ikutan ya. sebenarnya masih ada satu uncertainty tentang bangunan2 besar seperti piramid, candi dll. apakah manusia purba membangun bangunan itu hanya untuk memuja Tuhan mereka? atau untuk makam (interpretasi dari piramid Giza). apakah tidak mungkin untuk hal yang lain?
terus apa perlu nya mengetahui hal ini? keperluannya adalah supaya kita tidak usah cari2 hubungannya dengan tatanan bintang atau gunung2 sekitarnya. maksudnya tidak harus ada hubungannya. jadi kita tidak bisa meng eliminasi kemungkinan ttg adanya piramid kalau tidak mengikuti kaidah2 itu. saya rasa sistem eliminasi untuk menebak apakah itu buatan manusia atau alam harus dilakukan dengan hati2. karena terlalu banyak asumsi yang kita terima sekarang sebagai suatu yang benar belum tentu tepat digunakan dalam hal ini. selamat berdiskusi ilmiah. salam, frank ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thursday, February 16, 2012 10:06 PM Subject: Re: [iagi-net-l] GUNUNG PADANG... Angle of Repose Pak Awang, Pak Yatno, et al., saya juga pernah ikut nimbrung masalah Gn. Sadahurip ini dan memberikan satu kemungkinan alternatif dari sekian puluh alternatif lainnya. Alternatif saya waktu itu adalah merupakan "remnant" dari bagian tubuh gunungapi yang lebih tua (Galunggung Tua? Atau lainnya?), apakah itu sisa flank-nya, kaki-nya, dll karena saya belum pernah lihat Gn. Sadahurip ini secara langsung physically. Seandainya, tiba2 disitu ditemukan artefak, apakah akan serta merta itu diinterpretasikan sebagai "pyramid" sisa kebudayaan megalitik yang "dibangun" oleh mereka? Bagaimana kalau bentuk "pyramid" itu asli bangunan alam sisa kegiatan volkanik, lalu oleh manusia pada waktu itu digunakan untuk tempat pemujaan "dewa" mereka karena mereka tak perlu susah payah membuat "pyramid" karena sdh dibuatkan oleh yang Maha Kuasa melalui proses alam? Dan mereka meninggalkan sisa2 aktifitasnya disana yang oleh kita disebut artefak? Apakah kalau ditemukan artefak lalu penelitian geologi-nya akan dihentikan ? Just a two cents. Habash Sent via BlackBerry from Maxis -----Original Message----- From: Awang Harun Satyana <[email protected]> Date: Thu, 16 Feb 2012 09:27:12 To: '[email protected]'<[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: RE: [iagi-net-l] GUNUNG PADANG... Angle of Repose Pak Yatno, Terima kasih atas tambahan informasinya, salah satu jenis bukit volkanik lain juga adalah apa yang disebut dalam bahasa Indonesia "gumuk piroklastika" yang mungkin juga tak punya pipa kepundan, hanya tumpukan piroklastika. Tentang piramida, banyak jenisnya, yang Pak Yatno sebutkan di bawah adalah yang dklasifikasikan sebagai "square pyramid" yang diwakili oleh piramida2 terkenal di kompleks Giza, selatan Cairo. Kebanyakan orang menganggap bahwa itulah satu2nya bentuk piramid, ternyata bukan. Bahkan yang tak simetris pun tetapi disebut piramid ada, yaitu "bent pyramid", misalnya piramid Snefru (2600 SM) atau Pepi (2250 SM). Piramida2 di Mesir berkembang dari punden berundak yang juga dinamakan sebagai piramida, berangkat dari punden berundak dua-tiga tingkat yang terkenal dengan nama "mastaba", atau punden berundak yang lebih tinggi misalnya piramida Djoser (2630 SM). Dan pembangunan piramida2 terkenal di Giza itu, Cheops/Khufu misalnya ia tahap pembangunannya melalui punden berundak (step pyramid) lalu di-casing sehingga undakannya tidak terlihat, sisa bidang miringnya. Dalam terminologi baku, punden berundak diterjemahkan sebagai 'step pyramid' dan Gunung Padang serta Borobudur telah biasa masuk dalam literatur2 arkeologi dari luar disebut sebagai 'step pyramid'. Salam, Awang -----Original Message----- From: Yustinus Suyatno Yuwono [mailto:[email protected]] Sent: 16 Februari 2012 4:09 To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] GUNUNG PADANG... Angle of Repose Pak Awang, Maaf saya tidak pernah menafsirkan Sadahurip, G. Padang G. Lalakon dsb sebagai cinder cone. Saya hanya sharing, bahwa suatu volcanic activity tidak selalu ditandai adanya center eruption features seperti sisa kepundan, kawah, volcanic neck dsb. Saya hanya ngasih contoh aja G. Kiamis yang kebetulan ada di Garut adalah cindercone. Pesan saya jelas, tidak mudah untuk interpretasi volkanik. Ada lagi volcano (kecil) yang disebut "hornito" ("rootless volcano").yang terakir ini adalah kerucut kecil gunungapi yang tidak punya feeder (kepundan) jadi tidak ada volcanic neck segala.Letusan terjadi saat lava panas mengalir ke laut, impact antara lava dan air laut menimbulkan letusan, hasilnya sering juga disebut littoral cone atau hornito dalam bhs Mexico.Sekali lagi saya juga tidak menyimpulkan Sadahurip adalah hornito. Mengenai critical angle, itu memang betul terutama untuk material lepas. Critical angle itu hanya berlaku pada saat erupsi selesai. Setelah itu ada proses erosi, digenesis, mungkin alterasi dsb yang akhirnya memberikan bentuk morfologi yang sekarang. Harap tahu saja, kalo anda sempat jalan- jalan mulai Padalarang, Cililin, Cimahi, Banjaran, sampai Garut Selatan, anda akan menjumpai puluhan "Piramid" dengan berbagai ukuran dan bentuk, ada yang simetris, ada yang tidak simetris, bahkan di Bandung Selatan sudah banyak yang dibuat Quarry sehingga bagian dalam "Pyramid" ini jelas terlihat. Dan itu semua adalah volcanic remnant yang umurnya mungkin sekitar Miosen Atas- Plestosen. Dan nama yang cocok adalah "kerucut" bukan "pyramid". Karena kalau pyramid harus segi empat dasarnya dengan pinggiran yang runcing.Satu hal yang saya sangat setuju adalah adanya situs megalitik di tempat G Padang itu. Pertanyaan saya kpd rekan arkeologis: Apakah Situs Berundak itu sama atau identik dengan Pyramid? Setahu saya situs megalitik di dunia dikenal dari susunan batu-batu besar, menhir, dolmen, patung-patung besar dengan bentuk primitive, dan tidak ada sentuhan teknologi canggih seperti pada Piramid Mesir, atau Candi, atau bangunan besar lainnya. Maaf saya tanya karena saya bukan arkeologis. Salam, Yatno -----Original Message----- From: Awang Satyana [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, February 15, 2012 5:08 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] GUNUNG PADANG... Angle of Repose Critical angle of repose perlu diterapkan ke penafsiran cinder cone, bukan ke step pyramid, kecuali kalau perundakan piramida ini mau ditutupi 'casing' sehingga membentuk bidang miring, tetapi bidang miring bukanlah arkitektur Gunung Padang. Gunung Padang secara regional duduk di atas/di sekitar jalur Sesar Cimandiri,goyangan gempa tentu jadi risikonya. Orang2 dulu para pembangunnya telah menyadari hal ini dan mereka memasukkan butiran pasir di antara bilah2 kolom andesit basaltik sebagai peredam adalah sebuah kecerdasan yang patut dikagumi dibanding masanya, bandingannya adalah seperti bantalan peluru bulat di poros engkol mekanik yang senantiasa bergerak. Gempa tentu tak terlihat, hanya goyangannya dirasakan, dulu waktu membangunnya juga mungkin sempat porak-poranda, tetapi mungkin mereka kemudian menemukan cara meredamnya. Letusan gunungapi Gunung Gede tentu mereka lihat dan menakutkan, Sang Hyang yang menghuni Gunung Gede marah, maka mereka mendirikan "kuil" alam Gunung Padang buat menyembahnya. Kosmologi agama purba Jawa menyatakan gunung adalah tempat suci yang harus diindahkan, dan ini berlanjut terus sampai masa sejarah. Jadi meskipun mereka cerdas menemukan teknologi peredam gempa, toh mereka menyembah gunung juga, wajar saja itu terjadi pada sekitar 3000 SM. Perhatikan bahwa semua piramida di Mesir saja dibangun di tepi barat Sungai Nil, tak ada yang di tepi timurnya, melambangkan bahwa bangunan ini dibangun dengan suatu kepercayaan akan Dewa Matahari (Ra) dan tempat kematian saat matahari terbenam, maka di tepi barat; tak masalah bahwa piramida ini dibangun dengan teknologi canggih pada masanya, dibangun pada saat manusia belum mengenal teknologi roda... salam, Awang ---------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2011-2014: Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com -------------------------------------------------------------------------------- Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman abstrak 28 Februari 2012. -------------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email to: [email protected] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

