Ferdi & rekan2 diskusi milis,
 
Saya tak yakin bahwa "supervolcano" berhubungan dengan strike-slip faulting. 
Toba, "supervolcano" terbesar di dunia adalah satu-satunya gunungapi di Sumatra 
yang justru tidak duduk persis di atas Sesar Sumatra, dibandingkan dengan 
gunung2 api lainnya di Sumatra. Yellowstone di Wyoming, AS pun memang di tengah 
kaldera Yellowstone ada strike-slip fault; tetapi melihat dimensinya yang lebih 
kecil dari luas kaldera menunjukkan bahwa strike-slip fault ini mungkin terjadi 
setelah pembentukan kaldera Yellowstone, artinya strike-slip fault bukan 
penyebab Yellowstone supereruption, tetapi akibatnya.
 
Hal lain adalah, bisa dibilang bahwa 90 % gunungapi di Sumatra duduk di atas 
Sesar Sumatra, apakah semua gunung itu lantas jadi supervolcano, tidak toh. 
Juga Gunung Muria yang juga duduk di sesar mendatar besar Muria-Kebumen, apakah 
ia jadi supervolcano. Tidak. Juga Semeru-Bromo atau Merapi yang duduk di 
tranversal faults Jawa, apakah mereka jadi supervolcanoes, tidak, tetapi 
menambah aktivitasnya karena duduk di atas sesar mungkin ada hubungannya.
 
Supervolcano (ini istilah media, yang pertama kali dipopulerkan oleh BBC tahun 
2000, kalangan ahli gunungapi lebih suka menyebutnya sebagai supereruption) 
didefinisikan bila letusannya dapat melemparkan rempah volkaniknya (ejecta 
menta) lebih dari 1000 km3 (definisi USGS). Bandingkan: Tambora 1815 
melemparkan 160 km3 rempah volkanik). 
 
Kebanyakan supervolcano terjadi atau diisi dapur magmanya oleh mantle hotspot 
yang naik ke permukaan tetapi tak dapat memecah kerak Bumi. Karena aliran 
mantle hotspot atau upwelling mantle plume terjadi terus, sementara kerak Bumi 
menahannya terus, maka tekanan makin membesar, magma pool makin melebar. 
Akhirnya kerak Bumi tak mampu lagi menahannya, lalu pecah dan terlemparlah 
semua materi magmatik yang tertahan sekian lama itu dalam sebuah supererupsi. 
Nah, kalau ada sesar mendatar/strike-slip bukankah ia akan menjadi konduit 
pelan-pelan yang akan membocorkan magma menjadi erupsi2 kecil atau leleran 
lava, sehingga akhirnya tak akan menjadi sebuah supervolcano/super eruption?
 
Ada dua jenis erupsi supervolcano, yaitu LIPs (large igneous provinces) dan 
massive erutions. LIPs adalah yang menghasilkan flood basalt dalam skala luas 
(yang terkenal: Deccan Trap atau Siberia Trap). Massive eruptions yang terkenal 
adalah supervolcano Toba dan Yellowstone. Toba supereruption terkenal karena 
diduga menyebabkan bottlenecking migrasi manusia modern pada 75.000 tahun yang 
lalu, memotong sekitar 60 % populasi manusia saat itu. Yellowstone supervolcano 
terkenal belakangan ini karena film 2012 sebab skenario kiamat 2012 adalah 
supererupsi Yellowstone. Baik LIPs, Toba supervolcano, maupun skenario kiamat 
2012 pernah saya ulas dalam diskusi milis ---lihat a.l. yang saya lampirkan di 
bawah.
 
Semua supervolcano yang telah diidentifikasi terjadi pada saat jauh masa lalu, 
yang tertua adalah 27,8 juta tahun yl (La Garita, Colorado, AS) dan termuda 
26.500 tahun yang lalu (Lake Taupo, New Zealand). Semakin tua umurnya, tentu 
semakin susah mengidentifikasinya, artinya nilai interpretasinya semakin 
besar). 
 
Letusan paling besar di dunia yang disaksikan manusia modern dan terjadi hampir 
200 tahun yang lalu adalah letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Indonesia 
pada tahun 1815, yang membunuh sekitar 91.000 orang karena letusan dan bencana 
kelaparan sesudahnya, yang membuat hilangnya peradaban2 di Sumbawa, yang 
membuat tahun 1816 di Eropa dan belahan dunia utara tanpa musim panas karena 
terjadi volcanic winter (membuat penyakit pes merajalela di Eropa membunuh 
sekian banyak orang, membuat pasukan Prancis Napoleon kalah oleh Jerman di 
Waterloo, dan akibat2 lainnya). Erupsi Tambora menempati skala 7 pada VEI 
(volcanic explosivity index), bandingkan Krakatau 1883 VEI 6.
 
Letusan supervolcano terbesar (berdasarkan luas kalderanya, 2800 km2) terjadi 
di Toba, Sumatra, Indonesia, terjadi antara 77.000-69.000 (74.000/75.000 tyl 
yang sering muncul di literatur, VEI 8 /tertinggi), menyebabkan 6-10 tahun 
dunia tanpa musim panas dan 1000 tahun cooling episode, diperkirakan membunuh 
60 % penduduk Bumi saat itu, sehingga hanya menyisakan antara 1000-10.000 
manusia. Dari merekalah kita berasal, demikian kata sebuah teori.
 
Letusan Krakatau 1883, sudah banyak kita tahu dan bahas kedahsyatannya.
 
Toba 74.000 tyl (VEI 8), Tambora 1815 (VEI 7), Krakatau 1883 (VEI 6) adalah 
tiga gunungapi dengan letusan terdahsyat di dunia, dan semuanya ada di 
Indonesia, di Jalur Gunungapi Sunda yang melintang dari Sumatra, Jawa sampai 
Nusa Tenggara. Betapa pentingnya Indonesia dalam dunia gunungapi. Mari kita 
sadari dan kenalilah gunungapi-gunungapi Indonesia lebih dekat, mereka tak jauh 
dari kita. Kitalah, para geologist Indonesia, yang sewajarnya harus tahu lebih 
banyak tentang mereka.
 
salam,
Awang

LAMPIRAN 1

[iagi-net-l] LIPs (Large Igneous Provinces) : Asal Delaminasi Kerak-Mantel ?
Awang Harun Satyana
Wed, 13 Sep 2006 22:16:46 -0700

LIP (Large Igneous Province) adalah wilayah-wilayah di kerak Bumi yang
memiliki sebaran batuan beku di luar kewajaran, begitu luasnya. LIPs
yang terkenal adalah Siberian Traps di wilayah Siberia, Ontong Java
Plateau di Samudra Pasifik utara Papua New Guinea, dan Deccan Trap di
India. Di Indonesia pun, kita punya LIPs dalam skala lebih kecil :
Radjabasa Basalt Plateau di Lampung dan Toba Ignimbrit (welded tuff) di
sekitar Danau Toba.
 
Para ahli batuan beku dan tektonik mempermasalahkan asal kejadian LIPs
ini, termasuk membahasnya sebagai antipode (titik seberang) dari suatu
titik benturan meteorit/komet besar di kerak Bumi dari seberang yang
lain. Saat meteorit/komet besar menghantam di satu titik di permukaan
Bumi, goncangannya akan menggetarkan seluruh mantel dan inti Bumi,
gelombang kejutnya diteruskan ke seberang bola Bumi yang lain, termasuk
membawa material mantel melalui mekanisme plume tectonics sehingga
terekstrusi ke permukaan di titik seberangnya. Mekanisme antipodal
igneous province ini pernah saya tulis di milis ini ketika membahas asal
Deccan Traps dan Siberian Traps. Siberian Traps adalah pada antipodal
position benturan meteorit Permian di Antarktika yang beberapa bulan
lalu ditemukan impact craternya oleh para ahli geologi dan geofisika
melalui survey gayaberat. Diyakini, bahwa benturan meteorit Permian ini
berhubungan dengan kepunahan massal flora dan fauna di ujung Paleozoic -
sebuah kepunahan massal yang lebih besar daripada di ujung Kapur.
 
Sekarang, jurnal-jurnal keahlian geologi ini sedang membahas suatu
mekanisme baru sebagai asal LIPs, yaitu delaminasi di batas kerak dan
mantel. Delaminasi adalah proses de-laminasi : tersobeknya urutan
lapisan (laminasi) oleh proses geologi. Dalam hal delaminasi
kerak-mantel, maka yang dimaksud adalah sobeknya/lepasnya lithospheric
mantle (batas litosfer-mantel) dari kerak benua di atasnya karena batas
litosfer-mantel ini lebih dingin dan lebih padat dibandingkan dengan
astenosfer di bawahnya. Kecepatan delaminasi akan ditentukan oleh
viskositas astenosfer, dan sobekan akan mengarah ke penjalaran retakan.
Begitu, konsep delaminasi menurut pencetusnya (Bird, 1979 : Continental
delaminantion and the Colorado Plateau - Journal of Geophysical
Research, v. 84, p. 7561-7571). 
 
Apa hubungan delaminasi dengan LIPs ? Bird (1979) pun menyebutkan bahwa
kehilangan massa karena delaminasi ini akan segera diikuti oleh
kompensasi isostatik berupa pengangkatan, sehingga terbentuklah Colorado
Plateau dan semua gejala magmatik ikutannya. Colorado Plateau ini adalah
salah satu LIPs juga. Don Anderson, seorang experimental petrologist
dari Seismological Laboratory Caltech, yang banyak publikasinya soal
mantel Bumi, dalam jurnal "Elements" vol. 1 p. 271-275 (Desember 2005)
menulis bahwa ketika kerak benua terlalu tebal, bagian bawah kerak ini
yang disusun oleh eklogit akan terlepas (delaminasi), menyebabkan
uplift, asthenospheric upwelling, dan pressure-release melting. Proses
delaminasi ini akan menyebabkan segmen kerak bagian bawah yang punya
titik lebur rendah terintroduksi ke mantel; kemudian segmen ini
terpanaskan, naik, dekompres, dan lebur. Eklogit hasil delaminasi akan
lebih panas dan kurang padat dibandingkan dengan kerak samudra yang
tertunjam di zone subduksi.
 
Beberapa wilayah LIPs mungkin diakibatkan passive upwelling astenosfer
yang tidak homogen ketika fragmen-fragmen benua saling memisah (McHone,
2000 : Non-plumemagmatism and rifting during the opening of the central
atlantic Ocean - Tectonophysics, 316, p. 287-296). Beberapa LIPs yang
lain mungkin akibat suture zone yang tereaktivasi atau zone2 lemah kerak
Bumi, yang berasosiasi dengan peleburan mantel di bawahnya (Foulger et
al., 2005 : A source for Icelandic magmas in remelted Iapetus crust -
Journal of Volcanological and Geothermal research, v. 141, p. 23-44).
 
Back-arc magmatism/volcanism seperti di Sumatra dan Jawa yang berpotensi
membentuk LIPs mungkin perlu dikaji lagi asal-muasalnya, apalagi kalau
sekarang kita punya teknologi mantle seimic tomography yang bisa melihat
sampai ke mantel. LIPs akan punya ciri low-velocity zones (LVZ) di
kedalaman sekitar 200-350 km, jarang terdapat lebih dalam, daripada
mantel di bawahnya. Atau, LIPs seperti di Radjabasa Flood Basalt juga
perlu dicari asal kejadiannya dengan penipisan kerak benua di wilayah
ini melalui poros Sumatra-Jawa via rifting dan pemisahan Jawa-Sumatra di
Selat Sunda.
 
Crustal delamination, variable mantle fertility model, dikombinasikan
dengan passive asthenospheric upwelling, bisa menjadi mekanisme2 untuk
menjelaskan tektonik dan komposisi LIPs, termasuk histori uplift dan
karakter heatflow-nya.
 
Salam,
awang

LAMPIRAN 2

[iagi-net-l] Population Bottlenecking by Volcanic Eruption
Awang Satyana
Thu, 04 Nov 2010 01:06:04 -0700

Tadi pagi ada laporan dari seorang pendengar radio bahwa abu Merapi sudah 
sampai ke Cibitung, Bekasi. Pak Surono, Kepala PVMBG (Pusat Vulkanologi dan 
Mitigasi Bencana Geologi) yang saat itu sedang diwawancarai mengatakan bahwa 
hal itu mungkin saja setelah mengetahui bahwa abunya sangat halus (efek 
transportasi ratusan km dari sumbernya). Di Purwokerto, kemarin sore-malam 
hujan abu, dan baru pagi tadi abu sampai di Bekasi. Semua abu volkanik itu 
sebagai akibat erupsi Merapi kemarin siang yang ditaksir punya ketinggian 
sekitar 5 km. Semakin tinggi kolom erupsi semakin luas kemungkinan penyebaran 
abu volkanik.

Saya tiba-tiba jadi ingat salah satu dari dua erupsi terbesar di dunia, 
meskipun terjadi bukan dalam masa sejarah manusia modern, yaitu erupsi Toba 
pada sekitar 74.000 tahun yang lalu (Toba supervolcano eruption) - yang satunya 
lagi Yellowstone supervolcano eruption pada 2,1 Ma (juta tahun yang lalu); 1,3 
Ma dan 640 Ka (ribu tahun yang lalu). Mari kita lihat Toba supervolcano 
eruption untuk mengetahui bagaimana besarnya erupsi saat itu, meskipun disusun 
atas hasil rekonstruksi geologi, paleoantropologi dan genetika.

Para ahli merekonstruksi erupsi supervolcano Toba berdasarkan penyebaran 
material letusannya berupa ignimbrit (welded tuff) yang saat itu terutama 
menyebar sampai ke India. Berdasarkan itu, kaldera karena letusan 74.000 tahun 
yl (ini didasarkan dating umur endapan ignimbrit Toba)luasnya diperhitungkan 
3000 km2 - tentu ini sangat luas dan tinggi kolom letusannya 50-80 km sampai 
mempengaruhi penyerapan sinar Matahari di stratosfer.

Erupsi mega-kolosal Toba tentu telah menyebabkan suatu katastrofi yang dahsyat. 
Erupsi ini telah menurunkan temperatur permukaan Bumi 3-3.5 derajat Celsius 
selama beberapa tahun. Tentu lingkungan permukaan Bumi berubah secara 
signifikan akibat erupsi megakolosal ini. 

Kalau sekarang Merapi meletus mengakibatkan radius 15 km dari puncak Merapi 
mesti dibebaskan dari penduduk, maka pada 74.000 tahun yang lalu diyakini oleh 
para ahli paleoantropologi, genetika dan geologi bahwa supervolcano ini telah 
memunahkan banyak manusia saat itu yang dalam genetika disebut sebagai 
"population bottlenecking".

Dengan menggunakan teknik ”average rates of genetic mutation”, beberapa ahli 
genetika melihat penciutan jumlah populasi manusia di dunia yang sangat 
signifikan itu terjadi pada sekitar 74.000 tahun yang lalu dan hanya menyisakan 
sekitar 10.000 individu yang yang hidup terisolasi. Manusia sekarang 
diperkirakan berkembang dari 10.000 individu ini melalui beberapa adaptasi dan 
diferensiasi spesies. 

Kesamaan temporal antara population bottlenecking dan umur erupsi Toba 
supervolcano berdasarkan umur ignimbrit membangun jembatan geologi dan genetika 
bahwa penurunan jumlah spesies manusia terjadi karena supervolcano eruption. 
Secara spatial jalur erupsi super Toba itu merupakan jalur utama migrasi 
manusia modern dari Afrika (out of Africa) ke banyak tempat di dunia. Karena 
secara temporal and spatial match, maka supervolcano Toba eruption 74 Ka 
dianggap sebagai penyebab population bottlenecking.

Erupsi supervolcano Toba 74.000 tahun yl itu juga ada yang menghubungkannya 
dengan dengan mulainya zaman glasiasi di belahan utara Bumi, tentu ini karena 
terhalangnya sinar Matahari oleh piroklastika Toba. Glasiasi yang mungkin di 
luar siklus ini dapat saja berhubungan dengan population bottlenecking. Hanya, 
angka ini kebetulan cocok juga dengan siklus Milankovitch untuk decline summer 
solar radiation yang jatuh pada 75.000 tahun yl. Seperti biasanya, siklus 
uniformitarianisme karena planetary movement bisa saja kebetulan bersamaan 
dengan terjadinya katastrofi karena eruption supervolcano. Kedua efek ini tentu 
sangat signifikan bila harus menyebabkan population bottlenecking. 

salam,
Awang

 

--- Pada Rab, 7/9/11, kartiko samodro <[email protected]> menulis:


Dari: kartiko samodro <[email protected]>
Judul: Re: [iagi-net-l] Sesar Lembang Bergerak: IAGI/HAGI Jangan Diam Saja!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 7 September, 2011, 8:44 AM



Mungkin untuk studi bisa dilihat juga apakah pergerakan sesar lembang ini ada 
hubungannya dengan pergerakan zona patahan strike slip sukabumi - padalarang di 
sebelah baratnya  atau patahan strike slip cilacap - kuningan di timurnya.
 
mungkin juga perlu diamati aktivitas gunung burangrang, tangkuban perahu , 
bukit nunggal yang tepat berada di jalur patahan lembang dan di antara zona 
patahan strike slip sukabumi padalarang dan patahan cilacap kuningan ...apakah 
ada peningkatan aktivitas ?
 
kalau melihat supervolcano toba / yellowstone...sepertinya gunung api besar 
banyak berhubungan dengan strike slip 
 
2011/9/7 <[email protected]>

Gempa Bandung Barat alias Gempa cisarua 28 Agustus 2011 yg lalu (3hari sebelum 
hari raya) telah mengakibatkan 103 rumah rusak (retak2, genteng somplak dsb) 
khususnya di sekitar daerah Jambudwipa, dan bahkan sampai akhir minggu lalu 
beberapa keluarga masih tidak berani kembali tidur di rumah malam hari karena 
takut masih akan terjadi gempa susulan (dan karena rumahnya masih belum 
diperbaiki: takut keambrukan atap/genteng dsb).

Sbg orang Bekasi (Arema yg tinggal di Bekasi, tepatnya) saya ingatkan kawan2 
Bandung: inilah saatnya mitigasi sesar lembang untuk diangkat dan terus 
dikobarkan dg melibatkan multi-kelompok: ada KRCB, MBI, MPPBI, IAGI/HAGI dsb. 
Mari kita seriusi sesar lembang spt kita serius dg Padang. Pakar2 gempa 
&atektoniknya khan tinggalnya juga disekitar garis sesar Lembang, ..dan aba2 
sdh diberikan lwt gempa
 Bandung Barat akhir Agustus lalu. Jadi sgt wajar mitigasi& sosialisasi 
diprioritaskan u/Lembang!!

Informasi dr kawan2 ITB menyebutkan bahwa a‎​da 2 riset yg sdg jalan di S2 
GREAT (Graduate Research for Earthquake and Tectonics) u/sesar Lembang: Didik 
dg peta hazard-risk & Pretty dg riset patahannya. ‎​Plus GPS-surveynya Dr Irwan 
Meilano, ‎​plus paleoseismologi trenchingnya Dr Eko & juga geolistrik-georadar 
Dr Dany Hilman & puluhan studi S1-S2 kawan2 kebumian ITB sblmnya. (Rencana) 
mikroiseismik dr grupnya Dr. Surono (mbah Rono) juga sdh in-place. Basic 
ingridient mitigasi u/sesar Lembang sdh ideal. Tinggal konduktor yg meramunya 
dg aspek infrastruktur - sosial-ekonomi - kebijakan di lapangan. Ayo sama2 
hadapi sesar Lembang, jgn sampai kecolongan spt sesar Opak di gempa Yogja 
2006!!!

Dalam rangka mewaspadai terus sesar Lembang, ada 2 kemungkinan implikasi dr 
kejadian gempa Cikalong Wetan Juni & gempa Bandung
 Barat akhir Agustus lalu: 1) pelepasan energi bertahap sampai akhirnya hilang 
potensi kuncian geraknya, tapi bsa jg 2) itu smua merupakan precursor/pendahulu 
dr gempa yg lebih besar. Kalau kwn2 ahli bisa bikin analisis time-series dr 
sifat dan besaran gempa2 di daerah tsb 5 tahun terakhir, mungkin bisa keliatan 
polanya! Apapun yg terjadi, sbnarnya kita bisa menghindari dr nasib kecolongan 
spt di kasus Gempa yogja 2006 dg: 1)memobilisasi tenaga2 penyuluh pelatih 
u/earthquake drill berkala di daerah tsb, 2)membantu masy memeriksa kesiapan 
bangunan2 mrk thdp kmungkinan goyangan gempa dan memberi bantuan konsultasi 
bgmn menguatkan strukturnya atau ke arah / zona mana mrk hrs berlindung apabila 
terjadi gempa (kalau blm sempat selesai penguatan struktur rumahnya, dsb,...). 
Silakan, IAGI/HAGI!

ADB
Arema di Bekasi
IAGI-0800
Powered by Telkomsel BlackBerry®


--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke