Pak Awang,
Maaf saya tidak pernah menafsirkan Sadahurip, G. Padang G. Lalakon dsb sebagai
cinder cone. Saya hanya sharing, bahwa suatu volcanic activity tidak selalu
ditandai adanya center eruption features seperti sisa kepundan, kawah, volcanic
neck dsb. Saya hanya ngasih contoh aja G. Kiamis yang kebetulan ada di Garut
adalah cindercone. Pesan saya jelas, tidak mudah untuk interpretasi volkanik.
Ada lagi volcano (kecil) yang disebut "hornito" ("rootless volcano").yang
terakir ini adalah kerucut kecil gunungapi yang tidak punya feeder (kepundan)
jadi tidak ada volcanic neck segala.Letusan terjadi saat lava panas mengalir ke
laut, impact antara lava dan air laut menimbulkan letusan, hasilnya sering juga
disebut littoral cone atau hornito dalam bhs Mexico.Sekali lagi saya juga tidak
menyimpulkan Sadahurip adalah hornito.
Mengenai critical angle, itu memang betul terutama untuk material lepas.
Critical angle itu hanya berlaku pada saat erupsi selesai. Setelah itu ada
proses erosi, digenesis, mungkin alterasi dsb yang akhirnya memberikan bentuk
morfologi yang sekarang.
Harap tahu saja, kalo anda sempat jalan- jalan mulai Padalarang, Cililin,
Cimahi, Banjaran, sampai Garut Selatan, anda akan menjumpai puluhan "Piramid"
dengan berbagai ukuran dan bentuk, ada yang simetris, ada yang tidak simetris,
bahkan di Bandung Selatan sudah banyak yang dibuat Quarry sehingga bagian dalam
"Pyramid" ini jelas terlihat. Dan itu semua adalah volcanic remnant yang
umurnya mungkin sekitar Miosen Atas- Plestosen. Dan nama yang cocok adalah
"kerucut" bukan "pyramid". Karena kalau pyramid harus segi empat dasarnya
dengan pinggiran yang runcing.Satu hal yang saya sangat setuju adalah adanya
situs megalitik di tempat G Padang itu. Pertanyaan saya kpd rekan arkeologis:
Apakah Situs Berundak itu sama atau identik dengan Pyramid? Setahu saya situs
megalitik di dunia dikenal dari susunan batu-batu besar, menhir, dolmen,
patung-patung besar dengan bentuk primitive, dan tidak ada sentuhan teknologi
canggih seperti pada Piramid Mesir, atau Candi, atau bangunan besar lainnya.
Maaf saya tanya karena saya bukan arkeologis.
Salam,
Yatno
-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, February 15, 2012 5:08 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] GUNUNG PADANG... Angle of Repose
Critical angle of repose perlu diterapkan ke penafsiran
cinder cone, bukan ke step pyramid, kecuali kalau perundakan piramida ini mau
ditutupi 'casing' sehingga membentuk bidang miring, tetapi bidang miring
bukanlah arkitektur Gunung Padang.
Gunung Padang secara regional duduk di atas/di sekitar jalur Sesar
Cimandiri,goyangan gempa tentu jadi risikonya. Orang2 dulu para pembangunnya
telah menyadari hal ini dan mereka memasukkan butiran pasir di antara bilah2
kolom andesit basaltik sebagai peredam adalah sebuah kecerdasan yang patut
dikagumi dibanding masanya, bandingannya adalah seperti bantalan peluru bulat
di poros engkol mekanik yang senantiasa bergerak.
Gempa tentu tak terlihat, hanya goyangannya dirasakan, dulu waktu membangunnya
juga mungkin sempat porak-poranda, tetapi mungkin mereka kemudian menemukan
cara meredamnya. Letusan gunungapi Gunung Gede tentu mereka lihat dan
menakutkan, Sang Hyang yang menghuni Gunung Gede marah, maka mereka mendirikan
"kuil" alam Gunung Padang buat menyembahnya. Kosmologi agama purba Jawa
menyatakan gunung adalah tempat suci yang harus diindahkan, dan ini berlanjut
terus sampai masa sejarah.
Jadi meskipun mereka cerdas menemukan teknologi peredam gempa, toh mereka
menyembah gunung juga, wajar saja itu terjadi pada sekitar 3000 SM.
Perhatikan bahwa semua piramida di Mesir saja dibangun di tepi barat Sungai
Nil, tak ada yang di tepi timurnya, melambangkan bahwa bangunan ini dibangun
dengan suatu kepercayaan akan Dewa Matahari (Ra) dan tempat kematian saat
matahari terbenam, maka di tepi barat; tak masalah bahwa piramida ini dibangun
dengan teknologi canggih pada masanya, dibangun pada saat manusia belum
mengenal teknologi roda...
salam,
Awang
----------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman
abstrak 28 Februari 2012.
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------