Pagi-pagi saya disms Pak Awang H Satyana :

   - AHS : "Slmt pagi p. Rovicky. Smalam di metro tv dan tv1 ada running
   text bhwa IAGI menyatakan sadahurip bukan piramida, tp tumpukan lava yg
   mengeras. Benarkah itu brdasarkan berita resmi IAGI dan sepengetahuan p.
   Rovicky? Tkasih."
   - RDP : "Bukan pernyataan PPIAGI. Mungkin Pengda Jabar. Selama ini PP
   IAGI tidak pernah memberi pernyataan apapun ttg hal itu."
   - AHS : " P. Vicky, karena isunya mungkin sudah brskala nasional, bukan
   lg daerah, tak ada knsultasi dulu dg PP ya? Klihatannya ada bbrapa org yg
   ingin 'memaksakan' pndapat pribadi/golongan ke publik tp mnggunakan
   legitimasi lembaga."
   - RDP : Iya Pak Awang. Mungkin IAGI perlu membuat release ttg hal ini.
   Tapi hingga saat ini saya pribadi masih menganggap terlalu dini, perlu
   pengkajian riset utk menyatakan sesuatu. Namun akan saya bahas di rapat
   pleno sabtu besok. Btw, mnurut pak Awang apakah Sadahurip ini manmade dan
   ada bangunan tinggalan manusia didalamnya ?
   - AHS : "Sy setuju skali dg sikap IAGI spt yg dikemukakan p. Rovicky.
   Trlalu dini untuk mnntukan sikap/brkesimpulan, juga sy pikir akan susah
   mnengahi suatu prdebatan, bhkan ketika nnti riset sudah trkumpul banyak
   sebab slalu ada ruang intrpretasi dalam geologi maupun arkeologi. Sy pikir
   IAGI tak perlu release apa2 ttg sadahurip, biarkan aja anggota2nya saling
   brpndapat & brdebat. Yg perlu diklarifikasi adalah pndapat2 'liar' yg
   mmakai nama IAGI, apa pun pandangannya, selama IAGI tak mrasa mngeluarkan
   release apa2. Buat sy, sadahurip sesuatu yg kompleks, tak sederhana shingga
   mudah disimpulkan. Kalau kita prcaya geolistrik, model & intrpretasinya
   bisa ditafsirkan macam2 baik natural maupun manmade, tp tak mnunjukkan
   bahwa itu cinder cone spt blkangan mngemuka di milis, knapa bukan
   cindercone nnti sy tulis di milis. Ttg sadahurip, sy lebih mnyoroti fakta
   hilangnya sebelah punggungan lava baturahong yg lokasinya frontal thd
   sadahurip. Dr pnyelidikan lapangan dan brbagai analisis sy mnafsirkan massa
   yg  hilang ini sbg area 'bongkaran', pnambangan batuan, skala masif, yg
   trjadi pada masa yg jauh dlm sejarah/prasejarah (masa ini sy tafsirkan dr
   wawancara dg pnduduk skitar yg mngatakan bhwa dlm sejarah yg trukur oleh
   mreka tak ada riwayat pnambangan di skitar sdhurip, artinya kalau ada
   pnambangan maka trjadi sblum ada pnduduk masa kini dan leluhurnya). Daerah
   bongkaran baturahong prnah ditafsirkan sbg amblesan sesar, ttapi sy tak
   mnemukan buktinya. Cekungan baturahong adalah manmade, sekian banyak batu
   yg digali itu lalu dipakai apa, nah ini yg putus, dan sy tak mau
   brspekulasi dipakai mmbangun piramida sdhurip. Andaipun iya, sy tak akan
   kesulitan membayangkan proses pmbangunannya, bisa sy jelaskan. Gunungpadang
   adalah bangunan prasejarah masif analognya,dan itu dibangun skitar 3000 SM.
   Demikian p. Vicky, smoga cukup mmberikan info. Salam.

Dari sekelumit sms saya dengan Pak Awang saya kira kita (sebagai anggota
IAGI di mailist ini) mesti tahu bagaimana media saat ini sering
mengaduk-aduk persepsi, pedapat dan opini seseorang yang sering dikaitkan
dengan opini institusinya. Seperti sebelumnya juga ada pernyataan bahwa
penelitian ini juga dilakukan oleh ahli dari ITB dan UGM, namun kita tahu
bahwa itu bukanlah penelitian dan* bukan pernyataan resmi
kelembagaan*institusi ITB. Dan ITBpun tidak memberikan tanggapan
apapun mengenai hal
ini.
Demikian juga posisi PP-IAGI hingga kini. Anggotanya sedang melakukan
penelitian yang berujung pada dua atau lebih pendapat yang berbeda-beda.
Namun IAGI (PP-IAGI) tidak menyimpulkan apapun mengenai pengkajian ini.

Satu penjelasan saya selaku Ketua Umum PP-IAGI adalah, hingga kini PP-IAGI
tidak memberikan pernyataan resmi secara keorganisasian mengenai pembicraan
serta diskusi tentang Sadahurip dan piramida ini. Bahkan IAGI belum
mendapatkan surat resmi dari siapapun juga mengenai hal ini. Demikian juga
soal Gunung Padang yang sudah dinyatakan sebagai peninggalan arkeologis.
IAGI juga tidak menerima surat dari organisasi profesi Arkeolog Indonesia
mengenai hal ini.

*Himbauan pada anggota IAGI*

Di era kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat saat ini anggota IAGI
bebas mengemukakan pendapatnya, se-"*nyleneh*" apapun opini dan pendapatnya
itu semestinya disadari akan melekat pada pribadi masing-masing. IAGI
sangat mendorong dilakukannya penelitian riset dan pengkajian sesuai dengan
kaidah keilmuan. Oleh sebab itu dihimbau ketika berhubungan dengan
media *silahkan
ditegaskan ulang bahwa yang diungkapkan opininya ini adalah opini pribadi,
tidak mewakili institusi IAGI.*

Secara mudah prosedur atau protokol dalam Ilmu komunikasi sebuah pernyataan
resmi dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Diutarakan langsung oleh Pimpinan dalam forum dinamakan Konfrensi Pers
dan disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta
2. Diutarakan tidak langsung oleh seorang jurubicara dalam forum dinamakan
Konfrensi Pers disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta
3. Diutarakan secara tertulis , dengan Kop surat dan Nomor Surat dan
ditandatangi oleh Pimpinan, atau Sekjen dan bukan Juru Bicara.

Penyataan yang keluar dari tidak melalui ketiga protokol diatas bukan
merupakan pernyataan resmi walaupun di katakan sebagai pernyataan pribadi.
(SMS, e-mail atau seseorang sambil jalan kemudian diwawancarai).

Sebagai anggota IAGI, kita belajar satu hal baru dalam dunia komunikasi
media. Masyarakat Indonesia saat ini sangat haus dan sensitif terhadap
sebuah issue atau berita.  Perlu kehati-hatian dalam hal mengemukakan
pendapat ini di media apapun (tulis, cetak ataupun media elektronik
lainnya). Selain isi dari kajian saintifik yang dilakukan, perlu juga
mengindahkan kaidah kesopanan dalam berdiskusi dan mengemukakan
argumentasi. Untuk itu, juga perlu berhati-hati ketika menyinggung
institusi resmi termasuk perusahaan, perorangan, juga pejabat maupun
institusi resmi lainnya. Konsekuensi logis dari *kebebasan *berbicara (dan
mnulis) adalah *tanggungjawab*.

PPIAGI sedang menggodog (merencanakan) untuk mengadakan forum
pemaparan/diskusi mengenai studi paleo katastropik, seabagai bagian dari
usaha mitigasi ini. Dalam waktu dekat akan di infokan undangan forum
diskusi ini.

Mari kita teruskan melakukan riset, studi, penelitian dan juga berdiskusi
secara elegan dan bertanggung jawab.

Salam

Ketua Umum IAGI



Rovicky Dwi Putrohari
--

Kirim email ke