bocoran dari milis sebelah dari RRR > *Dari:* Rudi Rubiandinil <[email protected]> > *Kepada:* [email protected] > *Dikirim:* Jumat, 14 September 2012 23:04 > *Judul:* Re: [TM-ITB-Bandung] Bls: [sinergi-ia-itb] Pernyataan Wamen ESDM > Tentang Pertamina dan terkait Blok Mahakam > > > Temens, > > Membaca komentar ATM di millis mengenai kasus Blok Mahakam, saya tersenyum > sendiri, sampai istri saya penasaran, disangkanya saya dapet emeil dari > seseorang yang dia pantas "cemburui". > > Bayangkan, variasinya : > 1. yang menganggap RRR jadi wamen karena politis. > 2. yang curiga RRR dapet "wani piro". > 3. yang menebak RRR sekolah di perancis. > 4. yang melihat RRR sudah main perawan. > 5. yang menganggap RRR sudah pro asing > 6. yang menghubungkan RRR dengan perubahan direksi pertamina > 7. yang menganalisa RRR meninggalkan keprofesionalannya. > 8. yang mengira RRR ditekan G2G > 9. yang menilai RRR tidak nasionalis > 10. yang percaya RRR tidak berusaha mengisi kemerdekaan. > 11. yang menyimpulkan RRR under estimate bangsa sendiri. > 12. yang menyimpulkan RRR tidak cinta Negara. > > Tapi masih ada yang : > 1. RRR tidak berputar-putar kalau bicara > 2. RRR hanya melakukan trial by the Press > 3. RRR challange pertamina untuk lebih maju dan membuktikan kehebatannya > 4. RRR menggunakan metoda terbalik, untuk tujuan positif > > Walaupun saya menyadari sepenuhnya bahwa ATM sangat bervariasi masa > lalunya, kecenderungan untuk "melihat" SIAPA bukan APA yang dibicarakan > masih melekat, tentu kedepan harus diperbaiki, sehingga kita bisa lebih > terfokus pada esensi dan tidak terlalu banyak hilang waktu untuk > membicarakan personifikasi, yang bisa terjerumus pada su'udzon. > > Saya masih percaya bahwa : > 1. ATM yang menjadi teman kuliah saya dan juga sebagian saya turut > mendidiknya, sangat hebat dan mampu menjadi profesional sejati, jangankan > yang sudah bekerja di pertamina, KKKS, perusahaan asing, bekerja di seluruh > dunia, yang baru lulus pun kini sudah bisa diterima dan bekerja di luar > negeri tanpa harus ada pengalaman kerjanya. > 2. Hampir seluruh ATM yang melanjutkan sekolah keluar negeri mendapat > predikat Cum Laude, karena hebat dan tingginya pengetahuan ybs. > 3. Kehadiran KKKS asing adalah KETERPAKSAAN dan bukan keinginan siapapun > di negeri Indonesia yang merdeka ini. > 4. Negara bukan pemerintah bukan pula Pertamina, artinya cinta negara > adalah berfikir dan berfihak pada kebaikan negara jangka panjang, tidak > selalu baik pada pemerintahan saat ini (yang kadang mengedepankan jangka > pendek), tidak juga selalu menguntungkan BUMN dalam hal ini, bisa saja kita > punya beberapa BUMN yang bergerak di bidang migas, tidak harus dipaksakan > pertamina as it is. > 4. Faktor Modal, adalah kendala terdepan dan menjadi penghadang yang > menjadikan tidak seluruh lahan migas saat ini dikelola sendiri sejak awal. > 5. Faktor Data, adalah kendala berikutnya dalam pengembangan lapangan, > terutama untuk proyek baru yang sangat prospek. Terutama data reservoir dan > data bawah tanah lainnya, dengan sangat ketat KKKS menyimpan "data kunci" > dengan rapat. kita bukan bicara Peraturan atau keharusan ideal, kita lihat > fakta. Sebagai contoh, dimana yang memegang data penting tadi lapangan Siak > yang akan habis tahun depan ? bagaimana dg lapangan Arun, bagaimana dengan > Lapangan Natuna, dan bagimana dengan data 20 lapangan yang akan habis masa > kontraknya dalam waktu dekat ini ? > > Maka pelajarannya : > 1. Contohlah Keberhasilan PHE-ONWJ, pengambilalihan dilakukan dengan soft > landing, sebelum kontrak berakhir pertamina "berkorban" masuk kedalam > system BP dengan membeli sharenya, sehingga pada saat kontrak habis tinggal > take off dengan enak. > 2. Janganlah contoh cara PHE-WMO menunggu sampai akhir kontrak, karena > berharap dapat 100%, malah jadi bancakan berbagai pihak, yang korban > negara, karena produksinya turun diakhir kontrak dan lambat diawal kontrak. > 3. Kasus BOB-BSP terlalu dominan kedaerahannya mengalahkan Pertamina > sehingga sistem manajemennya tidak bisa lari. > 4. Kasus Cepu yang sudah mundur lebih dari 4 tahun dari rencana, berapa > banyak kesempatan negara untuk mendapatkan revenue hilang selama 4 tahun > tsb, karena Pertamina (BUMN) bukan sebagai operator dan bagian daerah > tergadaikan pada pemodal asing. > > Maka beberapa skenario yang menguntungkan negara harus diambil dalam kasus > Mahakan, antara lain pilihan : > 1. Bila punya uang, Lakukan seperti PHE-ONWJ saat ini, sehingga ada waktu > 5 tahun sebelum menjadi Operator. Setelah 2017 Pertamina pemilik 100%, > karena pemerintah punya kewenangan untuk memberikan kepada BUMN. > 2. Bila TIDAK punya uang, Kerjasama dg operator lama dengan dominasi share > di BUMN sejak kontrak habis 2017, beri waktu 5 tahun kontraktor asing untuk > mengoperasikan maka sisa kontraknya bisa BUMN yang mengoperasikan. > > Perkembangan yang saya tahu adalah : > 1. TEPI dengan Pertamina sudah menjalin hubungan B2B yang harmonis, dan > memilih versi-2, dimana Domestik dapet 51% dan asing 49%, sehingga > Pertamina 51%, kemudian Total 24,5% serta Inpex 24,5%. > 2. Karena muncul daerah harus dapet 10%, maka total/inpex beranggapan > termasuk dalam domestik, sehingga pertamina 41%, daerah10% karena sesama > domestik. sedangkan pertamina meminta yang daerah dianggap beban baru > sehingga harus dibagi dua, yaitu menjadi Pertamina 46%, total 22%, inpex > 22%, daerah 10%. permasalahan ini belum tuntas sedang dilakukan Negosiasi. > 3. Karena saat kontrak berakhir seluruh fasilitas milik negara, bisa saja > Negara menghibahkan kepada Pertamina dan daerah sehingga akan sangat ringan > atau malah gratis dalam permodalan, sedangkan total/inpex tentunya harus > memasukan modal segar. > > Tiba-tiba humas pertamina "berkoar" siap mengambil alih 100% blok mahakam > saat berakhir kontrak TITIK tanpa ba-bu. Maka wartawan bereaksi, yang > tentunya harus saya jawab : > 1. Pertamina jangan jalan sendiri, sebaiknya bergandengn dengan kontraktor > lama (kita sudah pilih versi-2 karena keterbatsan modal). > 2. kalau hanya mengoperasikan lapangan lama yang sekarang sudah mulai > terjun bebas produksinya, maka bagaimana mungkin negara bisa diuntungkan > dengan harapan naiknya produksi ? maka prospek lapangan baru dan lead baru > yang ada di saku KKKS harus bisa dimanfaatkan negara dengan mengawinkan > pertamina dengan operator lama, karena kita akan sangat sulit mendapat data > (benar-benar usefull) untuk pengembangan lead baru tersebut. Namun > sebaliknya bila sudah ada kepastian maka sisa 5 tahun bisa langsung dipakai > untuk memulai lead baru tersebut dikembangkan. > Kalau kita berbicara fakta, tinggalkan dalam fikiran kita bahwa dengan > peraturan dan orang di pemerintahan kita bisa"mendapatkan" data penting > dimaksud, mungkin jumlahnya tidak sampe 1% tapi sangat penting, yang 99% > nya diberikan kepada pemerintah. > 3. Cerita Pertamina menjadi produser ke-3 adalah topik yang berbeda, saya > jelaskan kepada wartawan saat KESDM raker seminggu lalu yang menampilkan > tabel susunan produser migas, dimana posisi pertamina adalah ketiga. > 4. untuk no(3) tsb, Challange diberikan kepada pertamina untuk menjadi > nomor SATU, karena memiliki WK yang paling luas, bisa saja setiap DOH (SBU) > adalah satu PSC sendiri sehingga punya 5-7 Pertamina yang ramping dan > bersaing satu sama lain, atau sesuai permen 06/2010 lepaskan lapangan yang > dianggap tidak produktif dan tidak mau dikembangkan, istilahnya " jangan > dikangkangi aja tapi tidak dibor, karena akan marah mertua ". > > Nah wartawan mengemasnya seperti itu, he. . he. .he. . kalau saya sih > sudah biasa diplintir-plintir, sejak jaman Lapindo (seperti mas Azwah dan > mas Rusdi perhatikan). > > Hati-hati dengan nasionalisme buta mengatasnamakan Cinta Negara. > > Salam Semangat Selalu, > RRR > > Rudi Rubiandini R.S. > Petroleum Engineering ITB
2012/9/14 <[email protected]> > Sama dg ADB sangat kuciwa dg pernyataan pak DR triple R mosok kayak gitu, > ya jelas Pertamina mampu ga perlu di ragukan, pernyataan beliau totally > base-less yah > > Mestinya Bu KA fight to dead tuk dapetin, eh jangankan Pertamina, Suma > Sarana aja bisa kelola ex-Total, caranya ya ramp-up man power as needed > > Secara man power kan pegawai yg pernah sama Kompeni lama kan cuma ganti > pay-roll aja dari TI ke PTM atau NOC yg di tunjuk, shg secara operasional > ga ada stagnasi dan akan berjalan mulus. > > Lah beginian kan beda dg Petronas yg dpt fully support dari Gov-nya, kalo > gini caranya enak banget tuh MNC bisa diperpanjang terus. > > Cape deh Om denger yg ginian. > > Salam > Avi NPA 0666 > > Merangkap Bendahara IAGI > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * "Yanto R. Sumantri" <[email protected]> > *Date: *Thu, 13 Sep 2012 22:41:20 -0700 (PDT) > *To: *[email protected]<[email protected]> > *ReplyTo: * <[email protected]> > *Subject: *Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi > Pertamina Cuma Nomor 3 > > Ndang > > Anda kena; spt iu oh RRR , wah berubah ya ???? > Apa yang bikin dia berubah ???? > Saya sangat suudon , kalau menuduh ada "apa apa" nya ya > > si Abah > > ------------------------------ > *From:* "[email protected]" <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Thursday, September 13, 2012 3:14 PM > *Subject:* Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi > Pertamina Cuma Nomor 3 > > Hampir-hampir saya tidak percaya kalau kalimat-kalimat yg diberitakan > detikcom ini berasal dari RRR yg pernah saya kenal baik sbg dosen dan > konsultan pemboran/migas yg nasionalis, merah putih dan sangat percaya dg > kekuatan intelektualitas dan professionalisme bgs sendiri sebelum dia masuk > BPMigas kemudian akhirnya jadi WaMen ESDM. > > Sangat terlihat bagaimana tendensiusnya pejabat kita dg berbagai > pernyataan untuk mendelegitimasi usaha-usaha Pertamina mendapatkan > blok-blok migas produksi yang dikuasai MNC yg memang sudah akan habis masa > kontraknya yg memang Pertamina sendiri dibenarkan secara UU dan PP untuk > mendapatkan dan mengelolanya dari pemerintah, spt halnya Blok Mahakam ini. > > Pernyataan2 yg meragukan apakah Pertamina mampu mengoperasikan lapangan > migas sebesar lapangan2 di blok Mahakam sambil melemparkan kenyataan bhw > Pertamina belum memaksimalkan operasi di 47% penguasaan-nya atas lapangan > migas Indonesia benar-benar terasa sebagai pernyataan politis meskipun > kelihatan agak teknis krn dibungkus angka-angka. Karena pada dasarnya hanya > statistik pilihan yg cocok dg keinginan saja yg dimunculkan. Sementara itu > statistik ttg bgmn Pertamina berhasil meningkatkan efisiensi operasi dan > produksi di ONWJ dan di WMO stlah mrk ambil alih dari MNC bbrp tahun lalu, > dan juga di blok2 yg bersebelahan dg blok Cepu yg dioperasikan MNC, > kesemuanya ditutupi dan tdk dihighlight. Benar-benar tidak fair dan sangat > politis. > > Juga pentungan2 klasik u/menakut-nakut-i spt teknologi dan biaya tinggi > lagi2 diungkapkan di media untuk menjustifikasi bhw pemerintah lebih suka > Total yg mengoperasikan Blok Mahakam. Benar-benar menggelikan dan sangat > mencolok keberpihakan yg sdh diatur dr atasnya sana ini. Kita semua di > industri migas tahu: teknologi bisa dibeli, biaya tinggi bisa dipinjam dan > dinegosiasi, selama kita punya asset yg bisa dijaminkan dan manajemen > professional yg bisa diandalkan, itu semua tidak akan pernah jadi masalah > dlm operasi migas segede apapun dia punya dimensi. Sedih. Bener2 sedih. > > Yang lebih parah adlh pernyataan ttg: "... apakah Total mau beri data-data > teknis di blok tersebut yang puluhan tahun dikerjakannya? Tentu tidak. > Artinya akan mulai dari awal lagi". Seolah-olah yg bicara tdk mengerti > sistim PSC di Indonesia dan tdk memahami UU Migas (baik yg lama maupun yg > baru) yg menyatakan bhw semua data migas milik negara!!!! Bukan milik > Total! Parah. Bener2 parah. > > Mau dikemanakan migas, mineral, dan energi Indonesia kita ini kalau > pejabat2 kita sdh bicara aneh2 kayak begini. > > Atau malah kita perlu bersikap sebaliknya: kasihan ya, Rudi!!!? > > Salam > ADB > Geologist Merdeka > (Suka dan bangga krn Total telah lebih dr 40th ikut membangun Indonesia, > tapi lebih suka lagi kalau asset yg sdh mrk kuasai sekian lamanya dikuasai > dan dioperasikan oleh entitas bangsa sendiri!!!!) > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: <[email protected]> > Date: Thu, 13 Sep 2012 13:11:26 > To: <[email protected]> > Reply-To: <[email protected]> > Subject: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina > Cuma Nomor 3 > Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina Cuma Nomor 3 > Rista Rama Dhany - detikfinance > Kamis, 13/09/2012 12:52 WIB > Jakarta - Pemerintah mengharapkan PT Pertamina (Persero) bisa > lebih memaksimalkan ladang minyak yang dimilikinya saat ini. > Karena, 47% ladang minyak dan gas di Indonesia dikuasai > Pertamina, namun produksi migasnya hanya menduduki posisi nomor > 3. > "Pertamina itu menguasai 47% ladang minyak di wilayah kerja > migas seluruh Indonesia. Tetapi produksinya malah masih nomor 3 > dibanding perusahaan minyak yang lain di Indonesia," kata Rudi > di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/9/2012). > Menurut Rudi, Pertamina tidak perlu terlalu bernafsu untuk > menguasai lapangan-lapangan minyak dan gas milik perusahaan > asing yang kontraknya segera habis, seperti Blok Mahakam. > Dikatakan Rudi, Blok Mahakam saat ini dikuasai oleh perusahaan > asal Prancis Total Indonesie yang kontraknya akan habis 2018. > Pertamina memang mengincar lapangan migas ini. > "Maksimalkan ada yang dimiliki saat ini, tingkatkan > produksinya, tingkatkan SDM dan teknologinya," kata Rudi. > Memang, kata Rudi, secara nasionalisme, Pertamina perlu > didukung untuk menjadi perusahaan minyak milik negara. Namun > apabila Pertamina menguasai seluruh ladang minyak di Indonesia > dan menyuruh perusahaan asing pergi, Rudi menyangsikan > Pertamina mampu menggarap semuanya. > "Kita tetap perlu asing untuk memproduksi minyak di Indonesia. > Contoh misal mau menguasasi Blok Mahakam, apakah Pertamina > mampu memproduksi minyak dan gas sebesar yang dilakukan Total? > Sulit, karena memerlukan teknologi dan biaya yang tidak > sedikit, dan apakah Total mau beri data-data teknis di blok > tersebut yang puluhan tahun dikerjakannya? Tentu tidak. Artinya > akan mulai dari awal lagi," ujar Rudi. > Untuk itu, Rudi meminta kepada Pertamina untuk memaksimalkan > produksi yang ada tersebar di seluruh Indonesia. "Maksimalkan > apa yang ada dulu. Karena untuk produksi minyak saja saat ini > Pertamina EP hanya ada di urutan ketiga, di mana produksi migas > pada 2013 ditarget hanya sekitar 132,3 ribu barel setara minyak > per hari, kalah dibandingkan Total dan Chevron yang hanya > memiliki 2 wilayah kerja saja," tegas Rudi. > Seperti diketahui, untuk estimasi lifting migas di 2013, Total > E&P Indonesie dengan wilayah kerja Mahakam dan Tengah menjadi > produsen terbesar dengan produksi 382,2 ribu barel setara > minyak per hari. Lalu Chevron Pacific Indonesia di wilayah > kerja Rokan dan Siak dengan estimasi produksi migas 335 ribu > barel setara minyak per hari, dan Pertamina EP dengan wilayah > kerja seluruh Indonesia estimasi produksi migas sebesar 290,3 > ribu barel setara minyak per hari. > > > > > ___________________________________________________________ > indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2011-2014: > Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com > Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com > > -------------------------------------------------------------------------------- > Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. > REGISTER NOW ! > Contact Person: > Email : [email protected] > Phone : +62 82223 222341 (lisa) > > -------------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > For topics not directly related to Geology, users are advised to post the > email to: [email protected] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event > shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to > direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the > use of any information posted on IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > > > > -- Sent from my Computer®

