Buat yang menyakini teori evolusi. Dinosaurus yang merajai laut, darat dan udara punya dua pilihan ketika dihadapkan ke "bencana" pada Jaman Kapur, +/- 65 Ma: 1. Punah atau 2. tetap hidup tapi berubah jadi ..... ayam.
-bg 2012/9/14 Bandono Salim <[email protected]> > Lha kalau cicing bae rasane tak enak, meureun data yang disampaikan pada > R3, termasuk beli/harga alat produksi, tidak akan terbayar dengan minyak > yang dihasilkan. > > Waah teuing; > Abah anu bertahun tahun berenang di dunia minyak, pasti lebih arief > tibatan/dibanding saya. > > Aku cuma kasihan pada orang PT yang tadinya jujur dan bersih; jadi berubah > setelah kenal sistem eksekutif di NKRI. (Budiono, dll) > > Salam. > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: *"Yanto R. Sumantri" <[email protected]> > *Date: *Thu, 13 Sep 2012 22:48:47 -0700 (PDT) > *To: *[email protected]<[email protected]> > *ReplyTo: *<[email protected]> > *Subject: *Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi > Pertamina Cuma Nomor 3 > > Don > > Walaupun tidak bebas , kalau dia tidak sependapat dengan yang " harus" > dikatakan , ya mendig meneng bae . Biarin yang bersangkutan yang ngomong ap > atasan atau bawhan dia. Begitu cara yang baik di borokrasi . Katanya. > > si Abah > > ------------------------------ > *From:* Bandono Salim <[email protected]> > *To:* Iagi <[email protected]> > *Sent:* Thursday, September 13, 2012 6:56 PM > *Subject:* Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi > Pertamina Cuma Nomor 3 > > ADB, menurut aku, RR itu tidak dapat bicara sebebas ADB. Contoh duli Kwik > Kian Gie yang segitu menggelegar, begitu menjabat, yaa tak bisa bicra > banyak. Karena keterikatan kita pada negara2 yang ADB tau, meneyebabkan > negeri ini terjajah secara ekonomi dan politik. > Sesunguhnya kalau sering baca koran saja, kemana petinggi negara sowan, > dll, ADB pasti lebih tau, drpd aku. > Sesungguhnya kasihan RR, biasa di bicara secara bebas di dunia akademis, > sekarang faham siapa pemilik negara ini, dan ketidak berdayaan NKRI > dihadapan mereka. > Salam. > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: [email protected] > Date: Thu, 13 Sep 2012 08:14:29 > To: <[email protected]> > Reply-To: <[email protected]> > Subject: Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi > Pertamina Cuma Nomor 3 > Hampir-hampir saya tidak percaya kalau kalimat-kalimat yg diberitakan > detikcom ini berasal dari RRR yg pernah saya kenal baik sbg dosen dan > konsultan pemboran/migas yg nasionalis, merah putih dan sangat percaya dg > kekuatan intelektualitas dan professionalisme bgs sendiri sebelum dia masuk > BPMigas kemudian akhirnya jadi WaMen ESDM. > > Sangat terlihat bagaimana tendensiusnya pejabat kita dg berbagai > pernyataan untuk mendelegitimasi usaha-usaha Pertamina mendapatkan > blok-blok migas produksi yang dikuasai MNC yg memang sudah akan habis masa > kontraknya yg memang Pertamina sendiri dibenarkan secara UU dan PP untuk > mendapatkan dan mengelolanya dari pemerintah, spt halnya Blok Mahakam ini. > > Pernyataan2 yg meragukan apakah Pertamina mampu mengoperasikan lapangan > migas sebesar lapangan2 di blok Mahakam sambil melemparkan kenyataan bhw > Pertamina belum memaksimalkan operasi di 47% penguasaan-nya atas lapangan > migas Indonesia benar-benar terasa sebagai pernyataan politis meskipun > kelihatan agak teknis krn dibungkus angka-angka. Karena pada dasarnya hanya > statistik pilihan yg cocok dg keinginan saja yg dimunculkan. Sementara itu > statistik ttg bgmn Pertamina berhasil meningkatkan efisiensi operasi dan > produksi di ONWJ dan di WMO stlah mrk ambil alih dari MNC bbrp tahun lalu, > dan juga di blok2 yg bersebelahan dg blok Cepu yg dioperasikan MNC, > kesemuanya ditutupi dan tdk dihighlight. Benar-benar tidak fair dan sangat > politis. > > Juga pentungan2 klasik u/menakut-nakut-i spt teknologi dan biaya tinggi > lagi2 diungkapkan di media untuk menjustifikasi bhw pemerintah lebih suka > Total yg mengoperasikan Blok Mahakam. Benar-benar menggelikan dan sangat > mencolok keberpihakan yg sdh diatur dr atasnya sana ini. Kita semua di > industri migas tahu: teknologi bisa dibeli, biaya tinggi bisa dipinjam dan > dinegosiasi, selama kita punya asset yg bisa dijaminkan dan manajemen > professional yg bisa diandalkan, itu semua tidak akan pernah jadi masalah > dlm operasi migas segede apapun dia punya dimensi. Sedih. Bener2 sedih. > > Yang lebih parah adlh pernyataan ttg: "... apakah Total mau beri data-data > teknis di blok tersebut yang puluhan tahun dikerjakannya? Tentu tidak. > Artinya akan mulai dari awal lagi". Seolah-olah yg bicara tdk mengerti > sistim PSC di Indonesia dan tdk memahami UU Migas (baik yg lama maupun yg > baru) yg menyatakan bhw semua data migas milik negara!!!! Bukan milik > Total! Parah. Bener2 parah. > > Mau dikemanakan migas, mineral, dan energi Indonesia kita ini kalau > pejabat2 kita sdh bicara aneh2 kayak begini. > > Atau malah kita perlu bersikap sebaliknya: kasihan ya, Rudi!!!? > > Salam > ADB > Geologist Merdeka > (Suka dan bangga krn Total telah lebih dr 40th ikut membangun Indonesia, > tapi lebih suka lagi kalau asset yg sdh mrk kuasai sekian lamanya dikuasai > dan dioperasikan oleh entitas bangsa sendiri!!!!) > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: <[email protected]> > Date: Thu, 13 Sep 2012 13:11:26 > To: <[email protected]> > Reply-To: <[email protected]> > Subject: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina > Cuma Nomor 3 > Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina Cuma Nomor 3 > Rista Rama Dhany - detikfinance > Kamis, 13/09/2012 12:52 WIB > Jakarta - Pemerintah mengharapkan PT Pertamina (Persero) bisa > lebih memaksimalkan ladang minyak yang dimilikinya saat ini. > Karena, 47% ladang minyak dan gas di Indonesia dikuasai > Pertamina, namun produksi migasnya hanya menduduki posisi nomor > 3. > "Pertamina itu menguasai 47% ladang minyak di wilayah kerja > migas seluruh Indonesia. Tetapi produksinya malah masih nomor 3 > dibanding perusahaan minyak yang lain di Indonesia," kata Rudi > di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/9/2012). > Menurut Rudi, Pertamina tidak perlu terlalu bernafsu untuk > menguasai lapangan-lapangan minyak dan gas milik perusahaan > asing yang kontraknya segera habis, seperti Blok Mahakam. > Dikatakan Rudi, Blok Mahakam saat ini dikuasai oleh perusahaan > asal Prancis Total Indonesie yang kontraknya akan habis 2018. > Pertamina memang mengincar lapangan migas ini. > "Maksimalkan ada yang dimiliki saat ini, tingkatkan > produksinya, tingkatkan SDM dan teknologinya," kata Rudi. > Memang, kata Rudi, secara nasionalisme, Pertamina perlu > didukung untuk menjadi perusahaan minyak milik negara. Namun > apabila Pertamina menguasai seluruh ladang minyak di Indonesia > dan menyuruh perusahaan asing pergi, Rudi menyangsikan > Pertamina mampu menggarap semuanya. > "Kita tetap perlu asing untuk memproduksi minyak di Indonesia. > Contoh misal mau menguasasi Blok Mahakam, apakah Pertamina > mampu memproduksi minyak dan gas sebesar yang dilakukan Total? > Sulit, karena memerlukan teknologi dan biaya yang tidak > sedikit, dan apakah Total mau beri data-data teknis di blok > tersebut yang puluhan tahun dikerjakannya? Tentu tidak. Artinya > akan mulai dari awal lagi," ujar Rudi. > Untuk itu, Rudi meminta kepada Pertamina untuk memaksimalkan > produksi yang ada tersebar di seluruh Indonesia. "Maksimalkan > apa yang ada dulu. Karena untuk produksi minyak saja saat ini > Pertamina EP hanya ada di urutan ketiga, di mana produksi migas > pada 2013 ditarget hanya sekitar 132,3 ribu barel setara minyak > per hari, kalah dibandingkan Total dan Chevron yang hanya > memiliki 2 wilayah kerja saja," tegas Rudi. > Seperti diketahui, untuk estimasi lifting migas di 2013, Total > E&P Indonesie dengan wilayah kerja Mahakam dan Tengah menjadi > produsen terbesar dengan produksi 382,2 ribu barel setara > minyak per hari. Lalu Chevron Pacific Indonesia di wilayah > kerja Rokan dan Siak dengan estimasi produksi migas 335 ribu > barel setara minyak per hari, dan Pertamina EP dengan wilayah > kerja seluruh Indonesia estimasi produksi migas sebesar 290,3 > ribu barel setara minyak per hari. > > > > > ___________________________________________________________ > indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2011-2014: > Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com > Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com > > -------------------------------------------------------------------------------- > Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. > REGISTER NOW ! > Contact Person: > Email : [email protected] > Phone : +62 82223 222341 (lisa) > > -------------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > For topics not directly related to Geology, users are advised to post the > email to: [email protected] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event > shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to > direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the > use of any information posted on IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > > > >

