Rekan rekan

Secara legal , saya kira dapat dikatakan bahwa ini adalah risiko bisis , akan 
tetap kalai kita melihatnya dari segi profesional maka diperlukan langkah 
berikut :

1. Apakah ahli yang melakukan studi dan memberikan rekomendasi adalah seorang 
profesional yang memiliki dan memang merupakan praktisi dibidang ini (dalam 
makahal ini CBM).
2. Apakah laporan atau feasibility study yang disdorkan kepada investor 
memenuhi kaidah ilmu yang umum diterima dalan kalangan praktisi .
3. Apakah antara  data dan rekomendasi yang diajukan secara teknis wajar ???

Sebenarnya apabila yang melakukan studi tb adalah anggota IAGI ,"pelanggaran" 
yang dilakukannya sudah dapat "diadili" oleh Dewan Kehormatan IAGI berdasarkan 
Kode Etik IAGI.
Apabila ternyata ybs melakukan hal hal yang tidak sesuai dengan kaidah teknis , 
maka IAGI dapat memberikan hukuman umpamanya pemecatan  , pengumuman ybs 
dikhalayak profesioanal dsb.

Rekomendasi IAGI dapat dipakai oleh Perusahaan yang merasa dirugikan untuk 
melakukan tuntutan perdata kepengadilan.

Saya kira itulah hadirnya Kode Etik IAGI sebagai salah satu pelaksanaan fungsi 
IAGI sebagai mana ditulis dalam AD /ART IAGI.

si Abah

________________________________
 From noor syarifuddin <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Sunday, November 11, 2012 9:48 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Resiko Eksplorasi
 

Indeed, seharusnyalah IAGI dan anggotanya cukup kritis terhadap angka2 
perkiraan resources maupun cadangan...
Saya melihat bukan di CBM saja, waktu diskusi Mahakam ada juga yg omong samgat 
bombastis ttg residual mahakam post 2017....

Salam, 



________________________________
 From:  [email protected] <[email protected]>; 
To:  <[email protected]>; 
Subject:  [iagi-net-l] Resiko Eksplorasi 
Sent:  Sun, Nov 11, 2012 1:30:15 AM 
 

nDang, I need your opinion. Perusahaan asing yg minta pendapat saya sbg 
konsultan independen ttg potentiality & risk blok CBM-nya itu (yg pernah saya 
ingatkan daerah situ ga ada batubaranya, kalupun ada pasti gak komersial): skrg 
malah nanya: kalau mau nuntut ("sue") siapa ya yg bisa kita tuntut? Krn mrk 
merasa "ditipu" oleh perguruan tinggi pertama yg mengusulkan blok CBM ke mrk, 
kemudian merasa "ditipu" juga oleh pemerintah yg memverifikasi hasil 
joint-study yg mrk biayai yg dilakukan oleh perguruan tinggi kedua, dan yg 
terakhir merasa wakil2 pemerintah yg ngawasi rencana dan pelaksanaan pemboran 
eksplorasi sumur2 CBM-nyapun kayaknya membiarkan saja mrk meresikokan uang 
sampai 15juta dollar u/ngebor dsb, pdhl harusnya mrk ngerti juga-lah bhw daerah 
itu tdk prospek. Selain bingung mau nuntut siapa, mrk juga bingung mau ngapain 
lagi dg blok yg mrk punya. Lha wong sdh gak ada apa2nya.

Wah, kalau nuntut secara hukum ya nggak bisalah, pak. Harusnya pengusaha asing 
itu juga sdh mengerti: begitulah resiko eksplorasi. Bisa ilang samasekali duit 
15juta dollar plus plus gak kembali. Meskipun itu menyangkut CBM yg bukan 
konvensional oil-gas yg lebih beresiko lagi. Mestinya khan mrk juga punya 
explorationist sendiri yg mempertimbangkan semua resiko venture-nya secara 
lebih hati2, bukan sekedar modal duit dan menganggap ini semua spt dagang sapi 
- sapinya ada tinggal dibeli, disembelih dan dijual lagi dpt untung rejeki.

Tapi bagaimanapun juga, nDang, sangat disayangkan kenapa koq dengan data yg 
sama2 menunjukkan batubara di atas dan di bawah tanah-nya itu hanya beberapa 
seam tipis: para pengusul, para pen-studi dan panel pem-verifikasi koq 
menyimpulkan CBM-nya cadangannya besarnya luar biasa sekali? Malah dg terang2an 
mrk memakai density 1.8 s/d 2.0 untuk menghitung volume batubara yg mana 
menurut saya itu sudah
 keterlaluan gak professional-nya: membesar-besarkan angka potensi. Khan 
harusnya pakai 1.3-an lah density. Belum lagi ketebalan yg direkayasa jauh 
lebih besar dr data yg ada tanpa alasan yg jelas sama sekali.

Wah, kalau masalah yg spt itu, pak: ini yg ke-4 yg saya temui. Jangan heran 
kalau sejak bbrp tahun terakhir ini banyak berkeliaran professional (kadang dg 
label akademisi) yg membuat analisis blok2 u/oil&gas dan juga CBM (dan sebentar 
lagi shale gas) untuk kemudian ditawarkan - dijual ke calon2 investor yg 
termakan oleh iming2 jumlah "cadangan" yg dibikin besar sekali (bahkan tdk tahu 
beda sumberdaya dg cadangan dan berbagai skenario penamaannya yg tdk pasti). 
Kemudian stlah sang investor yg umumnya tdk berlatarbelakang oilgas E&P itu 
yakin diajaklah mrk melakukan - membiayai joint study, dst dst sampai akhirnya 
nanti diverifikasi - disetujui oleh pemerintah u/jadi blok yg ditawarkan dg 
skema "direct-offer" bukan "open tender".
 Padahal blok2 yg ditawarkan itu juga nggak nambah data apapun selain pembaruan 
peta2 lead-prospek dr kumpeni2 terdahulu atau bahkan dibikin lead-prospek baru 
dg data baru yg didapat dr "pasar gelap" yg pemerintah juga gak punya inventori.

Bagi sebagian pihak di pemerintahan: performance mrk dinilai dr berapa banyak 
bisa jualan blok migas/cbm/shalegas tanpa peduli apakah blok2 itu punya potensi 
yg bener2 sdh terevaluasi. Bagi sebagian pihak petualang eksplorasi hal tsb 
menjadi peluang untuk terus menerus melakukan "studi" - apapun kwalitas 
studinya - dg alasan ikut membantu pemerintah menggalakkan eksplorasi. Bagi 
kalangan investor yg tdk punya latar belakang new venturing eksplorasi: 
hati-hati!!!!

Sayang banget ya, nDang. Saya koq malah kuatir: secara professional kita2 ini 
di akademisi maupun di industri jadi kena imbasnya: gak dipercaya lagi oleh 
publik krn mempermainkan ketidak tahuan publik atas ketidak-pastian / resiko 
eksplorasi
 untuk alasan2 komersial sempit dan tujuan pemenuhan kinerja aparat. Jangan2 
mrk nanti - terutama orang2 luar negeri - jadi sinis melihat IAGI atau HAGI yg 
membiarkan saja kasus2 un-ethical itu terjadi.

Kalau begitu mari kita bicarakan di forum organisasi, pak. Saya akan sampaikan 
nanti insyaallah ke kawan2 G&G spy bisa jadi bahan untuk ditindaklanjuti.

Salam
Minggu yg mengendap
ADB - IAGI 0800
Jkt-Bandung : sepanjang jalan tol
Powered by Telkomsel BlackBerry® 

Kirim email ke