Pak Yatno,

Terima kasih atas tambahan informasinya, salah satu jenis bukit volkanik lain 
juga adalah apa yang disebut dalam bahasa Indonesia "gumuk piroklastika" yang 
mungkin juga tak punya pipa kepundan, hanya tumpukan piroklastika.

Tentang piramida, banyak jenisnya, yang Pak Yatno sebutkan di bawah adalah yang 
dklasifikasikan sebagai "square pyramid" yang diwakili oleh piramida2 terkenal 
di kompleks Giza, selatan Cairo. Kebanyakan orang menganggap bahwa itulah 
satu2nya bentuk piramid, ternyata bukan. Bahkan yang tak simetris pun tetapi 
disebut piramid ada, yaitu "bent pyramid", misalnya piramid Snefru (2600 SM) 
atau Pepi (2250 SM).

Piramida2 di Mesir berkembang dari punden berundak yang juga dinamakan sebagai 
piramida, berangkat dari punden berundak dua-tiga tingkat yang terkenal dengan 
nama "mastaba", atau punden berundak yang lebih tinggi misalnya piramida Djoser 
(2630 SM). Dan pembangunan piramida2 terkenal di Giza itu, Cheops/Khufu 
misalnya ia tahap pembangunannya melalui punden berundak (step pyramid) lalu 
di-casing sehingga undakannya tidak terlihat, sisa bidang miringnya.

Dalam terminologi baku, punden berundak diterjemahkan sebagai 'step pyramid' 
dan Gunung Padang serta Borobudur telah biasa masuk dalam literatur2 arkeologi 
dari luar disebut sebagai 'step pyramid'.

Salam,
Awang

-----Original Message-----
From: Yustinus Suyatno Yuwono [mailto:[email protected]] 
Sent: 16 Februari 2012 4:09
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] GUNUNG PADANG... Angle of Repose

Pak Awang, 

Maaf saya tidak pernah menafsirkan Sadahurip, G. Padang G. Lalakon dsb sebagai 
cinder cone. Saya hanya sharing, bahwa suatu volcanic activity tidak selalu 
ditandai adanya center eruption features seperti sisa kepundan, kawah, volcanic 
neck dsb. Saya hanya ngasih contoh aja G. Kiamis yang kebetulan ada di Garut 
adalah cindercone. Pesan saya jelas, tidak mudah untuk interpretasi volkanik. 
Ada lagi volcano (kecil) yang disebut "hornito" ("rootless volcano").yang 
terakir ini adalah kerucut kecil gunungapi yang tidak punya feeder (kepundan) 
jadi tidak ada volcanic neck segala.Letusan terjadi saat lava panas mengalir ke 
laut, impact antara lava dan air laut menimbulkan letusan, hasilnya sering juga 
disebut littoral cone atau hornito dalam bhs Mexico.Sekali lagi saya juga tidak 
menyimpulkan Sadahurip adalah hornito.
Mengenai critical angle, itu memang betul terutama untuk material lepas. 
Critical angle itu hanya berlaku pada saat erupsi selesai. Setelah itu ada 
proses erosi, digenesis, mungkin alterasi dsb yang akhirnya memberikan bentuk 
morfologi yang sekarang.
Harap tahu saja, kalo anda sempat jalan- jalan mulai Padalarang, Cililin, 
Cimahi, Banjaran, sampai Garut Selatan, anda akan menjumpai puluhan "Piramid" 
dengan berbagai ukuran dan bentuk, ada yang simetris, ada yang tidak simetris, 
bahkan di Bandung Selatan sudah banyak yang dibuat Quarry sehingga bagian dalam 
"Pyramid" ini jelas terlihat. Dan itu semua adalah volcanic remnant yang 
umurnya mungkin sekitar Miosen Atas- Plestosen. Dan nama yang cocok adalah 
"kerucut" bukan "pyramid". Karena kalau pyramid harus segi empat dasarnya 
dengan pinggiran yang runcing.Satu hal yang saya sangat setuju adalah adanya 
situs megalitik di tempat G Padang itu. Pertanyaan saya kpd rekan arkeologis: 
Apakah Situs Berundak itu sama atau identik dengan Pyramid? Setahu saya situs 
megalitik di dunia dikenal dari susunan batu-batu besar, menhir, dolmen, 
patung-patung besar dengan bentuk primitive, dan tidak ada sentuhan teknologi 
canggih seperti pada Piramid Mesir, atau Candi, atau bangunan besar lainnya. 
Maaf saya tanya karena saya bukan arkeologis.
Salam,
Yatno

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, February 15, 2012 5:08 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] GUNUNG PADANG... Angle of Repose


Critical angle of repose perlu diterapkan ke penafsiran
cinder cone, bukan ke step pyramid, kecuali kalau perundakan piramida ini mau 
ditutupi 'casing' sehingga membentuk bidang miring, tetapi bidang miring 
bukanlah arkitektur Gunung Padang.

Gunung Padang secara regional duduk di atas/di sekitar jalur Sesar 
Cimandiri,goyangan gempa tentu jadi risikonya. Orang2 dulu para pembangunnya 
telah menyadari hal ini dan mereka memasukkan butiran pasir di antara bilah2 
kolom andesit basaltik sebagai peredam adalah sebuah kecerdasan yang patut 
dikagumi dibanding masanya, bandingannya adalah seperti bantalan peluru bulat 
di poros engkol mekanik yang senantiasa bergerak.

Gempa tentu tak terlihat, hanya goyangannya dirasakan, dulu waktu membangunnya 
juga mungkin sempat porak-poranda, tetapi mungkin mereka kemudian menemukan 
cara meredamnya. Letusan gunungapi Gunung Gede tentu mereka lihat dan 
menakutkan, Sang Hyang yang menghuni Gunung Gede marah, maka mereka mendirikan 
"kuil" alam Gunung Padang buat menyembahnya. Kosmologi agama purba Jawa 
menyatakan gunung adalah tempat suci yang harus diindahkan, dan ini berlanjut 
terus sampai masa sejarah.

Jadi meskipun mereka cerdas menemukan teknologi peredam gempa, toh mereka
menyembah gunung juga, wajar saja itu terjadi pada sekitar 3000 SM.

Perhatikan bahwa semua piramida di Mesir saja dibangun di tepi barat Sungai 
Nil, tak ada yang di tepi timurnya, melambangkan bahwa bangunan ini dibangun 
dengan suatu kepercayaan akan Dewa Matahari (Ra) dan tempat kematian saat 
matahari terbenam, maka di tepi barat; tak masalah bahwa piramida ini dibangun 
dengan teknologi canggih pada masanya, dibangun pada saat manusia belum 
mengenal teknologi roda...

salam,
Awang



----------------------------------------------------------------


--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman 
abstrak 28 Februari 2012.
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke