Lha kan harus persetujuan persekutuan dulu, menteri, presiden, pemilik perusahaan. Kalau mau kerja sendiri yaa begitulah. Tapi... Mosok sih Humas berani bicara tanpa persetujuan bossnya humas?? Salam. Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: "Muharram J. Panguriseng" <[email protected]> Date: Sat, 15 Sep 2012 04:21:14 To: Iagi-net<[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina Cuma Nomor 3 Dari kemarin saya bertanya2, "Kenapa ya MH, sang VP Humas Pertamina yang sangat piawai menyuarakan kepentingan Pertamina kepada wartawan tiba2 dipindah ke Jepang?". Terjawab sekarang dari statement Pak RRR dibawah, "Tiba-tiba humas pertamina "berkoar" siap mengambil alih 100% blok mahakam saat berakhir kontrak TITIK tanpa ba-bu". Rupanya pernyataan MH ini mengganggu he he he... Salam, MJP Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Ok Taufik <[email protected]> Date: Sat, 15 Sep 2012 09:12:18 To: <[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina Cuma Nomor 3 bocoran dari milis sebelah dari RRR > *Dari:* Rudi Rubiandinil <[email protected]> > *Kepada:* [email protected] > *Dikirim:* Jumat, 14 September 2012 23:04 > *Judul:* Re: [TM-ITB-Bandung] Bls: [sinergi-ia-itb] Pernyataan Wamen ESDM > Tentang Pertamina dan terkait Blok Mahakam > > > Temens, > > Membaca komentar ATM di millis mengenai kasus Blok Mahakam, saya tersenyum > sendiri, sampai istri saya penasaran, disangkanya saya dapet emeil dari > seseorang yang dia pantas "cemburui". > > Bayangkan, variasinya : > 1. yang menganggap RRR jadi wamen karena politis. > 2. yang curiga RRR dapet "wani piro". > 3. yang menebak RRR sekolah di perancis. > 4. yang melihat RRR sudah main perawan. > 5. yang menganggap RRR sudah pro asing > 6. yang menghubungkan RRR dengan perubahan direksi pertamina > 7. yang menganalisa RRR meninggalkan keprofesionalannya. > 8. yang mengira RRR ditekan G2G > 9. yang menilai RRR tidak nasionalis > 10. yang percaya RRR tidak berusaha mengisi kemerdekaan. > 11. yang menyimpulkan RRR under estimate bangsa sendiri. > 12. yang menyimpulkan RRR tidak cinta Negara. > > Tapi masih ada yang : > 1. RRR tidak berputar-putar kalau bicara > 2. RRR hanya melakukan trial by the Press > 3. RRR challange pertamina untuk lebih maju dan membuktikan kehebatannya > 4. RRR menggunakan metoda terbalik, untuk tujuan positif > > Walaupun saya menyadari sepenuhnya bahwa ATM sangat bervariasi masa > lalunya, kecenderungan untuk "melihat" SIAPA bukan APA yang dibicarakan > masih melekat, tentu kedepan harus diperbaiki, sehingga kita bisa lebih > terfokus pada esensi dan tidak terlalu banyak hilang waktu untuk > membicarakan personifikasi, yang bisa terjerumus pada su'udzon. > > Saya masih percaya bahwa : > 1. ATM yang menjadi teman kuliah saya dan juga sebagian saya turut > mendidiknya, sangat hebat dan mampu menjadi profesional sejati, jangankan > yang sudah bekerja di pertamina, KKKS, perusahaan asing, bekerja di seluruh > dunia, yang baru lulus pun kini sudah bisa diterima dan bekerja di luar > negeri tanpa harus ada pengalaman kerjanya. > 2. Hampir seluruh ATM yang melanjutkan sekolah keluar negeri mendapat > predikat Cum Laude, karena hebat dan tingginya pengetahuan ybs. > 3. Kehadiran KKKS asing adalah KETERPAKSAAN dan bukan keinginan siapapun > di negeri Indonesia yang merdeka ini. > 4. Negara bukan pemerintah bukan pula Pertamina, artinya cinta negara > adalah berfikir dan berfihak pada kebaikan negara jangka panjang, tidak > selalu baik pada pemerintahan saat ini (yang kadang mengedepankan jangka > pendek), tidak juga selalu menguntungkan BUMN dalam hal ini, bisa saja kita > punya beberapa BUMN yang bergerak di bidang migas, tidak harus dipaksakan > pertamina as it is. > 4. Faktor Modal, adalah kendala terdepan dan menjadi penghadang yang > menjadikan tidak seluruh lahan migas saat ini dikelola sendiri sejak awal. > 5. Faktor Data, adalah kendala berikutnya dalam pengembangan lapangan, > terutama untuk proyek baru yang sangat prospek. Terutama data reservoir dan > data bawah tanah lainnya, dengan sangat ketat KKKS menyimpan "data kunci" > dengan rapat. kita bukan bicara Peraturan atau keharusan ideal, kita lihat > fakta. Sebagai contoh, dimana yang memegang data penting tadi lapangan Siak > yang akan habis tahun depan ? bagaimana dg lapangan Arun, bagaimana dengan > Lapangan Natuna, dan bagimana dengan data 20 lapangan yang akan habis masa > kontraknya dalam waktu dekat ini ? > > Maka pelajarannya : > 1. Contohlah Keberhasilan PHE-ONWJ, pengambilalihan dilakukan dengan soft > landing, sebelum kontrak berakhir pertamina "berkorban" masuk kedalam > system BP dengan membeli sharenya, sehingga pada saat kontrak habis tinggal > take off dengan enak. > 2. Janganlah contoh cara PHE-WMO menunggu sampai akhir kontrak, karena > berharap dapat 100%, malah jadi bancakan berbagai pihak, yang korban > negara, karena produksinya turun diakhir kontrak dan lambat diawal kontrak. > 3. Kasus BOB-BSP terlalu dominan kedaerahannya mengalahkan Pertamina > sehingga sistem manajemennya tidak bisa lari. > 4. Kasus Cepu yang sudah mundur lebih dari 4 tahun dari rencana, berapa > banyak kesempatan negara untuk mendapatkan revenue hilang selama 4 tahun > tsb, karena Pertamina (BUMN) bukan sebagai operator dan bagian daerah > tergadaikan pada pemodal asing. > > Maka beberapa skenario yang menguntungkan negara harus diambil dalam kasus > Mahakan, antara lain pilihan : > 1. Bila punya uang, Lakukan seperti PHE-ONWJ saat ini, sehingga ada waktu > 5 tahun sebelum menjadi Operator. Setelah 2017 Pertamina pemilik 100%, > karena pemerintah punya kewenangan untuk memberikan kepada BUMN. > 2. Bila TIDAK punya uang, Kerjasama dg operator lama dengan dominasi share > di BUMN sejak kontrak habis 2017, beri waktu 5 tahun kontraktor asing untuk > mengoperasikan maka sisa kontraknya bisa BUMN yang mengoperasikan. > > Perkembangan yang saya tahu adalah : > 1. TEPI dengan Pertamina sudah menjalin hubungan B2B yang harmonis, dan > memilih versi-2, dimana Domestik dapet 51% dan asing 49%, sehingga > Pertamina 51%, kemudian Total 24,5% serta Inpex 24,5%. > 2. Karena muncul daerah harus dapet 10%, maka total/inpex beranggapan > termasuk dalam domestik, sehingga pertamina 41%, daerah10% karena sesama > domestik. sedangkan pertamina meminta yang daerah dianggap beban baru > sehingga harus dibagi dua, yaitu menjadi Pertamina 46%, total 22%, inpex > 22%, daerah 10%. permasalahan ini belum tuntas sedang dilakukan Negosiasi. > 3. Karena saat kontrak berakhir seluruh fasilitas milik negara, bisa saja > Negara menghibahkan kepada Pertamina dan daerah sehingga akan sangat ringan > atau malah gratis dalam permodalan, sedangkan total/inpex tentunya harus > memasukan modal segar. > > Tiba-tiba humas pertamina "berkoar" siap mengambil alih 100% blok mahakam > saat berakhir kontrak TITIK tanpa ba-bu. Maka wartawan bereaksi, yang > tentunya harus saya jawab : > 1. Pertamina jangan jalan sendiri, sebaiknya bergandengn dengan kontraktor > lama (kita sudah pilih versi-2 karena keterbatsan modal). > 2. kalau hanya mengoperasikan lapangan lama yang sekarang sudah mulai > terjun bebas produksinya, maka bagaimana mungkin negara bisa diuntungkan > dengan harapan naiknya produksi ? maka prospek lapangan baru dan lead baru > yang ada di saku KKKS harus bisa dimanfaatkan negara dengan mengawinkan > pertamina dengan operator lama, karena kita akan sangat sulit mendapat data > (benar-benar usefull) untuk pengembangan lead baru tersebut. Namun > sebaliknya bila sudah ada kepastian maka sisa 5 tahun bisa langsung dipakai > untuk memulai lead baru tersebut dikembangkan. > Kalau kita berbicara fakta, tinggalkan dalam fikiran kita bahwa dengan > peraturan dan orang di pemerintahan kita bisa"mendapatkan" data penting > dimaksud, mungkin jumlahnya tidak sampe 1% tapi sangat penting, yang 99% > nya diberikan kepada pemerintah. > 3. Cerita Pertamina menjadi produser ke-3 adalah topik yang berbeda, saya > jelaskan kepada wartawan saat KESDM raker seminggu lalu yang menampilkan > tabel susunan produser migas, dimana posisi pertamina adalah ketiga. > 4. untuk no(3) tsb, Challange diberikan kepada pertamina untuk menjadi > nomor SATU, karena memiliki WK yang paling luas, bisa saja setiap DOH (SBU) > adalah satu PSC sendiri sehingga punya 5-7 Pertamina yang ramping dan > bersaing satu sama lain, atau sesuai permen 06/2010 lepaskan lapangan yang > dianggap tidak produktif dan tidak mau dikembangkan, istilahnya " jangan > dikangkangi aja tapi tidak dibor, karena akan marah mertua ". > > Nah wartawan mengemasnya seperti itu, he. . he. .he. . kalau saya sih > sudah biasa diplintir-plintir, sejak jaman Lapindo (seperti mas Azwah dan > mas Rusdi perhatikan). > > Hati-hati dengan nasionalisme buta mengatasnamakan Cinta Negara. > > Salam Semangat Selalu, > RRR > > Rudi Rubiandini R.S. > Petroleum Engineering ITB 2012/9/14 <[email protected]> > Sama dg ADB sangat kuciwa dg pernyataan pak DR triple R mosok kayak gitu, > ya jelas Pertamina mampu ga perlu di ragukan, pernyataan beliau totally > base-less yah > > Mestinya Bu KA fight to dead tuk dapetin, eh jangankan Pertamina, Suma > Sarana aja bisa kelola ex-Total, caranya ya ramp-up man power as needed > > Secara man power kan pegawai yg pernah sama Kompeni lama kan cuma ganti > pay-roll aja dari TI ke PTM atau NOC yg di tunjuk, shg secara operasional > ga ada stagnasi dan akan berjalan mulus. > > Lah beginian kan beda dg Petronas yg dpt fully support dari Gov-nya, kalo > gini caranya enak banget tuh MNC bisa diperpanjang terus. > > Cape deh Om denger yg ginian. > > Salam > Avi NPA 0666 > > Merangkap Bendahara IAGI > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * "Yanto R. Sumantri" <[email protected]> > *Date: *Thu, 13 Sep 2012 22:41:20 -0700 (PDT) > *To: *[email protected]<[email protected]> > *ReplyTo: * <[email protected]> > *Subject: *Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi > Pertamina Cuma Nomor 3 > > Ndang > > Anda kena; spt iu oh RRR , wah berubah ya ???? > Apa yang bikin dia berubah ???? > Saya sangat suudon , kalau menuduh ada "apa apa" nya ya > > si Abah > > ------------------------------ > *From:* "[email protected]" <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Thursday, September 13, 2012 3:14 PM > *Subject:* Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi > Pertamina Cuma Nomor 3 > > Hampir-hampir saya tidak percaya kalau kalimat-kalimat yg diberitakan > detikcom ini berasal dari RRR yg pernah saya kenal baik sbg dosen dan > konsultan pemboran/migas yg nasionalis, merah putih dan sangat percaya dg > kekuatan intelektualitas dan professionalisme bgs sendiri sebelum dia masuk > BPMigas kemudian akhirnya jadi WaMen ESDM. > > Sangat terlihat bagaimana tendensiusnya pejabat kita dg berbagai > pernyataan untuk mendelegitimasi usaha-usaha Pertamina mendapatkan > blok-blok migas produksi yang dikuasai MNC yg memang sudah akan habis masa > kontraknya yg memang Pertamina sendiri dibenarkan secara UU dan PP untuk > mendapatkan dan mengelolanya dari pemerintah, spt halnya Blok Mahakam ini. > > Pernyataan2 yg meragukan apakah Pertamina mampu mengoperasikan lapangan > migas sebesar lapangan2 di blok Mahakam sambil melemparkan kenyataan bhw > Pertamina belum memaksimalkan operasi di 47% penguasaan-nya atas lapangan > migas Indonesia benar-benar terasa sebagai pernyataan politis meskipun > kelihatan agak teknis krn dibungkus angka-angka. Karena pada dasarnya hanya > statistik pilihan yg cocok dg keinginan saja yg dimunculkan. Sementara itu > statistik ttg bgmn Pertamina berhasil meningkatkan efisiensi operasi dan > produksi di ONWJ dan di WMO stlah mrk ambil alih dari MNC bbrp tahun lalu, > dan juga di blok2 yg bersebelahan dg blok Cepu yg dioperasikan MNC, > kesemuanya ditutupi dan tdk dihighlight. Benar-benar tidak fair dan sangat > politis. > > Juga pentungan2 klasik u/menakut-nakut-i spt teknologi dan biaya tinggi > lagi2 diungkapkan di media untuk menjustifikasi bhw pemerintah lebih suka > Total yg mengoperasikan Blok Mahakam. Benar-benar menggelikan dan sangat > mencolok keberpihakan yg sdh diatur dr atasnya sana ini. Kita semua di > industri migas tahu: teknologi bisa dibeli, biaya tinggi bisa dipinjam dan > dinegosiasi, selama kita punya asset yg bisa dijaminkan dan manajemen > professional yg bisa diandalkan, itu semua tidak akan pernah jadi masalah > dlm operasi migas segede apapun dia punya dimensi. Sedih. Bener2 sedih. > > Yang lebih parah adlh pernyataan ttg: "... apakah Total mau beri data-data > teknis di blok tersebut yang puluhan tahun dikerjakannya? Tentu tidak. > Artinya akan mulai dari awal lagi". Seolah-olah yg bicara tdk mengerti > sistim PSC di Indonesia dan tdk memahami UU Migas (baik yg lama maupun yg > baru) yg menyatakan bhw semua data migas milik negara!!!! Bukan milik > Total! Parah. Bener2 parah. > > Mau dikemanakan migas, mineral, dan energi Indonesia kita ini kalau > pejabat2 kita sdh bicara aneh2 kayak begini. > > Atau malah kita perlu bersikap sebaliknya: kasihan ya, Rudi!!!? > > Salam > ADB > Geologist Merdeka > (Suka dan bangga krn Total telah lebih dr 40th ikut membangun Indonesia, > tapi lebih suka lagi kalau asset yg sdh mrk kuasai sekian lamanya dikuasai > dan dioperasikan oleh entitas bangsa sendiri!!!!) > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: <[email protected]> > Date: Thu, 13 Sep 2012 13:11:26 > To: <[email protected]> > Reply-To: <[email protected]> > Subject: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina > Cuma Nomor 3 > Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina Cuma Nomor 3 > Rista Rama Dhany - detikfinance > Kamis, 13/09/2012 12:52 WIB > Jakarta - Pemerintah mengharapkan PT Pertamina (Persero) bisa > lebih memaksimalkan ladang minyak yang dimilikinya saat ini. > Karena, 47% ladang minyak dan gas di Indonesia dikuasai > Pertamina, namun produksi migasnya hanya menduduki posisi nomor > 3. > "Pertamina itu menguasai 47% ladang minyak di wilayah kerja > migas seluruh Indonesia. Tetapi produksinya malah masih nomor 3 > dibanding perusahaan minyak yang lain di Indonesia," kata Rudi > di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/9/2012). > Menurut Rudi, Pertamina tidak perlu terlalu bernafsu untuk > menguasai lapangan-lapangan minyak dan gas milik perusahaan > asing yang kontraknya segera habis, seperti Blok Mahakam. > Dikatakan Rudi, Blok Mahakam saat ini dikuasai oleh perusahaan > asal Prancis Total Indonesie yang kontraknya akan habis 2018. > Pertamina memang mengincar lapangan migas ini. > "Maksimalkan ada yang dimiliki saat ini, tingkatkan > produksinya, tingkatkan SDM dan teknologinya," kata Rudi. > Memang, kata Rudi, secara nasionalisme, Pertamina perlu > didukung untuk menjadi perusahaan minyak milik negara. Namun > apabila Pertamina menguasai seluruh ladang minyak di Indonesia > dan menyuruh perusahaan asing pergi, Rudi menyangsikan > Pertamina mampu menggarap semuanya. > "Kita tetap perlu asing untuk memproduksi minyak di Indonesia. > Contoh misal mau menguasasi Blok Mahakam, apakah Pertamina > mampu memproduksi minyak dan gas sebesar yang dilakukan Total? > Sulit, karena memerlukan teknologi dan biaya yang tidak > sedikit, dan apakah Total mau beri data-data teknis di blok > tersebut yang puluhan tahun dikerjakannya? Tentu tidak. Artinya > akan mulai dari awal lagi," ujar Rudi. > Untuk itu, Rudi meminta kepada Pertamina untuk memaksimalkan > produksi yang ada tersebar di seluruh Indonesia. "Maksimalkan > apa yang ada dulu. Karena untuk produksi minyak saja saat ini > Pertamina EP hanya ada di urutan ketiga, di mana produksi migas > pada 2013 ditarget hanya sekitar 132,3 ribu barel setara minyak > per hari, kalah dibandingkan Total dan Chevron yang hanya > memiliki 2 wilayah kerja saja," tegas Rudi. > Seperti diketahui, untuk estimasi lifting migas di 2013, Total > E&P Indonesie dengan wilayah kerja Mahakam dan Tengah menjadi > produsen terbesar dengan produksi 382,2 ribu barel setara > minyak per hari. Lalu Chevron Pacific Indonesia di wilayah > kerja Rokan dan Siak dengan estimasi produksi migas 335 ribu > barel setara minyak per hari, dan Pertamina EP dengan wilayah > kerja seluruh Indonesia estimasi produksi migas sebesar 290,3 > ribu barel setara minyak per hari. > > > > > ___________________________________________________________ > indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2011-2014: > Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com > Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com > > -------------------------------------------------------------------------------- > Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. > REGISTER NOW ! > Contact Person: > Email : [email protected] > Phone : +62 82223 222341 (lisa) > > -------------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > For topics not directly related to Geology, users are advised to post the > email to: [email protected] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event > shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to > direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the > use of any information posted on IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > > > > -- Sent from my Computer®

