Jalan terus pak Yatno, sdh seharusnya gitu. Teknologi menyan, itu dari penemu piramid Lalakon sadahurip. Ada di blognya Budi brahmantyo, sbg komentar mereka pada Budi. Juga ada di tulisan Sujatmiko di Pikiran Rakyat.
Kalau geoklenik baru baca dari pak Yatno. Maju terus telitian geologi indonesia. Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Yustinus Suyatno Yuwono" <[email protected]> Date: Thu, 23 Feb 2012 13:06:22 To: <[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: RE: [iagi-net-l] Running Text MetroTV dan TVOne : Himbauan pada anggota IAGI Pak RDP yang baik. Saya sangat mendukung anda (saya anggota IAGI no. 425). Saya juga himbau rekan-rekan lain anggota maupun non anggota IAGI yang berpredikat geologist. Diskusi mohon berlangsung dengan baik, jangan saling menyalahkan, tapi saling melengkapi sesuai dengan keahlian masing- masing. Dalam diskusi topic pyramid yang berlangsung ini sudah rusak, campur baur gak keruan, prinsip geologi campur aduk dengan prinsip arkeologi bahkan ada yang agak sinis menyebut geoklenik dan geomenyan. Untuk saya pribadi sebetulnya masalahnya sangat- sangat sederhana. Memang diperlukan disiplin ilmu berbeda- beda untuk mencapai tujuan penelitian ini: Arkeologi, Geologi volkanik, dibantu survey geofisika. Yang ahli geologi tolong membatasi diri hanya pada ilmu geologi nya saja, begitu pula akhli geofisiknya. Setelah memperoleh kesimpulan (geologi) serahkan ke ahli Arkeologi , data lalu di integrasi baru akan diperoleh hasil kesimpulan yang ilmiah. Nah kalau geologiwan nimbrung kasih opini arkeologi apa ini gk kebablasan, begitu pula sebaliknya. Bayangkan saja ilmu geologi sendiri amat luas, maka ada rekan- rekan yang mengkususkan diri (misalnya ambil Doktor) di salah satu bidang. Ahli tektonik memerlukan back up ahli petrologi dan geofisik untuk memperoleh hasil penelitian yang baik. Ahli stratigrafi memerlukan ahli paleontology dst., dst. Ahli sedimen pasti bingung membuat interpretasi batuan volkanik, dst. Maaf kalau ada yang terganggu dengan pernyataan saya berikut: Seseorang yang hanya membaca, tidak pernah melakukan penelitian dalam satu bidang secara formal (yang hasilnya telah published pada jurnah ilmiah yang diakui) jangan menganggap dirinya ahli pada bidang yang hanya dibaca dari buku-2 itu. Itu bukan ahli tapi hanya identik dengan guru SD atau SMA (di bidang tersebut). Karena yang dibaca itu hanya sekedar pengetahuan, bukan keahlian akademis. Seorang ahli ada yang tidak perlu bergelar doctor, contoh Haroun Tassaif dari Perancis, dia bukan volkanolog, tetapi dokumen- dokumen volkanologinya banyak dipakai referensi para ahli volkanologi, karena kualitas nya yang sungguh luar biasa baik. Sekali lagi saya dukung Pak Ketum IAGI Salam, Yatno From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, February 15, 2012 2:53 PM To: IAGI Subject: [iagi-net-l] Running Text MetroTV dan TVOne : Himbauan pada anggota IAGI Pagi-pagi saya disms Pak Awang H Satyana : * AHS : "Slmt pagi p. Rovicky. Smalam di metro tv dan tv1 ada running text bhwa IAGI menyatakan sadahurip bukan piramida, tp tumpukan lava yg mengeras. Benarkah itu brdasarkan berita resmi IAGI dan sepengetahuan p. Rovicky? Tkasih." * RDP : "Bukan pernyataan PPIAGI. Mungkin Pengda Jabar. Selama ini PP IAGI tidak pernah memberi pernyataan apapun ttg hal itu." * AHS : " P. Vicky, karena isunya mungkin sudah brskala nasional, bukan lg daerah, tak ada knsultasi dulu dg PP ya? Klihatannya ada bbrapa org yg ingin 'memaksakan' pndapat pribadi/golongan ke publik tp mnggunakan legitimasi lembaga." * RDP : Iya Pak Awang. Mungkin IAGI perlu membuat release ttg hal ini. Tapi hingga saat ini saya pribadi masih menganggap terlalu dini, perlu pengkajian riset utk menyatakan sesuatu. Namun akan saya bahas di rapat pleno sabtu besok. Btw, mnurut pak Awang apakah Sadahurip ini manmade dan ada bangunan tinggalan manusia didalamnya ? * AHS : "Sy setuju skali dg sikap IAGI spt yg dikemukakan p. Rovicky. Trlalu dini untuk mnntukan sikap/brkesimpulan, juga sy pikir akan susah mnengahi suatu prdebatan, bhkan ketika nnti riset sudah trkumpul banyak sebab slalu ada ruang intrpretasi dalam geologi maupun arkeologi. Sy pikir IAGI tak perlu release apa2 ttg sadahurip, biarkan aja anggota2nya saling brpndapat & brdebat. Yg perlu diklarifikasi adalah pndapat2 'liar' yg mmakai nama IAGI, apa pun pandangannya, selama IAGI tak mrasa mngeluarkan release apa2. Buat sy, sadahurip sesuatu yg kompleks, tak sederhana shingga mudah disimpulkan. Kalau kita prcaya geolistrik, model & intrpretasinya bisa ditafsirkan macam2 baik natural maupun manmade, tp tak mnunjukkan bahwa itu cinder cone spt blkangan mngemuka di milis, knapa bukan cindercone nnti sy tulis di milis. Ttg sadahurip, sy lebih mnyoroti fakta hilangnya sebelah punggungan lava baturahong yg lokasinya frontal thd sadahurip. Dr pnyelidikan lapangan dan brbagai analisis sy mnafsirkan massa yg hilang ini sbg area 'bongkaran', pnambangan batuan, skala masif, yg trjadi pada masa yg jauh dlm sejarah/prasejarah (masa ini sy tafsirkan dr wawancara dg pnduduk skitar yg mngatakan bhwa dlm sejarah yg trukur oleh mreka tak ada riwayat pnambangan di skitar sdhurip, artinya kalau ada pnambangan maka trjadi sblum ada pnduduk masa kini dan leluhurnya). Daerah bongkaran baturahong prnah ditafsirkan sbg amblesan sesar, ttapi sy tak mnemukan buktinya. Cekungan baturahong adalah manmade, sekian banyak batu yg digali itu lalu dipakai apa, nah ini yg putus, dan sy tak mau brspekulasi dipakai mmbangun piramida sdhurip. Andaipun iya, sy tak akan kesulitan membayangkan proses pmbangunannya, bisa sy jelaskan. Gunungpadang adalah bangunan prasejarah masif analognya,dan itu dibangun skitar 3000 SM. Demikian p. Vicky, smoga cukup mmberikan info. Salam. Dari sekelumit sms saya dengan Pak Awang saya kira kita (sebagai anggota IAGI di mailist ini) mesti tahu bagaimana media saat ini sering mengaduk-aduk persepsi, pedapat dan opini seseorang yang sering dikaitkan dengan opini institusinya. Seperti sebelumnya juga ada pernyataan bahwa penelitian ini juga dilakukan oleh ahli dari ITB dan UGM, namun kita tahu bahwa itu bukanlah penelitian dan bukan pernyataan resmi kelembagaan institusi ITB. Dan ITBpun tidak memberikan tanggapan apapun mengenai hal ini. Demikian juga posisi PP-IAGI hingga kini. Anggotanya sedang melakukan penelitian yang berujung pada dua atau lebih pendapat yang berbeda-beda. Namun IAGI (PP-IAGI) tidak menyimpulkan apapun mengenai pengkajian ini. Satu penjelasan saya selaku Ketua Umum PP-IAGI adalah, hingga kini PP-IAGI tidak memberikan pernyataan resmi secara keorganisasian mengenai pembicraan serta diskusi tentang Sadahurip dan piramida ini. Bahkan IAGI belum mendapatkan surat resmi dari siapapun juga mengenai hal ini. Demikian juga soal Gunung Padang yang sudah dinyatakan sebagai peninggalan arkeologis. IAGI juga tidak menerima surat dari organisasi profesi Arkeolog Indonesia mengenai hal ini. Himbauan pada anggota IAGI Di era kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat saat ini anggota IAGI bebas mengemukakan pendapatnya, se-"nyleneh" apapun opini dan pendapatnya itu semestinya disadari akan melekat pada pribadi masing-masing. IAGI sangat mendorong dilakukannya penelitian riset dan pengkajian sesuai dengan kaidah keilmuan. Oleh sebab itu dihimbau ketika berhubungan dengan media silahkan ditegaskan ulang bahwa yang diungkapkan opininya ini adalah opini pribadi, tidak mewakili institusi IAGI. Secara mudah prosedur atau protokol dalam Ilmu komunikasi sebuah pernyataan resmi dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Diutarakan langsung oleh Pimpinan dalam forum dinamakan Konfrensi Pers dan disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta 2. Diutarakan tidak langsung oleh seorang jurubicara dalam forum dinamakan Konfrensi Pers disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta 3. Diutarakan secara tertulis , dengan Kop surat dan Nomor Surat dan ditandatangi oleh Pimpinan, atau Sekjen dan bukan Juru Bicara. Penyataan yang keluar dari tidak melalui ketiga protokol diatas bukan merupakan pernyataan resmi walaupun di katakan sebagai pernyataan pribadi. (SMS, e-mail atau seseorang sambil jalan kemudian diwawancarai). Sebagai anggota IAGI, kita belajar satu hal baru dalam dunia komunikasi media. Masyarakat Indonesia saat ini sangat haus dan sensitif terhadap sebuah issue atau berita. Perlu kehati-hatian dalam hal mengemukakan pendapat ini di media apapun (tulis, cetak ataupun media elektronik lainnya). Selain isi dari kajian saintifik yang dilakukan, perlu juga mengindahkan kaidah kesopanan dalam berdiskusi dan mengemukakan argumentasi. Untuk itu, juga perlu berhati-hati ketika menyinggung institusi resmi termasuk perusahaan, perorangan, juga pejabat maupun institusi resmi lainnya. Konsekuensi logis dari kebebasan berbicara (dan mnulis) adalah tanggungjawab. PPIAGI sedang menggodog (merencanakan) untuk mengadakan forum pemaparan/diskusi mengenai studi paleo katastropik, seabagai bagian dari usaha mitigasi ini. Dalam waktu dekat akan di infokan undangan forum diskusi ini. Mari kita teruskan melakukan riset, studi, penelitian dan juga berdiskusi secara elegan dan bertanggung jawab. Salam Ketua Umum IAGI Rovicky Dwi Putrohari --

