Lalu bagaimana dengan forum milis IAGI ini yang terbuka bisa diakses siapa
saja termasuk media (pers)?
apakah ada pemikiran utk membuatnya eksklusif utk anggota saja?

salam
Razi

2012/2/15 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>

> Pagi-pagi saya disms Pak Awang H Satyana :
>
>    - AHS : "Slmt pagi p. Rovicky. Smalam di metro tv dan tv1 ada running
>    text bhwa IAGI menyatakan sadahurip bukan piramida, tp tumpukan lava yg
>    mengeras. Benarkah itu brdasarkan berita resmi IAGI dan sepengetahuan p.
>    Rovicky? Tkasih."
>    - RDP : "Bukan pernyataan PPIAGI. Mungkin Pengda Jabar. Selama ini PP
>    IAGI tidak pernah memberi pernyataan apapun ttg hal itu."
>    - AHS : " P. Vicky, karena isunya mungkin sudah brskala nasional,
>    bukan lg daerah, tak ada knsultasi dulu dg PP ya? Klihatannya ada bbrapa
>    org yg ingin 'memaksakan' pndapat pribadi/golongan ke publik tp mnggunakan
>    legitimasi lembaga."
>    - RDP : Iya Pak Awang. Mungkin IAGI perlu membuat release ttg hal ini.
>    Tapi hingga saat ini saya pribadi masih menganggap terlalu dini, perlu
>    pengkajian riset utk menyatakan sesuatu. Namun akan saya bahas di rapat
>    pleno sabtu besok. Btw, mnurut pak Awang apakah Sadahurip ini manmade dan
>    ada bangunan tinggalan manusia didalamnya ?
>    - AHS : "Sy setuju skali dg sikap IAGI spt yg dikemukakan p. Rovicky.
>    Trlalu dini untuk mnntukan sikap/brkesimpulan, juga sy pikir akan susah
>    mnengahi suatu prdebatan, bhkan ketika nnti riset sudah trkumpul banyak
>    sebab slalu ada ruang intrpretasi dalam geologi maupun arkeologi. Sy pikir
>    IAGI tak perlu release apa2 ttg sadahurip, biarkan aja anggota2nya saling
>    brpndapat & brdebat. Yg perlu diklarifikasi adalah pndapat2 'liar' yg
>    mmakai nama IAGI, apa pun pandangannya, selama IAGI tak mrasa mngeluarkan
>    release apa2. Buat sy, sadahurip sesuatu yg kompleks, tak sederhana shingga
>    mudah disimpulkan. Kalau kita prcaya geolistrik, model & intrpretasinya
>    bisa ditafsirkan macam2 baik natural maupun manmade, tp tak mnunjukkan
>    bahwa itu cinder cone spt blkangan mngemuka di milis, knapa bukan
>    cindercone nnti sy tulis di milis. Ttg sadahurip, sy lebih mnyoroti fakta
>    hilangnya sebelah punggungan lava baturahong yg lokasinya frontal thd
>    sadahurip. Dr pnyelidikan lapangan dan brbagai analisis sy mnafsirkan massa
>    yg  hilang ini sbg area 'bongkaran', pnambangan batuan, skala masif, yg
>    trjadi pada masa yg jauh dlm sejarah/prasejarah (masa ini sy tafsirkan dr
>    wawancara dg pnduduk skitar yg mngatakan bhwa dlm sejarah yg trukur oleh
>    mreka tak ada riwayat pnambangan di skitar sdhurip, artinya kalau ada
>    pnambangan maka trjadi sblum ada pnduduk masa kini dan leluhurnya). Daerah
>    bongkaran baturahong prnah ditafsirkan sbg amblesan sesar, ttapi sy tak
>    mnemukan buktinya. Cekungan baturahong adalah manmade, sekian banyak batu
>    yg digali itu lalu dipakai apa, nah ini yg putus, dan sy tak mau
>    brspekulasi dipakai mmbangun piramida sdhurip. Andaipun iya, sy tak akan
>    kesulitan membayangkan proses pmbangunannya, bisa sy jelaskan. Gunungpadang
>    adalah bangunan prasejarah masif analognya,dan itu dibangun skitar 3000 SM.
>    Demikian p. Vicky, smoga cukup mmberikan info. Salam.
>
> Dari sekelumit sms saya dengan Pak Awang saya kira kita (sebagai anggota
> IAGI di mailist ini) mesti tahu bagaimana media saat ini sering
> mengaduk-aduk persepsi, pedapat dan opini seseorang yang sering dikaitkan
> dengan opini institusinya. Seperti sebelumnya juga ada pernyataan bahwa
> penelitian ini juga dilakukan oleh ahli dari ITB dan UGM, namun kita tahu
> bahwa itu bukanlah penelitian dan* bukan pernyataan resmi 
> kelembagaan*institusi ITB. Dan ITBpun tidak memberikan tanggapan apapun 
> mengenai hal
> ini.
> Demikian juga posisi PP-IAGI hingga kini. Anggotanya sedang melakukan
> penelitian yang berujung pada dua atau lebih pendapat yang berbeda-beda.
> Namun IAGI (PP-IAGI) tidak menyimpulkan apapun mengenai pengkajian ini.
>
> Satu penjelasan saya selaku Ketua Umum PP-IAGI adalah, hingga kini PP-IAGI
> tidak memberikan pernyataan resmi secara keorganisasian mengenai pembicraan
> serta diskusi tentang Sadahurip dan piramida ini. Bahkan IAGI belum
> mendapatkan surat resmi dari siapapun juga mengenai hal ini. Demikian juga
> soal Gunung Padang yang sudah dinyatakan sebagai peninggalan arkeologis.
> IAGI juga tidak menerima surat dari organisasi profesi Arkeolog Indonesia
> mengenai hal ini.
>
> *Himbauan pada anggota IAGI*
>
> Di era kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat saat ini anggota IAGI
> bebas mengemukakan pendapatnya, se-"*nyleneh*" apapun opini dan
> pendapatnya itu semestinya disadari akan melekat pada pribadi
> masing-masing. IAGI sangat mendorong dilakukannya penelitian riset dan
> pengkajian sesuai dengan kaidah keilmuan. Oleh sebab itu dihimbau ketika
> berhubungan dengan media *silahkan ditegaskan ulang bahwa yang
> diungkapkan opininya ini adalah opini pribadi, tidak mewakili institusi
> IAGI.*
>
> Secara mudah prosedur atau protokol dalam Ilmu komunikasi sebuah
> pernyataan resmi dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
>
> 1. Diutarakan langsung oleh Pimpinan dalam forum dinamakan Konfrensi Pers
> dan disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta
> 2. Diutarakan tidak langsung oleh seorang jurubicara dalam forum dinamakan
> Konfrensi Pers disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta
> 3. Diutarakan secara tertulis , dengan Kop surat dan Nomor Surat dan
> ditandatangi oleh Pimpinan, atau Sekjen dan bukan Juru Bicara.
>
> Penyataan yang keluar dari tidak melalui ketiga protokol diatas bukan
> merupakan pernyataan resmi walaupun di katakan sebagai pernyataan pribadi.
> (SMS, e-mail atau seseorang sambil jalan kemudian diwawancarai).
>
> Sebagai anggota IAGI, kita belajar satu hal baru dalam dunia komunikasi
> media. Masyarakat Indonesia saat ini sangat haus dan sensitif terhadap
> sebuah issue atau berita.  Perlu kehati-hatian dalam hal mengemukakan
> pendapat ini di media apapun (tulis, cetak ataupun media elektronik
> lainnya). Selain isi dari kajian saintifik yang dilakukan, perlu juga
> mengindahkan kaidah kesopanan dalam berdiskusi dan mengemukakan
> argumentasi. Untuk itu, juga perlu berhati-hati ketika menyinggung
> institusi resmi termasuk perusahaan, perorangan, juga pejabat maupun
> institusi resmi lainnya. Konsekuensi logis dari *kebebasan *berbicara
> (dan mnulis) adalah *tanggungjawab*.
>
> PPIAGI sedang menggodog (merencanakan) untuk mengadakan forum
> pemaparan/diskusi mengenai studi paleo katastropik, seabagai bagian dari
> usaha mitigasi ini. Dalam waktu dekat akan di infokan undangan forum
> diskusi ini.
>
> Mari kita teruskan melakukan riset, studi, penelitian dan juga berdiskusi
> secara elegan dan bertanggung jawab.
>
> Salam
>
> Ketua Umum IAGI
>
>
>
> Rovicky Dwi Putrohari
> --
>
>
>
>

Kirim email ke