Pak Noor, apa kabar? Karena rapuh maka tetangga kita ini selalu berupaya supaya lebih unggul. Rasanya Malaysia tidak begitu mudah langsung menyetop air karena mereka pasti ada kontrak. Dua minggu yll ketika ke S'pura saya diajak paman Miswadi untuk berkunjung ke pusat pengolahan air di Bedok North; air yang dibeli dari Malaysia diproses lagi untuk kebutuhan warga, dan lainnya diproses dalam air minum kemasan botol dan... di re-xport ke Malysia. Pusat pengolahan air ini dibuat sangat menarik sehingga sering dikunjungi wisatawan atau mahasiswa. Ingat, air yang keluar dari kran di rumah-2 (flat) warga dijamin bisa diminum langsung tanpa direbus. Untuk gas, ternyata Singapura mau membeli dengan harga paling tinggi (US$19/MBTU) sementara kalau dijual ke PGN hanya US$5-5,5 saja.Mereka sangat butuh gas untuk industrinya. Mungkin komoditi gas ini bisa dimainkan sebagai alat dalam geopolitik, tetapi kita perlu sadari bahwa konon untuk mengatur lalu lintas penerbangan di udara Singapura sampai sekitar Riau menjadi wewenang mereka. Hal ini pernah ditulis di koran nasional oleh mantan penjabat tinggi AURI.
Salam hangat, sugeng ----- Original Message ----- From: noor syarifuddin To: [email protected] Sent: Thursday, March 22, 2012 1:30 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Geopolitik : Cari gas di teluk Klo bicara singapura, maka sbenarnya mrk itu rapuh sekali. Ingat gak waktu Malaysia mau stop suplai air bersih ke sana.....wah kalang kabut mrk, sampai kluar project daur ulang air limbah spy layak minum lagi.... Tapi krn banyak duit mrk msh bisa main mata dgn tetangga lain yg butuh duit: Indonesia .....:-). Sebenarnya klo kita cerdik ya jgn ekspor gas, tapi ekspor listrik yg lbh strategis.... Salam ------------------------------------------------------------------------------ From: Ismail <[email protected]>; To: <[email protected]>; Subject: Re: [iagi-net-l] Geopolitik : Cari gas di teluk Sent: Wed, Mar 21, 2012 5:41:16 AM Dalam konstek Asean , Singapore itu lbh 80% {indonesia kira kira hanya 25% } listriknya dari gas dan tdk punya gas , kita kaya gas yg bisa mensuplai kebutuhan gas singapura , kalau ini dijadikan alat geopolitik misalnya kalau Singapor ingin gas maka juga tdk boleh menampung pelarian koruptor Cuma kabarya singapor akan bikin pltn , mungkin jaga jaga kalau diembargo gasnya, lha kalau mledug kita juga akan kena dampaknya Ism Sent by Liamsi's Mobile Phone ------------------------------------------------------------------------ From: noor syarifuddin <[email protected]> Date: Tue, 20 Mar 2012 21:24:52 -0700 (PDT) To: <[email protected]> ReplyTo: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Geopolitik : Cari gas di teluk Kok rada gak nyambung yah..., saya kira yg dimsksud OQ itu adlh konstelasi geopolitik TimTeng yg semakin unik dan ruwet.... Klo Bahrain yg tetangga dekat gak bisa beli gas dr Qatar pasti ada apa2nya... Karena pd saat yg sama Abu Dhabi, yg jg merupakan saingan Doha utk menjadi ikon TimTeng, msh bisa beli gas dr Qatar via Dolphin project (walaupun sempat sdkt disabotase waktu Qatar sepakat memberi 'sea corridor' ke Arab Saudi.... Di sini smkn terliht bahwa migas jg alat politik yg ampuh, bisa dipkai jd sarana tawar mwar posisi politik... Indonesia yg sdh defisit, maka tentu posisi tawarnya brkurang. Msh ada peluang di gas sebenarnya, sayang Kota krng cerdik dlm kontraknya sehingga banyak yg terikat harga rendah dlm waktu yg panjang,...... Salam, ------------------------------------------------------------------------ From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>; To: <[email protected]>; Subject: Re: [iagi-net-l] Geopolitik : Cari gas di teluk Sent: Wed, Mar 21, 2012 12:29:16 AM On Wed, Mar 21, 2012 at 12:43 AM, o - musakti <[email protected]> wrote: Ini cerita geopolitik beneran. Diambil dari koran the Guardian. Menakjubkan, Bahrain yang bertetangga dengan North Field (the biggest gas field in the world, kebetulan tempat saya jadi buruh cangkul) kudu cari gas sampai ke Russia segala. Sementara negara teluk tetangga lain beli gas asal Qatar di Eropa..... Apakah Indonesia tidak mencari minyak di luar negeri ? Jawab saya iya, hanya saja dilakukan oleh "orang" Indonesia, termasuk Pak OQ ini, tetapi bukan "perusahaan" Indonesia. Kalau pun ada volumenya masih kecil. Yang dilakukan ini sebenernya memanfaatkan pengalaman serta keilmuan atau pengetahuan yang telah diperoleh di dalam negeri yang diaplikasikan ke luar negeri. Sayangnya di Indonesia yang belajar lebih banyak "orang"nya ketimbang perusahaannya. Kalau memang tidak ada perusahaan yang melakukan eksplorasi di LN ya mungkin pengalaman Negara Indonesia (rakyat, pemerintah, dan pengusaha) ini bisa "dijual ke LN". Contohnya bagaimana kalau pemerintah menjual kemampuan "AKAMIGAS CEPU" ke LN. mengundang orang-orang di Afrika, di Myanmar dll utk belajar bagaimana mencari minyak, termasuk mengelola industri migas. (walaupun kita juga keteteran) tetapi pengalaman lebih dari 100 tahun mengeksplorasi migas bukan pengalaman yang kecil. Ini bisa dijual. Walaupun bukan melakukan eksplorai sebagai perusahaan tetapi sebagai GURU ! RDP -- "Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari" . ------------------------------------------------------------------------------ “Save a Tree” – Please consider the environment before printing this email. “Save a Tree” – Please consider the environment before printing this email. ==================================================================================================================================================================================== DISCLAIMER : This e-mail and any files transmitted with it ("Message") is intended only for the use of the recipient(s) named above and may contain confidential information. You are hereby notified that the taking of any action in reliance upon, or any review, retransmission, dissemination, distribution, printing or copying of this Message or any part thereof by anyone other than the intended recipient(s) is strictly prohibited. If you have received this Message in error, you should delete this Message immediately and advise the sender by return e-mail. Opinions, conclusions and other information in this Message that do not relate to the official business of PetroChina International Companies In Indonesia or its Group of Companies shall be understood as neither given nor endorsed by PetroChina International Companies In Indonesia or any of the companies within the Group. ==============================================================================================================================================================

