Mas Seto,
Pengalaman Saya selama hampir setahun disini, mungkin hampir mirip seperti 
"expat" yang ada di PIT IAGI kemarin, merasa "asing" dan "bodoh" karena tidak 
paham dengan bahasa yang digunakan. Selama disini, mungkin sekitar 90% 
pertemuan atau meeting diadakan dalam bahasa Cina, dan 10% nya bahasa Inggris, 
itu juga karena Saya presenternya. 
Teman di kantor bahkan mengira kalau  native languange Saya adalah bahasa 
Inggris, Saya cuma bilang, satu-satunya bahasa yang bisa Saya gunakan untuk 
komunikasi dengan mereka adalah bahasa Inggris, selain bahasa isyarat tentunya. 
Di sisi lain, akhirnya Saya juga dipaksa untuk belajar bahasa lokal, walaupun 
kata demi kata.
Teman-teman disini mengakui kalau kemampuan bahasa Inggris mereka belum terlalu 
baik, bahkan kalau boleh dibilang dibawah rata-rata. Dalam hal penulisan juga 
demikian, beberapa orang bahkan tak mampu menulis huruf latin, karena memang 
tidak terbiasa. 
Oleh karenanya, di kantor tempat saya bekerja sekarang, ada program kursus 
bahasa Inggris selama 4 bulan, bayangkan, mereka selama 4 bulan penuh hanya 
belajar bahasa Inggris, dibayari penuh dan bebas dari tugas-tugas kantor. 
Program ini hanya khusus untuk orang-orang lokal, setelah selesai, mereka 
dilibatkan dalam project-project internasional.
Pendidikan bahasa Inggris di Cina juga semakin baik, bahasa Inggris mulai 
dikenalkan semenjak taman kanak-kanak, dan sifatnya wajib. Saya tahu karena 
punya teman yang mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak TK.
Maka, bisa dibayangkan bagaimana mereka ke depan. Kemampuan bahasa Cina mereka 
sudah tidak diragukan lagi, lisan maupun tulisan. Ditambah lagi dengan 
pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah. Generasi baru mereka adalah 
generasi yang dipersiapkan sejak dini, sehingga, ketika suatu saat mereka 
benar-benar menguasai dunia, pondasinya sudah kokoh.
Saya lihat kuncinya ada di pendidikan, pendidikan dan pendidikan.
Saya yakin kita juga bisa !.
 
  
Salam dr Beijing,
Seno / NPA; 3958

--- On Fri, 9/30/11, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris di PIT IAGI & 
HAGI (?)
To: [email protected]
Date: Friday, September 30, 2011, 1:26 PM


Tapi bagaimana dengan cina pak seno, mereka tetap berbahasa cina namun 
menguasai dunia??

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: wahyu aji <[email protected]> 
Date: Fri, 30 Sep 2011 14:20:49 +0800 (SGT)
To: <[email protected]>
ReplyTo: <[email protected]> 
Subject: RE: [iagi-net-l] Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris di PIT IAGI & 
HAGI (?)






Saya setuju Pak Awang,
Sebenarnya kemampuan bahasa inggris kita sudah cukup baik, hanya saja kurang 
terbiasa dilatih untuk komunikasi. Dulu waktu sekolah, bahkan banyak yang ambil 
les bahasa inggris sampai tingkat advance, cuma karena jarang dilatih 
akhirnya banyak yang menguap hehe. 
Pengajaran di sekolah saya lihat lebih kepada benar tidaknya menggunakan bahasa 
inggris, sangat jarang dilatih untuk berani menggunakannya, kalaupun salah 
nanti juga bisa belajar. Sehingga banyak orang justru takut salah, padahal 
bicara saja belum ;).
Saya jadi ingat, yang namanya bahasa, bisa karena biasa..
 
Salam dr Beijing,
Seno / NPA 3958 

--- On Fri, 9/30/11, Awang Harun Satyana <[email protected]> wrote:


From: Awang Harun Satyana <[email protected]>
Subject: RE: [iagi-net-l] Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris di PIT IAGI & 
HAGI (?)
To: "'[email protected]'" <[email protected]>
Date: Friday, September 30, 2011, 10:32 AM








Pak Udrekh,
 
Saya hadir di presentasi Pak Udrekh kemarin tentang gas hidrat, suatu 
presentasi yang baik yang tetap disampaikan dalam bahasa Inggris, sekalipun tak 
ada satu pun kawan expat di situ. Ini juga suatu komitmen seperti yang Pak 
Udrekh tulis di bawah. Tentu terasa aneh, berbahasa Inggris padahal tak ada 
orang expat di situ; tetapi sekali komitmen ya tetap komitmen. Dan kebetulan 
juga chairpersons di tempat Pak Udrekh presentasi juga berkomitmen berbahasa 
Inggris. Presentasi2 awal saya (sekitar 20 tahun yl) dalam bahasa Inggris pun 
saya lakukan dengan cara menghafal. Untuk setiap slide saya tulis dulu 
kalimat2nya dan saya hafalkan dan diulangi berkali2 berminggu2 sebelum hari H 
pertemuan terjadi. Itu adalah suatu usaha juga untuk mencoba berkomitmen. 
  
Analisis Pak Udrekh ada benarnya, tetapi seorang lulusan S1 paling tidak telah 
berhubungan dengan bahasa Inggris minimal 11 tahun (3 th SMP + 3 th SMS + 5 
tahun PT), suatu perioda waktu yang cukup lama untuk dapat menguasai suatu 
bahasa asing secara lisan maupun tulisan dengan baik. Maka, mestinya mereka 
telah mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris, tak ada hambatan 
untuk menerima pesan yang disampaikan dan tetap antusias bertanya meskipun 
dalam bahasa Inggris. Bila mereka masih kurang percaya diri untuk berbahasa 
Inggris, barangkali metode pengajaran bahasa asing di sekolah2 kita yang perlu 
dilihat lagi. Para murid sekolah/mahasiswa perlu lebih banyak diarahkan untuk 
dapat berbicara dalam bahasa Inggris saat mereka mempresentasikan tugas2nya, 
juga belajar berdebat dalam bahasa Inggris. 
  
Jangan kita dan generasi muda kita menjadi orang yang gagap berbahasa Indonesia 
dengan baik dan benar, juga tak percaya diri dalam berbahasa Inggris.... 
  
Salam,
Awang 
  

From: Udrekh [mailto:[email protected]] 
Sent: 30 September 2011 10:04
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris di PIT IAGI & 
HAGI (?)
  
Kemaren saya menuliskan komentar yang sama pak, berharap ada komitmen untuk 
mengharuskan abstrak dan presentasi berbahasa Inggris. Saya melihat ada 2 hal 
yang mungkin menjadi bahan pertimbangan mengapa berbahasa Inggris menjadi 
sulit. 

1. Aspek serapan. Walau kita bisa berbahasa Inggris, tapi ada perasaa bahwa 
jika disampaikan dalam bahasa Indonesia, pesannya akan lebih mudah dipahami. 
Bagaimanapun juga, kesuksesan sebuah forum ilmiah juga sangat dipengharuhi oleh 
seberapa jauh berbagi informasi tersebut dapat diserap pendengar dan 
menimbulkan diskusi yang berkwalitas. Jika tidak ada orang asing yang hadir, 
berbahasa Inggris jadi seperti mengorbankan efektifitas penyerapan sebuah 
presentasi.

2. Aspek penerimaan peserta. Saat dibatasi dengan bahasa Inggris, mungkin akan 
mengurangi antusias teman2 yang merasa memiliki keterbatasan bahasa, enggan 
untuk berpartisipasi.

Tapi, saya setuju dengan usulan pak Awang. Kalau bisa, ada komitmen dan 
ketegasan bahwa kita mengadakan konverensi kelas internasional, sehingga 
konsekwensinya abstrak dan slide presentasi harus berbahasa Inggris, dan 
disampaikan dalam bahasa Inggris. Di Jepang, teman2 ilmuwan juga memiliki 
kendala yang sama. Mereka biasanya bisa membuat paper dengan bahasa Inggris 
yang baik, tapi tidak bisa presentasi bahasa Inggris. Dalam beberapa kegiatan 
yang saya ikuti, kendala terbesar adalah saat tanya jawab. Akhirnya, presentasi 
tetap diwajibkan dalam bahasa Inggris, akan tetapi saat tanya jawab, boleh 
berbahasa jepang. 
Mereka akhirnya menghafal apa yang akan disampaikan saat presentasi. Sehingga 
semua orang asal mau menghafal, tetap bisa melakukan presentasi dalam bahasa 
Inggris.



2011/9/30 Awang Satyana <[email protected]>
JCM 2011 baru saja usai. Secara umum, pertemuan gabungan HAGI dan IAGI di 
Makassar ini berjalan lancar dan meriah. Selamat kepada Pak Dicky Rahmadi dan 
seluruh jajarannya, Panitia JCM 2011.



-- 
Udrekh
Marine Geoscientist
Nusantara Earth Observation Network
The Agency for The Assessment and Application Of Technology (BPPT)
BPPT 1th Building 20th floor
M.H. Thamrin no. 8
Jakarta 10340
Indonesia
Phone : 62-21-3168908

Kirim email ke