Teori hadir guna menjelaskan Fenomena. Contohnya teori atom.Awalnya atom diduga sebagai benda padat yang tidak dapat dibagi lagi, ternyata melalui sebuah percobaan, dengan cara menembakkan partikel alpha pada sebuah lempeng tipis emas, ada dua fenomena yang teramati oleh Rutherford,
Fenomena pertama sinar dibelokkan, fenomena kedua sinar diteruskan. Berdasarkan dua fenomena ini, Rutherford menyimpulkan bahwa atom bukanlah suatu benda yang padat, tetapi berupa inti yang dikelilingi oleh beberapa orbit electron dengan lintasan elips atau lingkaran, seperti layaknya tatasurya kita. Sinar dibelokkan karena menabrak inti atau electron yang mengorbit, sementara yang diteruskan karena menembus ruang kosong diantara inti dan electron. Demikianlah sekelumit teori atom yang saya terima sewaktu sekolah menengah (Jadi maaf kalau salah). Sebagaiman Rutherford, demikian pula cara Darwin bekerja , kebetulan saya berlatar belakang Biologi, jadi pernah kuliah 2 SKS Evolusi. Semua guru evolusi saya di Biologi UGM, seingat saya, tidak pernah mengajarkan untuk percaya atau tidak percaya pada teori evolusi, yang diajarkan adalah bagaimana konstruksi teori evolusi itu dibangun. Menurut seorang guru saya, Prof Jesmand Situmorang, fenomena yang dilihat Darwin juga dilihat oleh Ilmuwan biologi sejaman dengan Darwin. Perbedaannya adalah pada kemampuannya untuk memahami dan menjelaskan fenomena itu melalui sebuah teori. Ketika banyak fenomena baru yang muncul atau teramati, tidak mampu dijelaskan oleh sebuah teori, maka gugurlah teori tersebut. Tektonik lempeng hadir, geosinklin menjadi usang. Bukan karena James Hall bodoh dan ilmuwan penerus Wegener lebih pintar, tetapi fenomena yang dijadikan dasar oleh James Hall menelorkan teori Geosinklin ternyata hanyalah potongan kecil puzzle dari rangkaian gambaran alam yang utuh. Bob Yuris Candra Independent Palynologist ________________________________ From: sahuri mulyono <[email protected]> To: [email protected] Sent: Fri, July 8, 2011 6:29:15 PM Subject: Re: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia Dear All, Klo buat saya pribadi, mengenai teori evolusi masih sebatas “oo begitu ya teorinya…data seperti itu…story link begitu”, makanya waktu kuliahpun tidak terlalu tertarik untuk berdebat karena keterbatasan pengetahuan dan dari segi agama tentunya belum klop. Apa yang ada dalam kitab suci adalah isyarat apalagi soal penciptaan manusia memang cukup banyak diulas namun tidak eksplisit dan terang benderang asal-usulnya. Hikmahnya agar manusia berpikir dan ilmu pengetahuan berkembang tidak hanya sebatas evolusi, namun ilmu geology (paleontology), biology (banyak cabang), genetic (DNA), kedokteran, psychology, anthropology, dll termasuk sidik jari pasti tak lepas dari awal kontroversi teori Darwin. Klo Om Darwin bilang man is a super animal…it kills aboriginals, suku tolai di PNG, suku Maori, suku Kulina di Amazon, dll. Apa mereka produk gagal evolusi, atau evolusi gak sampai ke mereka? Suku aboringin sangat terbelakang, jumlahnya di Australia mungkin dibawah 1% sekarang (tolong koreksi jika salah), orang aboringin yang mulai mau bekerja dan hidup mandiri hampir semuanya bukan genetically pure aboriginal tapi udah pencampuran dengan bule. Yang masih pure aborigin mereka hidup dari uang mingguan dari pemerintah tiap kamis (sejauh amatan saya), hari sabtu/minggu uang udah habis, buat jajan sebagian besar minum2an, senin-rabu banyak yang berada dibawah pohon, bermalas2an. Mereka juga manusia kan, klo ada yang bodoh, agak pintar dan pintar itu biasa kan, tapi mereka sangat terbelakang……apa evolusi gak sampai ke mereka? Begitupun suku2 yang lain. Untuk itu soal asal-usul manusia saya pribadi masih suka berpegang pada: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” Jadi sudah disebut manusia (bukan kera), manusia diciptakan bersuku2 dan berbangsa2, berbeda2, jadi ada berbagai macam suku di Indonesia dan di belahan dunia lainnya. Dan saat ini banyak juga ilmuwan barat bergeser ke konsep penciptaan manusia….jadi ya bukan the only mandatory of faith....meskipun kita geologist....teori masih berkembang.... Providentially for us in the last fifteen years the study of microbiology reveals that we (like all organic life) are the handiwork of God, in that DNA is complex information that just does not happen by chance. Darwin’s theory of evolution and his philosophies are undone as also are many university disciplines in society today. Selamat berakhir pekan, Sahuri 2011/7/8 Muharram Jaya Panguriseng <[email protected]> Setuju dengan pernyataan Prof. Koesoemadinata, “dalam science yang bersifat empiris, (ukurannya) ...apakah kita itu bisa menerima atau tidak suatu teori itu sebagai sesuatu yang logis/ masuk akal dan sesuai dengan apa yang kita amati (fosil2, batuan dsb)”, begitu tidak logis dan tidak sesuai dengan fakta pengamatan lapangan dengan sendirinya teori tersebut akan gugur, tetapi science tidak gugur hanya dengan hasil voling. Tidak perlu mempertentangkan antara science dengan agama. Agama adalah kebenaran mutlak bagi penganutnya sementara science akan bergantung kepada fakta. “Para scientist juga sadar bahwa ‘kebenaran’ dalam science itu bersifat sesaat atau relative, karena science itu maju terus, berkembang terus”. Jadi wajar saja teori evolusi Darwin gugur dengan sendirinya apabila fakta temuan fosil berkata lain. Pembuktian bahwa suatu teori scientific salah harus dengan fakta bantahan, tidak dengan agama, kalau dengan agama nanti yang muncul adalah eyel-eyelan J... >Bagi penganut agama (termasuk saya) meyakini semua isi kitab sucinya >masing-masing sebagai kebenaran mutlak, namun kita harus sadar akan kemampuan >otak kita dalam menterjemahkan lautan ilmu didalam kitab tersebut, jangan >sampai >keterbatasan ilmu manusia yang merasa mewakili ilmu Tuhan gugur >berkeping-keping >ketika fakta ilmiah berkata lain. Ingat ilmuwan abad pertengahan yang >digantung >otoritas agama karena meyakini bahwa bumi mengelilingi matahari ? padahal bumi >mengelilingi matahari adalah fakta tak terbantahkan sekarang. Apakah firman >Tuhan (yang asli) memang mengatakan bahwa matahari-lah yang mengelilingi bumi? >Saya tidak yakin. Keterbatasan ilmu otoritas agamalah sebenarnya yang >mengatakan >itu. Wallahu’alam. > >Selamat berdiskusi untuk bahasan yang sangat menarik ini. Saling membantah >adalah wajar dalam perdebatan ilmiah tetapi harus dalam koridor saling >menghargai. > >Salam, >MJP > >From:Fadli Syarid [mailto:[email protected]] >Sent: Thursday, July 07, 2011 3:49 PM > >Masalah percaya tidak percaya tentang teori evolusi ini ada sedikit fenomena >menarik dari hasil survey british councill. >Amerika Serikat(USA) termasuk negara yang penduduknya kurang mempercayai teori >evolusi darwin dibandingkan negara lain yang disurvey. Hasil survenynya bisa >dilihat selengkapnya disini > >http://www.britishcouncil.org/darwin_now_survey_global.pdf > > >Regards >--- Pada Kam, 7/7/11, R.P.Koesoemadinata <[email protected]> menulis: >> >>>Dari: R.P.Koesoemadinata <[email protected]> >>>Judul: Re: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia >>>Kepada: [email protected] >>>Tanggal: Kamis, 7 Juli, 2011, 3:38 PM >>> >>>Masalah percaya dan tidak percayanya mengenai Theori Evolusi saya ingin >>>mencuplik dari Pendahuluan kuliah yang saya berikan untuk mahasiswa S3, >>>yaitu >>>“Falsafah Ilmu Kebumian” >>> >>>Masalah ini sangat mengusik pada geoscientist kita yang juga taat beragama, >>>mana >>>yang benar, dan bagaimana seorang yang berkeyakinan beragama menghadapi >>>theori >>>ini. Pengertian kebenaran sendiri adalah merupakan masalah falsafah >>>tersendiri, >>>apa sebenarnya yang disebut ‘kebenaran’ itu? >>>Dalam agama Islam (sebagaimana tertera dalam Al Quar’an) kita mengenal >>>sebagai 3 >>>tingkatan kebenaran: Ainal Yaqin (keyakinan benar karena kita dapat >>>melihatnya, >>>atau mengamati-nya /secara empiris), Ilmal Yaqin keyakinan (benar) karena >>>didasarkan ilmu yang kita geluti, yaitu berdasarkan pengamatan dan penalaran >>>logika, ‘akal’), dan Haqqul Yaqin, kebeneran haqiqi, atau kebenaran absolut >>>atau ‘the ultimate truth’ Ini adalah penafsiran saya atas ayat Alqur’an , >>>mungkin ulama yang lain menafsirkannya lain. >>> >>>Dalam science yang bersifat empiris yang kita geluti, masalahnya bukan kita >>>itu >>>percaya atau tidak pada suatu teori, termasuk teori evolusi, tetapi apakah >>>kita >>>itu bisa menerima (accept) tidak suatu teori itu sebagai sesuatu yang logis/ >>>masuk akal dan sesuai dengan apa yang kita amati (fosil2, batuan dsb). Dalam >>>science sesuatu itu dianggap ada kalau sesuatu itu dapat kita amati dengan 5 >>>pancaindera kita ini, tidak termasuk indra ke-6. Dengan demikian ruh, jin, >>>bahkan Tuhan pun di ‘anggap’ tidak ada karena tidak dapat diamati dengan >>>ke-5 >>>panca indera kita (bukan berari seorang scientist tidak boleh percaya Tuhan, >>>boleh saja, tetapi itulahsalah satu rule of the game-nya, kita tidak bisa >>>menjelaskan terjadinya gejala alam dengan keberadaan kekuatan supernatural >>>misalnya yang tidak bisa kita amati). Tujuan science adalah menjelaskan >>>suatu >>>gejala alam secara logis berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan >>>manusia. >>>Misalnya apakah teori evolusi itu dapat menjelaskan keanekaragaman machluk >>>hidup >>>dan adanya deretan fosil-fosil yang diketemukan dalam urut2an lapisan batuan >>>di >>>kerak bumi kita ini secara logika, atau masuk akalkah teori ini. Science >>>tidak >>>mengharuskan kita untuk mempercayainya, tetapi dapat menerimanya sebagai >>>sesuatu >>>yang logis. Selain itu tujuan science itu adalah melakukan prediksi (atau >>>untuk >>>geologi: post diction), atau bermaanfaat atau dapat digunakan. Misalnya >>>saya >>>kira evolusi itu sesuatu yang masuk akal dan dapat digunakan untuk penentuan >>>umur, korelasi dengan menggunakan fosil foram, misalnya. Para scientist juga >>>sadar bahwa ‘kebenaran’ dalam science itu bersifat sesaat atau relative, >>>karena >>>science itu maju terus, berkembang terus. Hal ini terutama sangat kentara >>>dalam >>>geosciences, khususnya paleontologi. Di ketemukannya saja 1 butir fossil >>>saja >>>dapat menumbangkan suatu teori, dan muncul teori baru. Hal ini juga sama >>>dalam >>>ilmu fisika, maupun kimia, apalagi astrofisika dan astronomi. Bahkan seorang >>>ahli science philosophy Karl Popper mengatakan semua teori apapun akhirnya >>>akan >>>tumbang, dan diganti dengan teori yang lain, yang lebih maju. >>> >>>Jadi dalam hal science, teori evolusi, yang penting adalah bukan soal >>>percaya >>>atau tidak, tetapi apakah kita dapat menerimanya sebagai penjelasan yang >>>logis >>>dan masuk akal dan sesuai dengan pengamatan kita. ”Geloven doe je in de >>>kerk” >>>orang Belanda bilang (masalah percaya adalah masalah dalam gereja). Agama >>>itu >>>didasarkan atas kepercayaan atau lebih tepat lagi iman atas wahyu illahi >>>yang >>>diturunkan pada para nabi dan dituliskan pada kitab suci, mengenai >>>keberadaan >>>malaikat, ruh, setan dan tentunya Tuhan tidak perlu logis atau keberadaannya >>>didasarkan atas pengamatan ke-5 pancaindera kita ini. Kebenaran agama kita >>>yakini karena iman, dan kita tidak bisa menilainya secara scientific. >>>Science >>>itu berdasarkan pengamatan dan pemikiran manusia, dan tidak perlu dinilai >>>secara >>>religious/spiritual. >>> >>> >>>Apakah ini dualisme/ kontrakdiksi dalam alam pikiran? Saya tidak merasa >>>demikian. Kita bekerja dalam science sesuai dengan kaidah dan aturannya dan >>>menerima kesimpulannya sesuai dengan logika dan pengamatan. Sama saja kalau >>>dengan kita main sepak bola, kalau terjadi goal yang kontroversial, kita kan >>>tidak menunggu adanya fatwa MUI yang mencari ayat Alquar’an dan Haditz yang >>>mengharamkan atau mensyahkan goal tersebut, tetapi kita menilainya keputusan >>>wasit sesuai dengan peraturan sepakbola yang dikeluarkan FIFA. Sekularisme? >>>Mungkin. Tetapi saya hidup cukup tenang dan tenteram dan hidup dalam >>>keseimbangan sebagai seorang geoscientist yang beragama. >>> >>>Wassalam mu’alaikum >>>RPK >>>----- Original Message ----- >>>>From:Eko Prasetyo >>>>To:[email protected] >>>>Sent:Thursday, July 07, 2011 12:24 PM >>>>Subject:Re: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia >>>> >>>>perkataan anda seperti seorang otoritas ilmuwan dan merendahkan level >>>>ustadz. >>>>Banyak doktor-doktor ilmu yang lebih tinggi dari anda yang menganggap >>>>evolusi >>>>itu sampah. Banyak ustadz-ustadz yang level keilmuan eksaknya mungkin lebih >>>>tinggi dari anda. >>>> >>>> >>>>Newton sendiri mungkin jauh lebih religius dari para saintis-saintis atheis >>>>norak yang memaksakan kalau Tuhan itu imajinari tapi kalau ditanya kenapa >>>>Alam >>>>Semesta itu ada dia berkata "ya ada aja" Sebuah jawaban yang tidak ilmiah >>>>dan >>>>munafik. >>>> >>>>sudah baca bahwa penemu homo erectus solo menyembunyikan tulang tengkorak >>>>yang >>>>bisa membantah teori homo erectus di bawah kasurnya selama berpuluh tahun? >>>>sudah >>>>membaca bahwa homo erectus solo itu direkonstruksi dari dua tulang yang >>>>jauhnya >>>>berbelas kaki dan mempunyai kemungkinan perbedaan individu tapi dipaksakan >>>>sebagai satu kejadian? >>>> >>>>Atau fosil sebuah "nenek moyang manusia" yang ditentukan hanya dari sebuah >>>>fosil..... gigi. >>>> >>>>Atau fosil kadal-burung dari china yang ternyata hoax. >>>> >>>>Atau kenyataan bahwa banyak manusia sekarang yang tinggi besar berdahi rata >>>>mirip Neanderthal tapi ternyata homo sapiens. >>>> >>>>Atau fosil tengkorak anak berkelainan megacephalus yang diklaim sebagai >>>>fosil >>>>alien. >>>> >>>> >>>>Lalu apa anda sudah mempelajari bahwa di alam tidak ada yang random, random >>>>itu >>>>hanyalah simplifikasi dari kompleksitas yang tidak dipahami manusia? Bahkan >>>>ilmu >>>>"eksak" geosaintis pun hanya bisa berkata "kemungkinan minyak di sini 90%". >>>>Sebuah ketidakeksakan. >>>> >>>> >>>>Sekarang pikirkan: apa kemungkinan dua spesimen jantan dan betina dari >>>>spesies >>>>berkelamin ganda yang akan menggantikan spesies sebelumnya lahir pada waktu >>>>yang >>>>sama, dengan tingkat kecocokan tinggi, dan dilahirkan dari spesies yang >>>>lama? >>>> >>>>Limit mendekati nol. >>>> >>>>Mempercayai evolusi itu nyata sama saja mempercayai bahwa logam mentah bisa >>>>menjadi mobil yang fungsional hanya dengan terjadinya badai besar-besaran. >>>> >>>>Sekarang siapa yang harus melepaskan diri dari keilmuwan? Saya yang sudah >>>>membaca dua sisi dari evolusi atau anda yang gak punya landasan kuat tapi >>>>mengusir saya dari keilmiahan? >>>>2011/7/7 Yustinus Suyatno Yuwono <[email protected]> >>>>Kalo anda menganggap teori evolusi adalah hoax, berhenti saja sebagai >>>>ilmuwan, >>>>lalu menjadi ustadz saja. >>>>Salam, >>>>YSY >>>>----- Original Message ----- From: <[email protected]> >>>> >>>>To: <[email protected]> >>>>Sent: Wednesday, July 06, 2011 7:53 AM >>>>Subject: Re: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia >>>> >>>>Dari teori ke teori, saya semakin yakin kalo evolusi ini hoax >>>> >>>>visit strivearth.com and be entertained >>>> >>>>-----Original Message----- >>>>From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> >>>>Date: Wed, 6 Jul 2011 07:42:29 >>>>To: IAGI<[email protected]>; >>>>[email protected]<[email protected]> >>>>Reply-To: <[email protected]> >>>>Subject: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia >>>>Mnarik. >>>>Untungnya nenek moyangku orang pelaut :) >>>> >>>>Rdp >>>>-------------- >>>> >>>>Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia >>>> >>>> >>>>» Homo erectus, nenek moyang homo sapiens >>>> >>>>Muhammad Firman | Rabu, 6 Juli 2011, 05:29 WIB >>>> >>>>VIVAnews - Sebuah studi yang diketuai oleh Etty Indriati, peneliti >>>>dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia melakukan investigasi dari dua >>>>situs di sungai Bengawan Solo. Dari penelitian, disimpulkan bahwa Homo >>>>erectus kemungkinan tidak tinggal di habitat yang sama dengan manusia >>>>modern. >>>> >>>>Temuan ini memunculkan keraguan pada teori evolusi manusia sebelumnya >>>>dan mengindikasikan bahwa nenek moyang manusia modern itu punah jauh >>>>lebih awal dibandingkan perkiraan sebelumnya. >>>> >>>>Seperti diketahui, Homo erectus, yang meninggalkan Afrika sekitar 1,8 >>>>juta tahun lalu, disepakati sebagai nenek moyang langsung spesies kita >>>>yakni Homo sapiens. Kedua spesies ini sebelumnya diyakini pernah hidup >>>>berdampingan. Setidaknya sampai muncul teori baru yang membantah itu. >>>> >>>>Selama ini, ilmuwan memperkirakan, sekitar 500 ribu tahun lalu Homo >>>>erectus lenyap dari Afrika dan sebagian besar Afrika dan diperkirakan, >>>>bertahan hidup di Indonesia hingga 35 ribu tahun lalu. Adapun Homo >>>>sapiens awal tinggal di kawasan Indonesia sejak 40 ribu tahun lalu dan >>>>tinggal bersama dengan nenek moyangnya tersebut. >>>> >>>>Penelitian yang dilakukan Etty dan timnya menunjukkan bahwa asumsi >>>>selama ini tidak benar dan Homo erectus lenyap jauh sebelum kedatangan >>>>Homo sapiens di Asia. >>>> >>>>“Homo erectus kemungkinan tidak tinggal di habitat yang sama dengan >>>>manusia modern,” kata Etty, seperti dikutip dari DailyMail, 5 Juli >>>>2011. >>>> >>>>Dari ekskavasi dan analisa waktu, hasilnya mengindikasikan bahwa Homo >>>>erectus punah setidaknya 143 ribu tahun lalu, dan bahkan mungkin lebih >>>>dari 550 ribu tahun lalu. >>>> >>>>Jika demikian yang terjadi, maka temuan ini membantah teori ‘Out of >>>>Africa’ yang sudah disepakati sebelumnya yakni hipotesis seputar >>>>manusia modern telah berevolusi sepenuhnya di Afrika sebelum >>>>bermigrasi ke belahan lain di Bumi. >>>> >>>>Teori itu memperkirakan terjadinya overlap antara Homo sapiens dan >>>>spesies lebih tuah yang mereka gantikan di luar Afrika. Homo erectus >>>>yang ditemukan masih bertahan hidup di Indonesia pada masa itu >>>>dianggap sebagai bukti pendukung teori tersebut. >>>> >>>>Dengan temuan terbaru, peneliti menawarkan hipotesis baru bahwa >>>>manusia modern berevolusi dari spesies terdahulu di Afrika, Asia, dan >>>>Eropa. Hasil temuan ini sendiri dipublikasikan di jurnal Public >>>>Library of Science ONE. (sj >>>> >>>>-- >>>>Sent from my mobile device >>>> >>>>*"Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"* >>>> >>>> >>>>Visit http://www.strivearth.com and be entertained > > >To: [email protected] >Subject: Re: [iagi-net-l] Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia***** This >message may contain confidential and/or privileged information. If you are not >the addressee or authorized to receive this for the addressee, you must not >use, >copy, disclose or take any action based on this message or any information >herein. If you have received this communication in error, please notify us >immediately by responding to this email and then delete it from your system. >PT >Pertamina (Persero) is neither liable for the proper and complete transmission >of the information contained in this communication nor for any delay in its >receipt. ***** >

