru
>>>> melakukan survei seismik pada pagi hari Yogya dilanda gempa, dan pada puku
>>>> 05.54.36 WIB (27 Mei 2006) sensornya mengukur intervensi energi yang sangat
>>>> besar yang bukan berasal dari kapal seismik, ditafsirkan oleh supervisornya
>>>> bahwa ada earthquake intervention atas datanya. Gempa menggoncang 
>>>> Yogyakarta
>>>> pada 05.54.04 WIB
>>>>  (27 Mei 2006), 32 detik kemudian energinya terukur di Ujung Pangkah.
>>>> Lokasi Sidoarjo berada di kawasan propagasi energi bila dari Yogya energi
>>>> gempa berjalan ke arah Ujung Pangkah. Dan perhatikan, data sumur BJP-1
>>>> menunjukkan terjadi partial loss pada pukul 06.02.00 WIB (27 Mei 2006)
>>>> sebanyak 20 bbl dengan kecepatan 300 bbl/hari (setiap operation geologist
>>>> tahu bahwa ini loss yang tinggi). Perhatikan hubungan ruang dan waktu yang
>>>> harmonis dalam hal ini.
>>>>
>>>> Masih dalam diskusi energi gempa apakah cukup mengaktifkan Sesar
>>>> Watukosek yang lalu menyebabkan Lusi, penelitian2 terakhir (misalnya Mori
>>>> dan Kano, 2009) menunjukkan bahwa suatu gempa dapat ditimbulkan oleh stress
>>>> dengan amplitudo 0,001-1 MPa (megaPascal) pada frekuensi 0,02-0,5 Hz.
>>>> Perubahan stress dari gempa Yogya ke area Sidoarjo pada jarak 250 km dapat
>>>> dihitung menggunakan rumus Fisher et al. (2008), dengan diketahui particle
>>>> velocity (observed), S-wave velocity, dan density material, maka akan
>>>> didapatkan stress di Sidoarjo punya amplitudo 0,005-0,010 MPa dengan
>>>> frekuensi 0,3-0,5 Hz. Perhatikan bahwa nilai ini di atas ambang batas 
>>>> energi
>>>> terkecil penyebab gempa. Maka sinyalemen selama ini bahwa gempa Yogya
>>>> terlalu kecil dan jauh untuk mereaktivasi Sesar Watukosek, secara matematis
>>>> tidaklah benar.
>>>>
>>>> Sebagai geologist yang biasa dilatih dalam analisis ruang dan waktu,
>>>> sebaiknya kita melakukan analisis secara terintegrasi menggunakan berbagai
>>>> data, analisis dan pendekatan. Menganalisis data dengan benar, jauhkan
>>>> kecurigaan-kecurigaan non-sains yang tak perlu. Semoga cukup mencerahkan.
>>>>
>>>> Salam,
>>>> Awang
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> From: kartiko samodro [mailto:[email protected]]
>>>> Sent: 30 Mei 2011 8:38
>>>> To: AWANG BP Migas; Awang Harun Satyana
>>>> Subject: pergerakan sesar watukosek dan lumpur lapindo
>>>>
>>>> Pak Awang,
>>>>
>>>> Saya boleh bertanya tentang pendapat kalau lumpur lapindo disebabkan
>>>> oleh reaktivitasi sesar watukosek.
>>>>
>>>> Kalau saya melihat gambar sesar watukosek  terlihat sesar watukosek itu
>>>> cukup panjang, dan saya kira deposit overpressure shale di jatim juga cukup
>>>> luas.
>>>>
>>>> Kalau memang lumpur lapindo terjadi hanya karena reaktivitasi dari sesar
>>>> watukosek tanpa penyebab sumur BJP-1, kenapa semburannya hanya terpusat di
>>>> sekitar BJP-1 , Sementara untuk meraktivitasi sesar tentu tidak lokal
>>>> sifatnya karena gayanya juga jauh dari selatan.
>>>>
>>>> Terima kasih untuk infonya.
>>>>
>

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke