waktu lusi iagi berpendapat, sekarang pun seharusnya iagi berpendapat. lusi sampai sekarang tetap tidak satu suara, tapi iagi tetap berpendapat. kasus pyramid juga tidak harus satu suara baru berpendapat.
naif kalau iagi tidak berpendapat, karena kalau lihat pemberitaan..selalu ada disebut pandangan dari arkeologi dan geologi. geologi = iagi, bukan itb, ugm dll. salam, natan On Feb 15, 2012 2:55 PM, "Rovicky Dwi Putrohari" <[email protected]> wrote: > Pagi-pagi saya disms Pak Awang H Satyana : > > - AHS : "Slmt pagi p. Rovicky. Smalam di metro tv dan tv1 ada running > text bhwa IAGI menyatakan sadahurip bukan piramida, tp tumpukan lava yg > mengeras. Benarkah itu brdasarkan berita resmi IAGI dan sepengetahuan p. > Rovicky? Tkasih." > - RDP : "Bukan pernyataan PPIAGI. Mungkin Pengda Jabar. Selama ini PP > IAGI tidak pernah memberi pernyataan apapun ttg hal itu." > - AHS : " P. Vicky, karena isunya mungkin sudah brskala nasional, > bukan lg daerah, tak ada knsultasi dulu dg PP ya? Klihatannya ada bbrapa > org yg ingin 'memaksakan' pndapat pribadi/golongan ke publik tp mnggunakan > legitimasi lembaga." > - RDP : Iya Pak Awang. Mungkin IAGI perlu membuat release ttg hal ini. > Tapi hingga saat ini saya pribadi masih menganggap terlalu dini, perlu > pengkajian riset utk menyatakan sesuatu. Namun akan saya bahas di rapat > pleno sabtu besok. Btw, mnurut pak Awang apakah Sadahurip ini manmade dan > ada bangunan tinggalan manusia didalamnya ? > - AHS : "Sy setuju skali dg sikap IAGI spt yg dikemukakan p. Rovicky. > Trlalu dini untuk mnntukan sikap/brkesimpulan, juga sy pikir akan susah > mnengahi suatu prdebatan, bhkan ketika nnti riset sudah trkumpul banyak > sebab slalu ada ruang intrpretasi dalam geologi maupun arkeologi. Sy pikir > IAGI tak perlu release apa2 ttg sadahurip, biarkan aja anggota2nya saling > brpndapat & brdebat. Yg perlu diklarifikasi adalah pndapat2 'liar' yg > mmakai nama IAGI, apa pun pandangannya, selama IAGI tak mrasa mngeluarkan > release apa2. Buat sy, sadahurip sesuatu yg kompleks, tak sederhana shingga > mudah disimpulkan. Kalau kita prcaya geolistrik, model & intrpretasinya > bisa ditafsirkan macam2 baik natural maupun manmade, tp tak mnunjukkan > bahwa itu cinder cone spt blkangan mngemuka di milis, knapa bukan > cindercone nnti sy tulis di milis. Ttg sadahurip, sy lebih mnyoroti fakta > hilangnya sebelah punggungan lava baturahong yg lokasinya frontal thd > sadahurip. Dr pnyelidikan lapangan dan brbagai analisis sy mnafsirkan massa > yg hilang ini sbg area 'bongkaran', pnambangan batuan, skala masif, yg > trjadi pada masa yg jauh dlm sejarah/prasejarah (masa ini sy tafsirkan dr > wawancara dg pnduduk skitar yg mngatakan bhwa dlm sejarah yg trukur oleh > mreka tak ada riwayat pnambangan di skitar sdhurip, artinya kalau ada > pnambangan maka trjadi sblum ada pnduduk masa kini dan leluhurnya). Daerah > bongkaran baturahong prnah ditafsirkan sbg amblesan sesar, ttapi sy tak > mnemukan buktinya. Cekungan baturahong adalah manmade, sekian banyak batu > yg digali itu lalu dipakai apa, nah ini yg putus, dan sy tak mau > brspekulasi dipakai mmbangun piramida sdhurip. Andaipun iya, sy tak akan > kesulitan membayangkan proses pmbangunannya, bisa sy jelaskan. Gunungpadang > adalah bangunan prasejarah masif analognya,dan itu dibangun skitar 3000 SM. > Demikian p. Vicky, smoga cukup mmberikan info. Salam. > > Dari sekelumit sms saya dengan Pak Awang saya kira kita (sebagai anggota > IAGI di mailist ini) mesti tahu bagaimana media saat ini sering > mengaduk-aduk persepsi, pedapat dan opini seseorang yang sering dikaitkan > dengan opini institusinya. Seperti sebelumnya juga ada pernyataan bahwa > penelitian ini juga dilakukan oleh ahli dari ITB dan UGM, namun kita tahu > bahwa itu bukanlah penelitian dan* bukan pernyataan resmi > kelembagaan*institusi ITB. Dan ITBpun tidak memberikan tanggapan apapun > mengenai hal > ini. > Demikian juga posisi PP-IAGI hingga kini. Anggotanya sedang melakukan > penelitian yang berujung pada dua atau lebih pendapat yang berbeda-beda. > Namun IAGI (PP-IAGI) tidak menyimpulkan apapun mengenai pengkajian ini. > > Satu penjelasan saya selaku Ketua Umum PP-IAGI adalah, hingga kini PP-IAGI > tidak memberikan pernyataan resmi secara keorganisasian mengenai pembicraan > serta diskusi tentang Sadahurip dan piramida ini. Bahkan IAGI belum > mendapatkan surat resmi dari siapapun juga mengenai hal ini. Demikian juga > soal Gunung Padang yang sudah dinyatakan sebagai peninggalan arkeologis. > IAGI juga tidak menerima surat dari organisasi profesi Arkeolog Indonesia > mengenai hal ini. > > *Himbauan pada anggota IAGI* > > Di era kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat saat ini anggota IAGI > bebas mengemukakan pendapatnya, se-"*nyleneh*" apapun opini dan > pendapatnya itu semestinya disadari akan melekat pada pribadi > masing-masing. IAGI sangat mendorong dilakukannya penelitian riset dan > pengkajian sesuai dengan kaidah keilmuan. Oleh sebab itu dihimbau ketika > berhubungan dengan media *silahkan ditegaskan ulang bahwa yang > diungkapkan opininya ini adalah opini pribadi, tidak mewakili institusi > IAGI.* > > Secara mudah prosedur atau protokol dalam Ilmu komunikasi sebuah > pernyataan resmi dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : > > 1. Diutarakan langsung oleh Pimpinan dalam forum dinamakan Konfrensi Pers > dan disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta > 2. Diutarakan tidak langsung oleh seorang jurubicara dalam forum dinamakan > Konfrensi Pers disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta > 3. Diutarakan secara tertulis , dengan Kop surat dan Nomor Surat dan > ditandatangi oleh Pimpinan, atau Sekjen dan bukan Juru Bicara. > > Penyataan yang keluar dari tidak melalui ketiga protokol diatas bukan > merupakan pernyataan resmi walaupun di katakan sebagai pernyataan pribadi. > (SMS, e-mail atau seseorang sambil jalan kemudian diwawancarai). > > Sebagai anggota IAGI, kita belajar satu hal baru dalam dunia komunikasi > media. Masyarakat Indonesia saat ini sangat haus dan sensitif terhadap > sebuah issue atau berita. Perlu kehati-hatian dalam hal mengemukakan > pendapat ini di media apapun (tulis, cetak ataupun media elektronik > lainnya). Selain isi dari kajian saintifik yang dilakukan, perlu juga > mengindahkan kaidah kesopanan dalam berdiskusi dan mengemukakan > argumentasi. Untuk itu, juga perlu berhati-hati ketika menyinggung > institusi resmi termasuk perusahaan, perorangan, juga pejabat maupun > institusi resmi lainnya. Konsekuensi logis dari *kebebasan *berbicara > (dan mnulis) adalah *tanggungjawab*. > > PPIAGI sedang menggodog (merencanakan) untuk mengadakan forum > pemaparan/diskusi mengenai studi paleo katastropik, seabagai bagian dari > usaha mitigasi ini. Dalam waktu dekat akan di infokan undangan forum > diskusi ini. > > Mari kita teruskan melakukan riset, studi, penelitian dan juga berdiskusi > secara elegan dan bertanggung jawab. > > Salam > > Ketua Umum IAGI > > > > Rovicky Dwi Putrohari > -- > > > >

