Setuju dengan pernyataan Prof. Koesoemadinata, “dalam science yang bersifat 
empiris, (ukurannya) ...apakah kita itu bisa menerima atau tidak suatu teori 
itu sebagai sesuatu yang logis/ masuk akal dan sesuai dengan apa yang kita 
amati (fosil2, batuan dsb)”, begitu tidak logis dan tidak sesuai dengan fakta 
pengamatan lapangan dengan sendirinya teori tersebut akan gugur, tetapi science 
tidak gugur hanya dengan hasil voling. Tidak perlu mempertentangkan antara 
science dengan agama. Agama adalah kebenaran mutlak bagi penganutnya sementara 
science akan bergantung kepada fakta. “Para scientist juga sadar bahwa 
‘kebenaran’ dalam science itu bersifat sesaat atau relative, karena science itu 
maju terus, berkembang terus”. Jadi wajar saja teori evolusi Darwin gugur 
dengan sendirinya apabila fakta temuan fosil berkata lain. Pembuktian bahwa 
suatu teori scientific salah harus dengan fakta bantahan, tidak dengan agama, 
kalau dengan agama nanti yang muncul adalah eyel-eyelan ☺...
Bagi penganut agama (termasuk saya) meyakini semua isi kitab sucinya 
masing-masing sebagai kebenaran mutlak, namun kita harus sadar akan kemampuan 
otak kita dalam menterjemahkan lautan ilmu didalam kitab tersebut, jangan 
sampai keterbatasan ilmu manusia yang merasa mewakili ilmu Tuhan gugur 
berkeping-keping ketika fakta ilmiah berkata lain. Ingat ilmuwan abad 
pertengahan yang digantung otoritas agama karena meyakini bahwa bumi 
mengelilingi matahari ? padahal bumi mengelilingi matahari adalah fakta tak 
terbantahkan sekarang. Apakah firman Tuhan (yang asli) memang mengatakan bahwa 
matahari-lah yang mengelilingi bumi? Saya tidak yakin. Keterbatasan ilmu 
otoritas agamalah sebenarnya yang mengatakan itu. Wallahu’alam.

Selamat berdiskusi untuk bahasan yang sangat menarik ini. Saling membantah 
adalah wajar dalam perdebatan ilmiah tetapi harus dalam koridor saling 
menghargai.

Salam,
MJP

From: Fadli Syarid [mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, July 07, 2011 3:49 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia

Masalah percaya tidak percaya tentang teori evolusi ini ada sedikit fenomena 
menarik dari hasil survey british councill.
Amerika Serikat(USA) termasuk negara yang penduduknya kurang mempercayai teori 
evolusi darwin dibandingkan negara lain yang disurvey. Hasil survenynya bisa 
dilihat selengkapnya disini
http://www.britishcouncil.org/darwin_now_survey_global.pdf


Regards
--- Pada Kam, 7/7/11, R.P.Koesoemadinata 
<[email protected]<mailto:[email protected]>> menulis:

Dari: R.P.Koesoemadinata <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Judul: Re: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia
Kepada: [email protected]<mailto:[email protected]>
Tanggal: Kamis, 7 Juli, 2011, 3:38 PM


Masalah percaya dan tidak percayanya mengenai  Theori  Evolusi saya ingin 
mencuplik dari Pendahuluan kuliah yang saya berikan untuk mahasiswa S3, yaitu 
“Falsafah Ilmu Kebumian”

Masalah ini sangat mengusik pada geoscientist kita yang juga taat beragama, 
mana yang benar, dan bagaimana seorang yang berkeyakinan beragama menghadapi 
theori ini. Pengertian kebenaran sendiri adalah merupakan masalah falsafah 
tersendiri, apa sebenarnya yang disebut ‘kebenaran’ itu?

Dalam agama Islam (sebagaimana tertera dalam Al Quar’an) kita mengenal sebagai 
3 tingkatan kebenaran: Ainal Yaqin (keyakinan benar karena kita dapat 
melihatnya, atau mengamati-nya /secara empiris), Ilmal Yaqin keyakinan (benar)  
karena didasarkan ilmu yang kita geluti, yaitu berdasarkan pengamatan dan 
penalaran logika,  ‘akal’), dan Haqqul Yaqin, kebeneran haqiqi, atau kebenaran 
absolut atau ‘the ultimate truth’ Ini adalah penafsiran saya atas ayat Alqur’an 
, mungkin ulama yang lain menafsirkannya lain.

Dalam science yang bersifat empiris yang kita geluti, masalahnya bukan kita itu 
percaya atau tidak pada suatu teori, termasuk teori evolusi, tetapi apakah kita 
itu bisa menerima (accept) tidak suatu teori itu sebagai sesuatu yang logis/ 
masuk akal dan sesuai dengan apa yang kita amati (fosil2, batuan dsb). Dalam 
science sesuatu itu dianggap ada kalau sesuatu itu dapat kita amati dengan 5 
pancaindera kita ini, tidak termasuk indra ke-6. Dengan demikian ruh, jin, 
bahkan Tuhan pun di ‘anggap’ tidak ada karena tidak dapat diamati dengan ke-5 
panca indera kita (bukan berari seorang scientist tidak boleh percaya Tuhan, 
boleh saja, tetapi itulahsalah satu rule of the game-nya, kita tidak bisa 
menjelaskan terjadinya gejala alam dengan keberadaan kekuatan supernatural 
misalnya yang tidak bisa kita amati). Tujuan science adalah menjelaskan suatu 
gejala alam secara logis berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan manusia. 
Misalnya apakah teori evolusi itu dapat menjelaskan keanekaragaman machluk 
hidup dan adanya deretan fosil-fosil yang diketemukan dalam urut2an lapisan 
batuan di kerak bumi kita ini secara logika, atau masuk akalkah teori ini. 
Science tidak mengharuskan kita untuk mempercayainya, tetapi dapat menerimanya 
sebagai sesuatu yang logis. Selain itu tujuan science itu adalah melakukan 
prediksi (atau untuk geologi: post diction), atau bermaanfaat atau dapat 
digunakan.  Misalnya saya kira evolusi itu sesuatu yang masuk akal dan dapat 
digunakan untuk penentuan umur, korelasi dengan menggunakan fosil foram, 
misalnya. Para scientist juga sadar bahwa ‘kebenaran’ dalam science itu 
bersifat sesaat atau relative, karena science itu maju terus, berkembang terus. 
Hal ini terutama sangat kentara dalam geosciences, khususnya paleontologi. Di 
ketemukannya saja 1 butir fossil saja dapat menumbangkan suatu teori, dan 
muncul teori baru. Hal ini juga sama dalam ilmu fisika, maupun kimia, apalagi 
astrofisika dan astronomi. Bahkan seorang ahli science philosophy Karl Popper 
mengatakan semua teori apapun akhirnya akan tumbang, dan diganti dengan teori 
yang lain, yang lebih maju.

Jadi dalam hal science, teori evolusi, yang penting adalah bukan soal percaya 
atau tidak, tetapi apakah kita dapat menerimanya sebagai penjelasan yang logis 
dan masuk akal dan sesuai dengan pengamatan kita. ”Geloven doe je in de kerk” 
orang Belanda bilang (masalah percaya adalah masalah dalam gereja). Agama itu 
didasarkan atas kepercayaan atau lebih tepat lagi iman atas wahyu illahi yang 
diturunkan pada para nabi dan dituliskan pada kitab suci, mengenai keberadaan 
malaikat, ruh, setan dan tentunya Tuhan tidak perlu logis atau keberadaannya 
didasarkan atas pengamatan ke-5 pancaindera kita ini. Kebenaran agama kita 
yakini karena iman, dan kita tidak bisa menilainya secara scientific. Science 
itu berdasarkan pengamatan dan pemikiran manusia, dan tidak perlu dinilai 
secara religious/spiritual.



Apakah ini dualisme/ kontrakdiksi dalam alam pikiran? Saya  tidak merasa 
demikian.  Kita bekerja dalam science sesuai dengan kaidah dan aturannya dan 
menerima kesimpulannya sesuai dengan logika dan pengamatan. Sama saja kalau 
dengan kita main sepak bola, kalau terjadi goal yang kontroversial, kita kan 
tidak menunggu adanya fatwa MUI yang mencari ayat Alquar’an dan Haditz yang  
mengharamkan atau mensyahkan goal tersebut, tetapi kita menilainya keputusan 
wasit sesuai dengan peraturan sepakbola yang dikeluarkan FIFA. Sekularisme? 
Mungkin. Tetapi saya hidup cukup tenang dan tenteram  dan hidup dalam 
keseimbangan sebagai seorang geoscientist yang beragama.

Wassalam mu’alaikum

RPK
----- Original Message -----
From: Eko 
Prasetyo<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
To: 
[email protected]<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
Sent: Thursday, July 07, 2011 12:24 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia

perkataan anda seperti seorang otoritas ilmuwan dan merendahkan level ustadz. 
Banyak doktor-doktor ilmu yang lebih tinggi dari anda yang menganggap evolusi 
itu sampah. Banyak ustadz-ustadz yang level keilmuan eksaknya mungkin lebih 
tinggi dari anda.

Newton sendiri mungkin jauh lebih religius dari para saintis-saintis atheis 
norak yang memaksakan kalau Tuhan itu imajinari tapi kalau ditanya kenapa Alam 
Semesta itu ada dia berkata "ya ada aja" Sebuah jawaban yang tidak ilmiah dan 
munafik.

sudah baca bahwa penemu homo erectus solo menyembunyikan tulang tengkorak yang 
bisa membantah teori homo erectus di bawah kasurnya selama berpuluh tahun? 
sudah membaca bahwa homo erectus solo itu direkonstruksi dari dua tulang yang 
jauhnya berbelas kaki dan mempunyai kemungkinan perbedaan individu tapi 
dipaksakan sebagai satu kejadian?

Atau fosil sebuah "nenek moyang manusia" yang ditentukan hanya dari sebuah 
fosil..... gigi.

Atau fosil kadal-burung dari china yang ternyata hoax.

Atau kenyataan bahwa banyak manusia sekarang yang tinggi besar berdahi rata 
mirip Neanderthal tapi ternyata homo sapiens.

Atau fosil tengkorak anak berkelainan megacephalus yang diklaim sebagai fosil 
alien.


Lalu apa anda sudah mempelajari bahwa di alam tidak ada yang random, random itu 
hanyalah simplifikasi dari kompleksitas yang tidak dipahami manusia? Bahkan 
ilmu "eksak" geosaintis pun hanya bisa berkata "kemungkinan minyak di sini 
90%". Sebuah ketidakeksakan.

Sekarang pikirkan: apa kemungkinan dua spesimen jantan dan betina dari  spesies 
berkelamin ganda yang akan menggantikan spesies sebelumnya lahir pada waktu 
yang sama, dengan tingkat kecocokan tinggi, dan dilahirkan dari spesies yang 
lama?

Limit mendekati nol.

Mempercayai evolusi itu nyata sama saja mempercayai bahwa logam mentah bisa 
menjadi mobil yang fungsional hanya dengan terjadinya badai besar-besaran.

Sekarang siapa yang harus melepaskan diri dari keilmuwan? Saya yang sudah 
membaca dua sisi dari evolusi atau anda yang gak punya landasan kuat tapi 
mengusir saya dari keilmiahan?
2011/7/7 Yustinus Suyatno Yuwono 
<[email protected]<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>>
Kalo anda menganggap teori evolusi adalah hoax, berhenti saja sebagai ilmuwan, 
lalu menjadi ustadz saja.
Salam,
YSY
----- Original Message ----- From: 
<[email protected]<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>>

To: 
<[email protected]<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>>
Sent: Wednesday, July 06, 2011 7:53 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia

Dari teori ke teori, saya semakin yakin kalo evolusi ini hoax

visit strivearth.com<http://strivearth.com/> and be entertained

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari 
<[email protected]<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>>
Date: Wed, 6 Jul 2011 07:42:29
To: 
IAGI<[email protected]<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>>;
 
[email protected]<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]><[email protected]<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>>
Reply-To: 
<[email protected]<http://id.mc770.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>>
Subject: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia
Mnarik.
Untungnya nenek moyangku orang pelaut :)

Rdp
--------------

Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia


» Homo erectus, nenek moyang homo sapiens

Muhammad Firman | Rabu, 6 Juli 2011, 05:29 WIB

VIVAnews - Sebuah studi yang diketuai oleh Etty Indriati, peneliti
dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia melakukan investigasi dari dua
situs di sungai Bengawan Solo. Dari penelitian, disimpulkan bahwa Homo
erectus kemungkinan tidak tinggal di habitat yang sama dengan manusia
modern.

Temuan ini memunculkan keraguan pada teori evolusi manusia sebelumnya
dan mengindikasikan bahwa nenek moyang manusia modern itu punah jauh
lebih awal dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Seperti diketahui, Homo erectus, yang meninggalkan Afrika sekitar 1,8
juta tahun lalu, disepakati sebagai nenek moyang langsung spesies kita
yakni Homo sapiens. Kedua spesies ini sebelumnya diyakini pernah hidup
berdampingan. Setidaknya sampai muncul teori baru yang membantah itu.

Selama ini, ilmuwan memperkirakan, sekitar 500 ribu tahun lalu Homo
erectus lenyap dari Afrika dan sebagian besar Afrika dan diperkirakan,
bertahan hidup di Indonesia hingga 35 ribu tahun lalu. Adapun Homo
sapiens awal tinggal di kawasan Indonesia sejak 40 ribu tahun lalu dan
tinggal bersama dengan nenek moyangnya tersebut.

Penelitian yang dilakukan Etty dan timnya menunjukkan bahwa asumsi
selama ini tidak benar dan Homo erectus lenyap jauh sebelum kedatangan
Homo sapiens di Asia.

“Homo erectus kemungkinan tidak tinggal di habitat yang sama dengan
manusia modern,” kata Etty, seperti dikutip dari DailyMail, 5 Juli
2011.

Dari ekskavasi dan analisa waktu, hasilnya mengindikasikan bahwa Homo
erectus punah setidaknya 143 ribu tahun lalu, dan bahkan mungkin lebih
dari 550 ribu tahun lalu.

Jika demikian yang terjadi, maka temuan ini membantah teori ‘Out of
Africa’ yang sudah disepakati sebelumnya yakni hipotesis seputar
manusia modern telah berevolusi sepenuhnya di Afrika sebelum
bermigrasi ke belahan lain di Bumi.

Teori itu memperkirakan terjadinya overlap antara Homo sapiens dan
spesies lebih tuah yang mereka gantikan di luar Afrika. Homo erectus
yang ditemukan masih bertahan hidup di Indonesia pada masa itu
dianggap sebagai bukti pendukung teori tersebut.

Dengan temuan terbaru, peneliti menawarkan hipotesis baru bahwa
manusia modern berevolusi dari spesies terdahulu di Afrika, Asia, dan
Eropa. Hasil temuan ini sendiri dipublikasikan di jurnal Public
Library of Science ONE. (sj

--
Sent from my mobile device

*"Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"*

Visit http://www.strivearth.com<http://www.strivearth.com/> and be entertained



***** This message may contain confidential and/or privileged information. If 
you are not the addressee or authorized to receive this for the addressee, you 
must not use, copy, disclose or take any action based on this message or any 
information herein. If you have received this communication in error, please 
notify us immediately by responding to this email and then delete it from your 
system. PT Pertamina (Persero) is neither liable for the proper and complete 
transmission of the information contained in this communication nor for any 
delay in its receipt. *****

Kirim email ke