Iya betul. Lebih pas dianalogikan dengan sewa mobil... Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: <[email protected]> Date: Sun, 11 Nov 2012 20:13:05 To: <[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Resiko Eksplorasi Mungkin lebih pasnya bukan jual beli mobil tapi sewa menyewa/kontrak mobil.Kebetulan mobilnya Plat merah yg disewakan supaya menghasilkan uang, dalam sewa menyewa ini ada aturan yaitu penyewa menanggung semua resiko kalau terjadi sesuatu termasuk tidak ada penumpang shg tdk ada penghasilan, baru kalau ada untung dibagi dua penyewa dan pemilik mobil.Disisi lain Pemilik mobil ini diharuskan menyiapkan mobil tsb supaya "layak" sewa , tapi kalau ternyata mobil tsb tidak laik jalan bahkan mencelakaan penyewa ( boro boro dapat untung ), si pemilik ini tidak menaggung apapun....( enek juga ya pemilik mobil ini, shg si pemilik bisa semaunya cari montir atau bengkel untuk menyiapkan mobil sewaan tsb tanpa dilihat kualifikasinya ).Disini seharusnya Penyewa sudah sadar/tahu betul sejak awal bagaimana aturan di sewa menyewa / kontrak mobil plat merah tsb,karena resiko ada dipenyewa.....shg jangan percaya 100% kalau mobil tsb telah dinyatakan layak/laik jalan oleh pemiliknya ISM > Sekedar mencoba memahami permasalah ini, dengan analogi jual > beli mobil bekas (??) > Membeli mobil bekas tentu resikonya lebih tinggi dari mobil > baru. Khususnya mobil bekas dari wilayah yg pemakaiannya > dikenal secara umum sering overload, service tidak teratur > oleh pemakai, bekas taxi, dll. Itu semua sudah harus > diperhitungkan resikonya oleh pembeli (investor). > Tapi yg dipermasalahkan bukan resiko yg itu. Yg > dipermasalahkan adalah Resiko akibat manipulasi atas > informasi mobil bekas itu, misal kilometer diturunkan supaya > kelihatan belum lama dipakai, buku service dihilangkan > supaya tdk dapat dilacak riwayatnya, dll) > Praktek semacam itu, di negara lain bisa dipidana... Sebagai > bentuk perlindungan pemerintah atas konsumen (investor). > Mungkin itu ya yg dipermasalahkan... Kenapa disini praktek > spt itu "sepertinya" dibiarkan terjadi (oleh pemerintah)? > Tidak ada aturan yg jelas, tidak ada sangsi... > Itu mungkin membuat investor merasa tertipu... > > Note: Disclaimer bisa dilakukan untuk menghindari dari > tuntutan hukum, sepanjang tidak ada (kesengajaan) manipulasi > informasi didalamnya. > Atau jangan2, kita mesti kasih tahu investor bahwa Resiko2 > (teknis dan non teknis = resiko eksplorasi dan resiko > bisnis) itu sudah harus diperhitungkan/siap ditanggung > investor kalo usaha disini? > (Termasuk dalam resiko bisnis adalah ketidakakuratan > informasi entah disengaja atau tidak, meskipun sudah > diverifikasi oleh siapapun lembaganya). > Entahlah apakah analoginya tepat utk menggambarkannya... > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > Date: Sun, 11 Nov 2012 16:05:17 > To: [email protected]<[email protected]> > Reply-To: <[email protected]> > Subject: [iagi-net-l] Resiko Eksplorasi > Selain soal tehnis, kita juga mesti mengrti soal hukum. > Kalau saja akan ada tuntut menuntut. > Itulah sebabnya didalam setiap survey logging atau survey > apapun selalu > ada "disclaimers". Sebagai sebuah klaisul escape yg selalu > saja > dilakukaoleh perusahaan-2 asing yg selama ini juga sudah > diakui oleh kontraktor2 itu sendiri. > Dari kacamata professionalism, bukan hasil akan ada atau > tidak adanya setelah dilakukan uji pengeboran, tetapi yg > lebih penting apakah kesimpulan yg diambil sudah > menggunakan kaidah keilmuan yg diakui. Diketahuinya sebuah > prospek itu dry atau discovery selalu saja setelah dilakukan > uji pengeboran dan pengetesan. Namun jelas tidak bisa > (belum bisa) menggunakan hasil pengeboran utk melakukan > tuntutan. Kalau kegagalan eksplorasi trus dianggep > pelanggaran hukum wharakadah .... > Kecuali penipuan data, data manipulation, seperti yg terjadi > di busang dsb saya kira tidak dapat serta merta menyatakan > bahwa usulan yg salah atau kesimpulan yg keliru dari sebuah > penelitian dipakai sebagai tuduhan tindakan penipuan. > > Just my 2c > > Rdp > > On Sunday, November 11, 2012, wrote: > >> nDang, I need your opinion. Perusahaan asing yg minta >> pendapat saya sbg konsultan independen ttg potentiality & >> risk blok CBM-nya itu (yg pernah saya ingatkan daerah situ >> ga ada batubaranya, kalupun ada pasti gak komersial): skrg >> malah nanya: kalau mau nuntut ("sue") siapa ya yg bisa >> kita tuntut? Krn mrk merasa "ditipu" oleh perguruan tinggi >> pertama yg mengusulkan blok CBM ke mrk, kemudian merasa >> "ditipu" juga oleh pemerintah yg memverifikasi hasil >> joint-study yg mrk biayai yg dilakukan oleh perguruan >> tinggi kedua, dan yg terakhir merasa wakil2 pemerintah yg >> ngawasi rencana dan pelaksanaan pemboran eksplorasi sumur2 >> CBM-nyapun kayaknya membiarkan saja mrk meresikokan uang >> sampai 15juta dollar u/ngebor dsb, pdhl harusnya mrk >> ngerti juga-lah bhw daerah itu tdk prospek. Selain bingung >> mau nuntut siapa, mrk juga bingung mau ngapain lagi dg blok >> yg mrk punya. Lha wong sdh gak ada apa2nya. >> >> Wah, kalau nuntut secara hukum ya nggak bisalah, pak. >> Harusnya pengusaha asing itu juga sdh mengerti: begitulah >> resiko eksplorasi. Bisa ilang samasekali duit 15juta >> dollar plus plus gak kembali. Meskipun itu menyangkut CBM >> yg bukan konvensional oil-gas yg lebih beresiko lagi. >> Mestinya khan mrk juga punya explorationist sendiri yg >> mempertimbangkan semua resiko venture-nya secara lebih >> hati2, bukan sekedar modal duit dan menganggap ini semua >> spt dagang sapi - sapinya ada tinggal dibeli, disembelih >> dan dijual lagi dpt untung rejeki. >> >> Tapi bagaimanapun juga, nDang, sangat disayangkan kenapa >> koq dengan data yg sama2 menunjukkan batubara di atas dan >> di bawah tanah-nya itu hanya beberapa seam tipis: para >> pengusul, para pen-studi dan panel pem-verifikasi koq >> menyimpulkan CBM-nya cadangannya besarnya luar biasa >> sekali? Malah dg terang2an mrk memakai density 1.8 s/d 2.0 >> untuk menghitung volume batubara yg mana menurut saya itu >> sudah keterlaluan gak professional-nya: membesar-besarkan >> angka potensi. Khan harusnya pakai 1.3-an lah density. >> Belum lagi ketebalan yg direkayasa jauh lebih besar dr data >> yg ada tanpa alasan yg jelas sama sekali. >> >> Wah, kalau masalah yg spt itu, pak: ini yg ke-4 yg saya >> temui. Jangan heran kalau sejak bbrp tahun terakhir ini >> banyak berkeliaran professional (kadang dg label >> akademisi) yg membuat analisis blok2 u/oil&gas dan juga >> CBM (dan sebentar lagi shale gas) untuk kemudian ditawarkan >> - dijual ke calon2 investor yg termakan oleh iming2 jumlah >> "cadangan" yg dibikin besar sekali (bahkan tdk tahu beda >> sumberdaya dg cadangan dan berbagai skenario penamaannya >> yg tdk pasti). Kemudian stlah sang investor yg umumnya tdk >> berlatarbelakang oilgas E&P itu yakin diajaklah mrk >> melakukan - membiayai joint study, dst dst sampai akhirnya >> nanti diverifikasi - disetujui oleh pemerintah u/jadi blok >> yg ditawarkan dg skema "direct-offer" bukan "open tender". >> Padahal blok2 yg ditawarkan itu juga nggak nambah data >> apapun selain pembaruan peta2 lead-prospek dr kumpeni2 >> terdahulu atau bahkan dibikin lead-prospek baru dg data >> baru yg didapat dr "pasar gelap" yg pemerintah juga gak >> punya inventori. >> >> Bagi sebagian pihak di pemerintahan: performance mrk >> dinilai dr berapa banyak bisa jualan blok >> migas/cbm/shalegas tanpa peduli apakah blok2 itu punya >> potensi yg bener2 sdh terevaluasi. Bagi sebagian pihak >> petualang eksplorasi hal tsb menjadi peluang untuk terus >> menerus melakukan "studi" - apapun kwalitas studinya - dg >> alasan ikut membantu pemerintah menggalakkan eksplorasi. >> Bagi kalangan investor yg tdk punya latar belakang new >> venturing eksplorasi: hati-hati!!!! >> >> Sayang banget ya, nDang. Saya koq malah kuatir: secara >> professional kita2 ini di akademisi maupun di industri >> jadi kena imbasnya: gak dipercaya lagi oleh publik krn >> mempermainkan ketidak tahuan publik atas ketidak-pastian / >> resiko eksplorasi untuk alasan2 komersial sempit dan tujuan >> pemenuhan kinerja aparat. Jangan2 mrk nanti - terutama >> orang2 luar negeri - jadi sinis melihat IAGI atau HAGI yg >> membiarkan saja kasus2 un-ethical itu terjadi. >> >> Kalau begitu mari kita bicarakan di forum organisasi, pak. >> Saya akan sampaikan nanti insyaallah ke kawan2 G&G spy >> bisa jadi bahan untuk ditindaklanjuti. >> >> Salam >> Minggu yg mengendap >> ADB - IAGI 0800 >> Jkt-Bandung : sepanjang jalan tol >> Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > -- > *"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"* > ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2011-2014: Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com -------------------------------------------------------------------------------- Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. REGISTER NOW ! Contact Person: Email : [email protected] Phone : +62 82223 222341 (lisa) -------------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email to: [email protected] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

