Pak Awang, Kalau lihat product2-nya supereruption itu seperti Toba Tuff (ada yang membentuk ignimbrite) kecenderungannya memperlihatkan produk magma yang mengarah ke asam (rhyolithic?). Seingat saya kalau magmanya basaltic cenderung cair dan meleleh, magma yang andesitic lebih kental seperti umumnya strato volcanic di Indonesia (Merapi). Nah yang explosive itu umumnya cenderung ke magma asam. Sehubungan dengan Toba, seingat saya juga dikenal sebagai Tectono Volcanic Depression yang magmanya keluar melalui fissure (mungkin melalui 2 faults yang relatively parallel?) dan karena hebatnya letusan sehingga terjadi kekosongan dapur magma dan mengalami subsident membentuk danau Toba. Munculnya P. Samosir karena terjadi aktifitas magma lagi sehingga mengangkat dasar Caldera itu dan disebut sebagai resurgent caldera. Dan bukankah pembentukan caldera itu tidak harus terjadi karena satu kali letusan besar, tetapi bisa saja karena beberapa kali letusan seperti Danau Maninjau, Kaldera Tengger, dimana kalau kita lihat dari morphologic expression dari Caldera Rim-nya yang memperlihatkan beberapa crater besar yang saling overlap membentuk Caldera yang besar. Apakah supereruption itu juga ada kaitannya dengan Paroxysmal Phase dari gunung api itu?
Thanks dan maaf kalau saya kurang membaca buku seperti Pak Awang! Salam, Habash Sent via BlackBerry from Maxis -----Original Message----- From: Awang Satyana <[email protected]> Date: Thu, 8 Sep 2011 13:01:15 To: <[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Cc: Forum HAGI<[email protected]>; Geo Unpad<[email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS<[email protected]> Subject: [iagi-net-l] Supervolcano & Strike-Slip Faulting?(was: Sesar Lembang) Ferdi & rekan2 diskusi milis, Saya tak yakin bahwa "supervolcano" berhubungan dengan strike-slip faulting. Toba, "supervolcano" terbesar di dunia adalah satu-satunya gunungapi di Sumatra yang justru tidak duduk persis di atas Sesar Sumatra, dibandingkan dengan gunung2 api lainnya di Sumatra. Yellowstone di Wyoming, AS pun memang di tengah kaldera Yellowstone ada strike-slip fault; tetapi melihat dimensinya yang lebih kecil dari luas kaldera menunjukkan bahwa strike-slip fault ini mungkin terjadi setelah pembentukan kaldera Yellowstone, artinya strike-slip fault bukan penyebab Yellowstone supereruption, tetapi akibatnya. Hal lain adalah, bisa dibilang bahwa 90 % gunungapi di Sumatra duduk di atas Sesar Sumatra, apakah semua gunung itu lantas jadi supervolcano, tidak toh. Juga Gunung Muria yang juga duduk di sesar mendatar besar Muria-Kebumen, apakah ia jadi supervolcano. Tidak. Juga Semeru-Bromo atau Merapi yang duduk di tranversal faults Jawa, apakah mereka jadi supervolcanoes, tidak, tetapi menambah aktivitasnya karena duduk di atas sesar mungkin ada hubungannya. Supervolcano (ini istilah media, yang pertama kali dipopulerkan oleh BBC tahun 2000, kalangan ahli gunungapi lebih suka menyebutnya sebagai supereruption) didefinisikan bila letusannya dapat melemparkan rempah volkaniknya (ejecta menta) lebih dari 1000 km3 (definisi USGS). Bandingkan: Tambora 1815 melemparkan 160 km3 rempah volkanik). Kebanyakan supervolcano terjadi atau diisi dapur magmanya oleh mantle hotspot yang naik ke permukaan tetapi tak dapat memecah kerak Bumi. Karena aliran mantle hotspot atau upwelling mantle plume terjadi terus, sementara kerak Bumi menahannya terus, maka tekanan makin membesar, magma pool makin melebar. Akhirnya kerak Bumi tak mampu lagi menahannya, lalu pecah dan terlemparlah semua materi magmatik yang tertahan sekian lama itu dalam sebuah supererupsi. Nah, kalau ada sesar mendatar/strike-slip bukankah ia akan menjadi konduit pelan-pelan yang akan membocorkan magma menjadi erupsi2 kecil atau leleran lava, sehingga akhirnya tak akan menjadi sebuah supervolcano/super eruption? Ada dua jenis erupsi supervolcano, yaitu LIPs (large igneous provinces) dan massive erutions. LIPs adalah yang menghasilkan flood basalt dalam skala luas (yang terkenal: Deccan Trap atau Siberia Trap). Massive eruptions yang terkenal adalah supervolcano Toba dan Yellowstone. Toba supereruption terkenal karena diduga menyebabkan bottlenecking migrasi manusia modern pada 75.000 tahun yang lalu, memotong sekitar 60 % populasi manusia saat itu. Yellowstone supervolcano terkenal belakangan ini karena film 2012 sebab skenario kiamat 2012 adalah supererupsi Yellowstone. Baik LIPs, Toba supervolcano, maupun skenario kiamat 2012 pernah saya ulas dalam diskusi milis ---lihat a.l. yang saya lampirkan di bawah. Semua supervolcano yang telah diidentifikasi terjadi pada saat jauh masa lalu, yang tertua adalah 27,8 juta tahun yl (La Garita, Colorado, AS) dan termuda 26.500 tahun yang lalu (Lake Taupo, New Zealand). Semakin tua umurnya, tentu semakin susah mengidentifikasinya, artinya nilai interpretasinya semakin besar). Letusan paling besar di dunia yang disaksikan manusia modern dan terjadi hampir 200 tahun yang lalu adalah letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Indonesia pada tahun 1815, yang membunuh sekitar 91.000 orang karena letusan dan bencana kelaparan sesudahnya, yang membuat hilangnya peradaban2 di Sumbawa, yang membuat tahun 1816 di Eropa dan belahan dunia utara tanpa musim panas karena terjadi volcanic winter (membuat penyakit pes merajalela di Eropa membunuh sekian banyak orang, membuat pasukan Prancis Napoleon kalah oleh Jerman di Waterloo, dan akibat2 lainnya). Erupsi Tambora menempati skala 7 pada VEI (volcanic explosivity index), bandingkan Krakatau 1883 VEI 6. Letusan supervolcano terbesar (berdasarkan luas kalderanya, 2800 km2) terjadi di Toba, Sumatra, Indonesia, terjadi antara 77.000-69.000 (74.000/75.000 tyl yang sering muncul di literatur, VEI 8 /tertinggi), menyebabkan 6-10 tahun dunia tanpa musim panas dan 1000 tahun cooling episode, diperkirakan membunuh 60 % penduduk Bumi saat itu, sehingga hanya menyisakan antara 1000-10.000 manusia. Dari merekalah kita berasal, demikian kata sebuah teori. Letusan Krakatau 1883, sudah banyak kita tahu dan bahas kedahsyatannya. Toba 74.000 tyl (VEI 8), Tambora 1815 (VEI 7), Krakatau 1883 (VEI 6) adalah tiga gunungapi dengan letusan terdahsyat di dunia, dan semuanya ada di Indonesia, di Jalur Gunungapi Sunda yang melintang dari Sumatra, Jawa sampai Nusa Tenggara. Betapa pentingnya Indonesia dalam dunia gunungapi. Mari kita sadari dan kenalilah gunungapi-gunungapi Indonesia lebih dekat, mereka tak jauh dari kita. Kitalah, para geologist Indonesia, yang sewajarnya harus tahu lebih banyak tentang mereka. salam, Awang LAMPIRAN 1 [iagi-net-l] LIPs (Large Igneous Provinces) : Asal Delaminasi Kerak-Mantel ? Awang Harun Satyana Wed, 13 Sep 2006 22:16:46 -0700 LIP (Large Igneous Province) adalah wilayah-wilayah di kerak Bumi yang memiliki sebaran batuan beku di luar kewajaran, begitu luasnya. LIPs yang terkenal adalah Siberian Traps di wilayah Siberia, Ontong Java Plateau di Samudra Pasifik utara Papua New Guinea, dan Deccan Trap di India. Di Indonesia pun, kita punya LIPs dalam skala lebih kecil : Radjabasa Basalt Plateau di Lampung dan Toba Ignimbrit (welded tuff) di sekitar Danau Toba. Para ahli batuan beku dan tektonik mempermasalahkan asal kejadian LIPs ini, termasuk membahasnya sebagai antipode (titik seberang) dari suatu titik benturan meteorit/komet besar di kerak Bumi dari seberang yang lain. Saat meteorit/komet besar menghantam di satu titik di permukaan Bumi, goncangannya akan menggetarkan seluruh mantel dan inti Bumi, gelombang kejutnya diteruskan ke seberang bola Bumi yang lain, termasuk membawa material mantel melalui mekanisme plume tectonics sehingga terekstrusi ke permukaan di titik seberangnya. Mekanisme antipodal igneous province ini pernah saya tulis di milis ini ketika membahas asal Deccan Traps dan Siberian Traps. Siberian Traps adalah pada antipodal position benturan meteorit Permian di Antarktika yang beberapa bulan lalu ditemukan impact craternya oleh para ahli geologi dan geofisika melalui survey gayaberat. Diyakini, bahwa benturan meteorit Permian ini berhubungan dengan kepunahan massal flora dan fauna di ujung Paleozoic - sebuah kepunahan massal yang lebih besar daripada di ujung Kapur. Sekarang, jurnal-jurnal keahlian geologi ini sedang membahas suatu mekanisme baru sebagai asal LIPs, yaitu delaminasi di batas kerak dan mantel. Delaminasi adalah proses de-laminasi : tersobeknya urutan lapisan (laminasi) oleh proses geologi. Dalam hal delaminasi kerak-mantel, maka yang dimaksud adalah sobeknya/lepasnya lithospheric mantle (batas litosfer-mantel) dari kerak benua di atasnya karena batas litosfer-mantel ini lebih dingin dan lebih padat dibandingkan dengan astenosfer di bawahnya. Kecepatan delaminasi akan ditentukan oleh viskositas astenosfer, dan sobekan akan mengarah ke penjalaran retakan. Begitu, konsep delaminasi menurut pencetusnya (Bird, 1979 : Continental delaminantion and the Colorado Plateau - Journal of Geophysical Research, v. 84, p. 7561-7571). Apa hubungan delaminasi dengan LIPs ? Bird (1979) pun menyebutkan bahwa kehilangan massa karena delaminasi ini akan segera diikuti oleh kompensasi isostatik berupa pengangkatan, sehingga terbentuklah Colorado Plateau dan semua gejala magmatik ikutannya. Colorado Plateau ini adalah salah satu LIPs juga. Don Anderson, seorang experimental petrologist dari Seismological Laboratory Caltech, yang banyak publikasinya soal mantel Bumi, dalam jurnal "Elements" vol. 1 p. 271-275 (Desember 2005) menulis bahwa ketika kerak benua terlalu tebal, bagian bawah kerak ini yang disusun oleh eklogit akan terlepas (delaminasi), menyebabkan uplift, asthenospheric upwelling, dan pressure-release melting. Proses delaminasi ini akan menyebabkan segmen kerak bagian bawah yang punya titik lebur rendah terintroduksi ke mantel; kemudian segmen ini terpanaskan, naik, dekompres, dan lebur. Eklogit hasil delaminasi akan lebih panas dan kurang padat dibandingkan dengan kerak samudra yang tertunjam di zone subduksi. Beberapa wilayah LIPs mungkin diakibatkan passive upwelling astenosfer yang tidak homogen ketika fragmen-fragmen benua saling memisah (McHone, 2000 : Non-plumemagmatism and rifting during the opening of the central atlantic Ocean - Tectonophysics, 316, p. 287-296). Beberapa LIPs yang lain mungkin akibat suture zone yang tereaktivasi atau zone2 lemah kerak Bumi, yang berasosiasi dengan peleburan mantel di bawahnya (Foulger et al., 2005 : A source for Icelandic magmas in remelted Iapetus crust - Journal of Volcanological and Geothermal research, v. 141, p. 23-44). Back-arc magmatism/volcanism seperti di Sumatra dan Jawa yang berpotensi membentuk LIPs mungkin perlu dikaji lagi asal-muasalnya, apalagi kalau sekarang kita punya teknologi mantle seimic tomography yang bisa melihat sampai ke mantel. LIPs akan punya ciri low-velocity zones (LVZ) di kedalaman sekitar 200-350 km, jarang terdapat lebih dalam, daripada mantel di bawahnya. Atau, LIPs seperti di Radjabasa Flood Basalt juga perlu dicari asal kejadiannya dengan penipisan kerak benua di wilayah ini melalui poros Sumatra-Jawa via rifting dan pemisahan Jawa-Sumatra di Selat Sunda. Crustal delamination, variable mantle fertility model, dikombinasikan dengan passive asthenospheric upwelling, bisa menjadi mekanisme2 untuk menjelaskan tektonik dan komposisi LIPs, termasuk histori uplift dan karakter heatflow-nya. Salam, awang LAMPIRAN 2 [iagi-net-l] Population Bottlenecking by Volcanic Eruption Awang Satyana Thu, 04 Nov 2010 01:06:04 -0700 Tadi pagi ada laporan dari seorang pendengar radio bahwa abu Merapi sudah sampai ke Cibitung, Bekasi. Pak Surono, Kepala PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) yang saat itu sedang diwawancarai mengatakan bahwa hal itu mungkin saja setelah mengetahui bahwa abunya sangat halus (efek transportasi ratusan km dari sumbernya). Di Purwokerto, kemarin sore-malam hujan abu, dan baru pagi tadi abu sampai di Bekasi. Semua abu volkanik itu sebagai akibat erupsi Merapi kemarin siang yang ditaksir punya ketinggian sekitar 5 km. Semakin tinggi kolom erupsi semakin luas kemungkinan penyebaran abu volkanik. Saya tiba-tiba jadi ingat salah satu dari dua erupsi terbesar di dunia, meskipun terjadi bukan dalam masa sejarah manusia modern, yaitu erupsi Toba pada sekitar 74.000 tahun yang lalu (Toba supervolcano eruption) - yang satunya lagi Yellowstone supervolcano eruption pada 2,1 Ma (juta tahun yang lalu); 1,3 Ma dan 640 Ka (ribu tahun yang lalu). Mari kita lihat Toba supervolcano eruption untuk mengetahui bagaimana besarnya erupsi saat itu, meskipun disusun atas hasil rekonstruksi geologi, paleoantropologi dan genetika. Para ahli merekonstruksi erupsi supervolcano Toba berdasarkan penyebaran material letusannya berupa ignimbrit (welded tuff) yang saat itu terutama menyebar sampai ke India. Berdasarkan itu, kaldera karena letusan 74.000 tahun yl (ini didasarkan dating umur endapan ignimbrit Toba)luasnya diperhitungkan 3000 km2 - tentu ini sangat luas dan tinggi kolom letusannya 50-80 km sampai mempengaruhi penyerapan sinar Matahari di stratosfer. Erupsi mega-kolosal Toba tentu telah menyebabkan suatu katastrofi yang dahsyat. Erupsi ini telah menurunkan temperatur permukaan Bumi 3-3.5 derajat Celsius selama beberapa tahun. Tentu lingkungan permukaan Bumi berubah secara signifikan akibat erupsi megakolosal ini. Kalau sekarang Merapi meletus mengakibatkan radius 15 km dari puncak Merapi mesti dibebaskan dari penduduk, maka pada 74.000 tahun yang lalu diyakini oleh para ahli paleoantropologi, genetika dan geologi bahwa supervolcano ini telah memunahkan banyak manusia saat itu yang dalam genetika disebut sebagai "population bottlenecking". Dengan menggunakan teknik ”average rates of genetic mutation”, beberapa ahli genetika melihat penciutan jumlah populasi manusia di dunia yang sangat signifikan itu terjadi pada sekitar 74.000 tahun yang lalu dan hanya menyisakan sekitar 10.000 individu yang yang hidup terisolasi. Manusia sekarang diperkirakan berkembang dari 10.000 individu ini melalui beberapa adaptasi dan diferensiasi spesies. Kesamaan temporal antara population bottlenecking dan umur erupsi Toba supervolcano berdasarkan umur ignimbrit membangun jembatan geologi dan genetika bahwa penurunan jumlah spesies manusia terjadi karena supervolcano eruption. Secara spatial jalur erupsi super Toba itu merupakan jalur utama migrasi manusia modern dari Afrika (out of Africa) ke banyak tempat di dunia. Karena secara temporal and spatial match, maka supervolcano Toba eruption 74 Ka dianggap sebagai penyebab population bottlenecking. Erupsi supervolcano Toba 74.000 tahun yl itu juga ada yang menghubungkannya dengan dengan mulainya zaman glasiasi di belahan utara Bumi, tentu ini karena terhalangnya sinar Matahari oleh piroklastika Toba. Glasiasi yang mungkin di luar siklus ini dapat saja berhubungan dengan population bottlenecking. Hanya, angka ini kebetulan cocok juga dengan siklus Milankovitch untuk decline summer solar radiation yang jatuh pada 75.000 tahun yl. Seperti biasanya, siklus uniformitarianisme karena planetary movement bisa saja kebetulan bersamaan dengan terjadinya katastrofi karena eruption supervolcano. Kedua efek ini tentu sangat signifikan bila harus menyebabkan population bottlenecking. salam, Awang --- Pada Rab, 7/9/11, kartiko samodro <[email protected]> menulis: Dari: kartiko samodro <[email protected]> Judul: Re: [iagi-net-l] Sesar Lembang Bergerak: IAGI/HAGI Jangan Diam Saja! Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 7 September, 2011, 8:44 AM Mungkin untuk studi bisa dilihat juga apakah pergerakan sesar lembang ini ada hubungannya dengan pergerakan zona patahan strike slip sukabumi - padalarang di sebelah baratnya atau patahan strike slip cilacap - kuningan di timurnya. mungkin juga perlu diamati aktivitas gunung burangrang, tangkuban perahu , bukit nunggal yang tepat berada di jalur patahan lembang dan di antara zona patahan strike slip sukabumi padalarang dan patahan cilacap kuningan ...apakah ada peningkatan aktivitas ? kalau melihat supervolcano toba / yellowstone...sepertinya gunung api besar banyak berhubungan dengan strike slip 2011/9/7 <[email protected]> Gempa Bandung Barat alias Gempa cisarua 28 Agustus 2011 yg lalu (3hari sebelum hari raya) telah mengakibatkan 103 rumah rusak (retak2, genteng somplak dsb) khususnya di sekitar daerah Jambudwipa, dan bahkan sampai akhir minggu lalu beberapa keluarga masih tidak berani kembali tidur di rumah malam hari karena takut masih akan terjadi gempa susulan (dan karena rumahnya masih belum diperbaiki: takut keambrukan atap/genteng dsb). Sbg orang Bekasi (Arema yg tinggal di Bekasi, tepatnya) saya ingatkan kawan2 Bandung: inilah saatnya mitigasi sesar lembang untuk diangkat dan terus dikobarkan dg melibatkan multi-kelompok: ada KRCB, MBI, MPPBI, IAGI/HAGI dsb. Mari kita seriusi sesar lembang spt kita serius dg Padang. Pakar2 gempa &atektoniknya khan tinggalnya juga disekitar garis sesar Lembang, ..dan aba2 sdh diberikan lwt gempa Bandung Barat akhir Agustus lalu. Jadi sgt wajar mitigasi& sosialisasi diprioritaskan u/Lembang!! Informasi dr kawan2 ITB menyebutkan bahwa ada 2 riset yg sdg jalan di S2 GREAT (Graduate Research for Earthquake and Tectonics) u/sesar Lembang: Didik dg peta hazard-risk & Pretty dg riset patahannya. Plus GPS-surveynya Dr Irwan Meilano, plus paleoseismologi trenchingnya Dr Eko & juga geolistrik-georadar Dr Dany Hilman & puluhan studi S1-S2 kawan2 kebumian ITB sblmnya. (Rencana) mikroiseismik dr grupnya Dr. Surono (mbah Rono) juga sdh in-place. Basic ingridient mitigasi u/sesar Lembang sdh ideal. Tinggal konduktor yg meramunya dg aspek infrastruktur - sosial-ekonomi - kebijakan di lapangan. Ayo sama2 hadapi sesar Lembang, jgn sampai kecolongan spt sesar Opak di gempa Yogja 2006!!! Dalam rangka mewaspadai terus sesar Lembang, ada 2 kemungkinan implikasi dr kejadian gempa Cikalong Wetan Juni & gempa Bandung Barat akhir Agustus lalu: 1) pelepasan energi bertahap sampai akhirnya hilang potensi kuncian geraknya, tapi bsa jg 2) itu smua merupakan precursor/pendahulu dr gempa yg lebih besar. Kalau kwn2 ahli bisa bikin analisis time-series dr sifat dan besaran gempa2 di daerah tsb 5 tahun terakhir, mungkin bisa keliatan polanya! Apapun yg terjadi, sbnarnya kita bisa menghindari dr nasib kecolongan spt di kasus Gempa yogja 2006 dg: 1)memobilisasi tenaga2 penyuluh pelatih u/earthquake drill berkala di daerah tsb, 2)membantu masy memeriksa kesiapan bangunan2 mrk thdp kmungkinan goyangan gempa dan memberi bantuan konsultasi bgmn menguatkan strukturnya atau ke arah / zona mana mrk hrs berlindung apabila terjadi gempa (kalau blm sempat selesai penguatan struktur rumahnya, dsb,...). Silakan, IAGI/HAGI! ADB Arema di Bekasi IAGI-0800 Powered by Telkomsel BlackBerry® -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29 September 2011 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email to: [email protected] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

