Pengalaman saya: banyak calon investor energy (beginer) bernafsu memenangkan new block,ttp tdk memiliki geoscientist permanen akhirnya menyewa konsultan.mental konsultan ada profesional ada yg penting dpt fee. Yg terakhir ini yg menentukan bernafsu dpt fee konsultan + success fee. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> Date: Sun, 11 Nov 2012 16:05:17 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: [iagi-net-l] Resiko Eksplorasi Selain soal tehnis, kita juga mesti mengrti soal hukum. Kalau saja akan ada tuntut menuntut. Itulah sebabnya didalam setiap survey logging atau survey apapun selalu ada "disclaimers". Sebagai sebuah klaisul escape yg selalu saja dilakukaoleh perusahaan-2 asing yg selama ini juga sudah diakui oleh kontraktor2 itu sendiri. Dari kacamata professionalism, bukan hasil akan ada atau tidak adanya setelah dilakukan uji pengeboran, tetapi yg lebih penting apakah kesimpulan yg diambil sudah menggunakan kaidah keilmuan yg diakui. Diketahuinya sebuah prospek itu dry atau discovery selalu saja setelah dilakukan uji pengeboran dan pengetesan. Namun jelas tidak bisa (belum bisa) menggunakan hasil pengeboran utk melakukan tuntutan. Kalau kegagalan eksplorasi trus dianggep pelanggaran hukum wharakadah .... Kecuali penipuan data, data manipulation, seperti yg terjadi di busang dsb saya kira tidak dapat serta merta menyatakan bahwa usulan yg salah atau kesimpulan yg keliru dari sebuah penelitian dipakai sebagai tuduhan tindakan penipuan. Just my 2c Rdp On Sunday, November 11, 2012, wrote: > nDang, I need your opinion. Perusahaan asing yg minta pendapat saya sbg > konsultan independen ttg potentiality & risk blok CBM-nya itu (yg pernah > saya ingatkan daerah situ ga ada batubaranya, kalupun ada pasti gak > komersial): skrg malah nanya: kalau mau nuntut ("sue") siapa ya yg bisa > kita tuntut? Krn mrk merasa "ditipu" oleh perguruan tinggi pertama yg > mengusulkan blok CBM ke mrk, kemudian merasa "ditipu" juga oleh pemerintah > yg memverifikasi hasil joint-study yg mrk biayai yg dilakukan oleh > perguruan tinggi kedua, dan yg terakhir merasa wakil2 pemerintah yg ngawasi > rencana dan pelaksanaan pemboran eksplorasi sumur2 CBM-nyapun kayaknya > membiarkan saja mrk meresikokan uang sampai 15juta dollar u/ngebor dsb, > pdhl harusnya mrk ngerti juga-lah bhw daerah itu tdk prospek. Selain > bingung mau nuntut siapa, mrk juga bingung mau ngapain lagi dg blok yg mrk > punya. Lha wong sdh gak ada apa2nya. > > Wah, kalau nuntut secara hukum ya nggak bisalah, pak. Harusnya pengusaha > asing itu juga sdh mengerti: begitulah resiko eksplorasi. Bisa ilang > samasekali duit 15juta dollar plus plus gak kembali. Meskipun itu > menyangkut CBM yg bukan konvensional oil-gas yg lebih beresiko lagi. > Mestinya khan mrk juga punya explorationist sendiri yg mempertimbangkan > semua resiko venture-nya secara lebih hati2, bukan sekedar modal duit dan > menganggap ini semua spt dagang sapi - sapinya ada tinggal dibeli, > disembelih dan dijual lagi dpt untung rejeki. > > Tapi bagaimanapun juga, nDang, sangat disayangkan kenapa koq dengan data > yg sama2 menunjukkan batubara di atas dan di bawah tanah-nya itu hanya > beberapa seam tipis: para pengusul, para pen-studi dan panel pem-verifikasi > koq menyimpulkan CBM-nya cadangannya besarnya luar biasa sekali? Malah dg > terang2an mrk memakai density 1.8 s/d 2.0 untuk menghitung volume batubara > yg mana menurut saya itu sudah keterlaluan gak professional-nya: > membesar-besarkan angka potensi. Khan harusnya pakai 1.3-an lah density. > Belum lagi ketebalan yg direkayasa jauh lebih besar dr data yg ada tanpa > alasan yg jelas sama sekali. > > Wah, kalau masalah yg spt itu, pak: ini yg ke-4 yg saya temui. Jangan > heran kalau sejak bbrp tahun terakhir ini banyak berkeliaran professional > (kadang dg label akademisi) yg membuat analisis blok2 u/oil&gas dan juga > CBM (dan sebentar lagi shale gas) untuk kemudian ditawarkan - dijual ke > calon2 investor yg termakan oleh iming2 jumlah "cadangan" yg dibikin besar > sekali (bahkan tdk tahu beda sumberdaya dg cadangan dan berbagai skenario > penamaannya yg tdk pasti). Kemudian stlah sang investor yg umumnya tdk > berlatarbelakang oilgas E&P itu yakin diajaklah mrk melakukan - membiayai > joint study, dst dst sampai akhirnya nanti diverifikasi - disetujui oleh > pemerintah u/jadi blok yg ditawarkan dg skema "direct-offer" bukan "open > tender". Padahal blok2 yg ditawarkan itu juga nggak nambah data apapun > selain pembaruan peta2 lead-prospek dr kumpeni2 terdahulu atau bahkan > dibikin lead-prospek baru dg data baru yg didapat dr "pasar gelap" yg > pemerintah juga gak punya inventori. > > Bagi sebagian pihak di pemerintahan: performance mrk dinilai dr berapa > banyak bisa jualan blok migas/cbm/shalegas tanpa peduli apakah blok2 itu > punya potensi yg bener2 sdh terevaluasi. Bagi sebagian pihak petualang > eksplorasi hal tsb menjadi peluang untuk terus menerus melakukan "studi" - > apapun kwalitas studinya - dg alasan ikut membantu pemerintah menggalakkan > eksplorasi. Bagi kalangan investor yg tdk punya latar belakang new > venturing eksplorasi: hati-hati!!!! > > Sayang banget ya, nDang. Saya koq malah kuatir: secara professional kita2 > ini di akademisi maupun di industri jadi kena imbasnya: gak dipercaya lagi > oleh publik krn mempermainkan ketidak tahuan publik atas ketidak-pastian / > resiko eksplorasi untuk alasan2 komersial sempit dan tujuan pemenuhan > kinerja aparat. Jangan2 mrk nanti - terutama orang2 luar negeri - jadi > sinis melihat IAGI atau HAGI yg membiarkan saja kasus2 un-ethical itu > terjadi. > > Kalau begitu mari kita bicarakan di forum organisasi, pak. Saya akan > sampaikan nanti insyaallah ke kawan2 G&G spy bisa jadi bahan untuk > ditindaklanjuti. > > Salam > Minggu yg mengendap > ADB - IAGI 0800 > Jkt-Bandung : sepanjang jalan tol > Powered by Telkomsel BlackBerry® -- *"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"*

