Aboaah, kalo lagi sakit bawa ka dokter, kalau sakitnya ajaib sebentar sembuh 
sebentar kambuh jigana mah katempelan (duu.....iiit) meureun. Bawa ka mana nya 
Baah??
Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Yanto R. Sumantri" <[email protected]>
Date: Sun, 7 Oct 2012 19:59:54 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] DISKUSI PANEL JEMBATAN SELAT SUNDA
Mang Okim

Bener juga sih akan sangat romantis kalau kita jalan jalan dilaut , tapi 
.......... dari segi efenfesiensi waktu  dan biaya nantinya  , tentu membangun 
jembatan akan lebih baik.
Kalau pakai ferry , dengan diasumsikan segala fasilitas dan ferrynya maksimal , 
tentunya akan tetap kalah dalam hal waktu dan biaya tollnya.

Kalau dari segi risiko , saya kira banyak contoh sukses - nya dinegara lain.

Cuma , sayangnya sekarang saja sudah tercium aroma "tak sedap" mengenai siapa 
yang akan jadi investornya . Memang seih atmosfir "korupsi dan KKN plus 
perkelahian kekuasaan antar partai" akan mewarnai pelaksanaan pembangunan 
jembatan ini.

Apa boleh buat , memang alam Indonesia lagi sakiiit. 

Wass.

si Abah


________________________________
 From: Sujatmiko <[email protected]>
To: [email protected] 
Cc: MGEI <[email protected]>; [email protected] 
Sent: Sunday, October 7, 2012 6:05 PM
Subject: [iagi-net-l] DISKUSI PANEL JEMBATAN SELAT SUNDA
 

 
Rekan-rekan IAGI yang budiman,
 
Sehubungan dengan diskusi tentang
Jembatan Selat Sunda yang begitu banyak menyerap partisipasi  rekan-rekan
IAGI, barangkali ada manfaatnya kalau mang Okim informasikan bahwa Lokakarya
bertema : Kondisi Bahaya Geologi Dalam Rangka Pembangunan Jembatan Selat
Sunda pernah diadakan di Jakarta pada  30 September 2010. Pembicaranya
adalah : Ir. Denis H.Sumadilaga MSc., Ir. Engkon K. Kertapati , Prof.Dr.Hery
Harjono , Prof.Dr. Hasanuddin Z.Abidin, Dr. Hamzah Latief, Dr. Surono, dan
Krisbudiono MSc. Moderator lokakarya adalah Dr.Ir.Sutikno Bronto. Mang Okim 
mengetahui
 hal ini karena panitia lokakarya memesan souvenir bernuansa Jembatan
Selat Sunda dengan basement batumulia ( beberapa gambar souvenir terlampir ). 
 
Selain souvenir untuk
Lokakarya, mang Okim mendapat juga pesanan souvenir bernuansa Jembatan Selat
Sunda  dari Fakultas Ilmu dan Teknologi  Kebumian ITB  untuk  Purna
Bakti  Dr. Ir. Teuku Lukman Aziz MSc. ( Program Studi Geodesi dan Geomatika
, 1 Agustus 2010 ) dan Drs. Muhamad Ali ( Program Studi Oseanografi , 1 November
2010 ). Dengan demikian mang Okim memperkirakan  bahwa permasalahan Rancang
Bangun Jembatan Selat Sunda dari perspektif geologi telah dibahas oleh para
ahli kebumian dengan inisiator Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB. Untuk
memastikan hal ini dan sekalian mendapatkan masukan tentang hasil Lokakarya,
barangkali IAGI dapat mengontak Dr.Ir.Roebijanto Kapid atau rekan-rekan lain di
ITB , atau para ahli yang menjadi pembicara / moderator di Lokakarya.
 
Menurut pikiran sederhana mang
Okim siih, rasanya sayang  ya menganggarkan uang yang konon senilai Rp 225
Triliun untuk membangun Jembatan Selat Sunda yang lokasinya saja di daerah yang
rawan bencana geologi.  Ketika terakhir kali mang Okim berkesempatan
menikmati Cruise Dinner di Bangkok ( Mei 2012 ), mang Okim sampai terheran-heran
dan terharu melihat puluhan kapal  restoran bertingkat yang bersliweran dengan
lampu-lampu yang indah dan penumpang yang penuh --- padahal Thailand bukan
negara maritim seperti Indonesia - - - ta’ iya ! Mang Okim membayangkan
betapa akan lebih sesuainya bagi Indonesia sebagai negara maritim beneran  kalau
anggaran senilai Rp 225 Triliun itu dipakai untuk membangun  sarana di
pelabuhan penyeberangan ,  membeli kapal-kapal modern, dan menyiapkan sarana
pendidikan manajemen kelautan berikut SDM nya, dll . Itu siih mimpi mang Okim
yang mungkin saja out of date.
 
Salam cinta maritim - - - dan
batu mulia, 
 
Mang Okim
 
LAMPIRAN 
GAMBAR  SOUVENIR 
( LUKISAN CAT MINYAK
DAN BATU MULIA , UKURAN GAMBAR : 18 x 12 CM )
 
Gambar 1 :  Basement Banded Agate
( Pembicara Lokakarya )
 
Gambar 2 : Basement Banded Agate
( Pembicara Lokakarya )
 
Gambar 3 : Basement Silicified Banded
Tuff ( Pembicara Lokakarya )
 
Gambar 4 : Basement Fire Jasper (
Purna Bakti )
 
Gambar 5 : Basement Silicified
Flysch Sediment ( Purna bakti )
 
From:wikanw [mailto:[email protected]] 
Sent: 07 Oktober 2012 12:26
To: <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Diskusi panel jembatan Selat Sunda
 
Rancang bangun Jembatan Selat Sunda pernah juga dipamerkan
di Pameran Konstruksi Indonesia 2010 di Jakarta Convention Center. Jembatannya
dibangun melintas 3 pulau kecil, dengan total panjang 29 km termasuk lintasan
jalan mobil dan kereta api. Ketahanan terhadap potential gempa 7 Magnitude dan
tsunami (? m). Sedangkan jarak dari Gunung api Krakatau sekitar 40 km. Kuncinya
asal  tidak dikorupsi pelaksanaan pembangunanannya.
 
Oiya Pak Ismail ysh,

Masak sih bangun PLTN-nya di Babel, listriknya dialirin ke Jawi? Nanti kalau
seperti di Muria, ulama berfatwa gak adil kalau yang menanggung resiko selalu
yang tidak menikmati hasilnya. Supaya adil pernukliran listrik dibangunnya di
Jakarta saja, bisa di Kelapa Gading atau dekat superbloknya Agung Podomoro,
dll.
 
Maaf guyon tapi serius.
 
Wassalam,
Wikan

Kirim email ke